
Malam ya? Gelap. Ini sudah pasti di kamarku. Berarti benar aku baru kebangun. Tidur yang lumayan lelap. Akan tetapi tidak cukup untuk lewat penuh satu malam. Pasti masih jam satu atau dua sekarang.
Ke kamar mandi dulu. Hmm?
Seseorang memelukku dari belakang. Aku tertahan di posisi tidur ke samping.
Rasyi ya?
Bergerak sedikit untuk duduk. Mau tidak mau aku bangunkan dia.
“Hmmm...,” Rasyi masih menahan pelukannya.
“Rasyi, lepas dulu,” bicaraku selembut mungkin sambil elus rambutnya.
Manja sekali. Tidak paham kenapa hal yang merepotkan ini malah bikin gemas.
Kuucek mukanya. Biar saja dia bangun. Dia mengeluh-eluh kesal. Meski matanya masih kuat tertutup. Tidak hentikan aku terus mengganggu mukanya.
“Ih! Papa!” dia masih tidur saja. Padahal tangannya sempat pukul tanganku.
“Heh hehe. Makanya lepas.”
“Mau ke mana...?”
Tarik sedikit tangannya yang masih memeluk, “Kamar mandi. Ikut?”
“Iih!”
Kesal membanting hadap tidurnya membelakangiku. Dilepas pelukannya dengan mata sayup-sayup. Mungkin dia tidur lagi.
November, musim penghujan, dingin. Biasa saja kalau malam-malam orang jadi punya urusan di kamar mandi. Seperti sekarang. Tidak perlu lama. Cepat aku keluar lagi dari kamar mandi.
Hooo... Rasyi bangun?
Kuinjak pengesat kaki tepat di luar pintu kamar mandi. Memberi ruang untuk dia lewat. Putri ini pasti mau punya urusan juga di kamar mandi.
Hmm? Rasyi malah kasih peluk.
Jadi dia tunggu aku di depan kamar mandi untuk menagih penjelasan.
“Kenapa?” aku elus kepalanya, “Tidur lagi.”
Mukanya sembunyi. Tidak sedang melihat pun, aku sudah tahu dia gelengkan kepala.
Aku peluk juga putri ini, “Lagi ngantuk gitu, mau apa tidak tidur?”
Dia gemetaran.
Pasti dia takut. Kalau benar dia dengar apa yang aku bicarakan dengan Hendra tadi malam. Tidak ada alasan untuk tidak takut.
“Pa.”
Aku elus lagi kepala dia, “Hmm?”
“Apa maksudnya papa tarik mereka ke Rasyi?”
Diam. Berpikir. Hal buruk bila memulai penjelasan. Mungkin aku bisa tenangkan dia dulu dengan tidur?
“Kita omongin besok. Sekarang tidur dulu⏤”
“Mereka siapa?!” mukanya jelas memandang ke arahku, “Siapa yang mau incar papa sama Rasyi lagi...?”
Layaknya ingin mengeluarkan air mata. Air mata itu tidak boleh keluar. Kusentuh kedua pipi putri ini. Memakai ibu jariku untuk usap air di kedua matanya.
__ADS_1
“Rasyi dengar, kan? Mereka paling cuma bercanda. Tidak apa.”
“Bercanda yang gimana?”
Gimana aku jelaskannya? Bercanda boleh bercanda. Akan tetapi candaan mereka sering kali tidak lucu. Itu bisa bikin putri ini tambah berlinang air mata.
“Jelasin sekarang!” putri ini masih erat pelukannya.
“Tidur dulu.”
“TIdak mau!” dia eratkan lagi pelukannya, “Jelasin sekarang atau Rasyi....”
Hoo? Ancaman? Dia mau ancam apa ke papa-nya sendiri?
“Atau apa?” kupancing dia.
Dia sedang bingung, “... atau, Rasyi tidak bakal lepas pelukannya Rasyi!”
“Itu ancaman?” heh, aku tidak terasa terintimidasi, “Sampai ke RS?”
“Iya!”
“Rasyi kan sekolah.”
“... Rasyi bawa! Rasyi bawa papa ke sekolah sekalian!”
“Berani?”
Heh, dia ragu. Lama dia diam.
“Iiih!” sudah kesal dia, “Jelasin!!”
Ini rumit. Niat memang ada untuk jelaskan ke Rasyi. Akan tetapi kalau dia gemetaran seperti ini. Jika aku jelaskan, dia pasti akan tambah takut. Tidak aku jelaskan pun dia tidak akan tenang.
Dia mau kutuntun sampai ke kasur. Kami duduk di ujungnya. Masih dia memelukku, meski aku sudah tidak di depannya. Tangan kananku akhirnya memeluk dia juga. Sembunyikan mukanya di bahuku.
“Yakin?”
Dia angguk kuat.
Tarik nafas. Baiklah, “Ingat papa dapat flashdisk bukti kakek Rasyi bersalah?”
Rasyi lepas pelukannya. Genggaman erat masih ada di bajuku. Dengan mukannya yang takut.
“Apa hubungannya sama kakek?”
“Kirana. Dia sama teman-temannya yang bantu papa dapat itu. Makanya saat dibawa polisi, hukuman mereka diringankan jadi dua tahun saja.”
Gemetar. Rasyi sungguh bergetar hebat. Tangannya lepas jauh dari pelukanku.
“Ma, masih banyak, masih banyak yang lolos?” tangannya ditekuk ke dirinya sendiri. Ringkuk takut. Mata penuh air mata.
Ini yang aku hindari. Aku serasa ditakut-takuti setiap kali Rasyi takut. Lebih memilih hadapi ilusi saat aku melihat kaca. Daripada lihat dia begini.
Tolong, jangan menangis. Tolong....
Mau aku genggam tangannya. Akan tetapi, dia menghindar. Rasyi selalu takut dengan siapapun jika dalam keadaan ini.
“Rasyi, dengarkan papa,” aku bisa ambil satu tangannya, “Rasyi!”
“Jangan!”
Kupaksa dia peluk aku lagi. Meski dia terus takut untuk disentuh. Erat kupeluk dia.
__ADS_1
“Rasyi, dengarkan,” aku tidak peduli sekeras apa isak tangisnya, “Papa bodoh. Papa tidak tahu harus apa. Papa janji, mereka tidak akan apa-apa ke Rasyi.”
Didorong aku kuat olehnya, “Terus papa?!”
Hmm? Apa aku yang dia pikirkan selama ini? Takutnya itu semua... karena dia takut aku yang kena.
Kurasa aku sedang tersenyum sekarang. Buktinya Rasyi jadi tenang sedikit.
Terbuka kedua tanganku. Layaknya Rasyi biasa yang minta untuk dipeluk. Aku yang kali ini minta dia.
Rasyi mau ikut apa yang aku minta. Kupastikan gemetarnya semakin hilang.
Bisik aku selembut mungkin, “Terima kasih.”
“Hiks,” suara tangisnya..., “Rasyi takut pa. Kalau tidak ada papa, Rasyi gimana?”
Sejak saat itu. Habis Rasyi berteriak supaya aku tidak buang dia. Aku sudah sadar kalau dia takut. Bukan cuma karena takut dengan penjahat. Dia juga takut kalau saja semua yang dia punya sekarang hilang. Termasuk aku.
Pikiranku tidak pernah sampai. Ternyata dia dahulukan khawatirnya padaku.
Itu jadi sangat jelas. Rasyi selalu ingin ikut campur. Lebih mementingkan selesaikan masalah daripada keselamatannya dia. Meski aku tahu dia selalu bergetar hebat.
“Sebulan kemarin,” aku elus rambutnya lebih lembut, “Orang-orang yang hampir tabrak Rasyi... Itu Kirana sama temannya.”
Gemetar sekilas. Kurasa dia tidak pernah duga di pikirannya.
“Kirana undang papa. Paksa. Papa pikir Rasyi tidak akan takut kalau papa langsung pergi saja. Jadi papa pergi tidak beri kabar siapa-siapa.”
Rasyi dan keluarga Hendra, aku tidak bilang apapun.
“Yang Kirana lakukan cuma ajak papa kencan di Bali.”
Mukanya dimunculkan dari balik pelukan. Air matanya bisa saja hilang begitu saja, cuma karena mendengar itu.
“Papa pernah bilang kan? Kirana itu anggap papa kayak boneka yang mau dia koleksi. Tidak mungkin dia mau sakiti papa.”
Aku cium kening putri ini. Coba untuk bisa alirkan rasa tenang.
“Rasyi percaya sama papa, hmm?” muka kami saling pandang, “Papa tidak mungkin kasih kesempatan mereka sakitin kita. Papa tarik seyakin itu juga karena papa yakin itu aman. Hendra bakal lindungi.”
Posisi mereka bukan penjahat bebas. Seharusnya, semua aman.
“Terus buat apa papa ladeni?!” Rasyi teriak, “Kalau memang tidak berbahaya, seharusnya jangan malah ikut ke bahayanya! Biar paman Hendra saja yang urus!”
“Rasyi, papa bilang kan. Kalau tidak diladeni, mereka tambah iseng. Rasyi lupa siapa yang sudah hampir tabrak Rasyi?”
Dia terdiam. Aku yakin dia pasti paham apa maksudku.
“Hendra juga tidak bisa tangkap mereka. Karena mereka tidak kerjakan kejahatan setelah keluar penjara. Papa tidak mau biarin begitu, sampai isengnya mereka benar-benar bahaya,” aku peluk lagi.
“Tapi kan....”
Dia pasti ragu. Seumur hidupnya selalu saja bahaya. Tubuhnya pasti sedang siaga.
Jika saja aku bisa hibur dia. Alihkan takutnya.
“Rasyi.”
Dia memandangku, “Ya?”
“Mau kencan sama papa tidak?”
Matanya. Berkedap-kedip.
__ADS_1
Heh, ini akan menarik.