
Aku melambai kecil. Perempuan itu tidak bisa lebih lama lagi berpetualang di pusat perbelanjaan ini. Ia pun meninggalkanku dengan keempat cowok.
Ya, empat cowok. Kenapa jadinya aku yang playgirl?
“Mau ikut pulang?” Fares menangkap ketidaknyamanan dari diriku.
Tolong jangan mengunci jiwa orang cinta outdoor! “Rasyi mau jalan-jalan~”
“Mau ke mana habis ini?” Fares masih meminum sisa soda yang ia bawa dari bioskop.
“Game center!” malahan Saga yang menjawab.
Vian sepertinya tidak setuju, “Kayaknya aku mau main golf deh.”
Kepala Saga yang memiring bersamaan tatapan merendahkan ala Saga, “Golf tidak ada di game center.”
Vian tidak ragu untuk mengikuti cara merendahkan kembarannya, “Memang tidak.”
Ya, mulai lagi. Si kembar pun bisa ribut satu sama lain.
Namun kali ini aku melihat pemandangan lain. Mereka menyertakan Fares dalam perkelahian mereka. Indah pemandangan ini seperti dua anak yang sedang mengeluh pada bapaknya.
“Itu yang duduk di sampingku tadi!”
Hmm?
“Kelihatan jelas cakepnya. Aku banget.”
Wanita-wanita asing di sana membicarakan siapa? Pandangan mereka tidak salah lagi mengarah ke gerombolan kami.
“Kacamatanya bikin manis~”
Heh? Siapa yang pakai kacamata?
Oh, aku baru sadar kalau kali ini kak Fares pakai kacamata. Padahal mata kak Fares tidak minus. Model saja, ya?
Tunggu, berarti mereka membicarakan kak Fares?
Hmmm..., kalau dilihat-lihat hari ini kak Fares memang attractive sih.
Padahal kak Fares hanya menggunakan cardigan krem dengan kaos putih di dalam. Selain kacamata bertangkai putih, tidak ada hal spesial lainnya.
Ups, sepertinya aku terlalu jelas memandangnya sampai kak Fares membalas pandanganku di tengah ribut menenangkan si kembar. Dia tidak berkomentar sama sekali dan menyerahkan gelas soda yang ia minum tadi. Sepertinya kakak ini menangkap aku melamun karena ingin minumannya.
Yah, terima kasih deh. Aku terima dengan senang hati~
“Rasyi,” aku menyadari Harun yang mendekat dan berbisik, “Mau pergi berdua tidak sama aku?”
Ten... tu...?
Be, be, be, berdua?! Dia menyampaikannya dengan cara berbisik! Mana mungkin aku tidak mendidih dari sumber telinga sampai ke ubun-ubun?!
“Iya, iya,” Fares memecahkan keributan si kembar yang tidak bisa lagi masuk ke telingaku, “Fares mendorong kedua pundak itu, “Kita gantian pergi. Harun temani Rasyi, ya?”
__ADS_1
Kenapa kak Fares jadi seperti kabur?! Serius dia meninggalkanku di saat aku bisa sewaktu-waktu pingsan karena terlalu terpesona?!
“Ayo,” Harun masih dengan senyumnya meski untungnya sudah berdiri jauh dari telingaku.
“Ke, ke, ke mana?” tenang Rasyi! Jangan gagap!!
Tangan Harun meraih sesuatu yang ada di kantong kemeja navy yang rapi ia kenakan. Oh, dua tiket? Itu bukan tiket bioskop.
“Ada wahana salju yang baru buka,” Harun menyiapkan itu? “Gimana?”
Duuuh~ Jantungku kan jadi terguncang-guncang seperti suara sepatu kuda~
“Ya kita pergi dong~” sayang uangnya.
Tu⏤
“Lewat sini,” kenapa dia dengan santainya meraih tanganku?!
Kami memang dekat. Dan aku tidak mau jauh-jauh dari segarnya ketampanan Harun. Tetap saja jantungku belum dilatih untuk mendapatkan genggaman tangan Harun!
Rasa malu ini tidak bisa berhenti dengan tersadarnya aku akan ia yang seakan memanjakanku.
Dan rasa malu itu membuat waktu kami berjalan sangat cepat. Kami sudah sampai? Sungguh?!
“Pakai yang benar. Nanti kedinginan,” Harun masih saja melayaniku bahkan hanya memakai jaket pinjaman.
Halus dan hangat tangannya masih menggenggam tanganku sampai kami benar-benar masuk ke wahana. Perlakuannya membuatku merasa diriku lebih indah dari pemandangan putih salju buatan yang pastinya putih bersih tak tertandingi.
“Tempatnya luas ya?” aku tidak tahu harus seperti apa untuk melelehkan diriku yang membeku kesenangan.
“I⏤Aaaa!” aku jatuh!
Sesaat setelah mataku terpejam, aku bisa merasakan pelukan hangat. Aroma yang tidak asing mengetuk kelopak mataku sampai ia menemukan. Menemukan kalau aku ditahan oleh pelukan Harun sebelum aku sempat jatuh.
Harun menggerakkan satu tanganku ke pundaknya. Ia memastikan aku benar berdiri seimbang di kakiku, “Rasyi tidak papa?”
“I, i, i i i i, iya,” kuharap dekatnya kami tidak menghantarkan suara detak jantungku yang terlalu energik.
“Cie-cie~”
“Hayo, jangan di jalan.”
Aaaaa!! Langsung aku dorong pelan Harun dengan wajah yang bagai tomat. Kututup setengah wajahku dengan kedua tangan agar berharap bisa membantu mengurangi rasa malu.
“Hehehehe,” Harun, tolong jangan tertawa! “Ayo lanjutkan. Banyak tempat yang bisa dilihat,” dia mengulurkan tangannya.
Dia sungguh tidak memiliki rasa malu! Gerak tangannya yang seperti pangeran menyambut seorang putri, malu tidak malu, aku menerimanya.
Meniti kembali jalur yang sengaja disebarkan butiran benda putih. Pandang-memandang dan terjerat akan panorama.
Aku tidak menyangka jiwa manis Harun membawaku ke tempat serba es yang binar mengkilap dengan permainan cahaya lampu. Istana yang besar dan bisa dimasuki, hewan segala jenis, bentuk-bentuk yang dipahatkan. Hal cantik yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Para anak yang yang goyah untuk berlari memenuhi setiap sudut. Diramaikan juga dengan para dewasa yang saling berbagi kisah dingin yang menyenangkan.
__ADS_1
Kami tak banyak bicara tapi genggamannya seakan memperlihatkan apa yang ia pikirkan.
Waktu lagi-lagi berjalan sangat cepat meski kami sudah di tempat ini dua jam.
“Tunggu sebentar,” Harun akhirnya melepaskan genggamanku di kursi dua orang pada tengahnya banyak orang.
Keteganganku terhadap ramai tidak berpengaruh pada diriku yang kasmaran dengan mata yang masih mengikuti gerak Harun. Dia ke pusat souvenir? Oh, dia kembali dengan cepat. Sekarang ia kembali membawa tas kertas coklat.
Ia duduk di depanku, “Coba buka,” diserahkan bungkusan itu di atas meja.
“Apa sih?” aku bersemangat membukanya.
Oh! Snow globe! Di tengahnya ada buket mawar merah muda. Cantik sekali.
“Buat aku?” aku menggoyangkannya sedikit agar terlihat salju yang berjatuhan.
“Iya,” Di, di, dia memegangi kedua tanganku lagi! “Tunggu aku sebentar lagi,” hmm? “Sedikit lagi. Sedikit lagi aku siap.”
Apakah dia membicarakan tentang hubungan kami yang terus bergantung ini? Ini pertama kalinya ia membahasnya setelah terakhir kali dia mengatakan kalimat itu dua tahun yang lalu.
Hatiku bergetar. Entah karena apa. Mungkinkah aku kecewa? Tentu aku tahu hubungan kami ini tidak normal. Sudah seharusnya aku meninggalkan pria yang tidak berkomitmen seperti ini. Diri ini sungguh mengetahuinya.
Namun, tentu saja aku juga akan menunggu Harun. Tidak ada tindakan yang lebih tepat dari itu. Karena aku ingin hubungan kami sungguh tersusun dengan baik layaknya jigsaw puzzle, jadi aku tidak mau memaksanya akan waktu yang ia butuhkan.
Lalu, rasa sakit ini karena apa? Mustahil kan aku ragu dengan Harun?
“Rasyi?” oh! Tangan Harun masih menahan kedua tanganku yang menggenggam snow globe, “Kenapa? Kamu... tidak percaya denganku?”
Heh? “Tidak mungkin! Aku pasti tunggu. Kamu sudah tahu itu kan?” aku tersenyum secerah mungkin.
Benar. Kami saling mencintai. Itulah yang terpenting.
Ia ikut tersenyum, “Iya, aku tahu.”
Aku tidak tahu se-malu apa aku sekarang. Untungnya aku memiliki benda di tangan yang bisa menjadi mengalihkanku. Harun melepaskan tangan, mungkin agar aku bisa memperhatikan hadiahnya lebih baik.
“Kalau gitu, susul yang lain gimana? Udah waktunya makan malam juga.”
Mengangguk kepalaku, “Iya.”
Jalan mengikuti keramaian. Meski sangat banyak orang, langkah kami sangat nyaman seperti jalan ini khusus untuk kami. Kurasa tempat janjian itu akan cepat sampai seperti yang sudah-sudah.
“Kak Achi!!” Hmm? Suara itu kan....
“Aa!” aku terkejut sampai melepaskan genggaman Harun saat sosok kecil itu berlari dan memeluk kakiku.
Tidak salah lagi. Si Daffa kecil!
Bagaimana... bukannya dia ke rumah sakit untuk cek kesehatan bersama papa?
Kupandangi gerombolan orang yang melangkah kemari. Di samping Fares dan si kembar sudah ada tante Ira, si ibunda dari Daffa.
Oh, ternyata ada papa juga.
__ADS_1
Baiklah, aku bingung.