
“Abi sini!” satu lagi anak yang tidak bisa diam.
Daripada lari, lebih baik jalan saja. Hari ini di luar lumayan panas.
“Lama Abi! Cepetan!”
“Hmmm,” terserah kalian.
Kalian yang seharusnya tidak lari. Jalannya memang sepi, bukan berarti tidak ada sama sekali. Paman Ice Cream juga tidak mungkin pergi.
Apa aku skip saja ice cream hari ini?
“Abi kalau mau es krim, tante beliin. Ayo.”
Namun tampaknya aku harus makan, “Makasih, tante.”
Terangkat kakiku mau tidak mau ikut. Masih saja aku anak-anak. Aneh malah kalau bahkan tidak suka merasakan makanan manis. Gigiku juga masih gigi manis.
“Bu’de. Habis dari mana?”
Rasyi sudah pulang? “Dari market, bu~” dia keluar dari mobil.
“Belanja bulanan ya, bu’de? Ada diskon gak?”
Mendekat ia kemari, “Ada, bu. Minyak. Cepetan, keburu habis nanti.”
Pembicaraan para ibu-ibu rumah tangga ternyata begini. Tidak lepas jauh dari masalah rumah.
“Abi, makan ice cream terus. Nanna baru belikan. Minta siapa tuh duitnya?” ia menggandeng tanganku.
Kutunjuk bibi tadi dengan tangan beserta Ice Cream cone-ku, “Tantenya.”
Rasyi kelihatan kaget, “Berapa tadi bu?”
“Yaelah, gak usah, bu’de. Ice cream aja kok.”
“Biar Abi senang sedikit,” bibi ini kayaknya mau bisik-bisik, “Abi tuh gak kurang nutrisi kan? Dia kayak lemas banget hari-hari.”
“Tidak kok,” Rasyi tersenyum, “Makan sayur saja lahap.”
Itu karena aku tidak ada niat jadi anak kecil lagi. Masih banyak yang harus jadi pikiran daripada rencanakan yang mana yang disuka sama yang tidak.
Hanya memikirkan apa yang harus dan apa yang tidak.
Tentang harus....
“Nanna,” aku dekati Rasyi, “Udah sore. Mau mandi.”
Bibi-bibi ini pasti tertawa. Keputusan yang dewasa seperti ini memang aneh kalau dibilang oleh anak lima tahun.
“Habiskan dulu ice cream-nya ya~?”
“Hmmm...,” masih aku berlanjut melahap.
Sambil memperhatikan akting Rasyi jadi nenek yang ceria.
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Sarapan kali ini, oseng buncis dan udang. Rasyi memang masak yang beragam karena tidak ada yang alergi makanan. Simpel seperti ini juga tidak masalah.
“Tambah lagi?” Fares masih suka elus kepala.
Aku geleng, “Udah kenyang.”
“Bisa habiskan yang di piring?”
__ADS_1
Masuk ke suapan yang selanjutnya, “Bisa.”
“Oh, Rasyi besok deadline ya?”
“Iya nih...,” Rasyi memanyunkan mulutnya, “Qinati juga tidak bisa hari ini.”
Bibi pengasuh tidak bisa datang? Padahal biasanya waktu deadline Rasyi, aku selalu dilepas tangan. Mau bagaimana lagi? Kalau sudah jadwal upload, semuanya harus selesai walaupun dari nol.
Kalau begitu, aku dititipkan sebentar ke tempat kerja Daffa?
“Sayang banget, Daffa juga ada proyek besar.”
Hmmm. Mau tidak mau, Rasyi tetap harus jagain.
“Minta ibu ayah saja mungkin ya?” Fares bicarakan tentang Sari dan Hendra?
Mereka saja sudah perlu pengasuh. Tidak mungkin menambahkan apa yang harus diasuh.
“Abi tidak gangguin Nanna kok,” mungkin aku bisa diam saja di rumah.
Rasyi bukan kelihatan tidak percaya. Aku sudah bangun kepercayaan mereka kalau aku bisa sangat mungkin untuk jadi anak pintar yang tenang. Tapi bukan Rasyi yang khawatir, Fares.
“Kenapa? Tidak mau sama Aki sama Nini?” Fares tanya lagi.
“Nanti Aki sama Nini capek urusin Abi. Di rumah kan ada bibi-bibi. Kalau Abi minta tolong masih bisa.”
“Tapi tidak ada yang temanin Abi.”
“Tidak apa, pap. Abi bisa main sama teman Abi di luar.”
Rasyi taruh garpunya, “Ya kalau Abi maunya di rumah. Biarin saja di rumah.”
Fares masih saja tidak nyaman, “Ingat ya, jangan ganggu Nanna. Waktu Pappa pulang, Pappa belikan puzzle lagi buat Abi. Ya?”
“Iya.”
Rasyi jongkok di depanku, “Abi mau ngapain sekarang?”
Tidak tahu. Main keluar, pasti belum ada orang. Permainan apapun tidak menarik kalau sendirian yang main. Apa lagi kalau tidak baca buku?
“Kalau mau lihat Nanna, Abi tidak boleh mainin kerjaannya Nanna ya?”
Hmm, itu bukan ide buruk untuk ikut-ikutan Rasyi. Kalau aku mau kelihatan natural punya minat seperti nenek sendiri, seharusnya dimulai dari sekarang.
“Abi boleh ikut gambar?”
Mata Rasyi sudah lebar, “Abi mau gambar?”
“Abi mau jadi kayak Nanna. Kerjanya menggambar!”
“Boleh,” Rasyi berdiri, “Tapi, kalau rewel, nanti Nanna ambil gambarnya loh. Ok?”
Dalam artian, tidak boleh ikutan lagi ya?
“Iya!”
Kugandeng saja langsung tangannya. Rasyi juga tidak keberatan kasih tangan dia. Jalannya tidak diperlambat layaknya yang biasa. Dia mau cepat-cepat kerjakan sesuatu.
Tidak jarang, aku selalu pikir, kalau dia tetap kerja dan sibuk cuma buat dia tidak mau ingat apa-apa. Kalau tidak sibuk sedikit saja, Rasyi pasti melamun.
Aku tidak keberatan seperti itu. Lebih baik lelah karena sibuk daripada melihat dia di stage terendahnya.
Harus tetap cari solusi permanen.
Kami masuk ke kamar tamu. Rasyi sudah ganti fungsi ruangannya jadi tempat kerjanya sendiri. Tim Rasyi tentang komik digital juga kadang ke sini.
__ADS_1
Mungkin hari ini Rasyi tinggal finishing saja, makanya dia kerjakan semuanya sendirian hari ini.
“Abi duduk sini saja, ok?” Rasyi kasih kertas dan crayon di meja editor yang kosong.
Hmm, aku sudah ada di posisi ini. Berarti aku akan menggambar untuk beberapa saat. Sewaktu putri ini melanjutkan kerja dia meja lain. Lagu kesukaan Rasyi yang biarkan ruangan tidak sunyi.
Aku sudah lama tidak pernah menggambar lagi. Gambaran terakhir cuma gambar posisi organ manusia. Tidak pernah lagi gambar yang estetik.
Waktu aku jadi pelukis dulu... lumayan menghasilkan, walau sempat dianggap gila.
Pikirkan goals nanti saja. Mulai dulu gambar acak. Hewan?
Tarik garis ke sini. Lalu garis ke sini. Mata, moncong, cakar. Hmm, ternyata tanganku masih ingat cara menggambar. Ini terlalu bagus untuk tangan anak lima tahun. Seharusnya tidak juga.
“Permisi nyonya, jusnya,” bibi ART datang bawa cemilan.
“Terima kasih.”
Dia juga kasih ke aku beberapa. Tapi sibukkan saja dengan warnai gambarnya.
“Wah, tuan hebat banget!”
Hmm? Orang ini masih sempat lirik hasil gambarku.
“Dinosaurus itu warnanya hijau, tuan. Bukan coklat,” tangannya berusaha ikut warnai.
Seharusnya dia tahu kalau lakukan hal begini bisa bikin yang menggambar langsung mengamuk. Aku cuma mau campurkan warnanya saja karena tidak ada yang mirip.
“Jangan ditekan!” aku menahan tangannya.
Kalau di-fill semua dengan warna hijau daun, tidak akan bisa di-blend warna lain lagi.
“Bi, tolong jangan ribut, ya~?” suara Rasyi sudah tahan amarah banget.
Bibi jadi kelabakan, “Maaf, nyonya,” dia pergi terus tutup pintu.
Suara Rasyi keras juga waktu hela nafas begitu. Dia benar lagi capek. Aku lanjutkan saja menggambar. Bisa jadi dia tambah marah kalau aku tanggapi.
Ini sudah berapa lama? Tidak lihat jam lagi. Gambar saja terus.
“Auw!”
“Fokus banget~” Rasyi cubit pipiku, “Nanna keluar dulu ya? Hmm?”
Pegangi pipiku yang sakit tadi, “Iya.”
“Abi...,” kertas gambarku diangkat Rasyi, “Abi yang gambar ini?”
Kenapa? Yang aku gambar cuma dinosaurus. Itu sering dikenalkan ke aku waktu lebih kecil. Sama kelinci putih yang sempat dibelikan buat jadi peliharaanku dua tahun lalu.
“Itu tuan Dino. Sama Putih.”
Oh!
Aku... melakukan kesalahan.
“Nanna...,” aku elus mukanya. Hapus air matanya.
Dua hewan itu memang cuma hewan. Tapi buat Rasyi, kelinci adalah dia dan dinosaurus itu aku. Itu sebutan yang kami saling kasih waktu aku masih papanya.
Putri ini masih bisa menangis walau cuma ingat dua hewan ini. Aku makin tidak bisa tinggalkan dia.
Jangan menangis terus seperti ini.
“Maaf,” Rasyi hapus air matanya, “Nanna mau bikin makanan, mau ikut?”
__ADS_1
Rasyi, tolong lepaskan papa.