Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#102 Dekorasi Membawa Demo


__ADS_3

...


...


“Ra...”


...


“Rasyi!”


Aaa! Telingaku!!


“Nyawamu pergi ke mana sih?!”


Tersenyum aku ke arah perempuan yang baru mendengungkan telinga, “Baru dari surga!”


Firna memandangku kesal, “Tangan kamu tuh ikut ke-cat.”


“Heh?” aku memandang tanganku.


Benar. Tiga dari lima jari tangan kiriku sudah tertutup cat yang tangan kananku berikan sendiri. Kuas di tangan kananku bahkan tidak menyentuh objek yang seharusnya aku cat. Padahal kayu ini mau dipakai untuk menghias dinding kelas.


“Cat yang benar dong. Tidak beres nih nanti!” Firna bertingkah layaknya bos.


Aku mendesis padanya, “Iya, iya~”


Kulanjutkan mengecat rapi kayu-kayu itu, yang masih batangan maupun yang sudah dirakit manis.


Hari Sabtu ini, kelas memang sangat ramai. Tidak salah lagi kamu kemari untuk merapikan dan menata ulang kelas.


Hanya satu dari sekian banyaknya tradisi sekolah. Yang kali ini bahkan hanya untuk acara Anniversary. Itu juga diadakan kurang lebih tiga bulan.


Sungguh! Untuk apa saja sih?!


Ya, mau bagaimana pun, acara tetap acara. Wajib tetap wajib. Kelas lain juga berpikir seperti itu. Tidak aneh kalau sekolah belakangan ini selalu buka di akhir pekan.


“Apa lagi sih yang dipikirin? Gitu terus kerjaan,” Firna masih mengeluh meski tangannya masih ikut sibuk, “Harun kan sudah end. Jangan pikirin dia lagi. Tidak perlu kasihan!”


Hmm~? Sungguh~? “Biasanya kamu marahin si kembar kalau mereka bilang beginian.”


Firna terdiam. Menyadari sesuatu yang aku pun sadari.


Tiba-tiba bahunya dibanting ke arah bahuku. Untung aku menduganya dan mempersiapkan dudukku lebih kuat.


“Aku juga tidak sudi kamu sama dia!” Firna, awas telingaku! “Tapi aku tidak mau kamu murung terus....”


...


Ooouuuw~ Temanku yang satu ini~~


“Cini aku peyuk~!” aku mendekatkan kedua uluran tanganku.


“Iiih! Jauh-jauh! Cat semua!”


Aku menjauhkan diriku, “Kan sudah aku bilang, Harun sudah tidak mau..., temenan sama aku atau sebagainya.”


“Oh, iya. Kemarin aku tanyain kamu itu kan? Kenapa kok jadi gitu, tiba-tiba?”


Eh? Aku belum lengkap berceritanya? Seingatku aku sudah menceritakan semuanya.


“Dia bilang tidak sih alasannya apa, gitu?”


Kepalaku meneleng ikut mengingat kembali, “Kenapa Harun begitu...?” kalau alasannya, mungkin..., “Aaa....”


Aaaaaa!!!


Kok malah aku ingat-ingat sih?! Bukannya aku kemari untuk bisa mengalihkan pikiranku tentang itu?! Mengapa kamu mengeluarkannya lagi dari rak bukunya, otak?! Biarkan saja berdebu di rak atas sana!!


“Ra⏤”


“Tidak! Jangan dibahas!!” aku tidak mau memikirkan siapa yang aku sukai! Tidak akan aku pikirkan sama sekali!!


“Apaan sih?! Bikin penasaran!”

__ADS_1


Iiih! Berisik! Mana mungkin aku gamplang menceritakan kalau Harun menjauhiku karena dia pikir aku suka kak Fares!


Kyaaaa!! Jadi teringat lagi kan! Ini salah Firna!


Lupakan! Lupakan! Lupakan!


Firna lemas tidak bertenaga, “Terus gimana sukamu ke Harun? Udah hilang atau gimana?”


Aaaa..., “Kayaknya sudah belok ke arah lain deh.”


“Apa tadi? Tidak kedengaran.”


Mulutku! Kamu mau keceplosan bagaimana lagi?!


“Tidak ada komentar!” langsung aku tutup telingaku, “Bla bla la la la la~!”


“Apanya?!” Firna mendekat sambil berusaha menarik kedua tanganku yang menutup telinga kuat-kuat, “Cerita sekarang!!


“La la la! Tidak dengar!”


“Hati kamu belok apanya?”


“Kayunya! Kayu! Dicat, cepat!”


Meski dia masih mengelak kencang, aku berhasil perlahan-lahan menegaskan aku tidak mau bicara. Dengan alasan klasik kita punya tugas di depan kita. Ya, tersisa tatapan menusuk yang minta penjelasan itu.


Jangan pikirkan apapun! Kami masih memiliki banyak hal yang harus diselesaikan.


Kami mengecat dinding kelas. Lalu memasang berbagai hiasan dinding dan struktur kelas, handmade. Segala segala dan macam-macam.


Tanpa sadar waktu sudah berlalu cepat. Namun masih banyak hal yang harus dikerjakan. Contohnya, membersihkan sisa-sisa kreatifitas kelas dari lantai sebelum hari Senin.


“Maaf baru datang~”


“Telat banget.”


“Ini mau makanan gak?!”


Dan baru muncullah anak-anak yang menyumbang dana. Ya, setidaknya mereka mau memberikan uang lebih atas ketidakhadirannya. Kurasa ada juga seperti tiga cewek ini yang memilih membawakan makanan.


“Eh, katanya Saga mau ke sini,” Firna mengecek ponselnya.


Hmm? “Ngapain?”


“Kelasnya juga dekor,” Firna menunjukkan layar chat itu.


“Rasyiqa.”


Hmm? Gista?


“Kenapa?” aku merasa tidak nyaman.


Setiap kali aku berada di dekatnya, aku selalu berakhir berkelahi dengannya. Untung saja setiap kali kami mengerjakan tugas atau belajar, kami tidak ribut. Namun tetap saja, rasanya tidak nyaman.


“Dimana Harun?” Gista mendekatiku dan bicara santai.


Pertanyaan apa lagi itu?


Tak kutanggapi ia dengan serius, “Tidak tahu.”


“Jawab yang benar!”


Kenapa aku malahan kena marahnya kamu? “Dia kan bilang ke bendahara, dia bantu dana saja. Ya berarti tidak datang.”


“Terus kenapa dia gak datang?!”


“Aku tidak tahu!” aku tidak bisa menghilangkan rasa tidak suka padanya! Sungguh!


Kuambil salah satu dari banyaknya potongan kue bolu dalam plastik. Untuk apa aku mengurusi orang yang bahkan bicaranya saja tidak santai? Menjengkelkan.


Berusaha aku buka dan melahap⏤eh?


“Harun ke mana?!”

__ADS_1


Heh?


Nih anak tidak ada sopan santunya ya?! Kenapa makanan malahan disepak, pakai tangan?! Mana rasa syukur milikmu, nak?! Ini dibayar pakai duit, bukannya pakai cinta! Sapuin sana pakai lidah!!


Tenanglah, Rasyi, “Kamu bisa tanya sendiri. Di grub chat ada nomornya kan?”


“Tidak bisa! Harun, kan... Sukanya sama kamu.... Kamu harusnya yang nelpon!”


Lama kelamaan aku sepak juga pakai siku, nih anak!


“Kami lagi tidak baik. Kamu saja,” aku masih berusaha mengambil satu kue baru.


Mau apa lagi sih?! Kenapa semua kotak camilannya malah dijauhkan?!


“Gak ada hati, mending pindah sekolah sana. Semuanya senang sebelum kamu ke sini!!”


...


Kenapa dia jadi mencurahkan perasaannya?! Saya tidak tanya, mbak! Tidak sadar apa kalau kita di tengah keramaian kelas yang lagi lesehan di koridor?! Apa jangan-jangan....


“Gista takut ditolak?” aku memiringkan kepalaku, “Kalau tidak bilang suka, kesempatannya hilang loh.”


Hmm, tanpa sadar sekitaran jadi sepi. Seluruh kelas layaknya diam untuk memperhatikan pertengkaran penuh drama sinetron ini.


Tu, tunggu... aku tidak seharusnya mengatakan perasaan seseorang di depan muka orang-orang banyak kan? Pantas saja muka Gista merah malu tapi kelihatan marah seperti itu.


“Maaf, keceplosan. Tidak ada niat, serius,” aku masih saja mengatakan itu meski tahu itu tidak akan mengubah marahnya.


“Kamu a... !” di, dia jadi bicara kasar?!


“Yang tidak beres itu kamu, b...!” Firna, jangan ikut-ikutan pakai kata kasar dong.


“Dasar m...!”


Aduh, para hewan dipanggil~


“Firna...,” aku menahan bahunya yang tegang.


Perempuan ini semakin tidak bisa tenang. Mungkin karena banyaknya kata-kata indah yang dia terima. Firna sebenarnya sensitif dengan itu. Ditambah lagi Firna sering... ‘berbalas pantun’, saat bermain online.


Aku harus melakukan sesuatu sebelum kebiasaan gamer Firna meledak.


“Hei, hei, kenapa sih?” oh?


“Kenapa? Kok kak Firna malah bertengkar?”


Aku memandang Vian, “Gitu lah....”


“Saga berisik!” Firna masih memandang Gista dengan amarah, “Ini urusan cewek!”


“Emang kenapa kalau aku cowok?!” Saga, tolong jangan ikut marah.


Kenapa kedua orang ini malah kelahi sendiri?!


“Cewek gak mandiri banget. Dasar...,” kalimat yang terdengar tenang tapi kasar dari Gista.


“Apa kamu bilang?” Saga?


Saga, jangan bilang kamu juga akan ikut-ikutan kompetisi bicara indah ini. Please jangan.


Gista meladeni, “Gini ya. Aku cuma ada urusan sama Rasyiqa. Tidak ada sama Firna sama kamu. Bagus kalau kalian tidak halangi aku kasih nasihat ke Rasyiqa!”


Itu bukan memberikan nasihat lagi namanya. Kamu memang mau mengajak berkelahi orang!


“Nasihatin apa pakai mulut yang begitu?” wow, Saga. Tenang!


“Kenapa kamu belain dia sih? Padahal kalian udah ditolak mentah-mentah!” Gista?


Aduh, bukannya itu kalimat yang berbahaya?


“Bukan jadi kekhawatirannya kamu juga kan kak?” eh, Vian?!


Kenapa? Kenapa Saga dan Vian berakhir meladeni Gista?!

__ADS_1


__ADS_2