
Huuuh.... Sakit juga. Mereka tidak segan-segan hajar aku.
Ini sudah jam berapa? Ruangannya gelap sekali.
Pintunya terbuka!
“Ayo cepat ke luar!”
Ayah, masih butuh berapa lama?
Rasanya sudah diseret. Tidak tahu lagi mau ke arah mana. Bukan cuma rasanya sakit semua, tapi lemas. Mereka tidak beri aku makan cukup. Cuma sekedar biar tidak tutup usia saja.
Yang terjadi apapun nanti, harus pastikan bisa melawan. Jadi ayah masih punya waktu.
Silau. Ini di luar gedung sekarang.
“Kak Fares!” itu... Rasyi, “Kak!”
“Rasyi, jangan ke sana,” ada paman juga. Nahan Rasyi buat bergerak.
“Kamu tidak begitu berguna. Jadilah berguna sedikit saja,” Hari. Dia menahan kerah bajuku kuat sekali.
“Jangan!” Rasyi kedengarannya makin panik.
“Rasyi, tenang!”
Benci orang ini. Benci sekali.
Karena dia, Rasyi jadi begini. Yang aku lakukan, semuanya, biar Rasyi bisa aman. Sampai bisa senang. Tidak seperti ini.
Akan kuhancurkan dia.
“Tatapan yang lumayan,” dia senang. Lalu tidak, “Aku tidak suka itu.”
“Aaargh!”
Orang ini benar-benar tidak tanggung. Ini sakit sekali.
“Duduk!”
Dia tekan kepalaku keras. Sampai-sampai lututku jatuh ke batu taman.
“Si cowok Jagad itu, lalu adiknya Hendra,” Hari lihat ke Rasyi, “Apa kamu tidak mengerti kenapa mereka bisa seperti itu, Rasyiqa~?!”
Rizki peluk Rasyi padahal mereka dudunya terpojok di tanah juga, “Cukup bicaranya, Hari!”
“Aku tidak bicara denganmu, Gading! Anakmu yang jadi masalah sekarang. Hidupmu adalah keputusanmu. Dan keputusanmu memberikan dampak yang berbeda bagi hidupmu... dan berdampak juga pada hidup orang lain.”
Dia sudah nunduk cuma buat lihat aku.
“Kamu pikir hati sucimu yang paling benar? Kamu pikir hidup cuma sesimpel membahagiakan papa itu? Kamu pikir hanya dengan seperti itu semua sudah selesai?”
Matanya. Rasyi bisa takut walau lihat aja.
“Tidak, Rasyiqa. Kamu tidak bisa membahagiakan semua orang.”
Dia mau mengambil sesuatu dari jaketnya. Ini yang paman takuti. Orang-orang ini, punya senjata api dengan legal.
“Jangan!!” suara Rasyi kencang.
Tapi paman Rizki masih halangi Rasyi buat ke sini, “Rasyi, tetap di sini!”
“Buta kamu!! Tidak bisa kalau seperti ini! Fares!!”
Merinding. Padahal aku sudah siapkan. Sudah paman bilang jelas-jelas kalau semuanya bisa terjadi. Tidak ada paman bilang kalau aku pasti selamat.
“Lepaskan!!”
Teriakan Rasyi....
Berhenti, jangan seperti itu.
“Iya, Rasyiqa. Kalau kamu mau menantang hanya dengan pemikiran polosmu, kamu tahu apa yang akan kamu dapatkan.”
Dia sudah siap kasih senjata itu di kepalaku.
“Ini semua salah kepolosanmu. Keputusanmu mencabut satu orang lagi. Ini kesalahanmu. Ini kesalahan pemikiran lemahmu.”
__ADS_1
“Fares!! Jangan!! Rizki lepaskan! Jangan!!”
Kalau aku bisa berharap. Aku cuma berharap kamu panggil aku kakak sekarang.
Cuma itu satu-satunya alasan yang bikin aku bisa sama Rasyi.
Lima. Empat.
“JANGAN!!!”
Tiga⏤suara! Helikopter.
“Maaf, kek. Kamu telat dua detik,” aku lihat ke atas.
Hari ternyata cukup peka. Dia langsung menghancurkan bajuku. Cuma buat lihat jahitan di pundak kiriku.
Ketahuan. Tapi semuanya sudah terlambat.
“Gading!!” si Hari bisa marah sebesar itu.
“Kalau sudah tahu, angkat tangan sekarang!”
“Lepaskan senjata kalian!”
Ayah sudah sampai di sini. Syukurlah.
“Hoo~~ Anak buahku ternyata lengah. Sampai biarkan Faresta membawa pelacak untuk ayahnya.”
Cih, mereka masih tahan gerakanku. Ayah memang tegas, tapi aku tahu dia tidak akan tega. Mereka tidak akan bergerak selama kriminal ini punya senjata.
“Sialan kamu, Hari….” Ayah tidak bergerak.
Dia sekarang jongkok di depanku, “Jahitan itu. Kamu memang tidak terduga, Gading. Memasukkan pelacak langsung ke tubuh Faresta. Bagaimana kamu bisa mendapatkan izin melakukan itu? Ayah jadi mau tahu.”
Jawaban ayah masih marah, “Cakap-cakapnya selesai? Kamu harus menyerahkan diri, sekarang!”
“Wo, santai~”
Masih saja, dia todong senjatanya ke aku.
Ayah juga keluarkan senjatanya, “Turunkan senjatamu!”
“Kak Fares!”
“Rasyi, tidak ada yang bisa kamu lakukan ke sana!”
Paman Rizki pasti tahan terus Rasyi. Ayah dan rekan-rekannya pasti selalu siaga. Hanya perlu... kesempatan.
“Iya, Rasyiqa. Ini sudah di atas kemampuanmu,” Hari tersenyum lagi, “Maaf saja. Kakek hanya mau bertahan hidup. Kamu paham kan⏤”
“Sayangnya bukan itu yang aku maksud,” paman Rizki?
Luar biasa, paman. Semuanya diam. Cuma untuk mengalihkan perhatian.
Kesempatan.
“Rasyi tidak perlu lagi turun tangan. Check⏤”
Dua orang. Mereka tahan bahuku biar tetap duduk di bawah. Tapi mereka tidak tahu kalau aku bisa jatuhkan dari serangan kaki. Satunya bisa aku serang rahang bawahnya.
Sekarang, senjata apinya! Jauhkan. Terus lumpuhkan Hari.
“Amankan!” ayah langsung bergerak.
Ini, sudah selesai. Kami sudah aman di sini.
“Rencanamu selesai, Gading? Jangan bilang kamu lupa satu hal.”
“Oh, makasih sudah ingatkan,” paman Rizki punya sesuatu, “Ini.”
Flashdisk. Berarti mereka bicarakan tentang bukti kejahatan mereka.
Sayangnya mereka tidak tahu, itulah alasan paman ada di sini. Mengamankan alasan biar bisa masukkan mereka semua ke hukuman terberat menurut hukum.
“Bukti ini cukup. Lebih dari cukup. Dia bisa dihukum mati seperti yang kau mau, Rizki,” ayah juga sudah periksa apa isinya, “Sekarang kamu bisa diam dan ikut kami sampai kamu dihukum.”
“Hahahaha!!”
__ADS_1
Kriminal gila. Lebih baik kita bertemu lagi setelah kamu mati. Semuanya selesai.
Rasyi... sudah aman.
Lelah.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
“Tidak tidur, sayang?” ibu, selalu.
“Aku tidak papa. Mending ibu istirahat juga di rumah. Tidak capek ikut tidur di sini terus?”
“Gimana ibu bisa tinggal-in?” ibu elus mukaku.
Ibu pasti tidak bisa tenang. Selama ini, tidak pernah sakit sampai harus masuk rumah sakit. Habis tahu paman Rizki tanam elektronik ke badanku, ibu marah besar.
Tapi itu sudah lewat sekarang.
Semuanya, sudah lewat.
“Ini ibu kupas ya? Bilang kalau ada yang mau dimakan, sayang. Puding yang kemarin enak kan katanya?”
Orang ngetuk pintu.
“Masuk,” ibu tidak berhenti mengupas apel.
Yang masuk, “Siang, paman.”
Ibu diam saja. Tapi paman tidak segan-segan kasih bungkuk yang dalam ke ibu. Aku juga tahu, ibu tidak mungkin marah selama ini. Paman juga sudah jelaskan semuanya kemarin.
Seharusnya paman tidak ada alasan lagi untuk berkunjung sering-sering. Paman kan bukan dokter yang tangani aku.
“Ada apa?”
“Ada,” paman lihat ke sini, “Ada yang mau aku bicarakan ke Fares.”
Bicara apa yang dimaksud?
Ibu terlihat tidak mau tinggalin aku sebentar saja.
“Bu, Fares boleh minta puding yang ibu bilang kan?”
Jelas memang ini cuma alihkan pembahasan. Tapi ibu bisa paham kalau semuanya tidak papa.
Dia untungnya dengarkan. Berdiri.
“Tunggu sebentar ya?” ibu akhirnya pergi ke luar.
Sudah tinggal kami berdua, tapi paman tidak bicara.
Aku tanyakan saja, “Paman mau bicara apa tadi?”
“Langsung ke intinya saja,” paman tidak duduk.
Paman serius sekali. Urusan apa yang bikin paman kepikiran?
Hari, sudah dapat hukuman. Sisanya juga sudah ayah awasi menurut hukum.
“Jangan main-main lagi. Kamu harus serius kalau benar punya rasa sama anakku.”
Aku... diam.
Berhenti berpikir, “Paman bicara apa⏤”
“Fares. Kamu tidak bodoh. Kamu pasti sudah sadar dari lama.”
“Paman⏤”
“Sampai kapan?”
Apa?
“Sampai kapan kamu mau tutup mata. Oh, lebih tepatnya, sekuat apa kamu bisa tutupi.”
Tolong, hentikan.
“Terserah,” paman mau pergi, “Kalau masih mau pura-pura jadi kakak adik. Terserah. Tapi ingat, yang kamu mainkan itu anakku. Adiknya Riza. Tentukan peranmu secepatnya.”
__ADS_1
Paman, pergi.