
“Baru kemarin sakit,” Sari selalu dengan kekhawatirannya.
Aku tersenyum, “Rasyi sudah tidak apa kok.”
Ya, wajar kalau dia khawatir. Tubuhku rawan akan penyakit. Meski demikian, tidak pernah ada saat di mana aku hampir sembuh dari sakit malah kena sakit yang lain.
Itu karena aku tidak pernah ditumpahkan minuman dua kali saat aku selangkah lagi sembuh dari muntaber!
Namun aku tidak ingin lagi sakitku menghalangi langkah kali ini. Jadi, aku memilih untuk ikut Sari di dalam satu mobil yang berjalan ke kampus Fares.
“Kalau kenapa-napa, langsung bilang loh,” Sari masih saja.
Cerah senyumku kupastikan tertangkap matanya, “Iya. Paham.”
Ditambah lagi, sakit itu sudah satu minggu yang lalu.
Banyak yang terjadi di belakang telingaku. Dan aku tidak menyadarinya sampai semuanya selesai.
Hari itu, Fares langsung berhadapan dengan guru. Dan yang aku dengar, anak-anak yang ribut denganku dicopot keanggotaannya dari OSIS.
Itu semua pun diselesaikan dengan lancar karena papa turun tangan.
Entah papa tahu dari mana. Namun kalau ada Rizki Wirandi, sekolah tidak bisa memandang sebelah mata. Papa memang sepengaruh itu di sosial. Khususnya setelah papa memilih untuk membuka diri sehabis kasus kakek tuntas.
Yang pasti, semuanya selesai dan kembali normal.
Namun aku masih belum bisa bertemu Fares lagi.
Dia masih bermalam di luar rumah. Entah itu dengan temannya, atau bahkan di kampus langsung. Hasilnya Sari, ibu yang se-lembut ini, tidak tega membiarkan anaknya tidak terurus.
Sari berniat pergi membawakan baju ganti dan makanan untuk anaknya langsung ke kampus.
“Di sini saja bu?” paman karyawan catering Sari bersuara dari balik kemudi.
“Iya, berhenti di kiri sini saja,” Sari menyiapkan bawaannya, “Tunggu di sini, bisa? Guntur?”
“Iya, bu.”
Aku membantu bawaan Sari dan turun bersamanya. Mobil yang menetap di samping penghalang imut dari susunan bata yang dimiringkan. Dengan selokan lebar yang masih berjarak di antaranya.
Sari berjalan lurus sambil memastikan aku mengikuti. Kurasa ia ingin masuk ke dalam gedung di kiri kami, yang aku yakini sebagai Student Center.
Apa Fares ada di ruangan BEM atau semacamnya?
“Oh, apa kabar tante?” pria mahasiswa? Apa dia kenal Sari?
Sari tersenyum, “Baik. Fares ada?”
“Ada tante, masuk aja.”
Yah, mereka saling kenal. Walaupun aku... hmm... rasanya kok pernah melihatnya?
“Oh, si Rasyi. Fares di dalam kok.”
Dia kenal aku?! Kepalaku masih belum menemukan kapan aku bertemu dengannya. Ya, senyumin saja.
Berpamitan sekilas, aku masih mengikuti Sari yang memang lebih mengenal tempat ini. Masuk kami ke ruangan besar yang dibagi banyak sekali sekat dinding tipis tidak permanen.
Sari mencoba mengintip masuk ke satu ruangan.
“Masuk sini, bu.”
Ah, itu suaranya!
Langsung aku ikut memasukkan kepalaku, “Hai~ Kak Fare⏤”
Eh?
“Hai~”
__ADS_1
“Ye, siapa juga yang nyapa lu. Hahaha!”
“Fares, dijawab dong~ Hahaha!”
“Duh, kayaknya aku mau susul Fauzan deh,” satu pria mulai berdiri.
“Tante mau ikut?”
Heh?
Sari sama-sama bingung seperti aku, “Kenapa? Nih makan ini dulu.”
“Nanti saja tante, kami sibuk.”
“Dah ketua.”
Awalnya aku dikagetkan karena ternyata tempatnya ramai. Sekarang aku lebih terkejut lagi dengan ruangan yang kosong.
Tadi itu apa sih?
“Rasyi ngapain ke sini?” Fares, masih sok kasar saja.
Jawaban yang bagus apa ya? “Karena Rasyi kangen kakak?”
“Memangnya kenapa?” Sari duduk di depan Fares dengan mengeluarkan bekal dan seloyang roti bolu yang disiapkannya, “Dikunjungi Rasyi kok malah marah.”
“Aku capek, bu. Fares mau istirahat, nanti kelas,” tatapannya, masih saja menghindariku.
Bisa-bisanya hatiku sakit melihatnya. Marahku membawaku lesehan bersama, lebih dekat tepat di arah pandangnya. Tersenyum aku padanya.
Namun ia menghindari pandanganku lagi, “Rasyi mendingan pulang.”
Iish! Harus aku apakan si Fares ini?
“Fares~”
Eh? Lah, itu si Clarissa kan?
“Oh, ada tante,” wanita ini dengan natural mengambil duduk di sisi lain antara Fares dan Sari, “Ada makanan? Boleh?”
“Silahkan.”
Ia melapah satu potong roti. Tersenyum layaknya kue itu adalah kadonya.
Sial. Aku jadi tidak tenang.
Pada akhirnya aku berusaha duduk lebih dekat dengan Fares.
“Tante kok bawa roti manis? Fares kan tidak suka-suka banget,” wanita ini selesai mengunyah habis gigitan pertamanya.
Aku tersenyum lebar, “Kan kak Fares punya banyak teman. Kayak kakak, kan suka bolu.”
“You’re not wrong, heheheh,” ia memakannya lagi.
Rasanya aku ingin sekali memaki-makinya karena sok manis di depan kak Fares. Namun, yah, aku tidak punya alasan untuk marah. Karena, ada rasa suka atau tidak, mereka itu teman sekampus.
Tahan, Rasyi. Ini bukan hal yang harus kamu marahi.
Namun aku tidak tahan melihat dia bercanda berdua saja bahkan mengabaikan aku dan Sari!
“Em..., kak Clarissa kenal kak Fares di mana?” ajak aku masuk ke dalam pembicaraan mereka.
“Aku baru pindah tahun lalu ke sini, dari Univ di SumUt. Karena Fares BEM aku jadi sering minta tolongnya ke Fares.”
Jauh juga, “Kenapa jauh ke sini?”
“Karena aku dapat beasiswa-nya di sini. Aku juga lahir dari sini kok.”
Entah kenapa, aku tidak melihat tanda dia melakukan semuanya untuk Fares atau sebagainya. Bila mereka ada Chemistry, setidaknya datang tanpa rencana jangka panjang.
__ADS_1
Tidak. Walau jangka waktuku bersama Fares lebih banyak, kemungkinan Fares ada rasa dengannya masih besar.
Aku tidak akan lengah!
Sari tiba-tiba bertanya, “Rasyi mau tahu banget tentang Riri ya?”
Ya... bagaimana ya? Kukeluarkan senyum saja lagi?
“Talk about mau tahu banget, Far, yang kemarin gimana jadinya!” kenapa, kenapa dia jadi dekat-dekat ke Fares?!
“Yang mana,” Fares~ Jangan balas dekat ke sana!
Wanita ini berekspresi ambek dengan gaya sok imut. Hei! Itu ciri khas-ku!
“Itu,” dia jadi bingung sendiri. Mengambil ponselnya dengan kelabakan, “Itu tuh. Ini. Apa namanya?”
Mereka jadi saling mendekat. Sedekat itu?! Hanya untuk memperhatikan apa yang si Clarissa ini tunjukkan di layar ponselnya?!
Ini tidak adil! Aku rasanya ingin marah karena terbakar api cemburu!
“Oh, ulangan yang kemarin?” Fares menunjuk ponsel Clarissa, “Kemarin kamu absen ya? Katanya jawaban yang itu menurut undang-undang yang....”
Aaaaaa!!! Tidak bisa tahan!!
“Kak Clarissa~” harus aku hentikan kedekatan mereka.
Dia menatapku. Meski dia masih saja terlalu dekat dengan Fares! “Kenapa?”
Ayo kita dekati kak Fares lebih jelas, “Kakak punya pacar?”
Wanita ini tertawa, “Me?”
Ya, kamu, puding yang tidak bisa duduk tegak! Kamu!!
“Kakak kelihatan free banget. Kayak gak punya pacar,” aku menyadari kembali sesuatu di pergelangannya, “Tapi, gelang kakak gelang couple gitu.”
“Oh, ini⏤”
“Rasyi, cukup,” Fares? “Pulang sekarang.”
Hmm? Dia terdengar marah tapi, lagi-lagi, tidak dengan matanya.
“Kenapa? Rasyi ngapain?” aku harus pastikan.
“Rasyi mau ada alasan kenapa Rasyi diusir, kan? Ini alasannya,” Fares menatapku tegas, “Clarissa itu temanku. Jangan main kasar cuma karena aku kakak kamu, Ras.”
“Gak papa kok. Aku gak kesinggung,” wanita ini tampak santai.
“Dia ganggu kita diskusi,” Fares mengambil tas tote bag berisi baju yang aku bawakan. Tidak lupa dengan tas bekalnya, “Ibu, kami langsung.”
“Kak?”
“Pergi, Ras,” dia berdiri, “Jangan seenaknya ke sini.”
“Kok gitu sih sama Rasyi?” Sari pun tidak memahami keadaan.
“Fares capek. Ibu tinggalin aja makanannya,” Fares mulai berjalan, “Clarissa, ayo.”
“Loh, Far. Gak gitu juga dong. Eh, tungguin,” dia ikut berdiri, “Misi tante. Jawabannya nanti ya, Ras~”
Tu, tunggu....
Mereka, pergi?
...
“Rasyi, kita pulang saja yuk. Fares cuma capek. Dimengerti, ya?” Sari mengelus pundakku.
Tidak papa, Sari. Aku tidak mempermasalahkan kak Fares yang marahnya masih saja bohong itu.
__ADS_1
Namun... kenapa dia pergi dengan si puding ini?! Bukannya sangat kelihatan kalau dia hanya ingin kabur dengan wanita itu?!!
Clarissa, ini perang!! Salah kamu sendiri bikin Rasyiqa ini gosong karena cemburu! RAAAAAA!!