Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#67 Pasca Sakit, Tambah sakit


__ADS_3

Kesibukan biasa. Selalu, seperti hanya aku saja yang kewalahan. Para bibi santai saja memasak dan bersih-bersih. Bapak yang selalu menjaga rumah juga hanya menunggu mobil dalam keadaan siap.


Rizki... Entah dia punya kekuatan apa sampai bisa siap secepat itu. Jalannya saja sudah seperti dinosaurus yang sedang fashion show!


Ditambah lagi, antingku kemana sih?!


“Bi! Bibi lihat anting Rasyi yang biasa?!”


Ia yang sedang sibuk merapikan meja mulai melongo bingung, “Yang mana non?”


“Yang biasa, bi. Putih yang bulat sama ada gantungannya kecil.”


“Hadiah den Fares itu ya?”


Eh? “Itu kan yang bentuknya kupu-kupu, bi. Bulat. Yang bulat. Yang tiap hari Rasyi pakai.”


“Oh... Lah? Kenapa dilepas, non?”


“Loh? Rasyi kan minta perbaiki gantungannya lepas kemarin.”


Bibi ini melebarkan matanya, “Lah, iya ya.”


Oh my god.


“Iya,” dia nampak mengingat sesuatu, “Ini non. Bibi minta tuan perbaiki.”


Kenapa⏤aku tidak akan bertanya, “Sudah selesai?”


“Tidak tahu, non.”


Bibiku tercinta. Terkadang kerjaannya bolong-bolong seperti itu ya~


“Ya udah Rasyi yang tanya sendiri.”


Aku meninggalkan bibi ini. Membuka pintu kamar papa lebih lebar.


“Papa~”


“Hmm?”


“Anting Rasyi yang putih ada di papa?”


Dia masih saja menyibukkan tangannya meski aku tidak melihat ia sedang melakukan apapun. Aku menyadari ia meraih sebuah kotak merah dari laci mejanya.


“Nih.”


Kuraih kotak yang jelas untuk menyimpan perhiasan. Membukanya. Di dalamnya anting yang aku cari.


Pertanyaannya, kenapa ini ada di papa?


Bukannya aku tidak percaya papa tidak bisa memperbaiki hal kecil seperti ini. Tapi papa lebih suka menyerahkan hal seperti ini pada bibi-bibi, yang pada dasarnya serba bisa.


Sudahlah. Langsung aku ambil satu persatu dan memakainya di telingaku.


“Non, udah jamnya loh~!”


“Iya!” tepat sekali aku selesai memakai anting-antingku.


Saatnya turun dan pergi ke sekolah yang aku tinggalkan dua hari.


Ups! Lupa!


Aku kembali memasuki kamar papa yang tidak ada niatan untuk ditutup. Lagi, mendekati papa yang masih berdiri entah sedang apa.


Kutarik tangannya agar ia membungkuk ke arahku. Mengantarkan kecup manis di pipinya layaknya pagi biasa.

__ADS_1


“Rasyi berangkat pa~” aku langsung berlari mengejar waktu, “Love you~!”


Langkahku menuruni tangga. Tasku yang terguncang di punggung tak menghentikan langkah cepat dan stabil. Hari ini papa tidak mengantarku. Ada yang menunggu sejak beberapa menit lalu.


“Rasyi,” Harun sudah menungguku dengan kendaraan jantannya.


Aku mendekatinya setelah selesai dengan sepatuku, “Sorry, lama ya?”


“Tidak kok,” ia menyerahkan helm, “Yuk.”


Jalanan yang terbilang sepi. Mungkin karena orang-orang cenderung berangkat lima sampai sepuluh menit sebelum bel pertama berbunyi. Dan aku membutuhkan setidaknya tiga puluh menit ke sekolahku.


Harun, jangan ditanya. Dia harus bolak-balik hanya untuk menjemputku. Tidak bisa aku salahkan kalau dia lagi-lagi khawatir, setelah aku sakit dua hari penuh.


Kami sudah terbiasa dengan jarak. Bicara sedikit saja, tanpa sadar kami sudah sampai.


Pagi yang membingungkan.


“Akhirnya~ Datang juga!”


Senang bertemu lagi denganmu, Dhika....


“Hai,” aku masih mengeluarkan senyuman yang biasa, “Lagi ngapain kok ke parkiran?”


“Baru aja ke kantin,” disodorkannya sebungkus kecil macaron kering padaku, “Mau?”


Harun melepas helmnya dan turun dari kendaraannya, “Rasyi tidak suka pedas.”


“Oh ya? Kalo gitu beli, gua traktir deh.”


A ha ha~ Bisa saja kamu, abang. Pintar sekali mencari kesempatan.


Dasar!


“Rasyi tidak lapar,” Harun menggenggam tanganku, “Kita ke kelas.”


Akhirnya kami berjalan. Meski, aku diapit dengan kedua lelaki yang sewaktu-waktu bisa meletus ini.


Sedihnya. Padahal aku baru saja sembuh dari demam yang karena memikirkan mereka juga. Dan pagi hari yang manis ini, sudah ada yang menyuguhi buah pikiran yang baru.


Tidak bisa ya aku pensiun jadi Rasyi sebentar.


“Hei, bro, ti-hati stroke. Marahan aja lu kerjaan.”


Dhika, aku tahu kamu ingin akrab dengan caramu sendiri. Namun bukan begitu caranya menghadapi Harun. Anda harus ingat kalau Harun tidak senang dengan anda. Tidak ada yang senang bila kalimat serupa keluar dari mulut ‘musuh’.


“Tutup tuh moncong,” Harun, mulai mengatakan hal yang tak indah.


Dhika tertawa, “Kasar bet, bos.”


Aaaa... Hentikan....


Pagi ini sangat indah~ Tidak ada awan, matahari pun bersahabat~ Udara tak sepanas hati ini, dan tak sedingin seseorang yang hipotermia di kutub utara!


Jadi tolong jangan bersitegang!! Cukup saat pemilu saja!


“Oh ya Ras,” Dhika menghadapku, “Lu itu sebangku sama Firna atau Harun sih?”


Hmm? “Sama Firna. Kapan?”


“Terus, Run, ngapain lu bolak balik duduk sama Rasyi?”


“Memang kenapa? Masalah?” Harun masih saja tidak bisa ramah.


Kepala Dhika mengarah ke aku lagi, “Gantian dong gua yang duduk sama Rasyi.”

__ADS_1


Eh?!


Harun menghentikan langkahnya, “Tidak.”


Dhika ikut berhenti meski ia masih menatap ke arahku, “Gua loh kagak tanya sama lu,” tolong jangan jadi kasar juga.


Kali ini sungguh alarm kuning! Mereka bisa sungguh-sungguh berkelahi! Aduh duh⏤


“Hahahaha!!”


...


Heh?


“Kok jadi drama-drama gini yak?! Hahahaha!!” Dhika tertawa? “Lu cinta mati banget sama Rasyi hah? Hahahahaha!!”


Rasanya aku pun senang kamu lebih memilih ketawa daripada adu jontor dengan kemarahan seperti gunung berapi aktif. Namun bisakah aku bertanya satu hal? Kenapa anda tertawa?!!


Ditambah lagi, bicaranya blak-blakan seperti itu!


Akhirnya Dhika berhenti tertawa, “Iya, bro. Gua paham gua gak bakal menang ambil Rasyi dari lu. Kagak usah tegang-tegang napa?”


“Kalau gitu, pergi sana. Jangan muncul-muncul lagi,” wajah keras Harun masih tidak berubah.


“Yah, gak bakal tahu kalau gak dicoba ya gak?”


Harun memandang lebih keras lagi, “Rasyi sukanya sama aku.” 


Eh?! Kenapa Harun ikut blak-blakan?! Ingat dong ini masih di tengah jalan sekolah!!


“Iya deh, iye~” Dhika menatapku lagi, “Rasyi, kita jalan-jalan berdua yuk.”


Tu, tu tu tu, tunggu! Kenapa bahasanya jadi melenceng ke sana?!


Melangkah Harun lebih dekat dengan Dhika. Bersamaan dengan meledak amarah di wajahnya, “Sialan, kamu⏤”


“We! Santai, santai! Kasih kesempatan dong~” Dhika mengangkat kedua tangannya sampai setinggi wajahnya, “Gua juga males kok kalo disuruh rebut-rebutan. Sekali aja deh. Kalo gak cocok, ya udah.”


Perjanjian macam apa ini?


Dhika balik tatap ke arahku, “Ras, gua tertarik sama lu. Bisa dong kasih jalan-jalan sekali. Makan kek. Beli apa kek.”


Awal bertegur sapa dengan lelaki gagah ini, pendapatku adalah, dia orang yang paling barbar dan jujur. Easy going yang terlalu santai. Namun, pemikiranku tidak seluas itu sampai kepikiran cara pendekatan seperti ini!


“Rasyi, tidak perlu didengar!”


“Lu gak kasih, gua gangguin hari-hari loh.”


Harun memandangnya dengan penuh tatapan mematikan. Layaknya melihat hama di kebun sayur.


Mari kita sudahi ini. Oke? Sayur Rasyi mau dengan tenang memanen diri dulu.


Acak sekali otakku berpikir! Ini masih pagi Rasyi! Berpikirlah rasional!


“Habis pulang. Kita makan ice cream di cafe sebelah. Gimana?” aku tersenyum simpel.


“Nah, gitu dong~ Ntar gue traktir~” dia mendekatkan wajahnya dan, berkedip sebelah mata, “Bye~”


Dia mempercepat langkahnya. Mendahului kami yang pada dasarnya sama-sama pergi ke kelas. Hal baik karena aku butuh waktu lebih untuk mencerna.


“Kenapa kamu terima?” Harun tampak jelas tidak senang.


“Biar dia tidak gangguin lagi. Aku juga tidak mungkin lama-lama. Papa sudah mulai suruh aku fokus belajar buat UAS,” kupegangi lengan seragamnya. Menunjukkan senyumku lebih jelas, “Ya?”


Dia bernafas berat, “Kabari!” ia sangat tegas menekankan satu kata itu. Lelaki ini memang selalu khawatir.

__ADS_1


Mulutku melengkung senyum, “Iya~”


__ADS_2