
Cinta itu rumit.
Jerih payah akan membawa hasil, kata mereka. Namun, mereka juga bilang, jangan berlebihan atau si doi akan jijik dan mual.
Dan entah bagaimana aku bisa beranggapan bila aku sedang merasakan mualnya.
“Jadi kalau-kalau ketemu model soal begini, pakai rumus yang ini. Diingat!”
Wahai bu guru, itu akan sedikit sulit. Aku merasa tak enak akan hal yang seharusnya menggelitik hatiku. Tidak mungkin aku cukup sehat untuk mengingat rumus.
Sungguh! Tangan hangat yang melelehkan milik Harun menggenggam tanganku sampai aku merasa sesak!!
Paradox yang menyusahkan!
“Rasyi kenapa?” Harun masih saja memainkan jari jemari kami yang saling berkaitan.
Entahlah. Aku pun tidak paham mengapa aku bisa mual di tengah kehangatan ini.
“Pusing?”
Aku menggeleng pelan, “Tidak. Cuma… aku mau catat tapi tanganku...,” tangan kananku diculik olehnya.
Ia memandangi tangan kami yang bersembunyi di balik meja. Namun ia hanya tersenyum dengan genggaman lebih erat.
“Nanti Rasyi lihat catatanku saja. Sekarang Rasyi istirahat. Kalau Rasyi sampai sakit...,” wajah itu berubah sendu.
Duh, bagaimana ya..., “Aku tidak sakit. Dari pada menganggur, lebih enak aku catat sekarang.”
Apa dia tidak bergeming?
Harus bilang apa lagi? “Biar aku bisa istirahat nanti.”
Belum cukup?
Dia malah membawa lebih dekat genggaman tangan kami ke bawah dagunya. Tersenyum?
“Jangan~”
…
..
Aaaaaa!!
Rasa mual ini pasti karena overdosis!! Bagaimana bisa kadar terpesona milikku tidak kepenuhan kalau dianya seperti ini?!!
Hal yang berlebihan memang tidak baik.
Tahan sampai bell istirahat, Rasyi!!
“Begini jadinya. Kalau soal model ini ketemu sama rumus ini. Biar ibu contohkan. Hasilnya bukannya tidak ketemu. Tapi langkahnya malah mutar. Ini yang sering bikin salah.”
Namun ada apa dengan waktu yang lama berputar ini?!
Detik, menit, puluhan menit, belasan menit. Satu jamnya lama sekali! Pantas saja kantuk selalu mampir. Jam dindingnya saja tidak mau kerja sama!!
Akhirnya! Satu jam pelajaran lewat!! Bel, berbunyilah!!
“Pelajari halaman selanjutnya. Nanti kita bahas minggu depan,” dadah bu~
“Sudah selesai pacarannya?”
Firna~! Tolong selamatkan aku dari kelebihan muatan ini~!
“Pindah, pindah!” Firna sudah standby di bangku miliknya.
“Hari ini aku di sini full ya?” Harun memandangi Firna.
“Tidak kelihatan di belakang situ!” Firna menarik pundak Harun, “Pindah!”
“Hari ini saja.”
“Tidak!”
Perdebatan mereka kayaknya tidak bisa selesai di bawah satu jam.
__ADS_1
Setidaknya aku harus lakukan sesuatu dengan tanganku, “Harun, tanganku pegal.”
“Jangan~” dia masih saja menggodaku?! Sungguh?!
Aku harus bagaimana?! Setiap perkataanku semakin tidak mempan semakin hari. Lelaki ini belajar bertingkah seperti sekarang dari mana?!
“Ras!!”
Duh, suara ‘kontraktor’ itu....
“Snack datang~!”
Kembar ini malah muncul dengan banyak kemasan-kemasan camilan yang dihempas ke mejaku.
Tolong, jangan buat ini semakin runyam!
“Nih, KAK Harun. Cobain,” Saga menawari camilan dengan sedikit bumbu ejekannya.
Kurebut kemasan itu, “Kita makan dulu yuk. Aku mau buka,” sangat berharap dia paham.
Seketika sebuah tangan mengambil sisi satunya dari kemasan. Menariknya berlawanan dengan arah tanganku yang menahannya. Terbuka? Dia? Kami membukanya?
“Kebuka,” sungguh, Harun?!
Dia mau menahannya sampai kapan? Sampai aku belajar makan seperti orang kidal?
Vian berdiri mendekat ke sisi kiriku yang renggang, “Gosip-gosip yuk daripada gandengan begitu.”
“Auw!” jeritku sakit karena Vian menarik genggaman kami secara paksa.
“Apa-apaan?!” Harun malah berdiri.
“Rasyi pasti lapar, masa ditahan,” Vian mengangkat bahunya.
Harun, tak bisa menjawab? Mungkin lebih baik aku menggunakan tangan kananku untuk mengambil lembaran keripik kentang di tanganku. Sebelum ada yang meraih tanganku lagi.
“Ras, main ini yuk!” Saga tidak mau peduli suasana.
Yah, ayo kita buat suasananya semakin tidak terasa panas dari kedua orang yang berdiri mengapitku ini.
Kukeluarkan senyumku, “Main apa?”
Jadi anda menawari game battle royal pada orang yang buta game?
“Memang Rasyi bisa?” Vian mengambil kursi yang entah milik siapa.
Saga yang sudah duduk duluan menutupi jalan keluar dari bangkuku, menampakkan wajah aneh, “Bisa~”
Biar kujawab sendiri, “Tidak.”
Pastinya Saga kesal. Mau bagaimana lagi? Kesenangan orang berbeda-beda.
“Bareng aku saja,” Firna meraih ponselnya selagi duduk di baris depan.
Benar juga. Firna juga suka game online. Set up komputer di rumahnya juga bagus.
“Kamu bisa?” Saga terkejut.
Firna mengkerut, “Bisa! Cepat join!”
“Iya iya,” Saga belabakan.
Keadaan jadi ribut seperti biasa. Tampak manis karena mereka main bareng, tidak berkelahi. Aku bisa lebih santai bersama keripik kentang rasa honey butter ini.
“Rasyi,” Harun yang telah duduk kembali memanggilku.
Aku masih sibuk dengan kunyahanku, “Hmm?”
Ia mulai mendekat. Mungkin ia ingin berbisik, “Berhenti berteman sama mereka.”
Eh? Pernyataan apa yang baru dia katakan?
Alisku terangkat, “Memangnya kenapa?”
“Ikuti saja omonganku.”
__ADS_1
Harun kenapa sih belakangan ini? “Kamu masih marah tentang tadi? Aku tahu kamu pasti paham kan? Tolong, Harun.”
“Kita omongin itu nanti,” Harun marah lagi meski suaranya masih pelan, “Yang ini tentang ini.”
Mungkinkah dia hanya tidak suka dengan Saga dan Vian? Yah, dia punya alasan. Si kembar tidak pernah melewatkan satu hari saja untuk membuat orang lain kesal.
Akan tetapi, tidak seperti ini juga. Hubunganku dengan si kembar tak buruk meski sesekali berkelahi. Itulah kami. Ditambah lagi, tidak mungkin aku memusuhi mereka sementara papa adalah dokter Vian dari kecil.
Kuharap aku bisa membujuknya.
“Harun. Maafin mereka ya. Mereka cuma mau main saja,” aku tersenyum selembut mungkin, “Kalau mereka jahil, tinggal jitak saja kan? Kita juga bisa panggil kak Fares.”
Loh? Kenapa dia menatapku layaknya itu hal yang tak biasa? Memanggil Fares kan bukan pertama kalinya.
Dia mengembalikan wajahnya, “Mejamu sudah dijahili dari tadi. Tidak dijitak?”
Hmm? Kupandangi mejaku yang... Penuh sampah.
Wah... Rasyi, kamu memang sangat sabar bisa tidak marah dengan melihat hal ini~
“Kami juga paham yang ginian,” Vian, dia menguping?
Yah, kami tidak sungguh-sungguh bicara dengan privasi sih selama ini.
Dan aku rasa Vina pun tidak senang dengan ucapan Harun. Ia memunguti sampah-sampah itu? Tanpa banyak komentar, Vian pergi membuang semua hal yang berserakan itu.
Bila begitu, tidak ada yang perlu didebatkan.
Mataku menangkap Harun yang masih diam, “Selesai~” kembali kumakani keripik... Yang habis, “Buang dulu~”
Aku berdiri dan berlari kecil menyusul Vian. Layaknya aku mau kabur dari tatapan Harun yang tajam. Membawaku keluar berhadapan dengan Vian yang masih di depan tong sampah.
“Gebetan kamu makin gila,” Vian tampak menahan marah.
Kuperhatikan wajahnya, “Dia cuma khawatir.”
“Dia bukan khawatir lagi, dia kekang kamu!”
Heh? Ada-ada saja anak ini, “Tidak kok,” aku melangkah kembali berdampingan dengan Vian, “Kalau orang khawatir memang sering hilang kenda⏤Aa!”
Itu tadi apa?! Kakiku tersandung?! Tersandung a... pa... Gista?
“Ras?!” Vian yang menahanku jatuh sepenuhnya mencium ubin.
“Rasyi!” Harun? Dia sudah duduk berlutut di depanku, “Kenapa? Kok bisa jatuh?”
Aaaa... Aku punya dugaan.
“Kamu itu ngapain, Sovian?!”
Loh? Kenapa Harun marahnya ke Vian?
Vian terkejut, “Hah? Kamu salahin aku, gitu?!”
“Kamu yang sama Rasyi daritadi!”
“Pakai otaknya! Aku tidak mungkin bikin jatuh Rasyi!”
Jangan kelahi lagi, please!!
Tidak ada gunanya memperpanjang masalah. Harus aku buat argumen yang tidak bisa diperdebat oleh mereka berdua.
Aku rentangkan kedua tanganku, “Aku tidak sengaja injak kakiku sendiri! Maaf!”
Mereka terdiam.
Itu tanda baik dimana mereka tidak akan berdebat lagi, kan? Debat yang ada hanya memarahiku karena tidak hati-hati.
“Rasyi, lutut kamu gimana?” Firna~
Harun berdiri, “Biar aku antar ke UKS.”
“Tidak apa,” aku menggenggam tangan Firna, “Aku bareng Firna saja.”
Untunglah telepati antaraku dan Firna masih berjalan dengan baik. Kami pergi tanpa banyak hambatan baru, selain galauku.
__ADS_1
Kurasa kata Vian tidak sepenuhnya salah.
Harun semakin sering marah.