
Hmm? Aku.... Terbangun? Pasti ini sudah pagi. Jam berapa?
Bantal yang nyaman harus aku tinggalkan sejenak. Memiringkan tubuh ke dengan tangan kiri sebagai penyangganya.
Usai sibuk menggosok mata. Tanganku, yang seperti kain gemulai lemah, merambat ke meja yang sering aku letakkan ponsel. Kenapa tidak ada?
Dapat... Buku? Sejak kapan aku meletakkan buku di sini?
“Cari apa?”
Hmm? Tangan orang? Ada yang duduk di sofa samping sana?
Kubuka mulutku, “HP Rasyi....”
“Tidak ada di sini. Paling di kamar Rasyi.”
Hmm?
Itu papa?
...
Apa aku masih setengah tidur? Mimpi mungkin?
“Tidur lagi. Masih malam.”
Ragaku memaksa otakku untuk sepenuhnya bangun. Gelombang kejut itu menegakkanku dari posisi terbaring.
Membelalakkan mata sampai akhirnya mataku bisa memastikan itu bukan ilusi. Pastikan bila suara itu benar nyata seirama dengan pendapat telingaku. Semakin mendalami keadaan, semakin sadar.
Bergejolak lebih rasa tak percaya.
“Kenapa, hmm?” ia berdiri dari sofa itu. Berjalan dengan gagah sampai duduk di sampingku. Mengelus wajahku seperti sosok ayah yang biasa, “Mimpi? Coba tidur lagi. Papa tunggu.”
Apa maksudnya tentang papa hilang itu cuma mimpi? Mana mungkin seburuk itu hanya mimpi lewat!
“Papa kan hilang satu bulan....”
Bergilur, dari rasa kejut yang gamblang ke sendu yang rapuh. Tak dapat diterka bahwa ia akan langsung memelukku.
Hangat. Mataku meleleh, tapi juga geram.
“Maaf,” suara itu bergetar.
Aku tidak terima!
Kutanggal pelukannya. Dua kepalan itu memukulnya sekali, dua kali, tiga kali. Jengkel disela mataku yang merintih.
“Rasyi benci papa!! Papa jahat!! Sukanya main hilang saja!! Jahat!!” aku merasa sangat lelah..., “Hiks... Huuu... Jangan buang Rasyi....”
“Rasyi!” dia menahan wajahku yang aku yakin sudah tak karuan. Menatapku dengan tatapan risau, “Papa tidak mungkin buang Rasyi.”
Buang?
Apa... Apa aku yang baru saja mengatakan itu?
Pria mengetukan kedua kening kami, “Papa tidak mau kehilangan Rasyi. Tolong jangan tinggalin papa.”
“Terus kenapa papa pergi?!” aku menangis lebih keras. Aku bisa merasakan basahnya menumpuk di tangannya yang bertengger di pipiku.
“Maaf.”
Aku meronta-ronta, “Maaf saja terus! Rasyi takut!! Kalau papa tidak kembali-kembali... Hiks... Rasyi gimana...? Rasyi tidak mau kehilangan papa....”
Matanya yang coklat kehitaman. Walau pandanganku kabur karena air mata, aku bisa melihat kilau mata papa yang basah.
Ia memeluk lagi, “Maaf. Maaf maaf.”
Tidak bisa. Air mataku sungguh bocor tak karuan. Sukar untuk peduli dengan malam tenang yang aku pecah dengan tangisku.
Mereka harus menunggu lama sampai aku bisa tertidur.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Heh? Mataku terbuka lagi. Aku kan baru saja tidur.
“Tidur lagi,” suara dingin nan hangat secara bersamaan. Papa?
Aku tatap sosok yang merentangkan kakinya di balik selimut. Sejajar dengan tidurku meski ia masih duduk dan sibuk dengan bukunya. Pria ini pasti lagi-lagi tidak bisa tidur.
__ADS_1
“Lihatin apa? Tidur.”
Entah bagaimana sikap bossy itu bisa dirindukan hati. Terdengar aneh bisa tidak kesal dengannya. Malahan meminta tangan kanannya untuk kupeluk.
Usaha untuk tidur⏤tidak bisa! Aku terjaga!
Bulu mata pria yang tampak lentik itu terangkat, “Baca buku biar ngantuk,” dia menyerahkan satu dari tumpukan bukunya.
Novel? Jarang papa memilih bacaan novel. Mungkin papa kehabisan buku. Sebentar lagi mungkin akan ada kiriman buku baru di rumah.
Tidak ada salahnya membaca novel~
Gapaian ke arah buku, duduk berdampingan dengan Rizki. Telusuri baris pertama bab pertama novel yang masih tanda tanya itu.
[Ambang malam yang sunyi dan bisu mendekap kami. Buaian manis gegana yang merdu. Dia mendadak membisikkan kata ajaib itu, “I love you.”]
...
Ini novel romansa?
Melihat papa, rasanya tidak mungkin ia membaca ini!
Yah, manis juga sih. Diam-diam, tanpa berikan aba, langsung dibisikkan tiga kata ajaib. Mungkinkah mama pernah melakukan hal yang mirip-mirip sampai papa yang berhati dingin ini membuka hatinya?
Rasyi jadi penasaran. Berhasilkan aku melelehkan hatinya dengan cara ini?
Aku mendekatkan mulutku di telinga pria ini, berbisik, “Rasyi love papa~”
Ia melepas pandang dari bukunya. Terkejut menatapku.
Eh? Eeh~? Apa yang aku lihat barusan? Papa salah tingkah?! Manisnya~! Lihat dia berusaha menyembunyikan wajah tersipunya itu~~
“Sure. Sekarang tidur,” suaranya tidak tenang~
Uuuu~! Orang tampan yang malu itu mempesona sekali~!
“Tidur.”
Dasar! Manisnya hilang! “Rasyi tidak ngantuk!”
“Fine. Tidak perlu tidur.”
“Ada yang sembarangan lagi tidak?”
Hmm? “Sembarangan?”
“Semacam hampir nabrak.”
Kenapa dia bertanya tentang itu? Apa....
Menggenggam lengannya, “Apa ada hubungannya sama papa hilang?”
Ia menatapku, terbisu tanpa berkutik. Sampai akhirnya ia mengelus rambutku, “Iya.”
Tak terduga. Kejut itu tentu tidak memberikan peringatan meski aki sadar akulah yang bertanya itu.
Namun mendengar kebenaran dari satu kata itu, aku paham. Papa pergi ke ladang berbahaya dan itu pun satu bulan.
Sebelum semakin dalam pembahasan, aku harus memastikan tidak ada yang salah.
Kudekatkan wajahku, “Papa diapain?”
Dia tersenyum tipis, “Pertanyaan apa itu?”
“Rasyi serius, pa!”
Ia mengelus pipiku, “Papa kelihatan luka?”
Mana aku tahu, tapi... Kutusuk jariku ke pundaknya. Ke punggungnya. Ke perutnya. Ke kakinya. Atau... Kepala? Tidak. Dia tidak goyah. Bila ada luka, ditusuk pasti sakit kan?
“Heh,” dia tertawa kecil tapi mempesona seperti biasa, “Puas?”
Sepertinya memang tidak terluka.
Namun, “Tapi kok papa bisa ketemu dia?” tunggu, “Atau mereka?”
“Mereka,” dia kembali berhadapan dengan bukunya, “Cuma orang-orang iseng. Tidak mungkin bertingkah.”
“Terus kenapa papa tidak kasih kabar?”
__ADS_1
“HP papa dijual sama mereka.”
Eh? Apa? Tadi papa bilang apa?!!
Jadi maksud anda, menjual ponsel orang bukan termasuk 'bertngkah'?!
“Itu cuma isengnya mereka. Tidak usah takut,” papa memundurkan posisi duduknya.
Dia meraih rambutku yang terikat longgar di belakang. Ditarik dan disisir dengan jari-jarinya. Memainkannya seakan melakukan hobi.
Tak bisa kupercaya, “Begitu? Iseng?”
Aku mendengar suara papa di belakangku, “Itu bukan apa-apa dibanging waktu papa kecil.”
Kalau diingat-ingat, benar kalau masa lalu papa itu keras. Dikekang oleh sang ayah, pria yang menginginkan warisan besar atas nama Rizki. Misalnya papa tidak mau bekerja sama, papa bisa kehilangan... dirinya.
Namun orang-orang itu sudah dipidana. Berarti mereka yang sekarang siapa?
“Papa kenal mereka?”
“Mereka iseng telepon, SMS, terus-terusan.”
Heh?! Berarti yang jadi 'unknown' di kontak papa itu mereka?!
Kupandang papa meski akhirnya aku mengganggunya mengepang ringan rambutku, “Sejak kapan?”
Tangan yang bebasnya memutar kepalaku kembali lurus, “Lama.”
Itu sangat spesifik ya~
Aku berpikir sejenak, “Dan papa ikuti saja mereka tanpa tahu apa-apa?”
“Tidak bisa macam-macam, berarti masih bisa jadi bahaya. Mereka iseng ke Rasyi sampai hampir ketabrak, ingat?” aku bisa merasakan ia melepaskan rambutku.
Ha, ha ha, aku mengerti intinya~
“Mereka bakal lebih iseng kalau tidak mau ikut. Kayak yang Rasyi kupingin papa kemarin.”
...
Aku tidak bisa berkomentar.
Hal lain yang harus aku pastikan. Kupandang lagi ia dengan ragu, “Terus, sekarang?”
Ia membalas tatapan, “Tidak apa. Papa sudah pastikan.”
“Gimana papa yakin?” rencana apapun itu, pasti ada cela. Dan aku tidak menyukainya.
“Papa tahu tujuan ketuanya.”
Tujuan? “Apa tujuannya?”
Jangan lagi karena warisan tak beradab itu, please!
“Entah.”
Lah? Maksud anda?!
“Dia perempuan sih.”
Cewek? Apa hubungan... nya?! Jangan bilang!
“Gimana sekolah?” dia sungguh mengalihkan pembicaraan?! “Ada yang nembak?”
Ke, ke kenapa jadi pertanyaan yang itu?!
“Yang pertama atau kedua?”
Pertama? Kedua?! “Siapa yang pertama, siapa yang kedua?”
“Bukan? Berarti kembar.”
Aaaa....
“Saga keras kepala tapi simpatinya besar. Mungkin dia ngalah. Kalau Vian harga dirinya tinggi. Tidak mungkin dia ngalah.”
Kenapa jadi tepat sasaran?! Tidak mungkin dia mata-matai aku sementara Sari saja tidak tahu!
“Aaa...,” kusatukan tanganku manis di samping pipi, “Sarapan besok apa ya~?”
__ADS_1
Kenapa sekarang jadi adu jago mengubah topik pembahasan?!