
“Terus, beres nih? Kamu tidak ada apa-apa lagi sama si gila itu?”
Firna menyenggol keras di pemilik mulut yang baru saja berciut itu. Namun, Saga masih tidak mengerti meski sudah diberi kode sejelas itu.
Aku paham kenapa Firna menahan bahasan itu. Paham pula kenapa Saga sangat ingin menyuarakan kencang-kencang. Kedua respons yang berbeda itu, tidak ada alasan lain selain mereka mengingat aku yang punya rasa pada Harun.
Di sisi lain, mungkin, aku tidak bisa merasakan apapun lagi akan rasanya.
“Kayaknya gitu,” aku memutar-mutar sedotan stainless yang ada di botol minumku.
Ekspresi mereka jelas kalau terkejut, tapi aku tidak paham akan arti di baliknya.
“Tidak marah, kamu?” Saga kembali mengatakan apa yang dipikirkannya.
Bingung membuat kepalaku terteleng, “Kenapa aku marah?”
“Ya... gimana ya sebutnya...?” Vian ragu melanjutkan bicaranya.
Saga berdiri dengan tangannya berpusat di meja taman selagi ia condong ke arahku, “Kamu, tuh ya, susah buat setuju! Si gila diejek aja sedikit, pasti salahnya ke kami!”
Hmm? “Tapi kan sekarang kalian tidak salah.”
Mereka masih saja terdiam. Apakah mereka tidak percaya, atau apa yang aku katakan kurang memuaskan untuk mereka?
“Apa yang perlu aku salahkan kalau memang tidak salah? Bahkan, aku mau makasih sudah mau ikut permintaan papa. Padahal hari-hari aku drama terus,” aku tersenyum ke arah mereka yang masih mematung.
“Harun seram banget ya, sampai takut gitu?” Saga kembali duduk, “Ya... kalau sampai diseret gitu siapa juga yang lupa ya?”
“Tidak usah dibahas lagi, Sag,” Vian memperhatikan mengambil satu keripik dari kemasannya.
Saga tampak tak mau mendengarkan, “Eh, tapi deh, kamu pas diculik dulu gimana? Kok bisa gitu aja langsung takut?”
Vian mengerutkan keningnya tidak senang, “Sag!”
“Dulu kamu tidak diseret, atau dipukuli, gitu? Dijambak?”
“Sudah dibilangin jangan dibahas lagi!”
“Aaak!!”
Tak sempat bereaksi ke ingin tahu Saga yang berlebihan itu, aku sudah kaget dengan Firna yang mengunci leher Saga. Mereka seperti sedang bergulat. Padahal jelas-jelas kita sedang berkumpul untuk menghabiskan waktu istirahat.
“Sakit! Kucing!!” Saga malah kalah mengelak. Mana bukti dia bisa bela dirinya?
Firna semakin, marah? “Makin saja ya?!”
“Ampun!! Iya-iya lepas!!”
“Tidak usah dengarin Saga,” Vian yang duduk di samping kiri meja memandangku lembut.
__ADS_1
Senyumku keluar, “Tidak apa. Aku memang takut kok. Makanya aku senang kalian mau temani aku.”
Firna dan Saga sesaat berhenti bertengkar. Kurasa aku punya waktu untuk mengeluarkan apa yang ada di pangkal lidahku.
“Aku sudah putuskan kalau aku tidak mau kontak apa-apa sama Harun lagi.”
Tentu saja mereka akan terkejut dengan ucapan mendadak dariku ini. Hal ini baru aku putuskan kemarin malam. Dan aku rasa tidak ada yang bisa aku usahakan lagi.
Kak Fares memang mengatakan kalau semua keputusan ada di aku. Dan papa pasti mendukungku semampunya. Namun kalau aku masih saja naif dan keras untuk mempertahankan yang bermasalah, semuanya juga akan ikut kacau.
Seperti yang sebelumnya.
Aku sangat bersyukur semua orang bisa mengerti aku. Namun tidak ada yang bilang selanjutnya akan semulus itu lagi.
“Kamu beneran, tidak ada kenapa-napa lagi?!” Saga masih tidak percaya.
Vian menepuk bahuku, “Kamu tidak harus dengerin ocehannya Saga. Dia cuma ngomong tidak pakai otak.”
“Apaan tuh maksudnya?” Saga merasa tersinggung ternyata.
Tidak bisa aku hilangkan senyuman dari wajahku. Mereka sangat pengertian padaku. Namun, imbalannya malah sebaliknya, aku tidak mengerti mereka.
Kenapa mereka sangat hati-hati dengan perasaanku?
“Tidak apa kok. Ini sudah keputusanku. Jadi,” aku menyatukan kedua telapak tanganku di depan wajahku seakan memohon, “Tolong jauhkan aku dari Harun.”
Orang-orang ini masih saja terdiam. Layaknya mereka butuh waktu untuk memproses segala hal yang baru saja aku lemparkan.
“Ngerepotin,” Saga mengatakan itu tapi aku rasa dia tidak akan bilang tidak, “Auw!”
Kedua orang ini. Masih saja Firna melancangkan serangan untuk membungkam mulut Saga.
“Yak stop sampai sana,” Vian menghentikan Saga yang mau menyerang balik, “Udah mau bel, jamnya pak Hasan.”
Sudah diputuskan untuk kembali lebih awal ke kelas. Kami masih belum tahu guru yang mengisi jam selanjutnya ada atau tidak tapi kami tidak ingin macam-macam.
Dekatnya kelas kami dengan taman dalam. Waktu yang singkat, kami sudah sampai.
“Yang butuh diomongin lagi langsung aja dibahas,” ketua kelas? Di depan dengan sekretaris yang mencatat sesuatu di papan tulis.
Itu berarti mereka sedang diskusi tentang dekorasi kelas lagi.
Ya, itu keputusan yang besar. Kami harus mengeluarkan banyak kas dan tentu saja usaha. Mereka tidak mau rugi akan hal yang jelas tidak pasti.
Firna mengambil duduknya, “Kayaknya pak Taufik tidak isi kelas deh. Dampingi lomba lagi kah?”
Aku mengangkat bahuku, sambil menyusul ia duduk.
Hmm?
__ADS_1
Kuangkat setangkai mawar buatan yang ada di mejaku. Oh, saat aku sadari, di meja Firna juga ada satu.
“Apa ini?” aku melancangkan pertanyaan langsung ke arah Firna.
“Bunga valentine,” Firna menyahuti meski kelas masih ribut mendiskusikan dekorasi kelas.
Jawaban itu tidak membantu otakku, “Buat...?”
“Biar kita kasih ke orang lain,” ia mendekatkan mulutnya di telingaku, “Biasanya banyak orang yang nembak gebetannya pakai bunga ini loh. Mitos sih bilang bakal jadi happy terus. Terus katanya ada kakak kelas yang bisa sampai kawin.”
Wow?
“Tiap tahun?” aku tanya lagi.
“Iya. Tradisi sekolah aja sih.”
Memberikan ke seseorang yang kita kasihi ya? Siapa?
“Sorry aku tidak bisa ikut hari itu,” suara dari belakangku.
Harun?
Tunggu. Kelas sedang membicarakan apa?
“Yah....”
“Mau gimana lagi. Hari itu lebih banyak orang yang bisa. Bantu dana gak papa kan?”
“Iya,” suara Harun tidak terdengar lagi.
Aku menggenggam tangkai bunga itu dan memandangnya.
Sungguh tidak masuk akal bila melihatnya lagi dari mata diriku yang dulu. Dia pasti tidak akan melewatkan sedetik saja untuk menyerahkan ini ke Harun. Namun sekarang, tidak akan terpikir akan hal itu kalau aku tidak mendengar suaranya.
Lalu aku berikan ini ke siapa? Sayang kan kalau tidak dipakai.
Aku menatap Firna, “Memang tahun kemarin kami kasih ke siapa?”
“Lele.”
Kutahan tawaku. Itu waktu Firna masih suka-sukanya dengan orang ikan air tawar itu ya? Melihat penyesalan di setiap sudut wajah Firna menunjukkan kekesalan hatinya.
Dia menatapku balik, “Kamu mau kasih siapa?”
“Harus orang yang disuka kah?”
“Tidak sih, banyak juga kok yang kasih ke guru. Lihat saja nanti banyak, guru-guru dikerumuni kayak artis.”
“Oh, yang penting orang sekolah, gitu?”
__ADS_1
“Tapi banyak juga yang kasih ke keluarga atau pacar di luar. Sekolah cuma bagi biar... ya katanya, biar kita bilang sayang gitu lah,” Firna melanjutkan ceritanya.
Di luar sekolah? Kalau boleh seperti itu, aku berikan ke dia saja.