Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#Special2 Aku Juga Harus Berusaha


__ADS_3

Hari ini ribut sekali di rumah. Bikin mual saja. Tapi harus tetap jadi anak umur lima tahun. Orang-orang sibuk, anak kecil tetap bermain. Peduli atau tidak dengan larangan untuk keluar rumah.


 Apa aku tetap jadi nakal hari ini?


Rasyi tidak berkutik sama yang imut. Lewat bertahun-tahun, cuma bersikap seperti anak imut di depan Rasyi. Kelihatan jelas tidak banyak pengaruhnya.


Tidak ada perbedaan dari Rasyi.


Bukan pemarah. Bukan orang yang dingin juga sama cucunya. Dia sudah merawatku dengan sangat baik. Zeline jadi pengaruh baik buat bangun sisi keibuan Rasyi.


Cuma... hangatnya, hilang. Nenek yang dikenal ceria dan baik hati, tapi tidak seperti Rasyi yang aku kenal dulu. Aktingnya Rasyi memang bagus.


“Tuan Abi!”


Hmm, sudah sadar aku menghilang ya? ART muda itu harus berjuang cari aku.


Sampai kapan baru dia bisa tangkap aku? Ini cuma di halaman belakang rumah. Kalau semak-semak halaman belakang juga dicek, mungkin ada mentok tiga puluh menit aku sembunyi⏤


“Ehem!”


Atau tidak ada waktu sama sekali.


Ternyata Rasyi sudah di belakangku. Mukanya marah. Dia sangat ‘tidak’ pemarah.


Jadi, sekarang, lari?


“Gah!” kerah belakangku dia tahan.


“Mau ke mana~?”


Dia ‘benar-benar’ lembut.


“Kabur,” aku bisa melepas tangannya, tidak?


Rasyi duduk berlutut di samping. Lalu tangannya menahan dua pundakku. Coba lihat dia. Dia memakai senyum seram.


“Janu Abizar Lucas Mahendra~ Cucu nenek, malaikat yang jatuh dari kayangan~ Kita ganti baju. Sekarang~!”


Sangat ‘bagus’ menangani anak-anak. Harusnya dia tahu anak-anak bisa menangis lihat dia sekarang.


Kayaknya dia masih tidak suka anak-anak.


“Iya, Nanna.”


Waktunya keluar dari persembunyian. Terpaksa aku mengikuti acara ulang tahunnya lebih cepat.


Tapi kan..., hari ini sudah ditentukan hari nakal, kan?


Lihat si putri ini. Dia pegangi kepalanya seperti orang sakit kepala. Jalan di samping aku. Sadar juga kalau aku balas lihat dia.


Ini memang hari nakal.


Sekarang, lari!


“Abi!!”


Aku jarang nakal, tapi bisa jadi lebih dari nakal kalau dikira perlu. Rasyi tahu aku tidak suka acara ulang tahun. Jadi alasan bagus aku tidak mau ikut ucapan nenek sendiri.


Masuk rumah. Terobos. Lari.


Heh, seru juga.


“Pap!” aku lihat Fares.


Fares sampai kaget. Sudah terlanjur aku sembunyi di kakinya. Putar-putar menghindar dari Rasyi. Kanan, kiri, menggoceknya.


“Abi! Jangan lari-lari!”


“Hehehehe!” aku tidak dengarkan.


“Teman-teman kamu sudah mau ke sini, Abi!” masih Rasyi mengejar aku berputar-putar di Fares.


Kasih lidah ke Rasyi. Lalu, lari ke ruang tamu!


Rasyi masih sempat mengeluh, “Pappa! Tangkap Abi dong!” dia mengejar lagi, “Abi!”


Aku tidak berniat buat keluar rumah, tapi sudah lari sampai sini. Ke luar saja sekalian!


“Wah!”

__ADS_1


Ini sangat ‘bisa’ terduga.


“Huuh... akhirnya... huh,” Rasyi kewalahan banget, “Makasih, Daffa.... huh!”


Padahal aku dengar Daffa tidak bisa datang. Sekarang, lihat dia malah sudah mengangkat aku. Itu juga pas depan pintu. 


‘Terima kasih’ sudah stop senangnya anak-anak, Daffa.


“Abi! Kenapa sih, lari-lari, iiish!” Rasyi mulai mengomel.


Karena kamu memang seru dikerjain.


Daffa turunkan aku tapi masih menahan bahuku. Jadi aku bisa lihat Rasyi yang marah bersamaan bersandar di kaki Daffa.


“Kenapa belum siap?” si Daffa malah ucek-ucek rambutku.


Rasyi hela nafas, “Menurut anda~?” dia jongkok, “Abi, lari dari Nanna itu tidak lucu. Nanna sudah tidak bisa main kejar-kejaran sama Abi.”


Oh ya? “Nanna masih bisa tuh tadi.”


“Abi... dengarkan Nanna!”


“Iya, maaf. Nanna sudah tua, makanya tidak bisa lari.”


“Puh!”


“Tidak lucu!” Rasyi marah ke Daffa yang kedengaran ketawa.


“Abi....,” Fares ikut datang, “Language.”


Ya. Aku juga pikir ini waktunya berhenti nakal. Sebelum Rasyi meledak.


Kalau imut-imut, tidak akan mempengaruhi Rasyi. Bilang biasa saja seharusnya lebih nusuk.


Rasyi manyun ke Fares, “Pappa, bilangnya tuh lebih tegas dong! Nanti Abi tidak dengarkan!”


Pegang tangan Rasyi, terus, “Maaf. Abi cuma... mau main sama Nanna.”


Tunjukkan kalau sedih dan nyesal, tapi tidak terlalu banyak. Jadi anak yang bersikap dewasa. Yang punya kharisma sendiri.


Rasyi diam saja.


Jangan tertawa.


“Ya udah,” Fares tepuk kepalaku, “Ganti baju sama Nanna ya?”


“Iya.”


Rasyi tarik nafas, “Ayo.”


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


“Selesai~”


Hmm.... T-shirt merah, jaket putih lis merah, jogger pants. Rasyi benar-benar mau buat aku keren di matanya. Apa benar dia sudah siap jadi nenek?


“Kyaaa! Abi keren~!”


Sementara dia....


“Nanna benar mau pakai itu?”


Dia senyum, “Kenapa memang?”


Entahlah, lima puluh tahun, pakai halter dress. Rambut juga di kuncir dua. Terlalu jelas kalau dia tidak mau tua.


“Nanna kayak kakaknya Abi kan?”


Cucumu akan bilang, “Nanna tidak boleh bohong. Nanna ya neneknya Abi. Udah tua⏤Auw!”


“Iya nenek yang cantik ini tahu~” dia sempat cubit pipiku.


Salah di mana aku besarkan putri ini? Aku tidak pernah cubit pipi dia sampai sakit begini.


Memang, lingkungannya anj...!


Aku menghela nafas, “Udah kan? Abi mau keluar.”


Hmmm?

__ADS_1


“Nanna?” hmm?! “Nanna?!”


Rasyi nangis?!


“Nanna kenapa?”


“Oh, tidak,” dia hapus air mata dia, “Abi... mirip banget sama papa ya?”


Pappa? Bukan.


Papa.


Orang-orang tahu kalau aku tidak mirip Fares sama sekali. Dia pasti bicara tentang... aku.


Kananku ada cermin besar..


Sudah banyak sekali reinkarnasi yang kujalani dengan jiwa ini. Raja, dokter, pencuri. Aku juga dapat berbagai macam penampilan. Ganteng, jelek, atau cantik. Kalanya juga ada aku jadi perempuan. Random.


Tapi, aku, sekarang. Walau banyak jenis wajah yang aku punya, kenapa harus wajah Rizki? Kenapa waktu aku bersama Rasyi, aku dapat muka ini?


Ini terlalu mirip.


“Ya sudah, ayo keluar,” Rasyi perbaiki mukanya. Gandeng tanganku, “Pasti teman Abi sudah pada datang.”


“Hmmm.”


Padahal hidup kali ini hanya untuk membuat Rasyi tidak sedih begini. Memikirkan apapun untuk kembalikan cerianya dia.


Aku sebagai papa Rasyi selalu pastikan sedihnya tidak bertahan lama. Bantu dia kalau perlu. Tapi kalau aku sebagai Abi, semua yang aku lakukan hanya lelucon anak-anak.


“Abi!”


Kebalikan dari satu anak ini.


“Selamat ulang tahun!” Tanisha sudah kasih kado walau kami masih di depan kamarku.


Cewek ini. Bisa jadi, cewek ini yang akan menjadi cewek yang suka denganku, setelah sedikit lebih besar nanti. Ada saja. Dia baru enam tahun kan?


Terima saja, “Makasih kak.”


“Uuuh! Panggil Tanisha aja!”


Selalu. Aku ikuti saja mau dia daripada nangis juga, “Tanisha kasih apa?”


“Itu isinya⏤eh, buka sendiri dong!”


Padahal sedikit lagi dia mau bilang isi kadonya. Mudah sekali anak ini aku jebak.


“Kalian, ayo kita turun,” Fares datang lagi, elus kepala lagi.


“Iya, pakde~” Tanisha sudah lari duluan.


“Mau Pappa bawakan kadonya?” 


Aku geleng, “Tidak. Abi bisa kok, Pap.”


Rasyi?


Dia masih sedih saja di belakang.


Huuuh, “Nanna,” aku tarik ujung rok selututnya, “Ayo.”


“Iya,” senyumnya, bohong.


Kami memang gandengan tangan. Memang jalan bareng. Turunin tangga bareng. Lagi, ia seperti tidak ada di sini.


Fares elus lagi, “Abi punya wish?”


“Wish?”


“Mau jadi apa besarnya Abi. Atau mau punya apa?”


Cita-cita maksudnya?


Aku tidak banyak memikirkan tentang minat. Mungkin karena aku fokus ke Rasyi dan melakukan apapun yang lima tahun lakukan.


Kali ini aku bakal jadi apa? Tidak mungkin dokter lagi. Pengacara seperti Daffa? Sudah malas sekali punya minat yang banyak berpikir. Mungkin yang kurang memakai otak kiri?


Berarti, seni? Jadi seniman bukan hal buruk. Rasyi kan pembuat komik sebagai hobi. Mungkin aku juga bisa searah.

__ADS_1


__ADS_2