
“Permisi.”
“Gimana?” Hendra langsung menanyakan intinya pada sang anak yang baru saja datang.
Fares melepas jaketnya, “Paman Aldi sudah diberitahu. Harun juga dihukum sendiri sama beliau.”
“Kamu dengar, Rizki?” Hendra tampak tidak sabar.
Lemas aku duduk di sofa panjang itu. Sementara satu tanganku ditahan oleh papa.
“Paman Aldi bilang mau bicara sama paman,” Fares melanjutkan ceritanya.
“Aku sibuk,” papa, aku merasakan gemetar tangannya di tanganku yang ia tahan.
“Kalau gitu aku saja yang ngomongin ke Aldi,” paman Hendra berdiri dari duduknya, “You fine with that?”
“Hmm,” papa tidak memberikan reaksi banyak.
Sekedar itu saja, paman Hendra pergi.
Mataku hanya memandang sosok itu bergerak pergi. Walau aku tidak memperhatikan sepenuhnya apa yang terjadi. Aku hanya ingin membuang ingatan tak berguna yang baru aku dapatkan tadi.
“Tidak ada yang parah kan?” Fares mengambil duduk di sampingku.
“Hmm,” papa masih saja memilih untuk tidak banyak bicara.
Saga membawa amarahnya tanpa redup sedikitpun, “Si gila tuh kenapa, sebenarnya?”
Aku paham dia belum bisa tenang dan melepaskan hal itu. Rasa takut di sekujur tubuhku juga demikian. Ia tidak bisa tenang meski aku sudah pulang dengan papa, ke rumah yang aman dan banyak yang menemani.
“Rasyi langsung istirahat,” papa menyelesaikan pengobatannya dan berdiri dari kursi rendah itu.
Gelengkan kepalaku sekuat yang kubisa. Bukannya aku tidak lelah, tapi kesendirian bukan hal baik untukku saat ini.
“Dok,” Vian angkat bicara, “Dokter tahu?”
Papa memilih untuk duduk lagi di samping kiriku, “Apanya? Memang begitu dia.”
“Bukan itu!” Saga mengegas suaranya, “Yang kami tanyain, si gila itu maunya apa?!”
Tidak satu patah kata pun keluar dari mulut papa. Entah karena papa juga tidak yakin atau beliau tidak ingin mengatakannya. Khususnya di depanku.
“Jawab!!” Saga masih mengamuk.
Untungnya Vian menahan aksi adiknya, “Saga!”
“Seperti kalian. Masih anak-anak,” papa menjawab.
Terjawab, tapi aku pun tidak puas dengan jawaban itu. Saga hanya akan semakin marah.
Firna langsung membuka mulutnya, “Maksudnya gimana?”
“Kalau makin dilarang, dia makin menjadi-jadi. Harun terlalu obsesi sama Rasyi. Itu sudah jelas,” papa menyibukkan tangannya dengan merapikan kotak obat.
“Paman, paman bakal...,” ucapan Fares terdiam. Wajahnya tak pasti apa maksudnya.
“Tentang kamu, aku tidak peduli,” papa langsung menjawab, “Tentang yang kamu bicarakan, itu putriku, Fares.”
“Paman⏤”
“Jangan bela anak itu lagi di depan mukaku!” papa terdengar lebih marah lagi.
__ADS_1
Apakah papa membicarakan tentang Harun? Kak Fares mau membela Harun? Orang yang bahkan tidak aku yakini lagi isi hatinya itu, tapi kak Fares masih membelanya?
“Saya paham,” Fares menghela nafas.
Mereka berdua, seakan bisa mengerti satu sama lain. Pembicaraan yang hanya mereka berdua pahami. Begitulah arti reaksi aku, Firna dan si kembar. Namun kami tahu, ini pembicaraan berat. Hanya dengan mendengar pemilihan kata dari papa.
Apa yang ingin mereka simpulkan dari sahut-sahut barusan?
“Kalian. Tahu kan, kalian sudah jadi saksi,” papa memandang si kembar dan Firna, “Lebih baik tidak bahas itu ke siapa-siapa.”
Papa, apakah dia berusaha untuk tidak mengurusi lagi? Atau bahkan dia tidak berpikir itu cara untuk mengamankan aku?
“Rasyi, papa tanya,” ia memandangku, “Rasyi mau tidak, kalau papa minta Rasyi pindah sekolah?”
Pindah sekolah?! Kenapa?
Bagaimana bisa kepalaku masih menanyakan alasannya? Tentu dengan runtutan tragedi ini, papa tidak akan percaya lagi dengan Harun. Dan dia ingin semaksimal mungkin untuk menghentikan Harun dan menjauhkan dia dariku.
Namun, “Apa harus?”
Menghela nafas berat pria ini, “Papa tidak akan paksa.”
Aku bisa tersenyum samar. Senang aku dibuatnya. Papa dengan mudah mengikuti keinginanku meski banyak alasan untuk memerintahkanku demikian.
Jika saja Harun mudah diajak bicara seperti ini.
Heh?
“Papa?!” aku tidak bisa tidak terkejut.
Kenapa papa tiba-tiba duduk berlutut di lantai?
Menunduk kepalanya sementara ketiga temanku itu duduk di sofa depan papa. Aku ikut duduk berlutut di sampingnya. Takut bila terjadi apapun akan kesehatannya.
“Do, dokter?”
“Papa kenapa?!” aku panik sambil memegangi pundak kanannya.
“Tolong, jauhkan Harun dari Rasyi. Jangan biarkan dia dekati putriku sebentar saja,” papa? “Aku mohon ke kalian. Tolong....”
Ini membuatku bergetar lagi. Pria ini sungguh mengorbankan segalanya untuk melindungiku. Memohon sedalam ini pada anak-anak yang jauh umur di bawahnya, seperti bukan apapun.
Tak tega aku melihat guncangan di pundaknya itu.
Kupeluk leher papa, “Rasyi tidak papa kalau pindah kok. Tapi jangan nangis, pa. Please.”
“Paman, jangan begitu. Kami paham kok,” Fares ikut berjongkok di depan papa.
Kepala papa menegak, “Tolong berjanji!”
Hening membuat kami semakin tidak bisa menjawab apapun.
“Tolong jangan biarkan dia sentuh putriku lagi! Walau sekali saja!” papa memegangi tanganku melonggarkan pelukannya.
Jelas tampak wajah amarah dan air matanya membuatku bergetar.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
“Aku pulang ya, Ras,” Firna tampak tidak nyaman untuk pergi.
Kupamer senyum tenang padanya, “Iya, santai saja.”
__ADS_1
“Suruh papamu jangan paksain diri. Nanti kami lagi yang dikira beulah,” jarang bisa melihat Saga merasa tidak enakan seperti ini.
Memang siapa yang baik-baik saja setelah mendengarkan permintaan orang dewasa yang hampir menundukkan seluruh kepalanya. Apa lagi papa itu termasuk orang yang gaya bicaranya merendahkan orang.
“Istirahat sana,” Vian meninggalkan pesan kecil.
Aku mengangguk perlahan. Orang-orang ini mengambil jalan mereka untuk pulang.
Kututup pintu dan kembali menatap ruang tamu. Papa layaknya kehabisan tenaga, ia terlelap di sana.
Tangan kak Fares mengelusku, “Papamu cuma kecapekan.”
Ya, mungkin juga karena papa langsung tenang setelah si kembar dan Firna mengiyakan untuk menjauhkan aku dari Harun. Layaknya masalah besar sudah hilang dari pundaknya.
“Rasyi tidur juga, ya?” kak Fares menahan kepalaku memastikan aku menatap wajahnya.
Aku memandangnya lebih jelas, “Kak Fares....”
“Kenapa?”
Terdiam aku sesaat, “... kok bisa papa sama kak Fares tahu, Harun....”
“Papamu sudah tidak percaya sama Harun lagi sejak Rasyi luka.”
Mulutku tak bergerak.
“Rasyi mungkin tidak tahu. Tapi paman selalu minta Vian Saga sama kakak buat jaga Rasyi. Dari Harun.”
Aku mengintip wajahnya yang sesaat tampak canggung akan sesuatu, entah apa.
“Kalau Vian Saga tidak sadar....” Fares tak melanjutkan ucapannya.
Pasti aku akan, tamat? Seburuk itu kah pemikiranku akan Harun kali ini? Layaknya penjahat yang akan memancing ketakutanku?
Harun, kamu temanku kan? Kamu orang yang aku sukai kan?
Jika benar, kenapa kamu sampai harus terobsesi sampai seperti ini?
Kak Fares menggenggam tanganku?
Aku memandang lagi ia. Wajahnya tak bergerak dan tetap lurus ke arah lain. Kami yang berdiri membelakangi pintu utama rumah. Sementara papa tertidur di sisi ruang tamu yang kami pandangi.
Bisa aku rasakan tangan kak Fares menggenggamku lebih erat, tapi tetap lembut.
Penasaran, apa yang orang ini pikirkan.
“Kakak tidak sepintar paman,” ia mengambil lagi hening sesaat, “Kakak pikir, paman masih tidak mau batasi Rasyi. Apa aja yang Rasyi pingin, paman pasti iyakan.”
Sudah aku sadari itu. Papa juga selalu mengatakan aku bisa melakukan apapun yang aku mau.
Namun, aku juga paham seberapa bodoh dan naif aku.
“Paman pasti tetap sayang Rasyi,” kak Fares masih melanjutkan, “Pikirkan pelan-pelan. Semua keputusan ada di tangan Rasyi.”
Tangan itu terlepas. Ia tersenyum lembut dan tidak bosan-bosannya menepuk kepalaku.
“Kakak duluan ya?”
Pamit singkat itu tidak menjadi hal yang terkesan dibanding nasihat terakhir yang ia tinggalkan. Rumah yang sepi di malam hari, membuatku lebih bisa mendengarkan nafasku sendiri.
Lutut yang terluka tidak aku sadari. Kembali sakit saat tiba-tiba aku tekuk lagi ke lantai. Lemas.
__ADS_1
“Hiiik...,” aku menutupi wajahku.
Maaf, Harun. Ini mustahil.