
Mataku... berat. Aku tidak berniat bergerak selain bersandar pada sesuatu yang ada di sampingku. Bahkan, lebih baik aku hanyut dalam mimpi saja selamanya.
Namun, sentuhan hangat itu menginginkan hal lain. Ia menepuk-nepuk pipiku, melarang mimpi untuk merujuk masuk.
“Hmm!” aku tidak menyukainya. Pergilah.
“Jangan tidur di sini.”
Menegakkan badanku. Dengan tak memperdulikan rambut yang menutupi sebagian wajah, aku sibuk menggosok mata.
Tangan pemilik bahu yang kupinjam itu menyisir rambutku ke belakang dengan jarinya, “Ke kamar sana.”
Aku menggeleng tidak ingin.
Kurasa lamanya berlalu kejadian dies natalis masih kurang panjang untuk menghapus gemetar. Terbutakan akan hari tidak membuatku beranjak mencari tahu.
Biarkan saja aman seperti ini.
Ia terdiam. Memandangku di atas lututnya yang menekuk di lantai ruang tamu.
Wajah sendu itu terpampang nyata, “Kalau ngantuk jangan dipaksa.”
“Rasyi tidak ngantuk...,” aku menggeleng, memelekkan kedua mataku lebih lebar.
Ia mulai menepuk kepalaku kembali, “Rasyi takut apa?”
Entahlah. Yang pasti aku tidak bisa tenang sedikit saja bila aku tidak mengetahui dimana letak Fares, sebentar saja. Aku pasti masih trauma tentang kejadian dua tahun lalu.
“Kak Achi!!”
Daffa dengan kaki pendeknya berlari tak beraturan ke arahku. Apa yang anak kecil ini inginkan di saat diriku sendiri sedang kalang kabut?
Ia memegangi kakiku yang masih duduk lemas di sofa panjang, “Kak Achi acain ini!”
Kening ini mengkerut. Dia membawa buku? “Nanti.”
“Cekalang!”
Anak ini kenapa jadi keras kepala? “Minta yang lain.”
“Wa! Kak Achi acain uku cekalang!!”
Berisik!
Untunglah Ira menunjukkan dirinya, “Daffa, sama mama sini yuk.”
“Cama kak Achi!!”
“Gimana kalau kak Fares?” Fares ingin ikut membantu.
“Idak!!” anak ini menarik kakiku dengan kuatnya, “Kak Achi! Acca!”
“Berisik!!”
Eh?
“Haaaaa!!” teriakkan tangis itu tak baik walau ibunya sudah memeluknya erat.
Orang rumah yang tampaknya melihat kejadian itu, berkumpul dan menggerombol Daffa. Sesekali dengan lirikan tak menyenangkan kepadaku. Tatapan ke arah seorang pelaku yang mendorong anak kecil sampai jatuh pada kepalanya.
“Haaa! Kak Achi jaat!!”
Apa yang kamu lakukan sih, Rasyi?!!
Langsung aku mengambil langkah seribu ke arah kamar layaknya pengecut. Ketakutan akan tanggapan mereka yang tak terbaca.
“Fuh!!” bukannya menyesal, aku masih saja kesal.
Tidak bisa seperti ini! Aku harus menenangkan diriku. Bila tidak, masalah apapun termasuk tentang papa tidak akan selesai.
Kujatuhkan tubuhku terduduk di ujung ranjang. Memegangi kening berusaha tenang.
Dinginkan kepalamu, Rasyi! Bernafas. Hilangkan putaran yang memberatkan. Sakit yang tak terjelaskan ini. Apapun itu, hentikan! Berhenti gemetar!
Hentikan!
__ADS_1
“Sayang!”
Eh?
“Coba lihat tangannya,” Sari? Dia sudah duduk di sampingku, “Sampai merah begini....”
Mungkinkah aku mengepalkan tanganku terlalu keras?
Ada-ada saja diri ini. Untuk apa sakit itu? Ia tidak membuahkan apapun pada gemetar di seluruh tubuhku.
“Sayang, dengar,” ia menekan wajahku lebih dekat dengannya, “Tidak ada yang salahkan Rasyi. Semua pasti ada yang ditakuti. Tapi ada yang lebih penting daripada itu.”
Aku tahu itu! Makanya, aku mencoba menelannya dan berpikir lurus. Rasa takut hanya akan menggangguku mencari cara untuk aman.
Hmm? Kenapa Sari menarik kedua ujung bibirku?
“Senyum~”
Senyum?
“Tante kan sudah pernah bilang, Rasyi harus bahagia biar papa Rasyi tidak khawatir.”
Heh? Apa-apaan itu?
Itu hanya alasan yang kamu berikan saat aku bayi. Saat aku tidak tahu bahaya sebenarnya yang bisa sewaktu-waktu merenggut nyawa.
Dan dia berharap aku akan tenang seperti bayi atas ketidakpastian ini?!
Kujauhkan kedua tangan Sari, “Buat apa dia khawatir ke aku kalau yang ada di masalah itu dia?”
Bukannya wajar kalau anaknya mau mengamankan keadaan? Terlepas dari status sebagai anak, aku pun tidak mungkin bisa tenang dengan bahaya yang sudah mengikatku. Yang sudah ada di kehidupan sejak pertama Rasyiqa membuka mata.
Kalau aku lengah... Itu akan terjadi lagi.
“Rasyi. Tante kan bilang, bukan berarti Rasyi tidak boleh takut,” wanita ini langsung memelukku, “Rasyi kan tahu, Rizki itu sayang sekali dengan Rasyi. Gimana Rizki bisa tenang kalau Rasyi juga tidak tenang.”
Aku tahu.
Berteduh di satu atap rumah yang sama selama enam belas tahun. Mengenalnya bahkan dengan fisik tubuhku yang baru delapan bulan. Diri ini menyadarinya lebih dari siapapun.
Lenganku membalas pelukannya walau masih bergetar hebat, “Aku harus tunggu sampai kapan...?” tangis ini mengalir lagi.
Tepukan pelan yang khas di punggungku, menenangkan perlahan, “Kita tidak pernah paham sama pemikiran Rizki. Tapi dia tahu apa yang harus dia lakukan. Makan waktu lama juga termasuk rencana.”
Yah, tidak ada yang tahu apa yang direncanakan di otak encer itu. Seperti itulah dari dulu.
Bukan berarti dengannya aku bisa tenang, “Tidak bisa... Rasyi takut....”
“Tante juga selalu begitu, kayak paman Hendra kerja jauh. Dia kan langsung kejar penjahat.”
Kudorong pelukannya dan memandang wanita dengan sosok suami hebat di mata masyarakat. Bayangan wajah itu tertangkap sendu di mataku.
“Tapi tante harus dukung. Tante tunggu biar dia tidak bingung pikirin tante. Dia pasti pulang. Mau ditunggu atau tidak. Rizki juga begitu.”
Namun... Namun....
“Karena Rizki saya~ng sekali Rasyi.”
Deras itu berlinang. Sampai panas terasa jelas di kedua bola mataku yang basah. Perih sampai pelukannya sangat nyaman.
Aku takut. Aku tahu aku harus menunggunya sama seperti yang selalu ia harapkan.
Aku... Terlalu takut untuk diam....
Ia bersuara kembali, “Gimana kalau Rasyi balik sekolah lagi besok?”
Hmm?
“Sayang loh acara bulan bahasanya. Fares waktu itu saja heboh. Sibuk urus ini, itu.”
Karena dia ketua OSIS saat itu.
Namun aku tidak seperti Fares, yang bahkan luka jahitan parah dianggap bukan apa-apa. Ketakutanku sungguh aneh sampai bersekolah saja tak mampu. Haruskah aku homeschooling* lagi seperti keseharianku sebelumnya?
“Kan kantor paman Hendra cuma seberang,” Sari masih saja membujukku.
__ADS_1
Wanita ini dan suaminya, seperti keluarga keduaku. Merawatku dari kecil sampai-sampai lupa kalau aku sudah sebesar ini. Cara mereka melimpahkan kasih sayangnya.
Mungkin saja beliau ingin aku menenangkan diri dengan kesenangan.
Aku selalu membuat mereka khawatir. Kali ini aku harus sungguh-sungguh menurunkan bahu yang tegang.
“Iya.”
Hmm? Ponselku bersuara?
“Ya sudah, istirahat saja dulu ya~” ia mengelus lembut pipi kiriku.
Mengangguk aku mengantarkan beliau bangkit dari duduknya. Ia biarkan kamar sepi setelah ia melewati pintu yang sudah tertutup itu.
Tentu dengan notifikasi yang berisik. Periksa, tanganku membuka room grup pesan.
[Rasyi~ GWS ya~]
Hmm?
[Gak asyik gak lihat muka Rasyi di sekolah.]
[Halah! Tidak usah didengerin, Ras! Jomblo kronis gitu tuh!]
[Kita pake basecamp-nya tapi orangnya tidak ada.]
[Besok Agina baca puisi loh.]
[Iya nih, dukung aku dong!]
[Semangat]
[Gak ada Harun sih, jadi lemas.]
[Sakitnya sampai kapan, Ras~?]
[Sampai sembuh]
[Iya juga yak]
[Kecuali sakit hati]
[Eaaa~]
[Ras! Camilanmu di rumah dihabisi sama Qun!]
[KAMU TUH YANG HABISI]
[Kalem.]
[Pak Windu otw guys!]
Aku terbisukan. Yang mereka tahu memang aku sakit, tapi aku merasa seperti mereka berusaha membakar semangatku layaknya tahu aku terjerat emosi.
Chat lagi? Privat? Firna.
[Ras, kalau kamu ada yang ditakuti, aku bakal temani ke mana saja. Kamu harus temani aku keliling loh! Kami juga sudah pesan bando couple. Sayang kalau tidak dipakai~]
Fuuuh... anak-anak ini.
Senyumku pada mereka yang ada untuk memperdulikanku. Barangkali aku bisa membuat mereka tidak khawatir.
Kuketik jawaban untuk Firna.
Besok aku masuk lagi kok. Sudah janji ya jadi pemandu wisataku seharian~
Langsung dijawab Firna?
[Jangan kabur ya~]
Tawa kecil menyertaiku. Kami melanjutkan saling balas pesan meski aku yakin guru sudah masuk ke ruang kelas sana.
________________________________________
*) Homeschooling adalah metode belajar mengajar yang dilakukan di rumah. Bisa dari orang tua sendiri atau mendatangkan guru.
__ADS_1