
“Rasyi...,” hmm?
Loh? Aku di perpustakaan? Oh, aku ketiduran kah? Kok bisa?
“Kamu pulang saja dulu daripada tidur di sini,” ternyata yang memanggilku tadi Harun.
Benar juga. Kami berdua sedang meluangkan waktu satu atau dua jam untuk belajar di perpustakaan sekolah.
Untung saja tempat ini selalu buka sampai sekolah benar-benar ditutup jam lima atau enam sore. Lantai duanya yang penuh akan komputer sekolah masih digunakan banyak siswa khususnya untuk mengerjakan dokumen ketik. Ditambah lagi katanya sebentar lagi ada ekstrakurikuler komputer.
Tempat ini terbilang ramai untuk sebuah perpustakaan.
“Muka Rasyi sampai berantakan,” Harun meraih sesuatu di tasnya.
Aku menggosok mataku sambil mengingat kembali buku-bukuku yang berantakan di meja. Pendek nan bundar, meja itu mendampingi kami selagi duduk di atas karpet lembut.
He?!
Dingin apa? Tisu basah?
Kenapa tiba-tiba wajahku diseka tangan Harun? Dia benar-benar melap semua sudut di wajahku. Layaknya aku anak yang perlu dirawat.
Ini terasa aneh. Aku tidak pernah diperlakukan seperti ini kecuali oleh papa, keluarga paman hendra termasuk Fares, lalu bibi-bibi yang merawatku sejak kecil.
“Sudah,” aku berteriak dengan pelan sambil mendorong tangannya, “Aku bisa sendiri.”
“Kan lebih nyaman dilayani,” kata Harun sebari aku merebut tisu basah itu.
“Apaan sih? Memangnya aku adikmu yang harus diurus?”
“Mengurus orang bukan berarti saudaraan kan?”
Kalau seperti itu, “Ayah dan anak?”
Hihihihihi. Ekspresi kesal itu manis sekali. Biasanya ia akan membalik candaanku dengan sesuatu yang manis dan membuatku salah tingkah. Sepertinya kali ini akulah yang memenangkan game mempermainkan perasaan ini.
“Bukan, yang satunya lagi,” dia masih belum menyerah.
“Paman dan keponakan?”
Apa sudah menyerah, dikau?
Ia membalasku dengan senyumnya, “Kita lupakan saja.”
“Hihihihi.”
Suasana menenangkan ini. Menyenangkan seperti apapun tempat damai ini, yang dikatakan Harun benar. Aku harus istirahat di rumah daripada menggunakan waktu belajar untuk tidur.
“Rasyi, kurang tidur ya tadi malam? Dari pagi sudah lemas.”
“Capek saja sih. Yah, you know who*.”
“Oh, yang rusakin HP Rasyi?” dia tampaknya masih tidak bisa tentram dengan si kembar.
Pada dasarnya, aku yang merusaknya sendiri sih.
Haaa. Aku tidak habis pikir dengan kejadian kemarin malam. Mereka niat sekali bermainnya.
Akan tetapi aku tidak bisa sepenuhnya marah.
Sama seperti yang aku duga sebelumnya. Dunia mereka adalah mereka sendiri. Waktu ada yang muncul dari luar lingkaran mereka, mereka bingung seperti apa memperlakukan orang itu.
Kini, setelah aku dengan keras kepala melangkah masuk ke lingkaran itu, mereka lebih leluasa menggunakan cara mereka. Istilahnya, aku orang ketiga yang bisa mereka ajak main kapan saja, se-bebasnya, suka-suka mereka.
__ADS_1
Manis, tapi tentu saja aku tidak punya tenaga yang cukup untuk mengikuti gerak mereka.
“Orang-orang kebanyakan energi harus dialihkan ke hal lebih membantu,” Harun memecahkan kelelahanku.
Hmm? Mengalihkan... ke hal lain?
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Fuuuh... Nafasku sadar tak sadar keluar masuk sesukanya. Keadaan damai seperti ini memang tidak cocok denganku meski aku menginginkannya.
Kehidupan pertamaku sebagai Sekar, didedikasikan untuk mencari uang. Kerja keras bagai kuda yang tidak pernah menikmati hidup kecuali makanan coklat seminggu sekali.
Rasyi kecil? Dramanya terlalu banyak. Mulai dari papa dinosaurus, salam untuk mama dan kakak yang ada di surga, sampai kakek yang terobsesi dengan warisan.
“Hmm,” kupeluk bantal sofa yang kotak itu sambil menyamankan posisi di depan ponsel, “Duh!”
Ada yang mengetuk kepalaku. Siapa?! Oh....
“Hai, papa~ Pulang cepat~” hampir saja aku mengutuk orang yang mengganggu santaiku.
“Nih,” hmm? Itu kan ponsel, “Yang lain urus sendiri.”
Benar juga. Walau ponselku masih menyala tapi layarnya sudah tidak tertolong.
Kuterima dengan senang hati benda wajib ini, “Terima kasih papa~”
“Setelah ini banting lagi ya. Biar habis uang papa.”
Wow. Marahmu itu bisa membuatku marah loh~ “Papa bisa saja bercandanya,” seringai lebar aku sembahkan, “Tidak mungkin kan Rasyi lempar ini ke papa kalau Rasyi marah~”
“Heh,” dia malah ketawa, “Sudah bisa sekarang pakai kata-kata manis.”
“Papa kan mengajari Rasyi dengan sangaaaaat lembut.”
Tak tahu, tapi sambutan dengan mulut tertutupnya membuatku semakin⏤
“Rasyi~!!”
Eh? Detak suara langkah yang berisik menaiki tangga dan semakin dekat.
Kok serem ya?
Firna?! “Rasyi!!” kenapa dia berlarian dengan tampang seakan habis diludahi kucing?! “Tolong~” dia memelukku yang masih duduk di sofa.
Apa benar tebakanku kalau dia diejek sama kucing?
Suasana ini pasti tidak disukai pa⏤bagaimana dia sudah kabur ke ujung tangga?! Tidak menapak kah beliau?!
“Rasyi!!”
Iiih! “Kenapa?!”
Dia dengan wajah ingin menangis, ia menunjukkan layar ponselnya. Menempel seperti nasi di bawah materai, aku sampai bisa merasakan pipinya yang masih basah.
Ponsel itu menunjukkan halaman aplikasi yang sering dijadikan platform bagi orang-orang untuk membagikan foto dan video keseharian mereka. Teman perempuanku ini menunjukkan sebuah akun yang ia ikuti.
Loh? Dia kan kakak kelas. Bersama... Entahlah. Seorang perempuan yang terlihat dekat.
“Aku pernah cerita punya gebetan satu sekolah sama kita kan?”
Hmmm, jadi ke arah mana ia mau membawa pembahasan ini? “Iya...,” oh! “Dia?”
Firna menyukai seorang kakak kelas yang di foto postingannya bersama perempuan tak kukenal?
__ADS_1
Duh, duh. Kuda-kuda itu menandakan ingin pecah.
“WAAAA!!”
Ya, benar, menangis ternyata. Kencang sekali lagi!
“Bibi, tolong bawakan minum!” aku menahan bahunya yang menangis tersedu-sedu, “Tenang dulu. Jelaskan pelan-pelan.”
Tanpa ia menjelaskan pun aku sudah paham dengan situasi. Di kakak kelas dengan nama akun mahanfsss, adalah lelaki gebetan Firna. Dan baru saja ada postingan yang memampangkan kedekatannya dengan seorang perempuan yang mungkin saja jadian dengannya.
“Bernafas. Tarik... keluarkan,” aku mengusap-usap punggung hati yang hancur itu.
Meskipun aku pun tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk retakan hatinya.
“Aku sudah suka dia dari lama. Itu waktu SMP....”
Lama juga petualangannya.
“Rasyi tidak tahu soalnya Rasyi tidak ikut MPLS**. Waktu itu aku sempat salah sampai hampir dihukum, tapi kak Nafis belain aku.”
Oke....
“Habis itu aku,” dia mengusap air matanya yang masih terisak.
“Non,” oh, bibi membawakan minum.
Kuraih segelas air segar itu dan menuntut tangan Firna meraihnya, “Minum dulu.”
Ia meraihnya... Wow, dia menghabiskan sampai ke titik air penghabisan.
“Ha!” setidaknya aku bersyukur dia sedikit lega, “Terus...,” ya, teruskan, “Akhirnya aku bisa kontak di forum ini. Kami jadi sahabat pena gitu.”
Forum itu sepertinya tidak terkenal. Aku baru pertama kali melihatnya. Mungkin tempat orang sharing berbagai hal dengan berbagai orang acak?
“Dua bulan lalu, dia sempat bilang kalau dia tahu aku siapa. Rasanya jatuh dari gedung tapi senang.”
Hmm, itu cerita yang manis, “Lalu, masalahnya?”
“Ini!” dia menunjukkan lagi postingan sebelumnya, “Caption-nya bilang 'kami cocok gak?'. Itu berarti mereka pacaran! Padahal akhirnya aku di-notice.”
Baiklah, jadi masalahnya adalah..., “Kamu sudah tembak belum?”
Dia tampak terkejut. Matanya mengilatkan pertanyaan 'apa maksudnya' dengan seribu buah tanda seru.
“Sadar kalau sahabat pena itu siapa, bukan berarti dia sadar kamu suka dia,” aku memainkan tanganku sambil menjelaskan, “Kecuali kami memang dari awal jujur kalau kamu suka. Memangnya bilang?”
Mata itu.
Aku sayang kamu, Firna. Namun, kala ini, kebijakan di luar jangkauanku. Siapa aku yang mau memutuskan hubungan kakak kelas dengan pacar barunya?
“Kalau sudah terlambat begini,” aku memasang wajah menyesal, “Sorry but, let it go***.”
“WAAAA!!!”
Duh, patah hati memang sulit diobati ya~!
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
^^^* Tahu ajalah siapa^^^
^^^** MPLS -> Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Generasi baru dari MOS atau Masa Orientasi Sekolah.^^^
^^^*** Maaf tapi, lepas~kanlah~ ♪♫^^^
__ADS_1