Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#100 Are You Love Him?


__ADS_3

“Selamat menikmati~”


Iya, mbak. Sekarang mbak bisa pergi. Tolong, sungguh! Pergi sekarang.


Kurang cukup apa? Cafe ini sudah punya lebih dari cukup pasang mata yang memperhatikan kami. Jangan tambah lagi yang sampai sedekat ini, mbak pelayan. Balik kerja, sana!


“Bicara, kami di sini tidak seharian,” papa dan secangkir kopi hangatnya.


Kak Fares hanya mengaduk-aduk minumannya, “Tolong biarkan mereka bicara berdua saja.”


Papa tertawa kecil, “Kepintaranmu menurun, Fares?”


Wah. Rasanya tegang sekali di sini. Bahkan Harun, yang aku kira akan berani, tidak sanggup mengatakan apapun. Ditambah lagi aku!


Menikmati satu titik di cafe kekinian dengan empat kursi sofa empuk. Pelayanan yang baik, makanan dan minuman. Suasananya juga tidak kalah enjoy⏤kalau memang kerjaannya di sini hanya untuk bersantai.


Tidak! Kami berempat di sini sudah seperti mau debat politik!


Fares masih keras, “Paman, kita tetap awasi. Tapi mereka butuh privasi juga.”


“Katakan itu lagi setelah tangan putriku sembuh total,” maksud papa pasti... Harun bisa saja melukaiku lagi.


Ini tidak akan selesai. Mari kita dengarkan apa yang Harun butuhkan dan ini harus tamat.


“Pa, Rasyi mau kok ngomong sebentar,” kupandang ke luar jendela kaca dan menemukan roof garden mall yang terkenal itu, “Rasyi sama Harun ngomong berdua di sana. Papa masih bisa lihat kan?”


“Dulu juga ada kejadian begini.”


Kejadian seperti ini... apa maksud papa saat aku pergi jalan-jalan dengan si kembar? Itu kan satu bulan lalu.


Aaa, aku tahu apa maksud kekhawatiran itu. Bagaimana aku tidak sadar, Harun semakin tidak terkendali sejak hari itu. Hari di mana Harun mulai hampir memukulku. 


Tidak, mungkin keburukan itu sudah muncul jauh sejak itu. 


Namun, apa yang akan kami dapat dari hanya duduk di sini? Ini melelahkan.


“Please?” aku memandang papa.


“Rasyi tahu jawabannya apa.”


“Dua puluh, tidak lima belas menit,” aku menghela nafas, “Lagi pula Rasyi tidak suka di sini. Semua orang melihat ke arah kita.”


“Kenapa dipikirin?”


Entahlah, karena mereka benar-benar melihat kemari! Bukan lagi melirik-lirik!


Kalau mau menyalahkan, salahkan diri kalian sendiri!


Mau bicara saja, di mall! Apa lagi muka kalian bertiga bukan hal yang biasa! Waktu berkumpul jadi satu seperti ini, mau berharap apa? Caranya untuk semua orang tidak melihat itu bagaimana?! 


Jangan lupakan tentang aku. Isi pikiran apa yang ada di orang-orang ini tentang aku yang duduk dengan tiga orang tampan ini?! Pacaran dan ketahuan oleh dua simpanan?! Sungguh?!!


Langsung tanpa basa-basi aku berdiri, “Ayo Harun.”

__ADS_1


“Huuuuh...,” papa tidak akan menghentikanku seperti yang aku pahami.


Langkahnya yang aku dahului menuju ke pintu kaca itu. Walaupun aku tahu aku juga tidak bisa untuk tetap tenang di samping Harun.


Walaupun aku sudah bertekad untuk menyerah. Langkahku yang ragu tetap menuntunnya duduk di bawah pohon rindang. Memperbaiki semua kekacauan ini.


“Katakan dengan cepat,” aku tidak mau berlama-lama lagi setelah Harun sudah duduk di sampingku.


“Rasyi sudah benci denganku?”


“Kalau tujuanmu untuk bicara, bicara sekarang.”


Bisa aku rasakan “... kamu sudah banyak berubah.”


Aku tidak berkomentar apapun. Dia berharap apa setelah dia berkali-kali kasar padaku? Bahkan orang asing tidak melakukan itu. 


Tidak, lebih tepatnya semua orang yang aku kira kenal, semuanya melakukan itu.


Ha ha ha. Lucu!


“Kamu tahu tentang traumaku, Harun. Dan kamu sudah... menambah,” bahkan terlingaku bisa menangkap seberapa dingin nada bicaraku.


“Benar tidak ada harapan lagi kah?”


Eh? “Harapan apa?”


“Kamu sudah lupain? Kamu sudah benci banget?”


“Harun, kalau kamu bicara tentang harapan, kita sudah banyak kesempatan. Papa biarin kita ketemu. Bahkan papa tidak protes saat aku masih mau baikan. Tapi kenapa kamu tidak terima?”


Tidak ada yang tidak mengetahui itu. Bahkan kelas selalu membiarkan kamu berdua karena maksud tersebut. Mereka tahu aku merasakan hal yang sama.


Dulu?


Rasyiqa yang dulu pasti tidak percaya dengan apa yang aku rasakan sekarang. Pasti ia akan bertanya-tanya, apa yang membuatku menolak lelaki berparas indah dan lembut hatinya.


Jika bisa, aku ingin berteriak kalau semuanya, kebohongan.


“Kalau harapan itu yang kamu maksud, iya, sudah tidak bisa lagi,” mataku tidak mau lagi memandangnya.


“Rasyi!”


“Jangan coba-coba berpikir melakukan apapun, Harun! Kalau aku takut lebih dari ini, aku akan pergi!”


Mau sekuat apapun, aku tetap bisa merasakan tanganku tidak tenang. Sosok Harun sudah tidak lagi aman untukku.


Harun memahami situasi dan kembali duduk di sampingku. Jeda yang hening, kurasa itu juga yang membuat orang-orang tidak berani melanjutkan tatapannya. Papa mungkin juga tidak langsung meluncur kemari.


Coba aku kerahkan apa yang kuinginkan, “Aku rasa kita masih bisa berteman. Kayak biasa. Tapi, bedanya, tidak boleh ada pikiran untuk pacaran. Itu saja.”


Kalau dia menolak harapan yang satu ini juga, aku tidak tahu lagi. Bahkan untuk sampai ke sini, aku harus menentang ayahku sendiri.


Mau dipaksa seperti apa lagi?

__ADS_1


“Aku tidak pernah mengenal kamu. Rasanya selalu asing.”


Hmm? Apa yang baru dia bilang?


“Kamu selalu, seperti, mau hilang.”


Diam aku berusaha mencerna apa yang dia maksud.


“Selalu sembunyikan banyak hal. Aku selalu tidak tahu kenapa.”


Arah bicaranya, seperti dulu....


Waktu aku masih dibingungkan dengan kakekku, aku tidak pernah bicarakan hal itu pada orang selain papa dan keluarga Hendra. Termasuk Harun. Apalagi sejak Jagad tidak ada, aku semakin takut kalau orang di sekitarku bisa bernasib sama.


Namun sekarang Harun tahu. Setidaknya garis besarnya.


Lalu apa maksud yang masalahkan lagi?


“Rasyi,” panggilannya yang sendu membuatku memandangnya, “Apa jadinya kalau aku bukan apa-apa buat kamu? Apa kamu bakal buang aku kayak sekarang?”


“Bukan apa-apa gimana?”


“Kamu selalu punya masalah sendiri, yang aku tidak paham. Takut di keramaian sampai sekarang. Jadi sensitif sama papamu. Semuanya, itu ada di belakang aku. Aku ini apa buat kamu?”


Pembicaraan tentang tidak mau aku merahasiakan apapun darinya. Ini masalah dua tahun lalu.


“Tidak ada lagi yang aku sembunyikan dari kamu,” aku berusaha tetap tenang.


“Yang aku tanyakan, aku ini buat apa buat kamu, Rasyi?” dia membalas pandanganku, “Kalau aku tidak ada gunanya, kamu bakal anggap aku cuma teman sekelas.”


Ini semakin jauh. Kepalaku tidak memahaminya.


“Harun mau coba bilang apa ke aku?” langsung aku sampaikan padanya yang masih memandangku.


Ia terdiam sejenak, “Aku berusaha, mati-matian, supaya aku jadi segalanya buat kamu. Biar aku bisa jadi dunia kamu. Sampai kamu tidak pikirin hal lain selain aku.”


Sungguh? “Itu tidak sehat, Harun,” aku membuang pandanganku darinya.


“Makanya aku tidak berani pacaran dengan kamu. Kalau aku tidak paham kamu mau apa... gimana kalau kamu hilang lagi?”


Aku tidak mau berkomentar apapun lagi. Sudah aku katakan alasan kenapa aku tidak terbuka sebesar itu⏤karena aku takut dia seperti Jagad. Kenapa dia tidak pernah paham?


Dan lagi, dia duniaku? Bukannya itu namanya dia mau mengurungku hanya untuk bersama dia?


Tidak aku sangka pemikiran Harun separah itu!


Bicara lagi ia, “Itu berarti benar ya?”


Aku masih tidak paham, “Apanya?”


“Kamu suka kak Fares kan?”


Dia bicara apa⏤eh? Heh?

__ADS_1


Tu, HEH?!


Aku tahu itu perkatakan paling acak yang tidak ada sangkut pautnya dengan pembicaraan kami! Namun kenapa... detak jantungku bersemangat seperti ini?!!


__ADS_2