
“Abi! Ummi!” aku berlari. Ke arah dua orang itu.
Tapi aku diam. Yang aku lihat anak perempuan digandeng ummi. Abi juga kelihatan dekat dengan anak ini. Perempuan yang senyum-senyum sendiri.
Perempuan aneh.
“Rasyiqa, ini Harun. Anak tante,” ummi dorong perempuan ini ke aku.
Mau aneh atau apa, aku harus kasih senyum. Itulah yang selalu Abi contohkan saat bertemu banyak orang.
Senyumku harus lembut, “Halo....”
Dia tidak membalas. Perhatiannya itu kayak mondar mandir dari rambutku ke mukaku.
Kami sama-sama diam. Saling lihat. Aku juga sempat perhatikan rambut dan mata hitamnya.
Mungkin ini yang dibilang cantik. Orang bilang kalau lihat yang cantik, kamu bakal senang. Tapi aku tidak rasain apa-apa. Berarti dia bukan cantik?
“Harun ajak main Rasyiqa ya?” ummi senggol punggungku.
Baiklah....
“Iya,” aku masih tersenyum, “Main ke sana yuk!”
Aku tidak tahu apa yang dia suka. Mungkin aku ajak dia ke mana saja. Permainan yang itu kayaknya asyik.
Kukasih saja tanganku biar dia mau ikut.
Dia diam lagi. Anak ini bisu atau apa? Bisa susah.
Tapi aku harus tetapkan senyumku⏤
“Ya, ayo!” dia terima tanganku.
Senyumnya. Bukan kayak senyumnya dia kasih dari tadi. Ini lebih, cantik.
Dadaku aneh. Tapi tidak sakit.
Mau punya senyum kayak dia.
Mau punya ketawa kayak dia.
Mau punya semangat kayak dia.
Tapi aku tidak mau rebut punyanya dia. Rasanya aku maunya dia yang punya semua itu.
Aneh. Kenapa rasanya aneh sekali.
Genggaman dia tidak mau aku lepas.
Ke siapapun!!
.
.
.
“Namaku Jagad,” dia main ulur tangan, “Cepat main sama aku!”
Aku tidak mau lepas tangah Rasyi, apalagi lepasin ke orang yang ini!
“Jangan minta sambil marah-marah,” kalau perlu, aku pasti akan marah.
“Siapa kamu?”
Dia tidak tahu?!
“Aku temannya Rasyi,” aku tarik tangan Rasyi dekat-dekat.
Tidak suka dengan orang ini. Mau dia siapa, aku tidak akan kasih Rasyi ke dia!
Dia diam kenapa? “Jadi namamu Rasyi?”
Arg! Lebih baik aku tidak bilang tadi!
“Iya,” Rasyi sampai bingung.
Dia kasih tangan lagi, “Rasyi temenan denganku saja! Dia gak perlu!”
Apa?! Cowok ini aneh! Rasyi tidak mungkin mau sama orang ribut kayak dia. Percaya dirinya kelebihan!
Orang yang aneh begini harus dicuekin!
Ini baru kedua kalinya aku main dengan Rasyi. Jangan sampai diganggu orang ini.
__ADS_1
Rasyi aku ajak ke tempat lain saja. Ulang tahun kak Fares kan keren. Pasti di arah sana masih banyak mainan seru.
Aargh! Dia tarik Rasyi!
“Jangan tarik-tarik Rasyi!” tanganku dan tangan Rasyi tidak boleh lepas!
“Rasyi sama aku!” tarikannya dia kuat banget!
Aku harus lebih keras lagi. Rasyi sudah sakit gara-gara tarikan dia!
“Kalian⏤”
“Rasyi mau sama aku!” dia main potong omongannya Rasyi sekarang?!!
Aku tidak boleh kalah! “Tidak! Denganku!!”
Harus aku hentikan dia sebelum merebut Rasyi dariku! Jangan sampai!
“WAAA AAAAA!!”
Tangan! Aku harus lepas tanganku.
Rasyi nangis....
Dia menangis karena aku tariknya kekencangan.
Aneh. Padahal tiap hari aku tidak pernah begini. Rasanya selalu bosan banget. Kadang-kadang orang bilang aku kayak tidak punya semangat.
Sekarang aku jadi kelebihan.
“Pa! Rasyi pulang saja!”
“Loh? Rasyi tidak mau ikut tiup lilin dulu?”
“Tidak mau!”
Hatiku sakit lagi. Sama kayak waktu Rasyi pulang. Kami sudah main lama tapi rasanya belum puas. Pasti sekarang juga sama. Gara-gara Rasyi mau pulang padahal kami belum sempat main.
“Tidak boleh. Kan temannya mau main,” ayahnya Rasyi kayaknya mau bujuk Rasyi biar tidak pulang, “Coba kalau Rasyi mau main tapi temannya pulang, gimana?”
Iya. Jangan pulang.
Kalau aku bisa, aku bakal lakukan apa saja biar dia mau main sama aku. Dia cuma tinggal bilang dia mau apa.
Aku sudah senang main-main sama dia.
“Kalian janji kan tidak akan berkelahi lagi?” paman itu tanya.
“Iya, kami janji!” aku berteriak tegas. Biar Rasyi bisa dengar.
Pasti aku tahan Rasyi sama aku. Berdua, kami main berdua!
Cowok ribut ikut-ikutan, “I⏤iya!”
Padahal lebih baik dia tidak ada. Kalau bukan karena dia, Rasyi tidak akan menangis. Mana kami belum main. Tapi dia malah maksa Rasyi sampai mau pulang.
“Mereka sudah janji kan? Rasyi ajak mereka main terus nanti ajak juga makan kue coklat. Ya?”
Kenapa dia tidak mau? Padahal dia selalu senang lihat aku. Sekarang dia malah tidak mau lihat aku.
Sakit.
Itu berarti aku tidak suka!
Rasyi harus main sama-sama aku.
Dinginkan kepala. Pasti ada cara bisa dapat Rasyi kalau aku bisa sabar.
“Kalian gandengan tangan deh. Bisa jadi nanti Rasyi-nya mau.”
Apa?! Paman ini bercanda ya? Gandengan tangan sama Rasyi itu asyik. Aku juga senang kalau gandengan dengan Ummi Abi. Tapi sama cowok ribut ini? Tidak mau!!
Cowok ini, dia malah melirik ke arahku! Memuakkan! Jangan sampai dia melihatku!
Tapi harus ikuti kata paman. Nanti Rasyi tidak mau main sama aku.
Kulihat lagi cowok yang buat muak. Jangan ragu! Biarin saja dia kaget. AKu bakal cengkram tangannya!
Sekarang⏤
“Sekarang mau?” paman itu senyum ke Rasyi.
Tawaku sudah tak tertahankan lagi, “Hihihi… iya~”
Rasyi... tertawa.
__ADS_1
Hatiku aneh. Tapi tidak sakit lagi. Kayak, dimainin sama orang? Rasanya aneh, apalagi kalau aku tidak pa-pa. Aku tidak marah sama sekali. Sedikit saja aku tidak muak.
Tidak sakit berarti aku senang. Pasti begitu. Berarti aku mau ikut main!
Iya. Rasyi main-main sama aku. Jadi aku juga mau ikut main. Itu tidak aneh. Kami berdua tidak aneh.
Dia senyum, dia tertawa, dia senang.
Dia merengut, dia nangis, dia sedih.
Semua mainan dia harus sama aku.
Kami harus berdua. Dia tidak boleh ke mana-mana tanpa aku.
Dia tidak boleh!
.
.
.
Lalu kenapa dia jauh sekali? Dia sedih, tapi aku tidak tahu.
Rasyi tidak bilang. Rasyi juga tidak mau berdua denganku. Dia masih tersenyum. Dia juga tidak mau senyum cerah kayak dulu. Perempuan yang sudah main-main dengan hatiku. Sekarang perempuan ini malah berubah.
Aku harus ikuti! Dia harus bisa aku ajak main lagi. Gimana saja caranya.
Enam tahun.
Dia dua belas tahun atau lebih pun, aku bakal sabar.
Kalau dia minta, aku dengarkan. Kalau dia tanya, aku ikuti kesukaannya. kalau dia takut, aku akan jaga dia. Awasi dia. Sampai dia nyaman. Sampai dia tidak ada protes. Sampai dia cuma mau main denganku.
Dia, membutuhkan aku. Bukan papanya, bukan paman polisi itu, bukan cowok rubit si Jagad. Rasyi butuh aku!
Perempuan ini tidak perlu pergi jauh! Jangan terlalu jauh! jangan pergi terlalu jauh!!
“Kalau aku, aku mau percaya sama aku sendiri. Seperti Jagad percaya sama aku,” Rasyi bisa bilang percaya diri banget.
Lalu dia bawa nama orang itu! Mau jauh seberapa lagi dia pergi dari aku?! Dia butuh aku!
“Jagad lagi? Terus gimana denganku?!” marah, aku sangat marah, “Dia siapa bilang kalau kamu tidak papa di sini? Kamu saja gemetaran terus begitu. Kenapa kamu lebih percaya dengan penipu itu daripada aku?”
Dia tidak mengerti! Rasyi hanya butuh aku. Aku lebih dari cukup buat dia! Bakal aku lindungi dia, bakal aku bikin dia senang.
Menyenangkan main sama dia, jadi dia juga harusnya senang main denganku!
“Aku ini lebih peduli padamu daripada dia!” aku dekati dia pelan-pelan.
Jangan kabur, Rasyi, Jangan kabur!
“Rasyi,” kami saling bertatapan, “Apa aku ini kurang bagimu?”
Kenapa kamu diam, Rasyi?
“Rasyi masih butuh ya orang seperti Jagad? Apa yang Jagad punya tapi aku tidak?” melangkah makin dekat.
“Aaa!!”
Jangan!
“Ra⏤!”
BYUR!!
Dia tidak perlu mundur dari aku. Aneh sekali dia pilih sungai di belakang dia daripada aku. Rasyi lebih pilih jatuh daripada aku.
Sakit sekali...
.
.
.
Rasyi... Jangan hilang dariku.
_____________________________________________
^^^NOTE^^^
^^^sebenarnya scene-scene ini sudah pernah kumasukkan di novel prequel-nya pakai sudut pandang Rasyi. Monggo cek ke novel sebelah, di chapter 16, 17 dan 34^^^
^^^♡♡♡^^^
__ADS_1