
Suara dering sialan. Cepat ganti dengan suara lain. Angkat!
“Fuh!” sialan!
Tidak ada suara apa-apa yang datang. Belum dijawab juga sampai suara deringnya hilang!
Rasyi mengirim pesan. Dia bisa mengirim pesan tapi tidak mengangkat telpon. Keperluannya lebih penting dari omongan kami. Maksudnya begitu?!
[Maaf, Harun. Nanti aku hubungi lagi.]
“Heh!” berdiri dari sofa rumah, “Sialan!”
Tanganku berhenti. Maunya aku banting apa saja yang ada di tangan.
Muak sekali waktu begini malah ingat itu.
(“Kendalikan dirimu.”)
Kepalaku harus dingin. Harus dingin.
Alih-alih membanting ke depan. Telepon genggam itu kubanting ke sofa.
Kurang ajar!
Harus berpikir! Cari jalan! Harus bisa dikendalikan!
Perempuan keras kepala! Dia sudah paham aku peduli. Tapi dia tidak mau dengar.
(“Harun!!”)
Membentakku?! Stress apa?!
Bukan aku musuhnya! Rizki yang jadi musuh!! Tidak salah dari akunya! Cintaku bukan bohongan!
Dia capek, sedihnya dia, takutnya dia! Aku yang perhatiin selama ini! Bukan Rizki! Laki-laki sialan itu cuma punya akal doang. Tapi tidak ada adab! Sebulan hilang cuma main perempuan!
Harus aku cari cara biar dia bisa paham!
“Fuh...,” dingin. Dinginkan kepala.
Rasyi pasti dengarkan aku. Cuma perlu diomongin lebih lagi.
Rasyi itu pintar. Perempuan yang berpendidikan dan berakal. Kakeknya saja bisa dia sendiri bawa ke pengadilan. Sampai hukuman mati. Omongan begini pasti bisa selesai. Bertengkar kami bakal gampang selesainya.
Aku cuma harus kayak biasa. Dengerin dia. Nanti dia dengerin aku. Timbal balik. Lembut. Pelan tapi pasti. Begitu terus. Sama kayak yang aku lakukan biar hatinya bisa aku curi.
Curi lagi hatinya tidak susah. Soalnya kami sudah saling suka.
Harus pergi temui dia sekarang.
“Ke mana, Harun?”
Senyum, sekarang! “Mau ngumpul sama Rasyi sebentar.”
“Jangan sampai malam.”
Anggukkan saja kata Ummi ini. Begitu saja sudah bikin puas dia.
Kendaraan sialan, cepat hidup!
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Pagar tinggi. Tekan tombol bel yang ada di sana.
Bibi keluar pintu. Lama sekali bikin aku muak. Mau gimana aja, senyumku harus siap. Cerdas bibi itu sadar kalau aku sudah lama menunggu.
“Den Harun,” bagian pintu dari pagar hitam dibuka, “Kok den di sini?”
Perempuan tua ini bertanya hal aneh.
Senyum terus, “Kenapa, bi? Saya tidak boleh ke sini?”
“Bukan gitu, den. Non Rasyi kan tidak ada di rumah.”
__ADS_1
Apa? “Rasyi ke mana?”
“Ke rumah den Fares.”
Bibi ini bilang nama itu lagi. Tidak habis pikir.
“Ngapain bi, Rasyi ke sana?”
“Memang kenapa?”
Suara... orang ini muncul lagi. Hanya salah satu dari banyaknya orang sialan yang menghancurkan usahaku.
“Tuan, eh. Bikin kaget!”
Dia memandang pembantunya, “Biar aku urus.”
“Iya, tuan. Siap...,” pembantu itu pergi.
Orang ini mau ngomong sesuatu. Apa saja itu, aku ikut permainannya.
“Siang, paman,” aku masih harus senyum.
“Siang,” cowok tua ini masih miring kepala, “Rasyi tidak bilang?”
Dia mengejekku lagi. Hatinya pasti tertawa karena Rasyi menyampingkan aku.
Tidak dibilang saja aku tahu kalau dia yang bikin Rasyi jauh dari aku. Siapa lagi kalau bukan Rizki? Ayahnya ini orang yang paling pengaruh ke emosi Rasyi.
“Sebenarnya memang tidak, paman,” tahan. Lipat saja tanganmu biar tidak terpancing, “Kenapa ya, Rasyi tiba-tiba pergi ke rumah kak Fares?”
“Bukannya lebih baik kamu tanya sendiri?”
Orang tua sialan.
“Tenang. Mereka cuma belajar,” dia main senyum, “Sudah kan? Kamu bisa pergi nyusul kalau mau.”
Lalu orang ini pergi?! Cuma hal enteng begini yang mau dibicarakan! Sialan!
“Paman!” aku belum selesai, “Kenapa anda biarkan?”
“Itu bukan jawaban. Anda kan bisa mengajari Rasyi sendiri. Daripada anda mengirim Rasyi ke tempat jauh. Tidak aman buat Rasyi.”
“Rumah polisi tidak aman?”
“Rumah ini juga tidak aman.”
Senyumnya lagi, “Berarti lebih baik ke rumah polisi, kan?”
Dipermainkan dia lagi. Otak itu busuk tidak tertolong. Susah untuk tidak marah.
“Anda serius?” pundaknya kuketuk dengan dua jari, “Karena anda membawa penjahat, semua tempat jadi bahaya buat Rasyi! Dia bisa kenapa-napa di perjalanan!”
“Kalau begitu, jemput saja.”
Keparat! Apa pikirnya aku sedang main-main dengannya?!
Tertawa aku, “Lempar batu sembunyi tangan. Khas anda sekali! Jangan lupa. Ini semua karena anda bertingkah seenaknya. Anda tidak pernah memikirkan anak anda sebentar saja.”
Sekarang dia diam. Manusia gila satu ini pikirin apa? Tidak bisa paham.
“Anda tidak bisa membalas sekarang, apa? Kalau gitu cepat perbaiki kelakukan tidak senonong anda! Perhatikan anak anda lebih baik!”
Mau bicara apa dia? “Kamu masih belum kendalikan diri kamu.”
Ratakan saja terus topik yang kami bicarakan ke tanah! Bikin saja topik baru di atas tanahnya sesuka kamu! Kesombongan itu akan aku dorong sampai hancur!
“Kalau saya tidak bergerak, anda akan celakai anak anda sendiri. Kayak yang sudah-sudah!”
“Masuk akal.”
“Anda harus berhenti bercanda, sekarang.”
Senyum memuakkan itu, “Baiklah. Kita serius,” mukanya mendekat, “Aku tahu cara merawat putri sendiri. Jadi kamu bisa tenang.”
__ADS_1
Otak miring!
“Paman. Dengan segala hormat. Anda tidak melakukannya dengan baik. Malah kebalikannya! Kelihatan kalau anda belum siap punya anak!”
“Mungkin. Tapi itu bukan kamu yang tentukan.”
“Anda hanya mengalihkan pembicaraan supaya bisa tutupi kesalahan anda.”
“Aku? Gimana kamu? Kamu cuma bisa membenarkan diri sendiri.”
Dia bilang apa?!
Kudekatkan berdiriku, “Karena saya memang benar. Saya melakukan semua ini untuk Rasyi. Karena saya sayang dengan Rasyi!”
“Tidak ada yang bilang pendapatmu salah,” dia main-main dengan kepala lagi, “Semua sayang dengan Rasyi. Termasuk keluarga Hendra yang kamu benci itu.”
Mengagumkan gimana dia bisa tahu seberapa bencinya aku dengan mereka.
Benar. Aku benci dengan orang-orang itu. Mereka memonopoli Rasyi hanya karena mereka yang merawat Rasyi. Tapi yang Rasyi dapat hanya di culik dua kali.
Polisi apa? Keluarga hebat apa? Sosial ditipu dengan mereka!
Dokter terkenal ini juga tidak ada bedanya!
“Satu hal yang aku suka dari Rasyi,” apa yang mau diomongin dia sekarang? “Rasyi tahu posisinya. Walau dia sensitif, dia bisa bedakan dimana tanggung jawabnya. Itu bedanya kalian.”
Lelucon lagi. Lelucon saja terus! Orang ini selalu saja lempar jauh topik yang diomongin.
Dia cuma mau bilang kalau dia tidak suka denganku. Mau tegaskan kalau dia tidak mau aku ada bareng anaknya!
Omong kosong! Tidak ada yang peduli.
Berat nafasku, “Rasyi dan aku sama-sama suka. Sudah tugasku buat pastikan paman jaga kelakuan!”
“Kamu tidak paham?”
Main-main lagi dengan omongan. Capek urus dia.
Sekarang dia serius, “Kamu tidak bisa di sini kalau tidak aku izinkan.”
Apa?
Sekarang begitu?! Dia mulai dorong aku jauh-jauh dari anaknya! Waktu aku sadar kesalahannya, dia cuma usir! Pikirnya dia siapa? Gara-gara dia orang tua, dia pikir dia bisa atur seenaknya tentang Rasyi?!
Cowok tua ini! Kurang ajar!!
“Rasyi yang pilih aku buat sama dia. Bukan paman!”
“Itu karena aku yang terima keputusan Rasyi. Aku tidak atur Rasyi. Aku bimbing Rasyi. Dia boleh bebas. Dan dia boleh pilih kamu. Walau aku tidak suka,” dia membalas sampai bikin muak.
“Rasyi akan pilih aku walau anda tidak bolehkan!”
“Kamu tahu Rasyi tidak suka dikekang.”
Aku berteriak, “Apa hubungannya?!”
“Kamu beruntung Rasyi sudah dibutakan sama cintanya.”
Maksud dia?
Dia tersenyum lagi dan lagi, “Kalau Rasyi sadar. Apa yang terjadi? Apa dia masih bisa bela kamu yang kekang dia? Kamu yakin tidak bakal berkelahi? Seperti kemarin?”
Aku... Tidak bisa membalas....
“Babi ini,” dia menunjuk diri sendiri, “Menghargai Rasyi yang suka kamu. Aku sarankan, pastikan terus begitu.”
Maksud dia, Rasyi bisa saja pergi ke hati yang lain?!
“Percayalah, kesempatanmu menipis,” dia mau pergi? “Kalau aku ikut campur semauku, habis.”
Seenaknya dia tutup pagar rumahnya.
Seenaknya dia pergi.
__ADS_1
Seenaknya! Kurang ajar! Sialan! Orang tua keparat!
BRAK!!