Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#108 Arus Semakin Jauh


__ADS_3

“Misi, kak~”


Vian dan Saga datang.


“Lewati, mas. Hahahah!”


“Berarti makanannya tidak jadi kan ya?”


“Lah, a.... Jangan rampok lah. Itu duit gua!”


Mereka saling desak duduk ke gazebo. Kami bertiga masih berdiskusi tentang jawaban mid-test. Vian dan Saga kembali, datang bawa makanan.


“Gimana kak Fau? Tidak ada yang bisa diprotes-in?”


“Ya kali aku Fares? Mana bisa aku protes! Aaaa!!”


Nomor dua puluh... Hampir. Tapi masih terbilang benar. Sedikit beruntung di sana. Harus pelajari lagi tentang ini.


Seperti Fauzan, nomor 21 sedikit lagi benar. Grup memikirkan itu, tidak? Kalau ada banyak yang masalahkan ini, kami bisa nego sedikit. Pelajaran setelahnya mungkin bisa kami bahas. Kalau salah juga semestinya ada alasannya.


“Kak Fares!”


“..., Ya?”


“Biasa, terlalu fokus,” Fauzan sudah tiduran.


Saga melotot, “Kak Fares kapan terakhir kali pulang?”


“Baru tadi pagi. Ganti baju.”


“Rasyi bilang kakak jarang banget di rumah.”


“Kemarin juga dia selalu minta belajar bareng. Padahal buat ujian selalu bilangnya bareng kakak.”


Sudah lumayan lama paman Rizki pulang. Tapi Rasyi masih menginap di rumah kan? Dia tidak ada pagi tadi. Masih tidur mungkin.


“... iya.”


Vian saling lihat ke Saga.


Saga bicara, “Bener ya? Kakak lagi kelahi juga sama Rasyi?”


Kelahi? Juga? “Tidak kok.”


“Tapi kalian kelihatan lagi tidak akur.”


Senyum, “Kakak lagi sibuk saja. Habis kelar ospek, kan langsung ada mid-test. Jadi kakak banyak urusannya di kampus.”


Yang terjadi, semua itu, tidak pernah terjadi.


“Ada apa sih?” Fauzan sadar keributan kami.


“Tidur sana,” jangan sampai mereka berdua ikut bahas.


“Kenapa sama Rasyi?”


“Tidak papa,” aku merapikan kertas-kertas itu.


Semakin gawat. Lebih baik siap-siap pergi. Kalau aku pulang ke rumah, tidak ada lagi yang komplain.


“Wah, kenapa nih? Marahan~?”


“Tidak ada.”


“Yeh..., kabur dia. Mau kabur!”


Aku tersenyum lagi, “Buat apa lama-lama di sini? Kamu mau bayar hutang?”


“Silahkan pulang, bos. Hati-hati di jalan.”


Baguslah tidak ada yang menghentikan. Ini sudah jelas kabur. Aku tetap langsung kabur.


“Duluan,” pergi. Meski masih ada Saga dan juga Vian.


Tapi aku bisa tahu mereka sedang mengejar.


“Kak Fares!” 


“Beneran kan kak, kakak tidak ada ribut sama Rasyi,” Vian ikut aku pergi.

__ADS_1


“Benar, Vin. Tidak ada apa-apa.”


“Kalau bener sih, kakak parah,” Saga dekat-dekat, “Rasyi masih galau gara-gara tuh si bucin.”


Bucin? “Harun kenapa?”


Vian lagi-lagi lihat Saga. Saling lihat.


“Kak Fares tidak tahu?”


Berhenti di tempat. Perasaan tidak enak. Harun pasti kerjakan sesuatu. Kalau tidak, Vian Saga pasti tidak bahas.


Vian mau bicara, “Harun kan mau sekolah ke luar negeri. Kok bisa kak Fares tidak tahu?”


“Iya. Biasanya kak Fares selalu tahu kalau tentang Harun.”


Dia? “Sekolah luar negeri?”


“Pertukaran pelajar sih, katanya. Terakhir kali bilang sebulan-an lalu. Katanya bakal berangkat habis UTS.”


“Bentar lagi kan berarti?”


“Minimal minggu depan. Soalnya kita masih ada satu hari UTS.”


“Loh? Tidak ikut remed.”


“Buat apa? Paling juga udah di terima di sana⏤kak?!”


Lari, harus aku pastikan. Harun lebih baik ada di rumah untuk jelaskan ini.


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


“Sore, Fares. Baru pulang kuliah?”


“Iya,” aku turun dari kendaraan, “Ada Harun-nya, tante?”


Dia terkejut, “Harun ngapain lagi? Tante sama om sudah batasi dia kok.”


“Tidak, tante, tidak kenapa-napa. Saya cuma mau tanya. Harun... beneran mau pertukaran pelajar?”


“Loh? Fares belum dengar? Iya kok.”


“Kenapa tante biarin?”


Tante itu sedih, “Tante juga gak bisa gak setuju. Harun-nya sendiri yang mau.”


Harun? “Tapi, tante mau biarkan Harun dihukum begitu saja? Ini ke luar negeri loh, tante.”


“Kenapa memang?”


Oh, Harun.


Dia jalan sampai pagar yang bukanya hanya sedikit. Anehnya dia berdiri di sana. Seperti halangi aku masuk.


“Tante, saya mau bicara sama Harun dulu,” ini lebih baik.


Ibu ini sepertinya ragu. Harun masih bersitegang dengan keluarganya. Ayahnya tidak percaya lagi. Setelah dua kali bermasalah. Orang tuanya sudah takut buat biarin dia keluar sebentar dari rumah.


“Saya di sini kok, tante. Ini penting. Saya bisa minta begini kan?”


Akhirnya beliau meninggalkan kami.


Harun masih diam. Saling tatap.


“Jadi kamu yang setuju⏤”


“Ini bukan urusan kamu lagi aku mau ke mana.”


Tidak baik, “Harun, kakak paham kamu marah. Tapi kabur begini tidak selesaikan apa⏤”


“Karena siapa juga aku kabur?!”


Dia, sedang salahkan aku yang suka ikut campur. Selama ini dia memang benci ke aku. Hanya karena akrab dengan Rasyi.


Tapi itu benar salahku. Aku tidak berhasil menjauh dari Rasyi.


“Itu salah kakak. Kakak tahu. Kakak minta maaf. Kakak coba bicara lagi sama paman. Pasti masih bisa.”


“Bicara, bicara bicara bicara! Kami sudah kebanyakan ngomong!” aku tidak bisa salahkan marah dia, “Sudahlah. Pergi sana.”

__ADS_1


Dia, pergi.


Aku tidak bisa biarkan. Ikuti dia sampai halaman dalam rumah.


“Harun, berusaha sedikit saja lagi. Tolong.”


“Buat apa? Semuanya selesai. Bakal lebih baik kalau aku terima sekolah di luar negeri. Paman Rizki yang kasih ide kan? Aku sudah diusir!”


Paman benar-benar mendanai penuh sekolah Harun. Dia mau mengusir Harun.


Tidak bisa seperti ini. Harun tidak boleh pergi. Aku bisa lebih dari menyesal.


“Kakak tidak ada hubungan apa-apa sama Rasyi.”


“Tapi dia suka sama kamu,” dia berhenti. Melihat ke aku, “Aku bisa apa lagi? Apa?!”


Dia.... Bukan.


“Itu cuma dugaan kamu. Tidak ada yang begitu. Buktinya aku sama Rasyi tidak ada ketemu sebulan ini. Kalau benar dia suka kakak, Rasyi seharusnya kejar. Harun tahu Rasyi gimana kan?”


“Kamu juga suka sama Rasyi kan?”


Ada-ada saja, “Itu tidak masuk akal, Harun.”


Saling pandang. Diam. Yang dibilang seperti bukan apa-apa.


Harun senyum, “Kalian berdua sama. Tidak bilang iya. Tapi tidak bantah juga.”


“Kakak tidak pernah mikir sekali saja tentang begitu,” perlu aku paksa, “Ikut kakak sekarang. Kakak perlu bukti, kan?”


“Tidak perlu.”


“Harun, kalau kamu begini terus, kamu yang bakal menyesal. Jangan berhenti cuma karena dugaan asal-asalan.”


“BERISIK!”


Aku ikut diam.


Dia bicara, “Kamu tidak tahu gimana di posisi aku. Semuanya sudah mikir negatif. Rasyi saja tidak mau lihat aku lagi!”


“Tidak seperti itu, Harun!”


“Yang kamu lihat cuma sisi baik doang! Kamu tidak pernah dibenci siapapun! Jangan sok jadi guru! Kamu tidak tahu apa-apa, go⏤”


“Harun!”


“Apa?! Kamu mau hukum aku juga?! Silahkan!!”


Tidak mau menjawab. Sebelum semakin saling marah. Aku harus ulur dulu.


“Jadi kamu mau apa setelah pulang lagi?”


Dia masih setengah teriak, “Kan mending kakak urusin Rasyi biar hubungannya lebih romantis.”


“Harun, sudah kakak bilang. Kakak sama Rasyi tidak ada rasa begitu sama sekali. Tidak mungkin Rasyi suka sama kakaknya sendiri.”


“Fares. Sampai kapan kamu mau buta begitu?”


Buta?


“Fares, Harun...,” suara tante keluar rumah lagi.


Tante jadi khawatir.


“Harun!” berusaha aku panggil, tapi dia pergi.


Dia tidak mau bicara. Pergi lewatin ibunya. Masuk rumah tidak hiraukan panggilanku.


Aku harus bagaimana? Bagaimana?


Rasyi. Rasyi harus aku bujuk. Dia sama Harun masih saling suka. Cuma keadaannya saja. Kalau aku beri peluang lagi, mereka pasti baik.


Bicara. Akan lebih baik kalau aku ikut menengahi. Tidak, Harun tidak akan mau. Siapa yang bisa jadi penengah? Apa aku harus minta ibu Harun? Aku tidak bisa mikirin apa-apa lagi. Yang terpenting, paman Rizki. Negosiasinya tidak akan selesai satu hari.


“Fares....”


Oh, “Maaf, tante. Tadi....”


“Tante yang minta maaf. Fares pulang saja ya. Takutnya Harun malah marah-marah lagi,” beliau, seperti mau menangis.

__ADS_1


Aku memilih setuju dan pergi.


__ADS_2