Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#73 Rintikan yang Menyayat


__ADS_3

“Hmm?”


Dingin....


Eh? Jadi hangat. Ada yang menutupiku dari suhu dingin. Selimut?


Cahaya, rasa silaunya sangat mengganggu mataku yang ingin mengintip. Kaku tubuhku tetap nyaman ditopang sesuatu di belakangku.


Di mana letak diriku saat ini?


Pada akhirnya kelopak mataku tidak bisa menahan lagi. Terbuka lebar mataku sampai bisa melihat langit-langit putih. Masih berputar, otakku masih tidak bisa mengingat apa yang terjadi.


“Syukurlah, Rasyi...,” sebuah elusan menerpa keningku.


Suara..? Siapa?


Fares?


“Pusing? Masih sakit?” pria ini tampak berdiri di samping ranjang.


Ingin aku bangun, “Aa!”


“Jangan dipaksa. Tidur dulu.”


“Ini di...?”


Fares masih membantu menahan dudukku, “Rumah sakit.”


Aku di rumah sakit? Bagaimana bisa aku masuk ke rumah sakit?


Memang badanku termasuk lemah dan mudah sakit. Namun tidak lebih dari demam yang bisa ditangani di rumah sendiri oleh papa⏤


Papa!


“Papa mana?!”


Bila aku ingat lagi, seharusnya aku ada di mobil dengan Dhika. Orang itu belum selesai mengantarkan aku pada papa!


“Sebentar lagi paman ke sini,” Fares semakin mendekatkan dirinya, “Dengarkan kakak. Rasyi jangan duduk. Perut Rasyi baru diobati.”


Heh? “Perut?”


“Tidur dulu. Ya?”


Aku mengikuti arahan tangannya yang menidurkanku kembali ke atas bantal yang empuk. Masih menahan sakit, yang ternyata benar berasal dari perutku.


Kok bisa?


Berusaha aku mencari tangannya. Ingin menggenggamnya, “Rasyi kenapa?”


Si kakak ini menyelipkan setiap jarinya dengan jariku. Tangan kanannya yang bebas seperti biasa mengeluasku hangat. Aku sejujurnya mencari reaksinya yang seperti ini. Semua ini membuatku takut sendiri.


“Rasyi habis... ditonjok di perut. Tapi tidak parah kok. Tetap saja, jangan banyak gerak dulu, ya?”


“Ditonjok?!”


Alis Fares menggambarkan kesedihan, “Rasyi lupa? Kemarin Rasyi dibawa Kirana. Untung ayah berhasil cegat.”


Paman Hendra? Oh! “Aaa!”


“Di, dimana yang sakit?!”


Itu bukan inti kekhawatiranku saat ini!


Di mobil. Aku berusaha kabur tapi berakhir dipukul Dhika.


Hendra, dia mencegat? Aku tidak ingat bagian itu. Berarti itu setelahnya aku dipukul?


Lalu papa? Setelah itu ada apa?!


“Lalu? Habis itu?”


“Paman bawa Rasyi ke rumah sakit. Katanya, paman takut organ dalam kamu ikut robek.”


Organ dalam? Robek?! Hal itu bisa terjadi setelah diberi pukulan?! “Apa Rasyi....”


Fares tersenyum, “Tidak. Rasyi tidak papa.”


Aku terdiam. Semuanya kembali sangat cepat sampai aku bingung bagaimana cara menelannya.


Tunggu. Proseskan pelan-pelan.

__ADS_1


“Mereka, ditangkap paman Hendra?” aku kembali memandangnya.


“Iya. Kali ini mereka lagi ada di pengadilan.”


Oh iya! “Kirana. Dia juga ikut!”


“Tahu kok. Dia jadi tersangka utama.”


Lah?


Waktu aku ikut mereka, Kirana masuk ke mobil di tengah jalan raya. Keluar juga di jalan raya. Tidak ada yang melihat, selain orang asing yang tidak mungkin berpikir aneh-aneh.


Aku sempat berontak setelah Kirana keluar. Dan Hendra datang mencegat, setelah itu, kan? Berarti Kirana sudah lama pergi.


Bagaimana bisa mereka tahu?


Kalau tidak ada bukti. Pengadilan itu akan berbuah kekalahan.


Aku memeluk diri sendiri, “Kapan mereka keluar lagi?”


“Seharusnya minimal tiga tahun.”


Hmm? Heh?! “Bisa masuk penjara?”


Fares menaikkan selimut di badanku, “Selama ada bukti kuat.”


Kuberikan dia telunjuk, “Memang ada?”


Aaaa... kenapa ya anda malah tertawa?


“Ingat anting Rasyi?” anting-anting? “Paman kasih kamera di sana.”


Heh? Kamera? Di antingku?!


Aku tidak merasakan ada benda itu di telingaku sih.


“Waktu itu kebetulan paman telepon Rasyi. Tapi tidak HP Rasyi mati. Makanya kameranya diaktifkan sama paman. Di sana sudah ada Kirana.”


Benar juga. Aku mematikan ponsel agar tidak ketahuan waktu itu. Namun mereka tetap saja menyitanya.


“Apa... mereka... bisa masuk lebih lama di penjara?”


Ha ha ha. Ini bukan kabar baik berarti. Lalu harus apa? Ditambah lagi kalau papa masih berniat menikah lagi.


Papa!! “Papa! Di⏤Aaa!!”


Lagi tangan Fares menahan tubuhku, “Rasyi! Tenang dulu!”


“Makanya jangan terlalu semangat,” suara... papa?!


Loh? Tunggu. Papa tidak dibawa mereka? Atau sudah Hendra jemput?


Mata kami masih mengikuti satu sama lain meski papa berjalan dengan cepat ke samping ranjang kananku. Aku menggenggam lengan kemejanya.


Memastikan dia masih menatapku, “Papa, tidak apa?”


“Yang diculik siapa?” hmm? “Oh iya, maaf. Rasyi kan ikutnya sukarela!”


Ke, kenapa papa marah?


“Fares,” papa melipat tangannya di depan tubuhnya, “Kami mau bicara berdua.”


Heh??


“Ayo. Mending kita pulang,” Hendra yang ternyata masuk bersama papa mulai keluar mengajak anaknya.


“I, iya...,” Fares berdiri dari duduknya.


Fares akhirnya keluar dari ruang inap yang tampak nyaman ini. Pintu ditutup dan hening menenggelamkan aku dan papa.


Yang tentu tidak aku pahami kenapa!


“Papa... tidak apa kan?”


Dia menghela nafas berat sekali, “Papa tidak pernah ditangkap. Itu Rasyi.”


Oh! Aku melupakan fakta itu. Mereka kan mengincarku.


Entah bagaimana rasanya lega.


“Papa bawa pak Urman ke sini nanti,” Papa tampak tenang sekarang.

__ADS_1


Hmm? “Iya.” 


Kurasa beliau hanya panik. Mau bagaimanapun, setelah kejadian tidak terduga seperti itu, bisa tertinggal bekas di mentalku. Sama layaknya biasa terjadi padaku.


Tidak aneh kalau papa berkeras untuk membawa psikiater kemari.


“Kenapa kamu ikut mereka?” heh? “Mqu jadi korban? Mikir tidak resikonya?!”


Aa?! Baru saja aku pikir dia tidak sungguh-sungguh marah!


“Kamu tahu mereka niat jahat. Masih aja kayak orang bodoh ikut!”


Marah kenapa dia?! Panggil-panggil 'kamu' juga! Aku kan punya nama!!


“Salah siapa juga?! Papa tidak ada kabar-kabar! Rasyi kan khawatir, mereka bilang papa sama mereka!” aku ikut marah, “Tentang anting Rasyi juga! Tidak ada tuh bilang-bilang ke Rasyi!!”


“Kalau Rasyi tahu, mau apa? Mau gabung jadi mata-mata ke sana?”


“Apaan sih?! Gimana kalau Rasyi tidak kebetulan ikut?! Papa dapat bukti dari mana?!”


Tatapan itu entah kenapa semakin terasa tajam, “Papa bisa dapat dari mana aja kalau papa memang usahakan! Papa tidak diam saja kayak Rasyi!”


Dia bilang apa?


Langsung aku banting tubuhku terduduk, “Rasyi berusaha bantu!!”


Selalu saja!


Tadi Kirana, sekarang Rizki!


Amarahku meledak, “Memang aku bisa apa? Anak umur enam belas tahun! Memang bisa apa aku sama yang beginian?!”


Memangnya aku tidak tahu?


“Aku harus ikut saja?! Ikuti papa, yang tidak tahu ada dimana?! Masa aku harus diam?!!”


Dia saja. Tidak perlu dijawab!!


Sudah tahu kok, setiap orang di sekitarku menganggapku barang pecah belah yang rapuh. Yang bisa hancur kapan saja dengan tekanan yang rendah.


Namun, bukannya mengerti, mereka malah berpikir aku hanya diam karena keinginanku.


Memangnya mereka berpikir menggunakan otot?!


Tidak bisa. Hal ini sungguh menyentuh hati kecilku.


Baru saja aku mendengar pernyataan papa, yang meyakinkanku kalau aku lebih berharga baginya. Lalu sekarang dia mengatakan aku masih saja tidak berguna dan merepotkan?


Yang benar yang mana?!


“Kalau tidak ikut,” aku..., “Aku harus apa?!! Papa maunya⏤”


“Papa mohon....”


Heh?


“Tolong... Jangan lakukan lagi.”


Aku tidak bisa mempercayai mataku.


“Huuuh...,” nafasnya sungguh tak teratur, “Kalau papa kehilangan Rasyi juga.... Papa tidak bisa lagi.”


Papa.... Papa menangis.


Seumur hidupku, aku selalu dibingungkan dalam menebak ke mana arah pikirannya. Yang aku yakin hanyalah warna matanya⏤dimana bila menggelap berarti ia sedang sedih dan sebaliknya.


Namun, mengespersikan dengan jelas seperti ini... Tidak seperti papa.


Kenapa, rasanya bisa sesakit ini?


Langsung aku berdiri dengan lututku meski masih ada di atas ranjang.


Tanganku melingkar, memeluknya erat, “Iya, Rasyi tidak ulangi lagi. Rasyi minta maaf.”


Ia memelukku. Elus lembut rambut di samping telinga. Kami layaknya berbagi gemetar.


“Papa juga minta maaf. Papa tidak kasih kabar. Itu salah papa. Papa tidak bakal lupa kasih kabar lagi,” terasa tubuhku ditarik lebih dalam ke pelukannya, “Jadi, tolong... Jangan begitu lagi....”


Aku tidak pernah melihat papa sampai se-emosional ini.


Mataku ikut perih.

__ADS_1


__ADS_2