
“Hmm?”
Aku tersenyum manis. Meski melihat wajahnya yang kaku seperti semen yang sudah didiamkan seminggu, aku tahu papa pasti terkejut.
Meja makan tidak pernah sepenuh ini sebelumnya. Bahkan, papa termasuk orang yang hemat. Sedikit saja makanan lebih di rumah, dia selalu menyuruh para bibi untuk membawanya pulang.
Ditambah lagi, semua yang ada di meja adalah makanan yang papa suka.
Siapa yang tidak suka makan makanan kesukaan?
Aku hanya memberikan senyum senang yang seharusnya di wajah pria ini, “Happy birthday, papa~”
Kudekati papa yang masih bergerak lambat atas jaketnya. Tanganku membawa segala peralatan, persiapan untuk teh hangat kesukaan papa.
Malam ini pas sekali sedang dingin. Hujan baru saja turun setelah papa sampai. Layaknya langit juga ingin papa merasakan kehangatan kejutan makan malam ini.
“Papa mau mandi dulu?”
Ia terdiam tak merespon, “Makan dulu.”
Hihihi, apa anda lapar dengan semua masakan ini?
Kutarik kursi di dekat papa, “Duduk dulu. Biar Rasyi siapin~”
Tanganku cekatan menyiapkan segala macamnya. Beberapa makanan aku biarkan di oven, agar bisa dimakan hangat. Sisanya butuh sentuhan akhir. Variasi makanan itu aku jadikan satu di piring makan papa.
“Kenapa dinner?” papa mulai menyentuh makanannya.
Hmm.... Karena kalau yang lain, papa pasti akan komplain bahwa hal itu tak berguna.
“Dinner date~?” kutelengkan kepalaku sok polos.
Oh? Papa tertawa? Mungkinkah aku bisa menganggap kalau surprise ini berhasil?!
Senangnya lihat papa makan dengan lahapnya.
Aku mulai menyibukkan diri dengan menyiapkan teh. Camomile tea, teh hangat kesukaan papa. Teh yang bisa membantu orang yang sulit tidur. Dan tidur nyenyak adalah hadiah yang cocok untuk papa.
“Rasyi begini karena mau sesuatu?” bicara ia sehabis satu kali telan.
Hmm? “Apanya?”
Dia, tertawa lagi?
A, apakah dia kira aku melakukan ini karena ada maunya?!
Padahal aku melakukan ini karena tulus loh! Bahkan aku sudah berusaha memasakkan ikan Salmon yang ia suka, yang sulit untuk dimasak!!
Dasar papa dinosaurus!
“Heh hehehe!” jangan tertawa terus, “Mau jalan-jalan? Ke mana?”
Aku terdiam. Lalu tersenyum senang, “Ada wahana yang lagi rame sih~”
“Nanti papa tanyakan Hendra kalau mau jalan.”
Aku tidak tahu, tapi sepertinya mood papa sedang baik.
“Hihihihi!”
Layaknya mendapatkan undian lotre, aku bisa merasakan kakiku yang gembira. Membawa secangkir teh yang siap ke samping kanan piringnya.
“Rasyi makan,” papa yang sibuk makan menyempatkan mulutnya untuk memberikan aku pengingat.
Iya~ Rasyi sadar kok kalau Rasyi lapar~
Dengan cepat aku menyisir rambut panjangku dengan jemari. Hanya untuk tidak berantakan saat tertunduk untuk makan. Sedikit usaha, menciptakan ekor kuda yang panjang dan anggun. Poniku kubiarkan menutupi kening⏤
Itu suara ringtone. Panggilan masuk ponsel papa.
Si papa tampak meraih barang yang dimaksud dari kantong celananya. Meletakkannya di atas meja dan menekan beberapa kali di layarnya.
“Kenapa?” papa bicara saja sambil melanjutkan tangannya kembali sibuk di piring.
__ADS_1
Sepertinya papa meletakkan panggilannya di mode speaker.
[“Iki! Kamu dimana?!”]
Ini... suara tante Ira?
“Rumah.”
[“Loh?! Gimana sih? Katanya kita makan bareng! Kok pulang duluan?!”]
Makan? Bareng?
“Sudah makan,” papa melahap satu sendok dari piringnya.
[“Hiya hiya, ini Iki lagi makan kan? Kok gitu sih?! Katanya janji makan bareng buat ultah kamu?!”]
Papa menyelesaikan kunyahan di mulutnya, “Maksudnya sama kamu?”
[“Aaaa, Iki~!”]
Tawa papa ditahan. Sama seperti jalan pemikiranku yang mampet.
Mereka mau makan bareng?
Papa meminum seteguk air putihnya, “Kemarin kan sudah.”
Kemarin?!
[“Apaan?! Kemarin tidak bisa dihitung hadiah ultah, dong! Itu kan... aku cuma datang buat kasih janjian.... Kalau aku telpon kayak gini pasti tidak mau, kan?!”]
“Kamu kan datangi ke rumah sakit tidak cuma kemarin.”
Heh?!
[“Dibilangin! Kamu kalau di telpon malah ‘melamak’!”]
“Atau cuma mau makan bareng doang?”
Tante..., kenapa diam?
“Kalau gitu,” papa kembali ke piringnya, “Makan barengnya sudah.”
[“Itu tidak termasuk!! Kita kan mau makan bareng pas ultah kamu!”]
“Aku tidak bilang mau.”
Hening lagi. Mungkin tante Ira menahan amarahnya.
[“Tidak boleh! Aku ke sana! Iki bikin rese! Ada Rasyi tidak di sana?!”]
Haruskah aku bersuara? Walau di dalam pembicaraan yang seperti sepasang kekasih bertengkar ini?! Maksudku, dia mencariku kan?
Tidak tahu aku harus merespon apa. Aku jawab saja, “Ya?”
[“Ek! Eeh?! Rasyi?!”]
Diam aku berpikir beberapa detik, “Kenapa?”
[“Ii! Anu... aaaa!!”]
Anu? Jaringan ponsel papa tidak masalah kan?
[“Kok... itu...?! Ikii!!”]
“Aku lagi makan. Jadi ku-speaker.”
[“Aaargh! Nanti aku telpon lagi! Diangkat loh! Ingat!!”]
Panggilan, terputus?
Suara detik jam dan pendingin lemari es seperti sudah menggunakan pengeras suara. Hening membawaku semakin bingung dengan keadaan aneh yang tidak lebih dari lima menit itu.
Em... sepertinya benar kalau aku tidak seharusnya ada di pembicaraan ini.
__ADS_1
Kutelengkan kepalaku, “Papa pacaran sama tante Ira?”
“Tidak.”
Aku terdiam dalam kebingungan yang semakin dalam, “Terus, janjiannya sama tante Ira?”
“Tidak ada janji.”
“Tapi... tadi... itu...,” seluruh tenagaku langsung terkuras. Aku duduk saja dan melahap sesendok nasi, “Sudahlah....”
Rasanya sungguh seperti kotak listrik yang konslet karena kelebihan muatan!
Huuu..., kenapa aku bertindak seakan aku pacar papa yang sedang cemburu. Jelas-jelas Ira hanya mau mendekatkan hubungannya dengan papa selagi Kirana tidak ada.
Dan tentu, papa selalu bertingkah layaknya dia tidak tertarik sama sekali.
Namun, aku selalu melihat papa tertawa sendiri saat bersama Ira atau Kirana. Aku kira itu karena papa menyukai salah satunya.
Kalau bukan tante Ira, apa itu berarti... Kirana?
Tidak, papa sudah bilang papa tidak akan pilih Kirana untuk jadi wanita yang dinikahinya. Papa tidak bohong kan?
“Kalau Rasyi ada keberatan, langsung bilang ke papa.”
Hmm? Papa bilang apa tadi?
Aku memandangnya, “Apa?”
“Papa tidak tahu harus bagaimana kalau Rasyi diam. Rasyi harus bilang, apa yang tidak suka,” papa tidak melepas pandangannya dari cangkir tehnya, “Jadi papa bisa tahu apa yang harus papa ubah.”
Hmmm?
Heh?
Itu hal yang berbeda.
Ucapan papa tidak pernah selurus ini dari hatinya. Biasanya selalu ada sarkasme atau bahkan mengejekku langsung.
Ucapan papa yang unik ini, membuat wajahku menghangat entah kenapa.
Kututupi kedua pipiku, “Rasyi... itu.... Papa, beneran tidak suka sama Kirana..., kan?”
Matanya seakan terkejut saat melempar pandangannya ke arahku. Wajahnya sungguh menggambarkan pemikirannya tidak menduga pertanyaan yang aku lontarkan.
“Kenapa bahas itu lagi?” dia bersandar penuh pada kursinya, “Begini saja. Kalau saja Rasyi minta sambil nangis. Minta papa sama Kirana. Papa tidak bakal dengar.”
Hmm? “Kalau gitu....,” kenapa papa seperti tidak tertarik juga dengan Ira?
Lalu kenapa papa tiba-tiba punya niat menikah lagi?
Mataku terasa melebar menyadari sesuatu. Beda lagi ceritanya kalau papa bertemu wanita lain tanpa sepengetahuanku. Seperti di rumah sakit. Atau saat papa pergi satu bulan penuh?
Ha ha ha, maksudnya papa menemukan seseorang di tengah penculikan itu? Bukannya itu tidak lain dari orang-orang Kirana juga. Kirana pasti mengamuk bila tahu rekannya terlalu berani.
Itu mengingatkanku.
Walau papa sungguh tidak menerima Kirana, bukan berarti wanita itu mundur.
Duh, aku jadi takut lagi....
“Rasyi,” suara papa? Lebih tegas? “Bilang ke papa, kenapa?”
Aku menghela nafas, “Kalau Kirana masih kejar...,” semua masih jadi masalah.
“Hmm...,” papa terlihat lebih tenang? “Kirana sudah tidak tertarik sama papa.”
Eh? “Heh?”
“Dia yang menyerah di tengah pengadilan.”
Eh? “Kok.”
“Entah. Selama ini yang tahan pengadilannya cuma anak buahnya.”
__ADS_1
Tunggu... Tunggu! Bagaimana?!