
Aaa... aku seperti kehilangan tujuan.
Mungkinkah, jalur pemikiran normalku sudah ada di batas persentase kemampuannya? Perlu diganti baru, kah?
Baiklah, Rasyiqa yang manis, mari kita mulai lagi kebiasaan kita yang paling efektif. Tenangkan otakmu, dan pilah kembali apa yang sebenarnya terjadi.
Pertama, oke, aku mengaku kalau aku suka Fares. Hmm... bahkan aku sudah sampai pada tahap percaya diri saat mengatakannya.
Kedua, kak Fares... menolakku? Tidak. Itu masih permulaan! Yang pasti ketiga itu, aku sudah bertekad akan membelokkan hatinya dan menerimaku. Itu tidak akan sulit bagi Rasyiqa yang keras kepalanya sudah diklarifikasi oleh ayahnya sendiri.
Kalau seperti itu. yang keempat.... pada suatu hari, aku menemukan wanita bernama Clarissa. Yang aku tahu, itu kenalan keluarga Hendra. Dan pasti itu kenalan Fares.
Jadi... apa masalahnya?
“Rasyi,” suara di sampingku terdengar lemas.
“Apa?” sepertinya aku juga lemas.
“Gimana jadinya kalau gebetanmu pasif?”
“Kenapa kamu tanya aku?”
“Aku cuma takut. Apa dia sudah punya gebetan sendiri ya?”
...
...
..⏤
AAA! Itu masalahnya!
Kak Fares, dia, Fares! Dia seperti menikmati waktunya bersama wanita itu! Clarissa kek, Riri kek, siapa kek namanya! Fares senyum-senyum sendiri waktu itu!!
Dia, dia dia dia. Jangan bilang dia gebetan Fares?!
Kedua tanganku menahan kedua pipiku, “Tidaaak!!” aku keduluan!
“Iya kan...?”
Kak Fares suka orang lain? Itu bisa jadi menjawab pertanyaanku terhadap sikap Fares.
Fares itu manis dan baik. Tidak mungkin dia tega bilang tidak padaku. Jadi kesannya seperti dia memaksa dirinya sendiri untuk menolak pengakuanku. Mungkin dia takut aku sakit hati. Dan alasannya karena dia suka orang lain.
Aaaaa... kak Fares dengan orang lain?
Firna mengguncangku, “Iih, terus gimana~?”
Kupandang Firna, “Fir, masa harus let it go...?”
Masa, aku harus menyerahkan kak Fares buat bahagia sama orang lain?
“Apaan?! Kok let it go terus!”
“Ya mau gimana? Masa mau jadi pelakor?!”
“Pelakor apaan?! Dia belum punya pacar!”
“Belum pacaran pun kalau dia bahagia sama yang lain⏤”
“Jangan sampai anj...! Amit-amit!!”
Aku menatapnya tajam tapi dengan suasana tetap sedih, “Kok kasar sih...!”
Minggu pagi, bukannya senang. Kami berdua menggalau. Padahal drama yang kami tonton pun sedang tidak ada sedih-sedihnya!
Namun kami menghabiskan waktu dengan berteriak kegalauan.
Bagaimana bisa tidak?! Aku baru menyadari kalau kak Fares sedang menyukai seseorang! Caranya bagaimana aku bisa senyum dalam keadaan seperti ini?!
Aaaaaaaa!!
“Hupm!” sesuatu masuk ke dalam mulutku. Kue?
“Nanti ditegur tetangga,” papa sudah berdiri di belakang sofa yang aku duduki.
Papa terganggu kegalauan kami ya? Maaf deh, yang tidak pernah merasakan kegalauan cinta lawan jenis. Tanpa usaha pun, anda sudah mendapatkan cinta mama dengan mudahnya. Kau tidak akan mengerti!!
__ADS_1
“Maaf,” Firna tidak bisa menghilangkan kegalauannya meski bisa menjawab papa.
Tampak papa mengulurkan toples kue ke sofa antara kami, “Kenapa? Gebetan lepas?”
...
Well, tidak. Saya rasa aku terlalu meremehkan papa. Pria satu ini keterlaluan pemahamannya.
“Kok paman tahu?” Firna, tidak harus mengiyakan langsung kan?
“Benar?”
Tuh kan! Papa itu masih main tebak-tebakan! Seharusnya tidak perlu dijawab!
“Paman, paman pernah punya pacar kan?” introgasi dadakan apa ini, Fir?
“Mamanya Rasyi.”
Wow.
“Kalau lagi pacaran, paman pasti tunjuk-in jelas-jelas kalau paman pacaran, kan? Status. Atau cerita-cerita, gitu?”
Oh, aku paham ke arah mana pembicaraan ini. Firna tidak mau menerima kenyataan gebetannya punya gebetan juga. Atau lebih buruk, punya pacar. Makanya dia mau menunjukkan padaku kalau gebetannya save.
Lalu, aku pun ikut penasaran. Memandang papa satu ini untuk menjawab.
“Buat apa orang tahu kalau aku punya pacar?”
Aa ha ha, tentu saja itu jawabannya.
“Kalau mamanya Rasyi gitu sih.”
Oh? Sungguh? Berbanding terbalik sekali.
“Denger tuh! Tidak ada status yang bilang dia punya pacar!” Firna malah berteriak padaku.
Nih anak dah! Aku kan juga merasakan yang sama! Kenapa dia menyuruhku untuk melempar kenyataannya seperti orang polos yang tidak tahu apa-apa?!
Aku berteriak balik, “Gebetan, beda cerita!” kembali aku pada papa, “Sebelum pacaran, mama memangnya bikin status kalau suka sama papa?!”
“..., no.”
“Masa kamu tidak dukung aku?!”
“Tidak mau!” aku saja sedang sakit hati. Mau dukung bagaimana?!
Aku semakin bingung dan bingung. Tidak seperti masalahku pada Harun, aku harus memulai hubungan ini dari awal. Benar-benar membangunnya dari hubungan sekedar kakak adik. Membangun rasa suka dari nol.
Dan aku tidak punya pengalaman apapun akan hal itu!!
“Rasyi, gimana dong...,” Firna mengguncang-guncang tubuhku.
“Tu, tunggu!” aku terantuk, harus cari cara⏤oh, “Papa playboy berpengalaman kan? Tolong nasihatnya.”
Papa terdengar tertawa kecil, “Playboy apanya?”
Kuberi dia jari telunjuk, “Berapa kali papa pernah ditembak? Tidak terhitung kan?”
“Rasyi bisa hitung berapa kali Rasyi ditembak?”
...
Apakah aku termasuk playgirl?
Tunggu, bukan saatnya untuk menanyakan jati diri! Aku harus menguras pengetahuan papa ini sebelum dia kabur!
Langsung kuputar duduk menghadap sandaran sofa yang ada di antara aku dan papa yang berdiri, “Aa⏤”
“Papa tidak bisa bantu bikin Fares suka Rasyi,” papa menundukkan kepalanya mendekat ke arah... ku....
Kenapa malahan disebutkan segamblang itu?!
“Bukan itu!” aku berteriak.
“Terus?”
“Rasyi cuma mau dengar pengalaman papa!” aku bertahan dengan wajah yang memanas.
__ADS_1
“Kan sudah papa ceritain,” papa melipat kedua tangannya dan menahannya di atas sandaran. Membuat wajahnya lebih dekat lagi, “Mama Rasyi yang nembak duluan.”
Nih papa tidak bisa ya ikuti alurnya saja ya?! Cerita tuh yang benar. Kalau memang sudah tahu, dukung anaknya biar lebih semangat dong!
“Tapi kalau dia nolak gara-gara punya pacar...,” Iya, Firna, aku paham.
Aku menangkap papa melirik temanku yang satu ini, “Saga tidak punya pacar.”
...
Eh?
Firna memandangku, “Kok cerita-cerita sih?!”
“Tidak! Aku tidak cerita ke siapa-siapa!” aku menghindari tangan Firna, “Papa tuh lagi tanya. Kalau kamu reaksinya begitu, berarti benar kamu suka Saga!”
“E, aa?”
“Saga kalau suka sama orang, dia tidak pernah minta pacaran,” papa menegakkan tubuhnya, “Kalau mau pacaran, kamu yang harus maju duluan.”
“Tapi....”
“Takut terus nanti kelewatan. Kerjain,” kalimat motivasi dari papa yang singkat dan padat.
Firna masih merengek cemas.
Namun itu memang salah Firna karena bahkan belum mencoba. Yang dia harus lakukan adalah mencoba dulu, baru berpikir setelahnya.
“Beres?” papa kembali memandangku, “Terus Fares kenapa?”
A ha ha, senyumin saja deh, “Kenapa?”
Papa terdiam sejenak, “Oh. Tentang... siapa namanya, Riri?”
Ha ha ha~ Papa ini, “Siapa?”
“Dia teman dekat Fares. Bisa jadi, ada suka.”
Firna histeris, “Aa, apa? Terus?!”
Papa tersenyum? “Kayaknya Rasyi sudah keduluan.”
Wahai papa, JELEK! Sudah tahu hatiku tertusuk-tusuk! Tambah ditikam saja sekalian!
Hmm?
Kepalaku ditepuknya? Bukan, ini namanya rambutku yang diacak-acak.
“Papa juga awalnya tidak mau sama mama. Tapi ada kelebihan mama Rasyi yang Rasyi juga punya.”
Aku melengkan kepala, “Apa?”
“Keras kepala.”
“Hm?!” terkejut aku, saat papa menekan pelan hidungku.
Ia tersenyum hangat, “Sisanya terserah kalian.”
Eh?
Aku mendengar papa tertawa kecil. Namun di sela itu, aku mendengarkan nada ringtone ponsel papa.
Papa melangkah pergi, “Halo, Ira?” papa ditelpon tante Ira?
“Maksudnya?” Firna tampak bingung.
Namun aku lebih dari paham.
Papa selalu mengatakan padaku untuk menjadi kelinci yang benar. Menggunakan rasa keras kepala dengan benar. Dalam artian, aku tidak boleh diam menggalau seperti ini dan terjang seperti yang biasa orang keras kepala lakukan.
Tidak ada hal lain yang perlu aku lakukan.
“Fir!” langsung aku genggam tangannya, “Ayo kita lakukan. Tembak langsung. Tembak lagi!”
“Ey? Apaan?!”
“Kita harus berjuang, Fir!”
__ADS_1
“Rasyi,” papa, kembali? “Papa ke rumah Hendra. Daffa sakit. Ayo, kalau mau ikut.”
Hmm? Daffa?