
Aku terus menyusun bulatan lezat satu persatu di toples plastik yang aku beli dalam jumlah banyak. Ukurannya yang sengaja tidak aku buat besar sehingga muat lebih banyak di tabung transparan ini. Sudah berkali-kali aku melakukannya, sampai berpikir mampu saja bila membuka usaha.
Namanya Rasyiqa’s Cookies Bakery mungkin?
“Kamu tidak pernah bilang bisa bikin kue,” perempuan ini masih saja mencuri beberapa potong selagi membantuku menyusun.
“Kamu tidak tanya~”
Dia merajuk tapi tetap mencomot cookies ke mulutnya.
Tak kutahan sama sekali tawaku, “Makan saja terus sampai loyangnya.”
Bukannya berhenti, dia malah menganggapnya sebagai undangan dan memasukkannya lebih cepat satu per satu kue melewati bibirnya.
Setidaknya menggalau seharian bisa membuat wajahnya segar sedikit. Aku tahu dia masih sedih. Buktinya dia sering cari perhatian dan manja denganku. Paham sih itu hanya bentuk perbaikan untuk hatinya yang terluka.
Karena itu juga aku menyibukkannya ke dalam kerjaan simpel seperti sekarang.
Ada suara bel? Mencari papa kah?
“Iya~!” selamat bekerja bibi~
Dan, si cewek ini malah lebih banyak makannya daripada merapikan ke toples.
“Mulutnya kok lebih banyak gerak?” aku menyindir lembut.
“Enak.”
Iya deh. Makan saja sepuasnya, mumpung aku buatnya banyak.
“Non, ada si den Harun!”
Oh? “Suruh ke dapur, bi!” apa yang membuat Harun datang jauh-jauh kemari?
“Loh? Sibuk ya?” sosok itu tidak pernah dirasa terlalu manis untuk dikagumi.
“Buat kue,” aku membiarkan dia berhenti di sampingku.
“Bisa aku bantu?”
Bantuin? “Hmmm... bantu cobain?” aku mengulurkan satu kue tepat di dekat mulutnya.
Tunggu. Apa boleh aku melakukan ini?!
Heh? Heeee?!! Pasti aku gila! Dia memakannya langsung dari tanganku! Kyaaaa!!!
“Bisa tidak jangan begitu di depanku?” ups, sesaat aku lupa ada Firna di sini. Dia pasti merasa seperti cewek menyedihkan yang melepaskan pacarnya yang baru jadian satu hari.
Kuulurkan satu kue ke arah mulut Firna yang tanpa ragu ia lahap, “Sudah?”
Bila dilihat dari sini, aku seperti membesarkan dua anak daripada bergaul dengan mereka. Ya pada dasarnya aku seumuran dengan orang tua mereka.
“Non, saya pulang dulu ya.”
Oh, sudah se-sore itu kah?
Ya memang terkadang mereka memilih untuk bekerja pulang pergi. Sebagus apapun rumah ini, rumah sendiri tetap saja surga bagi pemiliknya. Papa juga membebaskan hal itu sejak masalah keluarga kami selesai. Selama dia tidak sedang sibuk sampai perlu meninggalkanku sendirian di rumah.
“Iya~ Hati-hati, bi~”
“Matang!” Firna menyadari suara oven yang menandakan panggangan sudah selesai, “Loh? Kok kerdil begini?”
__ADS_1
“He?” tidak mungkin. Aku kan sudah menakar dengan baik.
Kudekati loyang yang sudah Firna letakkan di sisi meja lain. Benar. Ukurannya lebih kecil.
“Bisa begitu?” Harun ikut memandangnya.
“Soalnya aku buat yang ini gulanya kurang. Gula itu penting buat bikin tekstur. Kalau salah takat, ya jadi begini,” tidak ada penjelasan lain. Aku pasti melakukan kesalahan di pengukurannya.
“Yah, tqpi bahannya habis~” Firna tampak kesal.
“Tapi aku harus bikin lagi,” tuh si kembar tidak mungkin punya kesabaran tambahan satu hari.
“Kalau gitu,” Harun memberikan gelagat seakan menunjuk Firna di samping kananku, “Firna, beli bahan gih.”
Eh? “Memang mau?” aku memperhatikan wajah Firna yang pasti tidak suka.
Tunggu, kenapa ekspresinya aneh. Dia sedang melihat ke arah Harun, kan? Ada apa?
Berputar kepalaku mencari apa yang membuat wajah aneh Firna. Namun aku hanya mendapati Harun yang tersenyum.
“Aku deh yang beli bahan,” Firna?
“Yakin~?”
“Iya!” Firna melepas celemeknya dan memberikannya padaku, “Kirimin aku list bahannya.”
Kenapa dia jadi cepat-cepat pergi?
Mataku memberikan tatapan curiga pada Harun. Dia memberikan suatu kode kah?
“Apa?” Harun bisa saja aktingnya.
Dia tersenyum geli, “Harus ya?” dia menunjuk celemek yang aku berikan.
“Hihihihi, harus.”
Kurasa aku masih belum bisa memulai membuat adonan. Benar. Aku harus memberikan list apa saja yang perlu dibeli, mengirimkannya ke kolom chat Firna.
“Harun bantu susun ke toples dulu ya?” aku menunjuk hal yang aku tinggalkan tadi sambil meraih ponselku.
“Oke.”
Kuketik dengan cepat apa saja yang menjadi barang belanjaan Firna. Aku harap dia tidak lupa dompetnya. Mungkin lain kali aku harus membeli bahan lebih untuk disimpan.
“Rasyi,” hmm? “Aku ada⏤”
KRIIING KRING KRING!!
Oh, telepon rumah?
Di rumah hanya ada aku dan papa saat ini. Kurasa aku harus mengangkatnya.
“Sebentar,” aku meletakkan ponselku yang masih setengah jalan mengetik itu menuju telepon rumah terdekat.
Ganggang itu kuangkat dan memastikannya bertengger tepat di telingaku. Yang kuduga hanya pasien papa yang terkadang meminta konsultasi, baik tentang keadaannya ataupun tentang obat.
“Halo?” aku menunggu seberang sana menjawab.
[“Halo~? Gading-nya ada?”]
Eh? Gading kan nama papa yang dulu. Papa sudah dikenal dengan namanya sekarang, Rizki Wirandi. Yang tahu nama itu hanya kakek, kenalan papa di SMP dan SMA-nya seperti paman Dito, dan beberapa orang saja.
__ADS_1
Namun, papa tidak punya kedekatan sama sekali dengan teman-teman lamanya. Apalagi wanita yang terdengar di seberang sana.
“Teman sekolah papa ya?”
“Siapa?” oh? Papa? Sejak kapan?!
[“Oh, Rasyiqa ya? Iya, ini teman papa~”]
Loh? Beliau tahu aku juga?
Tangan papa tiba-tiba merebut gagang telepon itu dari telingaku. Dia menggantikan posisiku dalam berbicara dengan wanita itu.
“Jangan telpon di sini,” wah, kasar sekali pa~
Duh, jiwa kepoku.
Papa sepertinya menyadari keingintahuanku, “Aku hubungi,” dikembalikan gagang itu ke tempatnya.
“Siapa?” ayo jawab~
“Orang,” tentu, papa. Tentu, “Bye,” ia menggosok kepalaku sampai poniku tidak teratur.
Ini tentu bukan hal yang biasa. Namun aku tidak bisa menarik konklusi apapun.
Mengapa kepekaanku selalu tumpul kalau masalah papa? Aku tidak bisa melihat apa yang salah dari hal itu tapi hatiku bergejolak pasti ada sesuatu.
“Rasyi,” Harun sepertinya mulai terganggu dengan diamnya aku, “Firna berisik.”
Oh iya.
Aku melangkah kembali ke meja-meja kabinet dapur dan bergabung dengan Harun. Kembali aku mengetik di ruang chat Firna yang ribut meminta list belanjaan.
“Eh? Tadi Harun mau bilang apa?” aku masih sibuk dengan ketikanku yang tinggal sedikit lagi selesai.
“... Ini.”
Dia mengeluarkan sesuatu di sudut kiri mataku yang fokus ke layar. Aku menyelesaikannya sedetik kemudian dan memandang..., “Tiket?”
“Iya. Rasyi mau lihat ini kan? Aku berhasil booking sabtu malam.”
Ada dua tiket. Dan saat aku perhatikan, jam dan harinya pas. Berarti, “Pas banget dong!”
Harun bertampang bingung.
“Rencananya sabtu ini aku mau nonton itu juga sama kak Fares,” aku mendapati tiket yang dia bawa ada dua, “Berarti satu orang lagi siapa ya? Firna. Kita bisa ajak Firna.”
Karena malam minggu, mall itu pasti penuhnya minta ampun. Namun kalau aku pergi dengan banyak orang yang kukenal, seperti yang biasa aku lakukan dengan seluruh keluarga Hendra, aku tidak mungkin mengalami kambuh yang tidak perlu. Aku bisa lebih nyaman menikmati petualangan keluar rumah.
“Biar aku yang kasih tahu Firna. Dia pasti senang-senang saja kalau nonton film,” aku tersenyum ke arah lelaki di sebelah... ku?
Duh, Rasyi! Kamu sedang melakukan apa sih?! Ada alasannya kenapa Harun hanya membeli dua dan menunjukkannya padaku. Ia mau pergi denganku berdua saja.
Huuuuh... sayang dong tiket yang kak Fares beli. Harun bisa aku bujuk tidak ya? Jiwa hemat milikku bergetar.
Aku tidak tahu harus mempertanyakannya seperti apa, “Harun maunya berdua saja ya?”
Wajah yang lesu itu memandangku, tapi dengan cepat ia terganti menjadi senyuman cerah seperti biasa, “Tidak papa. Makin ramai makin asyik kan?”
Syukurlah Harun sepemikiran! Aku harus kasih dia hadiah karena mau mengalah.
“Terima kasih, Harun~” kusembahkan senyum terlebar padanya.
__ADS_1