
(“Rasyi.”)
Pandangannya waktu itu tampak sendu. Meski sering aku lihat seperti itu, tapi aku selalu tidak yakin arti kata matanya.
(“Rasyi tidak mungkin suka kakak. Kakak juga tidak mungkin suka sama Rasyi.”)
Aku tidak pernah berpikir kalau mata itu akan membiarkan kalimatnya seakan marah.
(“Heh?”)
(“Kita cuma kakak adik. Kakak tidak pernah lihat Rasyi lebih dari itu. Kalau saja kakak anggap Rasyi wanita, kakak tidak mungkin... bareng Rasyi.”)
Semakin banyak aku mendengar, aku semakin tidak mengerti,
(“Maksudnya...?”)
Dia menghindari mataku walaupun aku berdiri di depannya.
(“Rasyi itu manja, tidak punya pendirian. Tidak punya apa-apa.”)
Suara yang seperti harpa merdu itu tidak aku sangka mengeluarkan kalimat ini. Membuatku berpikir, apa dia yang sedang sakit?
(“Kakak kenapa....”)
(“Go...! Si cengeng kayak kamu, tidak bisa diam ya?!”)
Fares, yang penuh kejutan ini, tidak mungkin bicara seperti ini.
(“Dengarkan sekali lagi. Kakak benci Rasyi. Paham?”)
Tidak. Aku tidak paham dengannya sama sekali.
(“Jangan katakan apa-apa lagi tentang ini. Kakak risih!”)
Sendu itu masih jelas walau ia melotot.
(“Keluar kalau Rasyi tidak sakit.”)
Waktu itu juga, aku keluar dari kamar. Tanpa sedikit pun memahami keadaan.
Yang aku cari apa? Mungkinkah, aku tidak menyangka dia gamblang menolakku?
Bukan, itu tidak menjelaskan gejolak yang di kepalaku, waktu itu, saat ini.
Itu pasti....
APANYA?!!
“Kalau mau berbohong! Seharusnya lakukan lebih baik! Siapa yang percaya kalau kakak tiba-tiba bilang go...?!”
“Buset! Kenapa kasar sih?!”
Tidak bisa! Aku harus menyerang langsung dan memastikan akarnya!
Fares-ku yang manis, aku tahu kamu berbohong. Karena memang mana ada malaikat manis yang ngomong go...?! Kata sekasar itu tidak mungkin keluar dari mulutnya!
“Sag, Vin!” langsung aku berdiri membentak meja, “Kalian lihat kak Fares, tidak?”
“Kamu kan yang menginap di sini! Kenapa nanya ke sini?!” Saga langsung ikut marah.
“Kak Fares tidak pulang-pulang bilangnya ada urusan di kampus terus!”
Vian menahan adiknya itu, “Memang kenapa? Kalian bertengkar?”
Bertengkar?
Huh... aku tahu dia tidak sungguh membenciku. Aku mengenal anak itu lebih dari apapun. Namun kalau tentang dia marah denganku, aku juga tidak bisa yakin. Mau bagaimana pun, aku tidak pernah tahu alasan kenapa dia menghindariku.
Yang pasti itu bukan karena dia membenciku. Seratus persen bukan itu!
Makanya aku harus memastikannya.
Namun, bagaimana caranya kalau lawan bicaranya tidak kelihatan?!
__ADS_1
Aku berteriak lagi, “Kalian ketemu kak Fares, tidak?!”
“Tidak ada!” Saga membalas dengan teriak.
“Ndak daa!!” Daffa! Jangan ikut-ikutan!
Aku seharusnya bisa memfokuskan diriku sendiri untuk belajar. Tempat ini nyaman dan sejuk. Camilan lengkap, bahkan ceret penuh akan minuman segar.
Semakin marah aku pada Fares karena membuatku tidak bisa fokus untuk UTS minggu depan!
Tidak! Anda kira dengan tidak pulang selama satu minggu lebih, bisa membantu? Kamu kira aku tidak akan mengganggu kalau sudah waktunya aku pulang ke rumah sendiri, kan? Pasti kamu hanya menunggu aku pergi sendiri, iya kan?
Fares, ketahuilah! Rasyiqa adalah orang yang keras kepala! Jadi aku akan menunggumu di sini, di rumahmu sendiri, meski itu artinya harus menginap selama sebulan!
Akan aku pastikan kamu yang datang untuk menatap mataku!
LIHAT SAJA NANTI!!
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Suara motor?
“Sayang, ayo makan,” tante Sari, menyambut seseorang, “Mau nginap lagi di rumah Fauzan?”
“Tidak kok. Aku mau langsung tidur.”
Itu, pasti Fares....
...
AKHIRNYA KAMU PULANG, YA!
“Ya sudah, semuanya sudah pada makan. Fares nyusul sana, habis itu tidur,” Sari tampak berjalan masuk melewati meja makan ini.
“Iya.”
“Kak Fayes!” Daffa menyerang duluan ya?
Oh, dia sudah sampai di meja makan.
“Welcome home~” senyum manis hanya untuk kakak tertampan ini~
Dia kaget ya? Seharusnya dia sudah tahu sih. Well, karena papa sudah pulang beberapa hari lalu. Namun aku memilih untuk tetap menginap di sini. Bahkan hampir sebulan.
Apa? Sudah lelah melakukan pelarian dari Rasyiqa ini?
“Sudah selesai ulangannya?” aku masih tersenyum.
Di sini hanya aku dan dia. Keheningan ini semakin terasa lebih kental bila Daffa tidak merengek-rengek ke Fares.
Itu juga bisa menjadi alasan kenapa Fares tidak menjawab! Bocah tidak berfaedah ini!
“Makan ayo,” ibu mendorong Fares dan mengambil alih Daffa dari tangannya, “Fares mau sup? Ibu panaskan dulu ya?”
Kak Fares duduk lumayan jauh dariku. Tidak ditutup-tutupi bila dia memang menjauhiku. Namun wajahnya, seperti kelelahan.
“Loh, pulang? Tidak sekalian ngekos?” Ira sepertinya kembali membawa segelas minuman.
Hendra ikut kembali ke kursinya, “Tidak usah! Kampus dekat masa masih mau kos.”
Kami mengikuti alur pembicaraan yang semakin ke mana-mana. Namun aku masih memandang Fares. Seakan mengalirkan sinyal untuk bisa mau bicara denganku.
“Berhenti lihat kakak, Rasyi. Mengganggu.”
Tidak mempan anda berusaha kasar padaku!
PRANG!
Itu piringnya tante Ira, kan? Kenapa sendoknya sampai seperti itunya ke piring? Padahal makanan kali ini bukan makanan yang susah diambil dengan garpu dan sendok.
Namun, dibandingkan itu, kenapa tante kaget?
“Kenapa, tante?” aku bertanya langsung.
__ADS_1
“Tidaaa~ak....”
Siapa yang aku bohongi? Tentu saja Fares tidak pernah bertingkah seperti itu.
Tenang, tante Ira, akan aku pastikan nih anak akan kembali seperti sebelumnya.
Melahap makanan dan melahap lagi. Sampai sesi makan malam ini selesai.
“Fares mau langsung mandi, sayang?” Sari membersihkan meja selagi aku membantu sedikit.
“Iya,” dia pergi.
Oh, tidak boleh!
“Kak Fares!” aku berlari menyusulnya.
Kami sudah sampai di depan kamar tidurnya.
“Tidur sana, Ras,” dia sudah membuka pintunya.
“Belum ngantuk.”
“Kenapa juga Rasyi tidak pulang?”
Aku meninggikan wajahku, “Lagi ulangan. Enak di sini. Lebih dekat sama sekolah~”
“Rasyi.”
“Apa~?”
Dia memegangi keningnya dan setengah wajahnya, “Kakak lelah. Kakak tidak mau bicarakan tentang kesukaan Rasyi. Sudah cukup.”
“Kesukaan Rasyi? Kesukaan tentang apa?”
Terdiam ia tak berbicara. Masih sempat aku melanjutkannya.
“Rasyi kira kakak tidak mau bahas lagi, makanya lupa. Tapi kayaknya kakak tidak lupa, ya~?”
“Rasyi.”
“Ayo masuk!” langsung kudorong dia memasuki kamarnya.
Dengan Fares yang sedang lelah, aku berhasil memaksanya masuk dan menutup pintu kamarnya. Aku tetap berdiri di sana untuk menahannya. Walau aku tahu dia bisa dengan mudah memindahkan aku.
“Rasyi,” dia semakin tegas menegur aku.
Namun aku semakin tegas berdiri di sini. Mari kita mulai lagi!
“Aku suka sama kakak! Tidak. Cinta!” aku bersandar pada pintu dan menunduk karena malu, “Rasyi tidak tahu sejak kapan, tapi Rasyi tahu itu benar. Rasyi sudah cek kesehatan jadi pasti bukan halu.”
Dia terdiam, tapi mata itu tampak... entahlah. Yang pasti dia tidak marah atau jijik padaku. Seakan takut, atau simpati?
“Terserah kakak mau usir Rasyi atau bagaimana,” aku mendekatinya. Membungkuk walau pandanganku ke atas, ke arah wajahnya, “Tapi Rasyi akan kejar kakak terus!”
“Ras⏤”
“Ssst!” langsung kuulurkan jariku di depannya, “Kakak yang paling tahu. Kakak bohong bagaimana pun, Rasyi sudah tahu. Karena aku memang tahu. Karena aku suka... suka kakak....”
Wajahku terasa memanas, tapi rasanya sejuk kalau aku memandangnya.
“Makanya Rasyi tahu!” aku tersenyum.
Terdiam aku di sana. Sesaat aku berpikir. Meski aku tahu dia berbohong, aku tidak tahu kenapa. Itu membuatku tambah marah. Apa yang membuatnya berpikir aku wajib untuk menerima kebohongan?
Lurus tatapannya pada pria ini, “Rasyi tidak mau ikut bohong. Rasyi suka kakak dan Rasyi tidak akan menyerah. Setidaknya sampai kakak tolak Rasyi, tanpa kebohongan seperti sebelumnya. Kasih alasan bagus biar Rasyi mundur.”
“Cukup, Ras⏤”
“Itu saja, bye!” langsung aku buka pintu kamarnya.
Aku keluar, membiarkannya istirahat. Selagi aku menenangkan wajahku yang....
“Huuuuh...,” panas sekali!
__ADS_1