Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#Special 100: Big Family?!


__ADS_3

...Salam dari author dulu ya~ \(´ ∇ )ノ ...


...Maka, di kesempatan kali ini, aku akan mengatakan selamat bagi diriku sendiri⏤sudah mencapai 100 chapter di serial kali ini!...


...♪~ο(*^▽^)οο(^▽^*)ο~♪...


...(Wah!) ...


...(Emma hebat!)...


...(^ε^)-☆!!...


...(Tepuk tangan!)...


...(Luar biasa!!)...


...Untuk merayakannya⏤tidak, aku tidak beli kue ultah⏤author tercinta kalian ini akan memberikan chapter special yang dari dulu sekali mau kutulis. Akhirnya kesampaian!...


...ヾ(。。*)ノヾ(*゚ー゚*)ノヾ(。。*)ノヾ(*゚ー゚*)ノ...


...Well, selamat menikmati chapter special-nya~!...


___________________________________________


Rasyi! Putar otakmu dan mulailah bekerja! Tanganmu tak bergerak!


Mustahil! Otakku kebakaran!


Teruntuk guru bahasa Indonesia yang tak tertandingi jasanya. Bagaimana caranya agar saya, yang tidak akrab dengan tulis menulis ini, bisa menciptakan sebuah cerita yang unik dalam satu malam?! Mau tulis apa? Suatu hari saya tidur dan tamat?!


Aku bisa jadi mantan anggota grup teater, aku bisa  jadi suka melihat drama, aku bisa jadi hebat akting, tapi aku tidak bisa jadi penulis!! Bukan passion, bu! Bukan passion!!


Minta saja kepada para author Noveltoon sana!!


“Keinginan yang tidak bisa digapai....” tema yang dibuat guru seenaknya tentu tidak membantu.


Tolong ya bu, saya nih kaya. Punya bapak tampan awet muda. Hal apa lagi yang saya pinta?


Oh? Mungkin itu ya? Gimana kalau mama sama kakakku masih ada sampai aku SMA ini?


Hmm... terlalu pasrah tidak sih?


Bodoh lah! Yang penting jadi!!


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


“Rasyi!”


Hmm... siapa sih?


“Rasyi! Sekolah!”


Sekolah apa malam-malam?


Mataku terbuka. Loh, aku tidur di meja belajar? Ini jam berapa sih?


Jam tujuh?!! Heh?! Duh, kok?!!


Belum siap-siap! Belum jalannya ke sekolah yang jauh itu!


Aaaaargh!!


Langsung aku cepat bersiap. Memasukkan semua peralatanku, memasukkan kaki ke rokku. Apalah pokoknya siap!


“Kok baru dibangunin sih?!” aku turun dari tangga membawa tasku mengeluh pada papa.


“Dari tadi. Makanya tidur jangan malam-malam.”


“Tugas mendadak gimana dong?!” aku memasang kaus kakiku di samping meja makan.


Sebuah kaki mendekatiku, “Bareng kakak? Ngebut.”


Kurasa aku tidak punya pilihan, “Iya,” eh? Tunggu, “Kamu siapa?”


Pria dewasa ini kebingungan, “Apanya? Ya, kakak.”


“Kakak?”


Kakak siapa? Yang aku panggil kakak cuma Fares. Dan Ilham.


“Masih setengah tidur nih,” eh? Siapa wanita ini?! “Nih, bekalnya.”


Aku menerimanya di tengah kebingunganku. Bukan bibi-bibi yang biasa sibuk di rumah, aku malah bertemu wanita dan pria yang tidak pernah aku lihat.


Tunggu. Papa?!


Oh?


Kenapa dia santai duduk di meja makan?!


“Pa?” aku panggil pria itu.


Ia memandangku meski ujung cangkir itu sudah sampai ke mulutnya. Kugerakkan kepalaku menekuk sesaat ke arah orang-orang asing ini. Berharap dia paham kalau maksudku aku minta penjelasan akan mereka.


Papa sepertinya masih sulit memahami, “Rasyi baru bangun, telat. Berangkat sana.”


Bukan itu yang aku maksud!!


Langsung aku dekati pria itu dan mencengkram lengan atas bajunya, “Mereka siapa?” aku membisik ke arahnya.


Alisnya mengangkat. Tangan itu mengalihkan poniku dan menyentuh keningku, “Agak panas.”

__ADS_1


Oh, sekarang dia mengira aku sakit?!


“Serius, pa!!”


Ia terhening sesaat, “Beliau, ‘hotel’ Rasyi sebelum Rasyi lahir. Dan satunya pelanggan sebelum Rasyi.”


Heh?!


Wanita ini terkejut, “Gimana sih?! Kok jelasinnya kayak gitu?! Rasyi, kan makin bingung!”


Papa malah tertawa.


“Jangan ketawa!”


Tunggu, berarti maksud papa, “Mama, sama kak Riza?”


Tunggu, heh?!


“Udah. Bangun, bangun,” pria yang kutunjuk ini menepuk kepalaku, “Yok, telat loh.”


“Aaaaa...,” ini aneh..., “Kayaknya, aku ikut Firna deh, bye!!”


Langsung pergi melangkah. Tepatnya kabur. Ponsel dan bekal di kedua tanganku membuat bingung harus seperti apa. Berharap saja panggilanku bisa Firna angkat di rumahnya.


“Fir!” ponsel terangkat, “Belum berangkat kan? Ikut!”


[“Wa⏤? Aku udah sampai! Kan aku padus.”]


Yah. Mau bagaimana lagi, aku naik angkot saja.


[“Kok tiba-tiba sih?”]


“Mau aja. Temani aku ya. Mau angkot.”


[“Loh? Kenapa?! Kak Riza tidak bisa antar?”]


“Itu masalahnya! Kak Riza kan meninggal pas umur empat tahun!”


[“Hah? Kamu baru mimpi ya?”]


“Beneran! Cuma aku sama papa doang di rumah! Tidak ada mama sama kak Riza!”


[“Rasyi, kamu kurang tidur? Selalu deh bikin serem!”]


“Beneran!!” aku tidak bisa berhenti marah meski aku ada di jalan perumahan yang ramai, “Pasti prank kan? Tidak mungkin mereka hidup lagi! Udah besar lagi kak Riza!”


[“Iya... kak Riza makin cakep....”]


Nih anak makin... terkesima?


“Rasyi!”


Hmm? Siapa?


Kendaraannya memelan di sampingku, “Mau ke mana? Ayo naik.”


Aku tersenyum, “Rasyi mau naik angkot aja.”


“Angkot tidak lewat sini.”


Langkah terhenti. Memikirkan sebesar apa kebodohan membawaku.


Dia, menepuk kepalaku? “Kenapa? Masih marah gara-gara kakak lupa belikan cake kemarin?”


Hmm? Ada kejadian seperti itu?


Ya aku memang pasti akan marah kalau seperti itu, tapi aku tidak pernah minta belikan cake sama kamu!!


Aku tersenyum, “Tidak. Rasyi cuma mau.”


“Terakhir kali Rasyi kayak gitu malahan nangis sendiri tidak kakak perhatiin.”


Gimana ya...?


“Rasyi, berhenti,” tangannya tanpa tahu menahu sudah menggenggam tanganku, “Sini dulu.”


“Nanti Rasyi telat,” lepaskan aku, orang asing!!


Dia malah menarikku lebih dekat, “Kakak bisa ngebut. Sebentar dulu.”


Tangan kanannya menyebrang dari sisi kendaraan jantannya. Ia menyentuh keningku sama seperti yang papa lakukan sebelumnya.


“Ayo pulang,” apa katanya? “Badan Rasyi tambah panas.”


Heh? Kudekatkan tanganku ke keningku sendiri. Sejak kapan bisa jadi panas seperti ini?


“Rasyi tidak apa,” berusaha aku menjauh.


“Dengerin kakak.”


“Tidak apa!”


“Rasyi!!” teriakkan yang tiba-tiba sungguh membuatku terpaku, “Kakak tidak minta. Kakak suruh. Naik sekarang!”


Entah bagaimana, aku tidak ingin menentangnya.


Pada akhirnya aku menurut dan duduk ditumpangan itu. Dengan luwes ia memutar arah. Satu tangan kanannya mengemudi tapi tangan kirinya memegangi tanganku.


Aduh, kepalaku tiba-tiba pusing.


Untungnya kami tidak jauh.

__ADS_1


Eh? Heh?!


“Sudah, diam dulu,” pria ini ternyata sudah membopongku, “Pa! Rasyi!”


“Langsung bawa ke kamar.”


Si pria ini sangat tangguh sampai bisa membawaku ke lantai dua. Kamar yang aku baru aku tinggal, harus aku masuki lagi. Bahkan kali ini aku langsung ke ranjang.


Tanpa basa-basi, papa langsung memberikan pengobatan yang biasa aku dapat. Bedanya sekarang aku menemukan dua sosok baru dengan wajah khawatirnya.


Ini terasa aneh.


Namun aku mengikuti kata-kata mereka. Berganti baju. Makan. Istirahat.


Tetap saja! Kedua orang ini tidak membuatku tenang! Dan papa sudah berangkat kerja!


“Riza mau bolos?” yang disebut mama ini membawakan minum hangat.


“Sekali. Masih aman⏤auw!” si Riza ini menerima pukulan telak di kepalanya.


Setelah memukul anaknya, si mama meletakkan teh hangat di meja samping ranjangku, “Berangkat, sekarang!”


“Tidak mau! Auw!”


Mereka, malah berkelahi?


“Permisi.”


Eh? Suara ini kan...!


“Sini, Far!” si Riza ini bilang kak Fares, kah?!


Benar! Dia memamerkan wajah dari balik pintu kamar yang sudah terbuka. Akhirnya orang yang aku kenal!


Langsung aku berdiri dari ranjangku dan berlari ke arah dia. Peluk!


“Rasyi⏤”


“Kak Fares~!!” aku malah menangis sejadi-jadinya, “Rasyi bingung!”


Fares tidak kalah bingung, tapi ia masih memelukku balik, “Kenapa?”


“Ada yang ngaku-ngaku jadi kakak sama mama! Kan mereka meninggal sebelum Rasyi lahir! Tapi tidak ada yang percaya sama Rasyi!! Huwaaaaa!!”


“Heh?!” suara pria di belakangku.


“Rasyi dari tadi kayak gitu kenapa ya?” wanita itu juga ikut-ikutan.


Tidak! Kalian bohong!!


Eh?!


Tu, aku langsung saja tersadar kalau pelukanku pada Fares sudah terlepas. Sebuah tangan membentang di depanku. Sementara kak Fares mengangkat kedua tangannya menjauh.


“Fares, kamu mau ngapain, hah?!” suara marahnya si Riza? Menggelegar sekali.


“Aku cuma masuk kak, tidak ada apa-apa lagi.”


“Cih!” si Riza ini tidak melanjutkan marahnya dan malah berdiri di depanku.


Heh? Heeeh?!! Kenapa dia mengangkatku?


Dengan kebingungan yang membuat kepalaku berat, aku sudah ada di depan si Riza ini. Ia menggendongku seperti anak kecil dengan mudahnya menggunakan satu tangannya. Memelukku dan menjauhi Fares.


Ini ini ini kok seperti ini?!!


“Kayaknya kita telpon papa deh,” wanita ini masih bisa mengelus wajahku walau aku ada tinggi diangkat pria ini.


Aaaaaa....


“Rasyi kenapa? Mimpi buruk?” hiks, Fares masih saja lembut. Setidaknya dia tidak berubah.


Tangan milik si Riza lagi-lagi mendorong Fares jauh, “Dekat, kelahi kita.”


“Maaf,” Fares, jangan jaga jarak dariku~!


Kembali aku merasakan elusan lembut di kepalaku. Mendorongku perlahan untuk mendekatkan wajah di pundak si Riza ini.


“Coba tidur. Panas Rasyi belum turun,” Riza ini bisa bersuara lembut ternyata.


“Mama biar telpon papa dulu. Kayaknya Rasyi harus istirahat dua tiga hari lagi,” si mama ini ternyata sudah pada ponselnya, tapi masih sempat menunjukkan wajah tersenyum, “Nanti kalau bosan, mama ajarin merajut deh.”


Aku, tidak pernah sehangat ini.


Selama ini papa selalu berusaha memenuhi peran mama dan kakak yang tidak pernah aku rasakan. Namun, merasakannya langsung dari sosoknya, membuat hatiku menggelitik.


Duh, jadinya kan aku tidak mampu menolak.


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


“Rasyi?”


Oh, dia ketiduran. Lagi.


Putri ini, dia tulis apa sampai tidur di meja belajar? Cerita?


“‘Kalau keluargaku lengkap’?”


Heh, tidak sangka putri ini menulis cerita andai-andai. Sudah cukup. Tidak ada gunanya ditangisi.


Kembalikan bukunya. Pindahkan si putri ini ke kasurnya.

__ADS_1


Biarkan saja dia mimpi indah.


__ADS_2