
Pintu bersuara ketukan. Lagi. Seharusnya kali ini kunjungan pasien.
“Masuk.”
Pintu itu terbuka, “Dokter Wirandi?”
Anak-anak?
Formulirnya memang bilang anak umur enam belas tahun. Aku kira dia datang dengan wali.
Perempuan seusia Rasyi. Berkunjung dengan satu anak laki-laki, mungkin lebih tua satu atau dua tahun. Tidak jauh beda dengan Jagad.
Bukannya pergi dengan orang tua atau wali, dia malah pergi dengan pacar.
“Jauh-jauh kamu!”
“Sini khawatir sama kamu tahu!”
Lebih tidak menyenangkan, mereka datang dengan debat.
“Berisik! Uhuk! Uhuk!!”
Setidaknya perempuan itu tidak main-main saja di rumah sakit. Orang sakit tetap harus diobati.
“Duduk di sana,” aku cuma tunjuk kasur pasien yang siap di kiriku.
Perempuan itu, dia diam saja lihat ke arahku.
Rasanya tidak beres.
“Duduk dulu gih,” si laki-laki masih lembut.
“Iya argh! Huk! Uhuk!” akhirnya dia duduk.
Berdiri dari mejaku. Dekati mereka dengan stetoskop yang biasa. Memasang benda itu di telingaku. Siap-siap untuk memeriksa lebih lanjut.
“Ada keluhan?” aku berdiri tepat di depannya.
“Itu....”
Mukanya merah?
Hah. Penampakan begini bukan sekali dua kali. Terlalu sering sampai langsung saja aku paham apa isi pikiran anak ini.
Yang terpenting aku obati dulu, “Demam? Batuk berdahak?”
“Iya dok. Kemarin hujan-hujanan,” untungnya pacarnya mau kerja sama.
“Hmm, ada penyakit bawaan? Alergi?”
Si laki-laki dekati pacarnya di samping kiriku, “Tidak ada dok. Tapi demamnya tidak sembuh-sembuh tiga hari.”
“Sudah minum obat apa?”
Diam?
Hanya alasan itu makanya mereka tidak mau jawab, “Lain kali, kalau sudah tahu sakit. Langsung minum obat.”
Baju, anting, penampilannya di samping seragam itu tampak mapan. Mirip dengan Rasyi. Tidak mungkin perempuan ini tidak punya wali.
“Saya periksa dulu.”
Semuanya baik-baik saja. Dia benar cuma demam. Akan tetapi, keras kepala. Cuma bentuk dari masa remaja.
Ini akan menyusahkan.
“Anu,” perempuan ini akhirnya bicara juga.
Kutunggu kalimat selanjutnya, “Ada apa?”
“To,” mukanya semakin merah, “Tolong lamar aku!!”
Sepertinya aku mengeluh terlalu cepat.
“Rini!! Kamu ngomong apa sih?!!”
__ADS_1
“Aku sudah muak sama kamu!!”
Lebih baik aku minggir dulu. Obat yang cocok, pakai itu....
“Aku minta maaf. Tolong jangan aneh-aneh sama orang asing gitu, oke?!”
“Kamu salah apa memang? Sampai minta maaf.”
Pertanyaan yang aku pun tidak tahu jawaban benarnya. Laki-laki ini pastinya bisu.
“Terus buat apa minta maaf?!”
“Kamu aja teriak-teriak terus! Mana bisa aku paham!”
“Makanya aku tidak mau sama kamu,” perempuan itu tahu tak tahu sudah ada di depanku, “Dok, dokter belum punya pacar kan?! Nikah sama aku! Ya?”
“Rini!”
“Pergi sana kamu⏤uhuk! Huk!!”
Aku harus campur tangan sekarang.
Berdiri aku di antara mereka, “Ini resepnya,” kuserahkan kertas itu pada cowoknya, “Kali ini jangan lupa obat.”
Untuk masalah salah pahamnya. Gimana cara aku jelasinnya kali ini?
Mungkin lebih baik aku pakai itu saja. Kalau tidak salah dompetku ada di kantong celana.
Aku keluarkan isi dompetku, “Kalau mau, bisa juga minum cuka apel,” kuberikan kartu tanda penduduk milikku ke si cowok, “Anakku minum itu manjur.”
Perempuan ini terbelalak, “Anak?”
“Rin,” yang laki-laki beri KTP itu ke pacarnya, “Lihat nih.”
Seharusnya dia sudah lihat tahun lahir-ku di sana.
“Jangan lupa istirahat. Kalau perlu bilang ke walinya juga untuk libur sekolah sehari. Obatnya tebus di bawah,” sudah. Apa masalahnya bisa selesai?
Perempuan ini membungkuk dalam. Lalu diletakkan KTP-ku di mejaku. Mukanya merah meski aku tahu artinya lain dari sebelumnya.
“Terima kasih, dok. Permisi,” laki-laki ini tanggap mengajak pergi pacarnya.
Selalu saja, anak-anak zaman sekarang. Banyak sekali tenaganya sampai lupa memakai otak.
Mungkinkah akan lebih baik kalau aku operasi plastik. Supaya muka bisa kelihatan seperti seusiaku.
Hmm?
Apa yang aku pikirkan?
Pemikiran Rasyi yang tidak jelas sudah jadi biasa di otakku. Masih siang dan tenagaku sudah terkuras sampai tidak bisa berpikir benar.
Suara pintu lagi.
“Masuk,” aku periksa lagi siapa pasien yang berkunjung padaku hari ini.
Nama ini kan⏤aku harus tidur cepat malam ini. Hari sibuk yang paling melelahkan.
Pintu terbuka, “Gading~!”
Kalau saja aku bisa pulang sebelum jadwalnya.
Suara pintu tertutup. Disusul langkah yang terdengar riang. Cukup seram di telingaku.
“Gading keren deh pakai jas dokter~!” dia sudah peluk leher di sisi kiriku.
“Kalau sakit, jangan peluk-peluk yang sehat.”
Dia lepas pelukannya, “Uuuu~ Gading ih!” dia tersenyum, “Keren~~”
Wanita ini palsukan sakitnya. Batuk dan tidak sembuh selama satu minggu. Itu memang mudah diperankan. Apalagi orang ini penipu ulung. Selalu berhasil membuat campur tangan sendiri, layaknya tidak pernah ada hubungan dengannya.
“Aku tidak sakit kok,” kedua tangannya tahan wajahku. Paksa untuk lihat ke dia, “Kita bisa lebih dari pelukan.”
“Fine, selamat jalan.”
__ADS_1
Tak senang di mukanya diperdekat ke aku, “Jangan sok jual mahal sama Kirana~ Cium dulu dong~”
“Tidak menyenangkan untuk dapat yang kedua hari ini.”
“Siapa?!” Dia terkejut, “Huh! Pasti si centil itu kan?!”
Konyol, dia memberi sebutan Ira sebagai centil. Walau dia juga sama. Bahkan tidak ingat umur sendiri lebih parah.
“Sial! Kalah hari ini!”
Kenapa lagi sekarang? Dia langsung duduk di atas meja tepat di depanku. Tidak tahu diri mengganggu pandangan. Aku tak bisa menjauh dengan kedua tangannya di bahuku.
“Cium aku sekarang!”
Dia tidak pernah menyerah. Bahkan bawaannya suka paksa.
Apa mungkin alasan itu juga yang menahanku sebulan dengan orang ini? Mau gimana pun, aku tetap saja pria.
Tegak berdiri aku di depannya. Wanita ini keras kepala sekali.
Langsung aku beri apa yang dia suruh.
“Sudah?” aku dorong kursi di belakangku. Berjalan pergi dari ruang sesak itu.
“Hahahaha, kamu jual mahal tapi aslinya senang kan?”
Kudekati kran air di pojok ruangan. Putar kran sampai keluar air deras. Tampung sedikit di kedua tangan. Bilas kuat di seluruh wajahku.
Mataku tangkap bayanganku di cermin itu, “Aku bukan orang sekejam itu sampai pelit di terakhir kali.”
“Apa sih~ Kayak mau pisah aja~”
Berbalik aku ke arah wanita itu, “Benar kok. Mungkin sebentar lagi, kamu kalah sama si centil?”
“Hah?! Kok bisa gitu?!!” dia tersentak. Turun dengan cepat dari mejaku.
“Kenapa kaget? Kamu kan tahu satu-satunya yang ubah pikiranku itu siapa,” aku tersenyum ke arahnya.
“Uuuu~ Curang! Aku kan udah dianggap penjahat sama Rasyiqa~! Gimana aku bisa ambil hatinya dia~!”
“Kalau begitu, bye,” aku masih tahan tawa, “Sudah cukup memonopoli aku sebulan kemarin.”
“Aku maunya punya kamu semuanya!”
“Heh,” lucu. Dia kira dengan ciuman, aku sudah ada di jaringnya? “Sorry, orang ini sudah punya Nisa.”
“Dia sudah mati lama banget.”
“Masih ada Rasyi.”
“Kan beda!”
“Well,” kepala ini kumiringkan, “Itu juga kenapa aku ada. Siapa tahu, mungkin aku lebih memilih susul Nisa?”
Ketuk suara pintu itu kesekian kalinya terdengar.
“Dok, masih lama?”
Terdengar suara yang terendam dari balik pintu. Parawat?
“Sebentar lagi.”
“Tolong dipercepat, dok. Banyak pasien hari ini!”
Suara langkah panik pergi. Mereka memang sedang sibuk. Apa mungkin ada kecelakaan lain? Tempat ini selalu menyesakkan.
“Aku sibuk. Kamu tahu tempat ini tidak bagus buat tingkahmu, kan?”
“Huh!” setidaknya wanita ini cepat tanggap dan pergi, “Gading jahat!”
Pintu akhirnya tertutup lagi.
Menyusahkan. Lagi-lagi masalahnya harus aku bawa begini. Tidak sudi kemang. Akan tetapi kemungkinan lebih aman kalau aku tarik bahayanya lebih dekat.
Rasyi, maaf ya, aku mau tidak mau harus bawa wanita itu langsung mengincarmu.
__ADS_1
Tidak papa, ini semua aman. Seharusnya, ini skakmat untuk mereka.
Tinggal dengar teriakan amarah dari Hendra.