Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#124 Kakak dan Adik


__ADS_3

(BYUR!!)


(“Ada yang jatuh!”)


(“Tenggelam ada yang tenggelam, tolong!!”)


(“Fares!”)


(“Mundur dulu.”)


(“Fares, pa, Fares!!”)


(“Papamu periksa dulu. Ayo sini.”)


(“Fares!”)


(“Fares bangun!”)


(“FARES!”)


Apa yang terjadi?


(“Hei Fares~”)


Siapa?


(“Iya. Fares pintar!”)


(“Kakak minta tolong ke Fares. Bisa ya?”)


Siapa yang tepuk kepalaku?


(“Fares sini deh.”)


Iya, aku ke sana.


.


.


.


“Kakak, tunggu!”


Berlari. Kakak ini bisa dikejar sebentar lagi.


“Fares sini deh.”


Dia kasih tangannya. Sampai di depan, bisa digenggam tangan dia.


“Kelihatan gak?”


Pohonnya tinggi sekali. Tapi masih bisa kelihatan sarang burungnya. Ada yang besar, dan tiga yang kecil. Mereka nyanyi senang sekali.


“Itu anaknya?”


Dia senyum, “Iya. Kayak Fares sama ibu.”


“Tapi Fares cuma ada satu.”


“Iya ya.”


Terus kenapa kita ke sini? Kak Riza jadi sedih?


Oh aku tahu mau bilang apa, “Tapi tapi. Kak Riza bisa jadi burung yang nomor dua!”


Mata dia tatap ke arah sini. Dan senyum, “Iya ya. Berarti kakak bisa jadi kakaknya Fares?” dia nepuk kepalaku.


“Kak Riza kan memang kakakku!”


Dia tertawa, “Iya. Kak Riza kakaknya Fares.”


Sorenya makin dingin saja. Aku jadi mau pulang dan minum teh panas. Pasti enak. Kak Riza juga pasti suka.


“Berarti tinggal satu lagi ya?” masih betah lihat burung di pohon?


Tapi aku mau pulang.


“Kak Riza, ayo pulang!”


Dia senyum lagi, “Fares. Dengerin deh. Kakak mau cerita ke Fares.”


“Cerita apa?”


“Tapi janji dulu, jangan bilang ke siapa-siapa ya?”


Jari kelingking. Oh! Kak Riza pernah ajarin ini dulu. Harusnya begini jawabnya kan?


Lutut kak Riza jatuh ke tanah, “Kakak pingin punya adik.”


Aa?! “Adik kecil?!”

__ADS_1


“Iya.”


“Tante sama paman sudah beli?!”


Kak Riza tertawa, “Belum sih.”


“Yah....”


Berdiri lagi. Sekarang tanganku dilepas. Terus tangan-tangannya seperti mau mengambil langit. Kelihatan senang.


“Makanya kita harus nabung, uang yang banyak banget biar bisa punya adik!”


Iya! “Ayo nabung!”


Dia tertawa. Tangannya balik gandeng tanganku. Kak Riza ajak aku jalan. Aku tidak tahu mau ke mana. Ikuti saja.


“Fares mau adik laki-laki atau perempuan?”


Huuu... kalau perempuan, nanti tidak bisa mandi sama-sama. Kata ayah, kalau besar nanti, ibu tidak boleh bantu mandi gara-gara ibu perempuan.


“Laki-laki!” aku teriak.


“Kalau kakak, mau adik perempuan.”


“Kenapa?”


“Hmm... karena kata teman kakak, adik perempuan bisa diajak pakai baju aneh. Gak paham sih.”


Terus kenapa? Itu tidak asyik sama sekali.


“Tapi kalau kata kakak... kakak kan sudah punya adik laki-laki~” dia menggosok kepalaku, “Habis itu harus punya adik perempuan dong~!”


Oh! Benar! “Iya!”


Dia, duduk di depanku lagi, “Kakak minta tolong ke Fares. Bisa ya?”


Waa, kak Riza tidak pernah minta tolong sebelumnya!


“Iya! Bisa!”


“Nanti, kalau kakak sudah dapat adik perempuan, Fares harus jagain juga ya? Kayak adiknya Fares sendiri~”


Aku bakal punya adik perempuan?!


“Iya! Hahaha!”


Dia tertawa juga.


Kami jalan. Dingin sekali anginnya. Sepertinya sebentar lagi mau hujan. Rumah sudah di depan.


Dia tersenyum sambil membawa teh di ceret, “Iya sebentar. Duduk dulu ya?”


Aku jadi duduk di kursi meja makan, “Sama roti ya, bu!”


“Iya, sayang.”


Ibu sudah kasih aku satu gelas. Toples isi biskuit juga sudah ibu buka. Ye!


“Riza juga mau?”


“Mau dong,” kak Riza ikut duduk di samping.


“Aku juga mau~”


Tante Nisa ganggu, “Tante tidak boleh!”


“Iiih~ Jangan gitu dong~” tante Nisa cubit sakit banget!


“Sakit! Sana sana!”


“Fares,” ibu kok malah kasih tante teh juga? “Fares tidak boleh gitu ya? Kalau Fares punya lebih, harus bagi-bagi juga.”


“Tapi aku tidak suka tante Nisa!”


Dia mencubit pipiku lagi! “Tante ngapain sih sampai Fares tidak suka~?”


“Sakit!”


Pukul tidak bisa, teriak tidak bisa. Tante ini maunya apa? Kan bisa habis pipiku kalau diambil terus!


“Makanya jangan ganggu terus,” Oh. Paman Rizki!


“Paman! Ajarin lagi bikin origami dong!”


“Sayang, makan dulu itunya,” ibu usap bibirku.


“Tapi, nanti paman pulang!”


“Kan bisa besok-besok lagi~” tante Nisa!


“Aa!” rambutku diacak-acak paman Rizki juga.

__ADS_1


Paman Rizki tersenyum, “Sorry, kapan-kapan, hmm?”


Selalu saja paman bilangnya gitu. Tidak tidak tidak terus, nanti malah pulang duluan. Ibu tidak bisa origami. Ayah selalu kejar orang jahat.


Nanti tidak jadi lagi!


“Tidak mau! Pokoknya sekarang!”


“Fares,” ibu dekat ke sini.


“Ini,” paman kasih buku, “Fares bisa belajar pake ini.”


Aku tahu buku ini! Paman pernah kasih lihat. Di perpustakaan dalam rumah paman! Bukunya sama persis!


“Wah! Yang kayak punya paman?!”


“Itu memang punya paman Rizki loh~” tante Nisa serius?!


“Duh, Rizki,” ibu tidak suka, “Tidak perlu begitu juga. Kami bisa belikan sendiri kok.”


“Itu awalnya punya Riza. Tidak dipakai lagi juga.”


“Waaa! Ibu ibu! Ayo kita pakai ini! Ayo!” aku turun dari kursi.


Ibu meraih tanganku, “Pelan-pelan, sayang.”


Aku tarik saja ibu ke meja mainan.


“Aduh, Fares, sayang.”


Oh! “Ayah!” lari aku, “Ayo buat origami!”


Lihat buku baruku, ayah!


“Jangan sekarang ya. Ayah masih banyak kerjaan,” ayah begitu lagi, “Rizki, we need to talk.”


Itu pernah terjadi?


Dulu sekali. Tidak ingat sama sekali. Bisa jadi itu cuma mimpi. Bisa juga itu ingatan, tapi yang tidak jelas.


Oh, itu ingatan ya? Kalau benar, kejadian itu pasti sudah lama sekali.


.


.


.


“Kak Riza jangan pindah!!”


Kak Riza selalu tepuk kepalaku, “Fares. Jangan cengeng. Nanti tidak dapat adik loh. Fares yang harus kuat kan?”


“Tapi kan aku adiknya kak Riza. Jangan pindah ke mana-mana!! Waa!”


Aku benar-benar tidak ingat. Saat itu banyak sekali kotak. Mobil truknya penuh. Katanya kak Riza mau pergi. Tapi tidak bisa ingat, kenapa.


“Uuuu~”


Waa! Tante Nisa lagi! Selalu saja angkat aku tiba-tiba!


“Fares-ku yang manis~!” tidak dilepas-lepas! “Nanti tante sering-sering ke rumah Fares kok!”


“Tidak mau! Lepasin!”


“Huu~ Fares ih jahat banget sama tante~!”


“Hei Fares~”


Aku akhirnya bisa turun, “Kak Riza~”


“Fares mau punya adik kan? Kalau gitu, harus bisa sendiri dong. Pasti bisa kan?”


Iya sih..., “Iya.”


Kak Riza tepuk kepalaku lagi, “Iya. Fares pintar!”


Sedikit. Aku hanya ingat sedikit saja. Kak Riza, paman dan tante. Cuma pergi saja.


Tidak kelihatan lagi. Berbulan-bulan. Mungkin aku sampai lupa waktu itu gara-gara saking lamanya.


Ayah dan ibu. Keduanya selalu ribut tidak tahu kenapa. Sekali dua kali aku bisa dengar nama kak Riza, paman dan tante.


Di saat aku ingat kak Riza lagi, aku sudah ada di depan tumpukan tanah.


Orang-orang menangis. Paman Rizki juga.


“Ibu,” rok ibu aku tarik, “Kak Riza ke mana?”


Ibu tidak bilang apa-apa. Duduk di sampingku. Kasih peluk. Nangis sama kayak orang-orang.


Waktu itu, jadi ingat. Jauh lebih lama dari ini, pernah ada orang banyak yang nangis. Sama seperti ini. Itu waktu nenek di samping rumahku, kecelakaan. Dan kata ibu, dia pulang ke surga.

__ADS_1


“Kak Riza... pulang?” aku juga ikut nangis, “Waaaa!!”


Terlalu cepat menangis. Setelah hari itu, ada kabar, tante Nisa juga pergi. Dan adik perempuan kak Riza ada di tangan ibu.


__ADS_2