
Sentuhan hangat menyertai pangkal rambut di sebelah telingaku. Aku mengenali ia di luar kepalaku.
“Kenapa, pa?”
Dia membungkukkan diri sampai wajahnya tampak lurus denganku, “Ngantuk? Langsung tidur.”
Sekilas aku memandang ponselku. Jam setengah sepuluh. Tidak salah papa langsung menyarankan demikian.
“Buka pagar, garasi.”
Oh iya.
Aku mengikuti arahannya dan membiarkan badan besar mobil melewati pagar.
Langkahku yang pendek bisa mengejar mobil itu dan membuka pintu garasi. Kurasa aku harus menunggunya agar bisa membukakan pintu rumah.
“Rasyi.”
Hmm?
kuputar wajah. Memandang arah suara yang sebenarnya sudah tertebak di kepalaku.
“Harun beneran..., ke sini malam-malam?” otakku seperti tidak bekerja saat melihat sosok itu memasuki pagar rumah yang belum sempat kami tutup.
Kebingunganku terus bermain di satu titik. Dia mau apa sih?
Papa, dia selalu tidak mau berkutak lebih. Buktinya ia memilih untuk membuka pintu rumah dan masuk. Memilih untuk membiarkan aku kesempatan untuk memperbaikinya sendiri.
“Aku pikir lebih baik kita ngomong langsung. Jadi aku langsung ke sini,” Harun mendekat dan berinisiatif menutup pagar rumah.
Ya apapun itu, selama dia mau bekerja sama, “Udah yuk, masuk aja.”
Apa yang terjadi terakhir kali di sekolah memang tidak terduga. Kacau dan tidak mengenakkan di kami semua. Bukannya menyelesaikan, aku malah membuat Harun ikut marah denganku.
Tentu saja. Siapa yang tidak marah kalau ditunjuk seperti itu?
Bagaimana pun masalahnya. Aku harus tetap membuat masalah ini bisa dimaafkan dan semua bisa kembali menjadi keadaan semula. Layaknya pertengkaran kecil anak-anak.
Salah satunya ada di Harun. Menjadi angin semilir dia mau bicara dengan tenang bersamaku untuk menyelesaikan semua ini.
Ya kan?
Kenapa...? Apa yang aku ragukan?
Ini semua keadaan yang baik.
Aku mendorong pintu kamarku, “Masuk.”
“Tidak papa?”
“Memang kenapa?”
Papa ada di sini. Sebisa mungkin aku tidak mau memancing kemarahan dari keduanya.
Bicara berdua memang baik. Kan?
Aku hanya perlu berhenti kalau dia menaikkan suaranya. Dan melanjutkan ke arah dia lebih setuju. Pasti semua ini ada jalan tengah yang bisa diraih.
Selesaikan ini, lalu di kembar. Penting juga memastikan kak Fares tidak tersinggung dan kembali ramah seperti biasanya.
Pasti bisa. Harus bisa!!
Harun sudah membiarkan aku masuk terlebih dahulu, “Aku tidak ganggu kamu kan?”
Kepalaku menggeleng. Meraih kursi belajarku dan aku nyaman mendudukinya, “... tidak.”
“Rasyi sakit?”
Hmm? “Tidak kok. Masuk aja.”
“Tidak, itu....”
__ADS_1
Ada apa?
“Aku mau ajak kamu,” dia tersenyum lebih manis di sela pintu yang ia tutup, “Jalan. Ke cafe kayak biasa? Sebentar saja.”
Eh? Maksudnya kencan?
Mulutku tertutup. Hening sesaat, “Aku tidak bisa.”
Rasanya aneh. Sekujur tubuhku seakan menolak untuk pergi.
Bukan, bukan karena aku terlalu nyaman di kursiku. Ganjal rasanya... karena hal lain...?
“Kenapa?” wajah Harun, hilang senyumnya.
“Papa bisa..., ini... aku takut terlalu malam.”
Entah kenapa serasa bukan itu jawabannya.
“Kita tidak bisa temu titik terang kalau kayak gini.”
Namun..., aku menjulurkan kedua tanganku seakan meminta sesuatu, “Kita bisa bicara di sini.”
“Tapi⏤huuuh!” dia tampak menurunkan bahunya, “Aku ngerti. Kita tidak bisa berdebat terus soal hal kecil.”
Dia mengerti?
Harun akhirnya duduk di kursi panjang tanpa sandaran di sisi jendela yang tertutup.
Meski rumah terasa lebih sepi, Harun tak menunjukkan tanda-tanda akan bicara untuk beberapa saat.
“Rasyi,” tampaknya dia sudah siap bicara, “Aku cinta sama kamu.”
Heh?! Kok jadi tiba-tiba seperti ini?!
“Kemah yang dulu, itu penyesalan banget buat aku.”
Kemah?
Maksudnya saat liburan bersama kelas waktu SMP dulu? Dia mengingatnya juga?
Semua orang mengira aku, Jagad dan tante Ira disekap oleh ******* selama satu minggu. Padahal sebenarnya itu pertemuan keduaku dengan kakekku sendiri, yang berusaha mengambil warisan dariku.
Jagad sampai kehilangan nyawanya hanya untuk membiarkan aku kabur. Membawa trauma.
“Kamu takut banget waktu itu. Aku tidak mau bayangin Rasyi begitu lagi.”
Aku terdiam. Selama ini aku memang tahu dia selalu khawatiran, tapi aku tidak tahu dia menyandang rasa bersalah ini.
Tersadar akan Harun yang sudah berpindah tempat. Ia berjongkok di depan dudukku.
Eh, tu, tunggu! Kenapa? Kok?!
“Kamu paham kan Rasyi?” dia menggenggam tanganku, “Aku tidak bisa santai. Kalau misalnya setiap hari Rasyi dibuat susah. Kayak... kakek kamu....”
Kekhawatiran. Yang menumpuk dengan berbagai kekhawatiran yang lain. Itu yang mungkin jadi pemicu sikapnya yang overprotektif.
Ini manis didengar. Namun kalau gangguan yang ia maksud adalah teman-temanku, bukannya itu keterlaluan?
Ucapannya masih berlanjut, “Apa aku tidak boleh perhatiin keselamatan kamu begini? Salah?”
Kalau niatnya memang murni itu dan hanya itu yang mempengaruhi tingkahnya, tentu itu hal yang paling mengharukan yang bisa aku terima. Namun aku tidak menghitungkan akan terjadi obsesi sampai seperti ini.
“Jadi aku salah?”
Ke, kenapa aku tidak mau menjawab? Meski jawabannya sudah terpikirkan dari tadi.
“Dimana salahnya bikin kamu tidak mau ngomong gini? Aku tidak mau kayak gini, Rasyi.”
“Aku juga tidak mau! Tapi....”
Lidah ini seakan kutahan dengan sekuat tenagaku sendiri.
__ADS_1
Harun? Dia, mendekatkan genggaman tangan kami ke keningnya. Membuat ruas jari jemariku menempel di wajahnya.
“Kamu segalanya buat aku. Jangan tinggal aku kayak gini, Rasyi....”
Jika semanis itu yang keluar dari mulutnya, aku tidak bisa membiarkan mulutku sendiri membisu. Ini waktu dimana aku bisa memperbaiki segalanya. Kita bisa saling mengerti meski sudah berkelahi besar.
Hatiku yang ragu, berjalanlah denganku.
“Harun....”
“Iya?”
Kuambil nafas dengan normal semampuku meski rasanya sesak.
Suarakan saja, Rasyi, “Itu yang kupahami dari kamu Harun. Aku tahu kamu khawatir. Tapi, harus ya mengendalikan hidupku sampai sebegitunya? Kamu tidak anggap aku boneka kan?”
Kenapa, kenapa dia diam? “Tapi kamu tidak sependapat sama aku? Itu bukan paham namanya.”
Tidak, aku masih bisa bicara sesuai dengan pendapatku, “Kita bisa cari jalan tengah dari ini. Aku tidak mungkin juga ikuti semua keinginan kamu. Aku punya kehidupanku sendiri sama-sama yang lain.”
“Aku bisa gantikan semua peran mereka.”
“Dengan jauhi papaku sendiri? Tidak mungkin, Harun. Mereka semua punya peran di hidupku. Aku bukan bagian dari hidupmu saja Harun.”
Eh? Harun melepaskan genggamannya. Berdiri... Harun?
“Kamu tidak perlu mereka! Mereka seharusnya ngerti!” tatapan tajam Harun sungguh lurus ke arahku.
Lagi-lagi dia marah.
Tidak bisa, “Aku juga bisa tanpa kamu, Harun.”
Wow, aku sungguh mengatakan itu? Apa yang dipikirkan mulutku sih? harus minta maaf sekarang sebelum aku kehilangan kesempatan ini.
“Harun, ma⏤Aaaa!”
“Kamu tidak dengar aku,” Harun sungguh menahan lengan atasku. Menariknya dengan keras mendirikanku dari kursi.
“Harun, sakit...,” jangan lagi, “Lep⏤hmmp!!”
Harun?
Harun.
Harun hentikan.
Lepaskan.
Aku mohon, lepaskan....
“Ra⏤” Harun, ia tampak terkejut. Tangannya di lengan atas dan bekapannya di mulutku langsung ia lepas, “Rasyi itu....”
Tadi... tadi itu Harun....
Harun, wajahmu seperti... wajah kakek waktu itu. Penjahat yang siap beraksi. Entah mengapa, aku bisa merasakannya dari kerutan wajah Harun saat ini. Dekat, mengintimidasi dari atas tinggi badannya.
Tangannya⏤
Terkejut aku menutupi mulutku sendiri, “Jangan!” mataku tertutup, menghindar?
“Sekarang kamu takut sama aku, hah?” suara Harun yang serak tidak serta merta membuatku menatapnya.
Gemetar dan kaku hadapku yang tak teralihkan, seakan mengiyakan pertanyaannya.
Aku takut?
Suara langkah yang keras dan hawa keberadaan yang memudar. Diriku tersadar akan Harun yang pergi menuju pintu. Ia sempat menatapku.
Harun menutup pintunya dan pergi. Tanpa berkata apapun....
Nafasku, menjadi lega sesaat.
__ADS_1
Aku mengerti sekarang. Fakta rasa sesak yang selalu aku alami selama bersama Harun belakang ini. Gemetar tak tentu yang semakin kencang kalau aku bersentuhan dengan tangan Harun.
Tak aku duga, alam bawah sadar, sudah berteriak. Kejadian malam ini, menjadikan kepercayaanku terhadap Harun sudah hilang.