Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#61 Sebelum Istirahat


__ADS_3

“Mau dibuatkan teh, tuan?”


“Tolong yang camomile,” aku melepas jaketku. Gantung langsung di kaitannya.


Capai sekali. Rasanya aku ingin berbaring. Akan tetapi, penderita amnesia sulit tidur berapa kali pun mencoba.


Dua hari tidak tidur. Jangan sampai lebih parah lagi. Harus aku paksa sedikit.


Sebelum itu, “Rasyi dimana?”


“Belajar tuh, di kamar.”


Tidak tahu tentang itu. Dia pasti segera mengganggu ke kamarku. Banyak yang pasti putri ini mau tanyakan.


Bibi ini masih mendampingi, “Makan dulu atau mandi? Biar saya panasin makan malamnya.”


“Hari ini langsung mandi tidur saja,” kutepuk pelan tekuk leher sendiri.


“Nanti sakit loh, tuan....”


“Iya. Makan sedikit aja atuh.”


Ingat umur kami yang tidak begitu jauh. Mereka sama saja seperti adik-adik perempuan. Cerewet.


Aku harus berterima kasih untuk cerewet mereka.


“Fine. Tolong antarkan oatmeal cookies yang dibuat Rasyi kemarin.”


Sekarang, ke kamar.


Lemas sudah kakiku mengambil satu per satu langkah. Anak tangga yang berat. Keadaan begini, tidak mungkin lagi aku tidak bisa tidur.


Cepat mandi. Lalu tidur cepat.


Sangat disayangkan, malam ini Hendra akan berkunjung.


Melewati dua pintu sampai ke kamar mandi. Tarik handuk yang tergantung dan pergi ke kiri.


Bagian kamar mandi yang basah dengan shower. Aku mengatur perlahan air keluarannya sampai shower itu terasa hangat.


“Huuuh...,” terguyur begini semakin melancarkan nafasku.


Dibilang sangat disayangkan. Padahal aku senang diguyur seperti hujan. Akan tetapi, hari semakin berat. Percepat saja supaya masih ada waktu untuk minum teh.


Keluar dari sisi kamar mandi yang basah ke bagian kering.


Langkahku terhenti. Sadar ada sesuatu yang aneh saat sekilas melihat kaca.


Padahal sudah terlalu lelah untuk meladeni.


“Hah,” terlambat. Sudah kelihatan.


Lagi, lagi. Mukaku seperti terluka. Di samping mulutku. Hingga kelihatan nanah.


Aku dekati kaca itu. Tanganku menadah airnya. Basuh langsung muka. Kuhayati kedipan lebih dalam. Lukanya, bertambah di sisi mataku.


Basuh lagi.


Bertambah lagi di pipi kiriku.


Basuh lagi.


Mataku, membusuk.


Basuh lagi.


Hidungku terus mimisan.


Basuh lagi.


Telingaku seperti mau lepas.


“Haaa...,” menjengkelkan.


Berhenti!


Lagi tatap benda pemantul bayangan diri. Mata semakin capai. Sampai ilusi segala luka itu hilang.


“Harus cepat tidur,” gumamku.


Ilusi buruk. Semua itu terus ulang dan terus berulang. Rangkaian ingatan yang terpancing. Memang sudah biasa, meski aku tidak pernah terbiasa.


Tetap saja, takut.

__ADS_1


Proses setiap mataku melihat lukanya, selalu saja semakin menakutkan.


Lebih cepat. Harus lebih cepat menyelesaikan urusan di sini.


Kamar mandi bisa aku tinggalkan setelah baju lengkap aku kenakan. Teh dan cookies-nya sudah siap. Duduk dulu sebentar⏤


Suara ketuk pintu.


“Papa?” terbuka pintu. Kentara si putri ini.


Aku tetap pergi duduk, “Kenapa?”


“Paman Hendra cari papa.”


Hmm.... putri ini mengalah ternyata. Dia pilih diam saja dan membiarkan Hendra serang dulu hari ini. Padahal mukanya sudah begitu. Kentara ingin tahunya.


“Suruh ke ruangan papa. Nanti papa susul.”


Masih saja. Keingintahuannya selalu menang. Kira-kira apa yang dia pikirkan saat diam di depan pintu?


Aku pancing ke topik lain saja, “Ada yang ganggu Rasyi di sekolah?”


Rasyi terdiam. Tiba-tiba jarinya tunjuk ke aku, “Papa.”


Hoo..?


“Heh,” bikin ketawa saja.


Anak ini selalu susah diprediksi. Biasanya dia menjawab tidak apa.


Masalah kali ini lebih besar mengganggu hatinya.


“Bilang ke paman Hendra sana,” kusudahi saja.


Jelas sekali dia ejek-ejek aku di dalam hatinya. Meski dia tetap pergi mengikuti perkataanku.


Beberapa hisap teh. Satu cookies. Cukup untuk menambah tenaga.


Tinggal tunggu polisi pemarah itu kemari⏤


“Gading!” hari ini banyak sekali yang suka banting pintu. Polisi ini sama saja, “Jangan tunda-tunda lagi! Banyak yang perlu kamu jelasin!”


“Aku ingatkan, ini malam.”


Hendra terdiam. Sekarang dia sadar dia tidak menutup pintu.


Dia tepuk kepala Rasyi, “Kamu balik ke kamar.”


Awalnya Rasyi kelihatan ragu. Rasyi tetap turut saja. Tertutup sudah pintu itu.


Putri ini pasti punya caranya. Mungkin dia akan diam-diam mendengarkan dari kamarnya. Hendra tidak paham kalau potensi itu akan lebih kurang kalau kami bicara di ruang kerjaku.


“Mau apa?” aku mulai bicara.


“Langsung ke inti. Kamu ngapain satu bulan kemarin?”


“Biasa.”


Dia paham saja kalau penjahat-penjahat itu suka kurung aku ke tempat jauh.


Bola matanua berputar, “Mereka ngapain?”


“Biasa.”


Matanya sekarang melotot, “Jawab yang benar.”


Kantuk semakin berat, “Kamu bakal terus jagain Rasyi kan?”


Dia berdiri tak jauh dariku, “Kenapa memang?”


“Kalau gitu, aman,” lagi aku minum teh.


Hangatnya kepul asap. Nyaman dinikmati. Meski Hendra tak senang.


“Selalu begini. Apa susahnya beritahu sih?”


“Tenang, kali ini kamu pahlawannya,” aku ambil satu bulatan cookies. Ulurkan ke polisi ini, “Oatmeal?”


Dia mendorong mundur tanganku, “Maksud?”


“Kamu yang bakal tangkap mereka.”


Sepertinya butuh waktu untuk dia mengerti maksudku. Dia tidak akan menduga ini. Jarang aku gunakan orang ini sebagai jalan keluar.

__ADS_1


“... Hah! Kamu manusia sialan!” dia sudah sadar, “Punya rencana buat tangkap mereka, bos?”


“Kamu jaga Rasyi kan? Kamu bisa cari cela dari sana.”


Polisi tetap saja polisi. Instingnya tajam. Sama seperti tangannya. Kerah kaos bajuku langsung jadi incaran.


“Kamu, tarik mereka ke Rasyi?!” marah dia itu sudah biasa, “Kamu mikirin apa?!”


“Mereka sudah diawasi polisi. Dua tahun. Bersih. Harus dipancing, kan?”


“Kamu tidak dapat apa-apa kemarin?”


“Aku bisa dapat apa dari liburan di resort pribadi?”


Kalah. Lepas sudah genggamannya. Beri ruang aku untuk mengunyah cookie lembut itu.


Garuk kepala sendiri. Hendra tidak ada pilihan selain pusing. Bagaimana pun, dia tetap tidak suka aku pernah membela mereka. Akhirnya mereka susah untuk ditangkap.


Sama dengan Kirana, dia juga kesulitan. Dia harus mundur dari obsesi-nya. Atau dia harus serang dari dalam sarang lawan. Tingkahnya harus dikerjakan di depan polisi yang siaga. Karena dari awal prioritas Hendra adalah Rasyi, bukan aku.


“Bener-bener serius? Mereka itu bahaya.”


Aku kunyah habis satu cookies yang ada di mulut, “Mereka cuma berani bercanda. Kalau nekat, mereka tahu kamu langsung gerak.”


“Gimana kamu bisa yakin?”


Gimana caranya aku jelaskan? “Dunno.*”


Hendra diam sesaat, “Are you crazy?**”


“Dia seharusnya tahu. Kalau dia berani-berani sama Rasyi, aku bakal lebih keras.”


“Kenapa tidak keras sekarang?!”


“Jangan nekat,” ingin kukunyah satu cookies lagi, “Dia sudah ke sini.”


Hmm? Orang ini kaget. Ternyata aku tidak kasih tahu dia. Sekarang polisi ini pasti marah.


“Ngapain?!” matanya melotot.


Gimana caranya aku jelaskan? “Given some kisses?***”


Ya. Dia akan makin marah.


“Ka,” matanya sudah seperti mau keluar, “Kamu kan, pernah cium... Ira.”


Hoo... ternyata dia pikirin itu. Akan tetapi aku tidak perlu jawab. Diam sendiri adalah jawaban.


“Setidaknya,” dia kelihatan lemas, “Kamu bisa tolak Ira. Kan?!”


Bungkuk badanku, berbisik. Sepelan mungkin, “Lucu kamu kira aku tidak begitu. Keduanya. Tidak kasih pilihan. Ada solusi?”


“Aaaargh...!!”


“Overall, it's fun.****”


Dia tampak kebanyakan pikiran dan marah. Tidak ada respon. Meski aku tersenyum jelas.


“Kita bicara lagi nanti!” dia beri aku telunjuk. Pergi.


Heh. Setidaknya aku bisa usir dia. Aku sudah dipenuhi kantuk.


Oh, sebelum itu.


Batuk sedikit. Sengaja untuk memperjelas suara.


Meski aku tidak pernah berteriak sebelumnya, “Rasyi tidur!!”


“AAAA!!!”


Berbagai suara jatuh. Susul teriakan dari ruang sebelah. Rasyi pasti kaget.


Diantarkan tawa kecilku. Aku harus tidur.


_____________________________________________


Mari berbagi pengetahuan~ Inilah bapak-bapak ini bicarakan~


* Entahlah


** Kamu gila?


*** Kasih cium?

__ADS_1


**** Keseluruhannya, asyik.


__ADS_2