
Rasyiqa adalah perempuan termanis yang pernah diri ini kenal. Bukannya memuji diri sendiri. Sebagai Sekar pun aku tidak pernah sebaik ini dengan teman.
Namun Rasyi, putri dokter kaya yang cetar membahana, punya banyak tenaga dan modal untuk membela teman tercinta. Bahkan menjadi detektif gadungan seperti sekarang.
Memata-matai kakak kelas... Buat apa aku melakukan ini?!!
“Pasti mereka tidak benar-benar jadian. Ceweknya pasti penipu! Niatnya pasti jelek!”
Wah. Temanku yang satu ini masih tidak terima kalau dia dikalahkan oleh cewek cantik, yang sudah jelas pacaran dengan si gebetan ini. Mau bagaimana lagi kalau dia kalah start?
Aku pernah dengar cowok yang kami amati dari atas tangga saat ini.
Kakak kelas yang akrab disebut Nafis. Letak kelasnya yang lebih dalam, membuatnya sering kali keluar masuk dari depan kelas kami. Dengan sosoknya yang terkenal, membuatku mudah melihatnya dimana saja.
Suasananya memang seperti cowok idaman. Terdengar segar di telinga setiap kali ia bersuara. Lembut wajah nan mulus sering memamerkan senyumnya. Sekalipun tak pernah tanggung-tanggung setiap kali membantu orang lain.
Wajar kalau memang Firna suka dengannya, tapi....
“Fuuuuh...,” aku menghela nafas, “Tapi masa kita mau mengintai dia begini? Kamu harus belajar terima.”
“Tidak! Tidak akan!!”
Aduh~ “Kalau kamu tidak terima, jadi pelakor sana!”
“Ih, Rasyi! Apaan sih?! Kamu kok tidak belain aku?!”
“Ya tidak mungkin juga kita gangguin hubungan orang yang saling suka,” aku bersandar pada pagar samping kanan tangga, “Kalau ketahuan lagi aneh begini, malah kamu yang dibenci dia loh.”
“Ra~syi~”
“Aku juga tidak bisa apa-apa.”
Serius, Firna.
Dikau sedang menghadap ke arah wanita yang meninggal di umur 25 tahun tanpa melepas status jomblonya sama sekali. Bahkan aku mendapatkan kenyataan gebetanku saat itu adalah ayah dari orang yang aku suka saat ini!
Meski sudah dapat penggantinya, di kehidupanku yang baru enam belas tahun ini, status itu belum lepas. Kurang kejam apa lagi?!
Loh? Aku menunjuk cewek yang sepertinya bertukar sapa dengan si doi, “Itu kan cewek yang di posting-an. Sekolah di sini juga ya?”
“Oh, benar,” Firna kembali diam-diam mengamati kedua orang itu.
Kami terlalu jauh untuk mendengar apa yang mereka berdua katakan bersama dua taman kak Nafis yang bertengger di bangku taman. Apapun itu, scene yang biasa saja ini cukup untuk memanaskan ubun-ubun Firna.
Loh? Mereka berpisah. Sepertinya itu tadi hanya sapaan lewat saja.
“Rasyi, kita ikuti,” Firna berdiri dari duduknya di anak tangga sambil berbisik⏤tunggu.
“Ikuti?!” mengikuti cewek itu maksudnya?!
“Kita ikuti sampai ketemu kesalahan tuh cewek. Pasti ada sisi yang bisa jadi alasan mereka putus!”
Heh?! “Itu namanya pelakor.”
“Udah! Ikut!”
“Auw!” aku tidak berdaya ditarik olehnya pergi dan melanjutkan pergantian target.
Kamu memasuki daerah yang sebenarnya jarang aku datangi. Bukannya tempat tersembunyi, tapi ini daerah kelas orang yang berbeda jurusan.
__ADS_1
Dedaunan dari taman rimbun itu jadi akhir tarikan tangan Firna.
“Fir,” aku merasa kasihan dengan kelakukan Firna yang menyamar menjadi tanaman yang tumbuh tegak menutupi tempat ini dengan letak di cewek.
“Sst! Kita amati dia.”
Aku menduduki kursi taman dua orang alih-alih duduk di semen-an kecil untuk mengurung tanah tanaman, seperti yang dilakukan Firna. Mengamatinya kecil walau hadap duduk berseberangan dengan arah cewek ini.
Tidak ada yang salah. Dia hanya berkumpul dengan teman-temannya di depan sebuah kelas yang ramai. Bisa ditebak kalau itulah kelasnya.
Jadi dia jurusan bahasa~ Pantas saja aku tidak pernah melihatnya. Sekolah ini dengan hebatnya membedakan gedung IPS, IPA dan Bahasa. Akhirnya, walau kami satu sekolah dan jarak gedung juga hanya koridor dan taman kecil, kami serasa tidak bisa sedekat sekolah biasa.
Diskriminasi lembut ya....
“Aku yakin dia muka dua. Di belakang, dia pasti melakukan hal aneh yang jahat.”
Maksudku, hal aneh apa yang ia pikirkan akan orang lain padahal jelas-jelas dia juga bertingkah aneh.
Bisa saja ya dia cari-cari alasan untuk tidak patah hati. Kalau aku sudah jadi dia, aku sudah mengibarkan bendera putih.
Jadi teringat masa gebetannya Sekar memberikan undangan pernikahan dengan senyum cerah. Malam buruk yang tidak menyenangkan. Itu juga jadi malam kematianku! Iih!! Kutukan mengerikan!
Tidak apa. Gebetan tidak dapat, anaknya pun jadi.
Lah, kok aku ikutan aneh?
Aku harus menghentikan tingkah Firna sebelum menggila.
“Firna, balik yuk.”
Dia menatapku tajam, “Aku tidak main-main, Rasyi. Dia harus menyesal merebut kak Nafis dariku!”
“Kelas sepuluh tapi macam-macam! Cih!”
Oh, dia adik kelas? Namun bukan berarti mereka orang jahat. Kalau berpikir adik kelas semuanya jahat, itu berarti aku yang seumuran juga jahat dong!
Eh?!
“Tuh! Tuh kan!!” Firna menunjuk di balik tanaman rimbun.
Firna benar dong. Aku juga melihat dengan jelas dia seenaknya menendang kucing dengan wajah jijik.
Kenapa keberadaan adik kelas sangat mengganggu belakangan ini. Seperti si kembar⏤
“Lagi apa?”
“AAA!!”
“Stop! Aku tidak ada takut-takutin! Jangan tonjok!”
Bisikan di kananku tadi.... Mereka... Panjang umur.
“Intilin siapa sih?” Saga berusaha menggerakkan kepalanya ke sana kemari mencari cela dari balik banyak tanaman, “Oh, dia. Dia ngapain lagi?”
Lagi?
Kejut kedua kalinya jantungku melihat Firna berdiri tanpa aba-aba, “Kalian kenal?”
“Caca?” Vian tampaknya lebih mengutamakan kakinya dan mengambil duduk di sampingku, “Tahu saja. Satu SMP tapi tidak kenal banget juga.”
__ADS_1
“Kami lebih kenal sama mantannya,” lanjut Saga.
Firna mendekat, “Terus, terus, kok bisa putus?”
Vian mengangkat bahu, “Mana paham. Kami cuma tahu mereka kelahi.”
“Kenapa emang?” Saga memandangku berharap jawaban.
Aku menghela nafas, “Si Caca ini rebut gebetannya Firna. Biasa, gak rela. Sampai niatnya mau bikin putus.”
“Rasyi!”
Kenapa, Firna-ku yang manis? Tidak ada gunanya merahasiakannya. Kelakuan kita sudah terlalu aneh.
Loh? Aku salah lihat atau apa? Si kembar ini matanya malah berbinar-binar seperti menemukan mainan baru.
Mainan baru?
Itu dia!!
Aku bisa mengalihkan kerusuhan mereka ke sesuatu yang lebih bermanfaat.
Istilahnya itu seperti, daripada membiarkan mereka merusak tempat, lebih baik mengajak mereka jadi kuli bangunan supaya dapat uang. Hmm, benar! Gambaran itu bagus untuk dikhayalkan.
“Kalian lebih tahu dia daripada kami kan?” aku memandang ke arah dua buldoser itu, “Aku bisa dong minta tolong kalian?”
Kedua orang ini saling memandang satu sama lain. Layaknya berpikir sambil bertelepati.
“Teruskan...,” Saga menyipitkan matanya yang masih terlihat semangatnya.
Firna tampak panik, “Rasyi, kamu tidak minta bantu mereka tentang ini kan⏤”
“Sst! Aku tidak sudi dapat julukan penguntit yang kurang kerjaan. Lebih baik si kembar saja. Tuh mereka beginian juga tidak aneh,” aku menarik dalam kedua alisku di tengah.
“Jadi kami disuruh menguntit si Caca?”
“Tidak harus juga sih. Yang penting kalian cari hal yang bisa jadi masalah buat gebetannya Firna. Dia pacaran sama kak Nafis, itu saja yang aku tahu. Oh!” benar juga! “Firna kan sahabat penanya di forum itu. Cari-cari juga dari sana bisa.”
“Kalau tidak mau, gimana?” sudah aku duga Saga pasti mengatakan itu.
Kupandang satu dari si kembar yang duduk di sampingku, “Vian?”
“Boleh saja sih. Tuh aku bosan.”
Aku tersenyum, “Vian saja kalau begitu~”
“Iya iya, aku bantuin. Tapi kamu hutang satu toples kue,” Saga malah memperluas bahasan.
Namun itu lebih baik daripada aku diseret masalah pacaran dan pelakor. Ditambah lagi si kembar ada kerjaan sekarang. Itu bayaran yang murah.
“Deal!”
“Rasyi! Kamu kok percaya banget sama mereka?!” Firna masih saja mengeluh.
Kutepuk punggung Firna, “Percayalah. Kamu tahu saja kan seberantakan apa bekas kelakuan mereka? Bisa bikin putus dengan mudah.”
“Hei!” Saga sepertinya tersindir.
“Itu pujian,” aku tersenyum pada mereka, “Aku serahkan pada kalian~”
__ADS_1