Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#50 Tidak Tahu!!


__ADS_3

“Makasih,” aku berusaha tetap terlihat semangat meski tenagaku seperti sudah mengalami kebocoran bahan bakar.


Hari ini sungguh melelahkan.


Aku sangat beruntung tidak ada aksi bela diri yang barbar di prosesnya. Tidak terbayang seberapa kiloliter tenagaku yang habis hanya untuk memisahkan pertunjukkan yang berjudul ‘tonjok-tonjokan’. Kubayangkan saja sudah lelah sekali.


“Jalan yang hati-hati!” Harun menahan lengan atasku setelah kusadar kakiku menginjak tanah yang bukan jalan, “Kamu ini, selalu saja!”


Duh, dia marah lagi.


Tidak. Harun hanya khawatir. Aku memang seringkali ceroboh. Itu hanya reaksi wajar.


Kucondongkan tubuhku, kami saling berbalas pandang meski tubuh kami mengarah ke depan yang sama, “Jangan marah~”


Dia tidak menjawab maupun tersenyum.


“Harun?” apa dia sungguh marah?


Jawaban sunyi itu tidak nyaman. Aku buka saja pintu rumahku⏤


“Aku cuma mau kamu jujur sama aku.”


Hmm?


“Kak Fares tahu. Dan kamu tidak masalah sama itu.”


Pembahasannya semakin jauh saja.


“Kenapa aku tidak boleh tahu? Aku suka sama kamu, Rasyi. Aku takut kamu mati.”


Terlalu jauh, “Aku tidak akan mati,” aku merasa senyumku aneh.


“Jagad ditembak sampai mati. Kamu juga bisa begitu.”


Aku menghela nafas berat, “Bisa jangan bahas itu lagi?”


“Jangan tutup pembicaraan!” Harun menahan tanganku, “Rasyi, aku percaya. Kalau kita lakukan berdua, semua pasti jadi baik.”


Bukan itu yang aku masalahkan, “Harun, jangan bahayakan diri kamu di masalahku. Lagipula, papa sudah pulang. Tidak ada masalah.”


“Oke, jadi kenapa papamu kemarin hilang sebulan penuh?”


Mulutku terkunci. Jika aku berkata itu ada hubungannya dengan pelaku yang hampir menabrakku kapan lalu, itu sama saja mengumumkan masalah baru.


Aku sendiri saja mencoba untuk tidak memikirkannya. Maksudku, aku tidak bisa bertindak apapun. Papa selalu membalikkan pembahasan ke arah lain bila aku mulai menjamah lebih ke topik itu.


Papa hanya bilang kalau semuanya baik saja. Layaknya yang selalu ia katakan.


“Apa papamu yang larang kamu cerita ke aku?”


Hmm? Dia membahas yang tidak-tidak lagi, “Harun tolong. Ngertiin takutnya aku.”


Kubuka pintu depan rumahku. Berharap pembicaraan terputus dengan aku masuk ke dalam.


“Aku juga takut!” dia menahan bahuku, “Kamu yang harusnya ngertiin aku!”


Sisi Harun yang pemaksa memang tidak nyaman. Papa di rumah kan? Apa dia bisa membantuku cari ala... san...?


Bola mataku terbelalak lebar. Terkejut dengan pemandangan yang ada di ruang tamu. Jariku menunjuk ke seseorang. Ia tampak duduk di sofa panjang yang membelakangi pintu. Mengarahkan ujung jari itu pada wanita yang... berpakaian... Dia siapa sih?!


“Maaf,” aku menarik tangan Harun yang perlahan terlepas di bahuku, “Siapa ya?”


Wanita ini hanya menegakkan tubuhnya. Malah menunjukkan lebih jelas baju renangnya (?) yang membuat suasana canggung. Lenggoknya malah... Aku senang Harun melihat ke arah lain.


Heh? Heeh?!!


Papa? Kenapa dia tiba-tiba muncul dari balik sandaran sofa. Di depan wanita itu. Dan papa⏤Tidak! Aku tidak mau memikirkannya! Jangan sampai yang ada di ujung jurang pikiranku sungguh terjadi!!


“Hai Rasyi~”


Wanita itu mengenalku?!


Tunggu. Suara itu....

__ADS_1


“Pergilah,” papa tampak menyeka pipi kanannya.


“Uuuu~ Kirana masih mau disini~”


Kirana?


Kirana kan... yang waktu itu....


Suaranya juga....


Tidak, tunggu.


Apa kedua orang itu sama?


Tapi kenapa....


“Aku tidak memohon,” papa mendorong tangan wanita ini.


Wanita yang tampak muda ini kelihatan kesal, “Uu! Iya deh~ Kirana pulang,” wanita ini berdiri. Ia tampak mengambil jaket hoodie-nya dan memakainya dengan santai.


Berjalan anggun dan manis mendekati kami yang masih terpaku di depan pintu. Sampai akhirnya ia berdiri sejajar aku. Menggambarkan dirinya yang memiliki tinggi sebelas dua belas denganku meski bersepatu heels.


Tampak aneh dengan wajah yang tidak aku ingat. Namun nama dan gaya bicaranya tidak terangkat dari ingatanku.


Dia mencubit pipiku?! “Ketemu lagi nanti, sayang~”


Kedipan sebelah mata itu membawa dia pergi. Hoodie hitam yang ia kenakan sekaligus sebagai rok, tampak anggun, sampai tak terlihat ke arah mana tujuannya.


Yang aku bisa lihat tanpa mataku menangkapnya adalah tubuhku yang semakin lemas. Takut yang tak kusuka.


“Rasyi...,” Harun? Sepertinya dia sadar dengan lemasku, “Kamu pucat.”


Sungguh? Mungkinkah aku teringat masa lalu lagi dan lagi?


Aku berbisik serak, “Tidak apa.”


“Dia siapa?”


“Aku...,” kutatap papa yang tak peduli aku di depan pintu.


Padahal aku butuh bicara dengannya.


“Rasyi!”


“Aku juga tidak tahu, Harun!” aku menahan emosiku, “Itu... aku..., Harun pulang dulu. Aku mau bicara sama papa.”


“Kamu kenal dia kan? Siapa?!”


Rasa pening ini tidak menyenangkan. Dan kekhawatiran Harun semakin menekanku.


“Rasyi!!”


“Aku ketemu dia waktu aku diculik.”


Heh?


Aa...


Aku mengatakannya?


Mata Harun sudah terlanjur terbuka kaget, “Dia?! Kenapa dia ada di sini?!”


“Aku tidak tahu!” tanganku, bergetar, “Tolong, Harun pulang ya?”


“Tidak mungkin!! Penjahat itu sudah bisa masuk ke sini!!”


“Ada papa. Semua baik-baik saja,” please, percayalah.


“Papamu itu yang bahaya!!”


Lengan itu aku tahan selembut mungkin, “Harun, please!”


Kami terdiam. Tergema dengan suara nafasku yang tak beraturan. Berusaha sekuat mungkin memenangkan diri.

__ADS_1


“Baiklah,” Harun menarik genggaman tanganku. Ia, mencium punggung tangan itu, “Kasih aku kabar. Ya?”


Aku mengangguk. Entah, aku beri tahu dia semuanya atau tidak, itu urusan nanti.


Dia melepas tanganku. Berjalan pergi melewati pagar yang mengelilingi taman depan yang tak luas dan tak sempit ini. Kendaraan hitamnya pergi meninggalkan suara nyaring.


Pintu itu aku tutup. Meyakinkanku kalau di rumah memang hanya aku dan papa.


Dia ada di mana? Coba aku cek di kamarnya.


Kakiku harus kuat menaiki anak-anak tangga yang pengap di jantungku. Aku berharap kilas masa lalu bisa bertahan dulu sejenak sampai aku menginjakkan kaki di ruangan itu. Sosok itu benar terlihat di sana.


“Pa,” aku mengintip masuk di pintu yang terbuka lebar.


“Hmm?”


Pria ini duduk di ranjangnya. Dengan kotak P3K di sampingnya. Ia sibuk mengobati... Mereka, sungguh?!


“Tolong papa obati yang di belakang,” dia menyerahkan salep obat oles.


Aku mendekatinya. Meletakkan tas ranselku di sudut ranjangnya. Botolan obat oles itu kuraih. Duduk di ujung ranjang yang sama menghadap papa yang membelakangiku.


Harus aku tanyakan, “Kenapa dia di sini?”


“Rasyi kenal?”


“Pa, Rasyi takut...,” aku tidak bisa menghentikan ujung jariku yang bergetar hebat meski masih mengobati lukanya, “Dia juga yang telepon iseng papa kan?”


Tolong. Aku mohon jangan diam seperti itu. Jawab aku, kumohon.


“Well,” papa membalikkan tubuhnya menatapku, “Dia cuma melakukan hal yang menarik.”


Apa dia pikir melakukan ini dengan penjahat sebagai hal yang menarik?! Lelucon yang tidak lucu!


“Papa! Rasyi serius!!”


Tingkah apapun yang mereka lakukan. Menarik perhatian atau apapun itu. Fakta kalau dia di sini sudah bukan hal yang baik.


Kalau benar wanita ini adalah kenalan papa sejak ia kecil, berarti ia benar salah satu bawahan kakek.


Namun seharusnya semua orang itu sudah dipidana.


Mereka tidak mungkin berkeliaran bebas apalagi keluar masuk dengan santai ke rumahku.


Ditambah fakta kalau wanita inilah yang mengundang papa sampai hilang satu bulan....


Jangan. Jangan terulang lagi. Aku mohon!


“Rasyi,” tangannya mengelus rambutku, “Ini tidak seburuk yang Rasyi pikir. Percaya sama papa.”


“Tapi kenapa dia....”


“Itu cuma hal pribadi. Dia... terobsesi. Sama papa sejak kecil.”


Apa maksudnya?! “Bukannya itu tambah buruk?!”


Dia tersenyum menahan tawa, “Itu candaan mereka.”


“Bukan candaan buat Rasyi!”


Dia tidak terlihat frustasi atau apapun. Kenapa dia tidak khawatir dengan kenyataan ini?


Jangan bilang..., “Papa senang sama candaannya?” jika saja kalau pertanyaan menyindirku malah dijawab iya, aku akan... Aaargh!


Papa..., tertawa. Tertawa?!


Dia melirik ke arahku dengan senyumnya dan berdiri, pergi....


...


...


...

__ADS_1


???!!!!


__ADS_2