Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#Special New Year : Sweet Fireworks


__ADS_3

“Hompimpa alaium gambreng!!”


“Arsyad yang jaga!”


“Kok aku lagi?!”


“Udah, cepetan hitung!!”


Selagi anak dengan rambut berminyak itu berhitung, semua menyebar ke tempat persembunyian andalannya.


Termasuk aku yang mau tidak mau ikut.


Mana ada yang percaya kalau bilang aku adalah wanita dua puluh lima tahun. Pasalnya, tubuhku menggambarkan anak perempuan kecil berumur tiga tahun.


“Lapan lima! Sbilan puluh!”


Hitungan yang cepat itu mendorongku untuk memantapkan cara bersembunyi. Semak-semak yang tak terlalu tinggi ini bisa membahayakan aku kapan saja.


“Seratus! Kalian dimana?!”


Satu dan dua. Anak yang sering terkena jaga ini sudah terbiasa mencari.Namun aku percaya diri dengan tempatku kali ini.


Enak jika seandainya aku bisa bersembunyi terus sampai mereka selesai main. Jadi aku tidak perlu berurusan dengan anak-anak. Diri ini dan anak-anak memang tidak pernah cocok.


Ups. Terdengar suara semakin mendekat. Jadi patung! 


Hmm?


Eh?!


“Putih?” bisikku memandang makhluk berbulu itu berhenti di depan semak-semak.


Bagaimana bisa dia di sini?! Seharusnya kelinci itu ada di kandang rumah!


Argh! Jangan kabur!


Yang jaga sudah mau kemari!! Duh, bagaimana ini?! Si putih nanti kabur semakin jauh!


Putih, jangan jauh ke jalan!! Nanti kalau ada kendaraan⏤


“Rasyi ketemu!!”


Aku langsung berdiri keluar dari semak-semak, “Iya! Aku ketangkap. Bye!” langsung aku berlari, “Putih!”


Heh, kelinci gendut! Ini adalah pemilikmu! Kenapa kamu malahan kabur?! Sekarang bukan waktunya main kejar-kejaran!! Loncat atau balapan sih?!


“Berhenti, putih!” pemilikmu ini tidak atletik! Ditambah lagi, kaki anak umur tiga tahun ini pendek!


Oh! Seseorang mengangkat makhluk itu. Tampaknya si putih memang berlari ke sana dan tepat sekali orang ini membuka tangannya sebelum putih kabur lebih lincah.


Itu, “Kak Fares!”


Anak yang beda lima tahun dengan ragaku ini tampak menggendong si putih dengan nyaman, “Putih kok dibiarkan keluar?”


“Huh!” aku tidak pernah terbiasa berlari kencang, “Tidak tahu. Tiba-tiba sudah di luar, huh....”


“Fares! Rasyi! Sudah sore, pulang~!” oh, itu kan suara Sari.


“Iya, bu!” Fares menyahuti orang tuanya ini, “Yuk,” Tangan Fares elus kepalaku.


Dengan kata selamat tinggal yang simpel ke kak Ilham, kak Fares membawa aku dan si putih pergi. Rumahku senantiasa tampak megah dan simpel, menjadi tujuan kami. Masuk melewati pintu setelah melepas alas kaki. Ke dalam rumah yang sedang ramai.


Rumah hari ini sibuk sekali. Para bibi mondar-mandir dari dapur ke halaman belakang yang luas. Membawa bahan masakan keluar dan kembali lagi ke dapur.


“Di luar lagi buat apa?”


Sari tersenyum tenang, “Bikin satai.”


Aku tersenyum layaknya anak kecil pada umumnya, “Yei~ Rasyi mau makan semua~”


“Tapi harus mandi dulu. Yuk ke atas~”


Kami akhirnya menaiki tangga. Menuju kamarku yang memang dari awal disatukan dengan kamar mandi sendiri.


Melepas baju, mandi dan memilih baju baru. Baju daster manis yang berlipit-lipit dengan lengan yang gelembung. Hari ini entah kenapa Sari menyarankan bando kelinci yang manis. Aku juga tidak keberatan.


Kami menuruni tangga menuju taman belakang. Ikut berkumpul dengan para bibi dan keluarga Hendra yang sibuk menyiapkan segala macam.


Tahun baru memang selalu terasa berbeda.

__ADS_1


Aku hanya bingung, kenapa keluarga Hendra tiba-tiba membuat perayaan seperti ini. Bukannya aku tidak paham. Diriku sebelum bereinkarnasi sering merayakan juga. Meski hanya sekedar bermain kembang api batangan yang murah.


Namun keluarga yang kaya ini merayakannya dengan barbeque.


“Rasyi tidak mau tidur?” tante Ira ikut bermain.


“Tidak mau!”


“Mau main kembang api duluan?” Sari membawakan kembang api batangan yang sederhana.


 Aku berdiri dan melompat senang, “Mau!”


“Hati-hati ya,” Sari menyerahkan satu batangan lidi itu padaku dan Fares.


Dinyalakan ujungnya. Memandang bunga api itu menjalar sampai mendekati tanganku dan akhirnya mati sebelum sampai. 


Cipratan api sederhana yang cantik itu memang bisa menghabiskan waktu walau tidak seramai kembang api yang sedari tadi mengejutkan di langit malam. Semua orang tentu ingin membuat setiap detik yang tersisa di tahun ini menjadi spesial meski hanya mainan kecil.


Tidak luar biasa, tapi hal seperti cukup menggelitik aku.


Oh?


Orang ini!


Dari mana saja dia sampai tidak kelihatan sedari tadi?


Kudekati pria yang sibuk dengan belanjaan itu, “Papa~!” senangnya melihat wajah tampanmu itu, wahai papa tercinta~


“Hmm,” dinginnya kamu, pa~ Seperti lemari es saja.


Uluran tanganku mengarahkan batangan kembang api yang belum menyala, “Main kembang api sama Rasyi, pa~”


Papa memandang ke arahku. Eh? Apa aku salah lihat? Wajah papa tampak runyam meski sekilas saja. Matanya seakan mengatakan ia sedang tidak senang.


“Nanti,” tangan papa menepuk perlahan kepalaku, “Aku tinggal dulu ke atas,” papa berdiri selagi berpamit sejenak pada paman Hendra.


Alis mata Hendra terangkat mengiyakan. Sosok orang tua itu malah pergi meninggalkanku.


Meninggalkanku kebingungan.


Apa aku melakukan sesuatu yang menyinggung pria ini?


Papa memang bisa tersinggung?


Hendra membalas tatapan dariku. Ia mengeluarkan beberapa minuman yang sepertinya hasil belanja papa. Membuka satu botol jus jeruk dan mengarahkannya kepadaku.


Tanpa berpikir panjang, aku hanya ikuti arahannya. Pria-pria disini memang lebih banyak action daripada bicara.


Pria ini, yang kemiripannya sudah tampak di Fares, mengulurkan tangannya mengangkatku dan duduk di gazebo taman. 


“Mamanya Rasyi suka kembang api.”


Aku berhenti meminum. Perlahan memandang polisi ini dan memberikan tatapan penuh tanya.


“Papamu tidak marah. Tapi biar papamu sendirian sebentar ya?”


Terdiam aku. Mengangguk, “Iya.” 


Otakku tidak menduga sama sekali kalau hal kecil seperti ini bisa berdampak besar. Siapa yang bisa menyalahkan? Istri yang paling dicintai meninggal setelah melahirkan aku.


Rasa bersalahku menumpuk lagi.


Apa yang bisa aku lakukan? Apa yang anak kecil ini bisa lakukan? Apa melakukan hal manis yang polos bisa membantu?


Yah, tidak ada yang bisa aku lakukan juga selain hal polos~


“Rasyi mau ke kamar sebentar~”


Hendra terheran, “Rasyi....”


Hmm?


Oh! “Rasyi tidak ganggu papa kok!” anak kecil sih, jujur saja bisa kan? “Rasyi mau kasih kembang api buat mama!”


Hendra tampak terkejut. Loh? Hendra tersenyum? Tumben sekali!


“Naik tangganya hati-hati.”


Aku tersenyum lebar, “Iya~!”

__ADS_1


Berlari aku masih membawa kembang api yang belum menyala itu. Rumah yang tampak sepi meski dengan lampu yang setiap sisinya menyala. Tangga yang didesain senyaman mungkin dengan kakiku yang pendek. Nyaman bagiku untuk menaiki setiap anak tangganya.


Lantai dua yang masih luas dengan banyaknya mainanku. Satu lemari rendah yang selalu ada di samping pintu kamar papa. Foto mama yang tersenyum selalu berdiri di sana.


Walau lemari rendah, tetap saja terlalu tinggi untukku. Memberiku satu-satunya pilihan untuk menarik kursi ke depannya.


“Hai, mama~”


Aku berhasil berdiri di depan foto mama. Tak dapat aku berkata apapun setelah beberapa saat memandangnya. Berharap raga anak kecilku bisa membawakan keluguannya untuk keluar dari kecanggungan ini.


“Mama, bentar lagi tahun baru loh. Mama mau ini? Rasyi tidak boleh nyalakan di dalam rumah. Jadi Rasyi taruh sini saja ya?”


Kuletakkan batangan itu di depan fotonya.


Rasanya... entahlah. Di kehidupan sebelumnya, bahkan aku tidak tahu siapa orang tuaku. Sekarang, aku punya papa. dan seharusnya aku juga punya mama. Namun....


“Maaf ma. Mama jadi tidak bisa main kembang api gara-gara Rasyi. Maaf, karena Rasyi lahir.”


Aku duduk berlutut di atas kursi itu. Mendekatkan ujung meja dengan daguku.


“Mama boleh marah sama Rasyi, tapi jangan ke papa ya? Papa kasih senang-senang saja. Biar papa bisa senyum.”


Huh, sudahlah. Tidak bisa aku lakukan apapun selain hal yang perih ini.


“Dadah, ma~ Happy new year~”


Perlahan aku berusaha turun dari kursi yang masih sangat tinggi.


Heh?!


Apa badanku terangkat? “Papa?”


Tunggu...


Dia mendengar perkataanku tadi, tidak?


...


Jangan diam saja sambil menggendong aku seperti kamera CCTV! Putri manismu tambah malu nih! Katakanlah sesuatu. Lebih baik anda tertawa deh!


Eh? Kenapa papa malah mendorongku untuk memeluknya?


Ini sungguh membingungkan.


Kubalikkan kepalaku yang bersembunyi di pundaknya ke arah pria ini. Hmm? Papa tersenyum? Dia melihat ke arah foto mama kan?


Heh? Heh? Heh?!


“Kita turun. Sate-nya sudah jadi.”


Aaa... Ok?


“Iya~” aku berusaha terdengar senang di tengah kebingunganku sambil memeluk lehernya.


Eh?! Lagi-lagi kejutan apa ini?!


Papa memberikan kecupan di pipiku?


Terasa aneh, tapi⏤kupeluk ia lebih erat sambil menggoyang-goyangkan kaki.


Hatiku menggelitik. Hihihi....


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


Kuletakkan satu batangan kembang api roket di samping foto mama.


“Ma, Rasyi taruh di sini. Tahun ini tante Sari ngajaknya tahun baruan di rumah sana. Jadi Rasyi tinggal ya.”


Aku mengibaskan rambut yang dikepang samping oleh papa. Hari ini baju yang aku kenakan sangan tren dengan gambaran perempuan remaja yang manis. Tahun baru datang lagi.


“Rasyi,” papa sudah siap di ujung tangga.


Tersenyum aku ke papa tampan ini, “Iya~” aku menoleh kembali ke foto mama, “Happy new year, ma~”


_____________________________________________


Emang telat sih, tapi--


Happy New year untuk semua <3

__ADS_1


Love love you~



__ADS_2