Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#29 Memang Kacau


__ADS_3

Sepertinya pikiranku melayang entah ke mana. Aku sedang apa ya?


Oke, jelajahi kembali jejak kaki.


Pertama, aku setuju pacaran dengan si ikan lele bersungut panjang yang berdiri di depanku ini. Kedua, aku sudah mengeluarkan akting luar biasa, menunjukkan aku menyukainya dan ingin berpacaran. Ketiga, aku ditolak mentah-mentah.


Sungguh?!


Tekadku sudah berapi-api! Kenapa ikan lele ini malah membuatnya rumit?!


“Maaf,” si kak Nafis memecahkan keterkejutanku, “Aku pergi ya?”


Tak paham sama sekali. Dia tidak suka denganku? Sungguh? Aku ini sering menjadi rebutan! Mata kamu kelilipan air ya?!


Rasyi, tenang. Bukan saatnya untuk memberikan hujatan indah padanya. Aku harus jadi pacarnya sehingga bisa menceburkan ikan air tawar ini ke laut!


Saatnya menunjukkan kerugian menolak Rasyiqa Dheanadari Wirandi!


“Apa aku ada salah, kak?” wajah sedih milikku memang tidak ada duanya.


Nafis ini memainkan rambut pendeknya, “Gak gitu, cuma....”


Engkau ingin mengatakan alibi apa untuk menolak malaikat cantik ini?


“Rasyiqa anak dokter Wirandi kan?”


Heh? Kenapa pembahasannya malahan ke sana?


“Iya,” aku masih mengeluarkan ekspresi sedih dan berharap, “Kenapa?”


“Tuh kan. Itu berarti Rasyi orang hebat.”


... apa hubungannya?


“Apalagi, Rasyiqa banyak yang suka. Aku jadi gak PD.”


Pintar sekali anda bicaranya ya~ Mending tutup saja mulutmu! “Tapi aku lebih pilih kakak!”


Wajah sedih yang menjijikkan! “Yakin? Aku gak punya apa-apa loh.”


Apa jangan-jangan....


“Aku tidak akan minta apa-apa! Aku yang bakal kasih kakak apapun! Tolong pikirkan lagi jadiin aku pacar kakak!”


Dia, dia tersenyum?


Orang ini kok rasanya berdiri semakin dekat?!


Tenang, Rasyi. Walaupun kami saling bicara di tempat sunyi, ada Harun dan si kembar ikut menguping di suatu tempat. Seharusnya mereka juga merekam ini. Aku aman.


Dia bisa dengan mudah mengubah ekspresi. Sekarang pun ia bisa terlihat senang dan bersemangat, “Beneran?”


“Kenapa aku ragu kalau memang aku suka?” hmm, bagus kan pemilihan kalimatku?


Ih! Tangan dia kenapa mengelus kepalaku?!


“Baiklah,” dia tersenyum, “Mohon bantuannya, pacarku~”


... ternyata benar dugaanku.


Itulah kenapa dia membawa-bawa nama papa. Dia bisa merubah pikiran dan menerimaku dengan mudah karena aku langsung memancing bahasan yang ia cari. Selama ini mungkin ia membuka hati pada Firna karena itu juga.


Ini lele mau cari cewek penunjang hidup. Dalam artian, matre.


Aku menyentuh pipi, mencoba imut sebisa mungkin, “Iya!”


Yang terpenting, langkah pertama sudah berhasil. Bom sudah masuk perut ikan. Langsung saja aku ke langkah kedua.


Aku akan membakarmu habis sampai ke duri-durinya!!


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


Mungkinkah aku mendapatkan kutukan yang merupakan bayaran dari kejamnya Rasyiqa saat ini? Apakah mungkin karena aku menaksir anak dari gebetan Sekar?


Tidak aku sangka aku sungguh menjadi putri duyung yang mengencani ikan lele!


“Enak juga makan di sini,” dia malahan suka karena aku ajak makan di tempat yang lumayan mahal.


Dasar ikan lele mata duitan!

__ADS_1


“Iya kan~ Aku sering makan bareng teman loh~” bukannya hebat sekali? Bahkan temanku bisa membeli makanannya sendiri di tempat ini!


“Si pintar itu juga? Siapa namanya? Arun?”


Dasar lele! “Oh, Harun. Iya, dia juga.”


“Aku pikirnya kalian saling suka loh.”


Ya memang! “Aku tidak suka orang-orang bilang begitu. Padahal aku sukanya kakak.”


Iuh! Tidak aku sangka mulutku mengatakannya!


Sabar. Ini demi langkah ketiga. Aku sudah berusaha keras mengajaknya berkencan sebagai bentuk langkah kedua. Sekarang aku harus menunggu Harun membawa Firna⏤


“Kak, kak Nafis? Rasyi?!”


Loh? Sudah sampai? Mana Harun?


Aku memandang ke balik meja cafe yang jauh di sana. Wajah Harun terlihat panik bersamaan dengan gerak tubuhnya yang mengambil duduk di meja empat kursi itu.


Jadi... Firna menemukan jalannya sendiri kemari?


“Kak Nafis ngapain bareng Rasyi?”


Yah, masih sesuai rencana sih.


“Hai Firna~” aku harus berakting bodoh, “Tapi kok, kak Nafis kenal Firna ya?”


Firna tersentak, “Maksud kamu?”


“Tidak,” loh? Lele, kamu bilang apa tadi? “Aku tidak kenal. Siapa ya?”


Wah. Fix! Nih anak sudah lewat tanggal kadaluarsanya! Jelas-jelas dia sudah pacaran dengan Firna. Masih sok tidak kenal?!


“Kak..., kita baru pacaran kemarin!”


Duh, apakah gagal membuat mereka putus tanpa menyakiti Firna?


“Maaf. Kayaknya kamu salah orang.”


Si leleeee!! Kamu menghancurkan rencana⏤


“Hei!”


Tunggu! Firna kenapa menarik rambutku dengan keras tiba-tiba?!


“Aaa!” sakit!


“Fir! Lepasin!” suara Harun.


“Kak Firna!”


“Heh! Sabar!”


Si kembar kah?


Tidak tahu lagi! Rambutku sakit! Aku tidak bisa memperhatikan apapun!


Fuuh! Lepas juga. Tenaganya Firna mengerikan!


Heh? Heh?! Kenapa aku malahan dipeluk kak Nafis?!


“Apa-apaan?!” kamu tuh, lele, yang apa-apaan?! “Kalian bertiga temannya, kan?! Bawa pergi sana! Jangan ganggu orang kencan!”


Sungguh?!!


Langsung aku dorong manusia bermulut lebar itu, “Firna, dengar dulu! Kamu kan tahu kalau aku tidak mungkin suka sama nih orang! Aku mau tunjukkan kamu kalau dia busuk begini!” kutunjuk si Nafis ini.


“Apa?”


“Benar, Fir,” Harun tampaknya menahan bahu Firna yang masih marah, “Rasyi tidak benar-benar pacaran sama dia.”


“Rasyiqa,” kenapa lele? Kaget ya?


Kutatap ia sinis, “Kamu percaya aku suka sama kamu? Maaf saja, mustahil!”


“Rasyiqa! Aku ini pacarmu!”


“Tidak ada yang bilang itu sungguhan!” aku tidak bisa menahan amarahku. Pria ini sungguh seenaknya! “Sudahlah! Aku tidak mau mengurusi kamu lagi! Kita pergi, guys⏤Aa!”

__ADS_1


“Kamu itu pacar aku!!”


“Lepas,” aku tidak suka muka aslinya ini.


Sakit! Dia menggenggam tanganku erat sekali.


“Kamu mau ke mana?!”


“Lepas!” sial..., kenapa aku malah takut?! “Aaa!”


Dia menarik tanganku yang satu lagi.


BRUK!!


Heh?


“Rasyi!” Harun langsung mengambil alih kedua tanganku.


“Sag!” Vian langsung berlari ke arah suara jatuh itu.


Fuuh! Dicengkram seperti itu bukan kenangan yang baik. Untung saja dia cepat ditangani.


Tunggu, Saga yang menyerang kak Nafis. Berarti yang sekarang dihempas dan dipukul terus menerus oleh Saga itu kak Nafis?!


“Berhenti, Sag!” Vian berusaha menahan Saga yang masih duduk dan memukul apapun yang ada di bawahnya.


Tidak mungkin tanah dong, Rasyi! Sadarlah! Itu Saga sedang menghajar kak Nafis habis-habisan! Pengunjung cafe yang lain juga tahu itu!


“Harun, hentikan Saga. Ayo!” tenagaku tidak mungkin menghentikan Saga yang bisa bela diri.


Pria ini menahan tanganku lembut, “Biarin saja. Dia pantas dipukul habis bikin Rasyi luka begini.”


Serius?! “Tidak begitu juga, Harun!” aku menarik tanganku.


“Rasyi⏤”


“Saga lepas kendali, Harun!” aku berlari ke arah Saga yang masih berusaha dihentikan Vian meski tak berhasil.


Gawat. Aku tidak tahu lagi nih bagaimana muka kak Nafis kalau diteruskan lagi. Namun, aku bisa melakukan apa untuk menghentikan monster ini?!


Duh! Tidak peduli!


Kubantu Vian menarik Saga menjauh dari tanah tempat kak Nafis terjatuh. Membuatkan diriku sendiri celah di depannya, dan....


PRAK!!


Berhenti? Orang barbar ini berhenti waktu kutampar di kedua pipinya bersamaan kan?


“Auw!” sepertinya dia kembali tersadar.


“Maaf.”


Kutatap kak Nafis. Duh. Wajahnya babak belur sekali.


“Panggil ambulan!”


“Tahu nomornya?”


Sepertinya para pengunjung dan pegawai cafe bergerak dengan cepat. Mereka membantu kak Nafis untuk bangkit.


Kenapa Saga masih saja bersikap sinis seperti mau menyeruduk sih? Bahkan kak Nafis jadi takut kan?


“Sudah!” aku menampar kedua pipinya kembali.


“Sakit!”


“Makanya tenang!”


“Iya-iya,” dia akhirnya lebih tenang dan duduk di tanah, tentu dengan wajah kesal.


Huuh, padahal rencana tidak berkelas ini sudah disusun sesimpel mungkin. Aku tahu ini akan kacau. Memang niatnya membuat hubungan Firna dan si lele menjadi kacau. Namun tidak diperhitungkan hasilnya lebih kacau lagi.


Sekarang apa sih Vian?! Main senggol saja! Dia mengarahkan kepalanya ke mana?


Benar!


Langsung aku berdiri, “Firna...,” aku sampai bingung dan lupa. Padahal dia sudah menangis seperti itu.


Tanpa aku mengatakan apapun, aku membuka lebar kedua tanganku. Syukurlah dia tak salah paham sama sekali denganku dan mendekat. Memelukku, membekap tangisnya.

__ADS_1


__ADS_2