Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#123 Gemuruh Ombak


__ADS_3

“Tolong! Ada yang jatuh!”


“Ya tuhan!”


Apa yang sudah aku lakukan?


Tepukan di pundak dan suara yang familiar itu sudah tidak berarti lagi, “Ras! Aku pergi panggil papamu!”


Baru saja. Apa yang terjadi?


“Pelampung!”


“Cepat cepat cepat!!”


(“Kamu tidak begitu berguna.”)


Aku....


Fares... Aku....


“Di mana yang tenggelam?!”


“Astaga, dia sudah hanyut kah?”


(“Jadilah berguna sedikit saja.”)


(“Tatapan yang lumayan.”)


Aku...


Aku harus bernafas.


(“Aku tidak suka itu.”)


“Kenapa?”


“Ada yang tenggelam.”


(“Aaargh!”)


“Didorong dia ya?”


(“Duduk!”)


(“Aku tidak bicara denganmu, Gading! Anakmu yang jadi masalah sekarang.”)


(“Kamu masih berani di depanku ya?”)


(“Rasyiqa!”)


(“Rasyiqa pasti menurut ke kakek kan?”)


(“Rasyiqa!”)


(“Rasyiqa!”)


(“Rasyiqa!”)


“Rasyi!”


Tepukan keras membuat pipiku sakit. Aku terambang-ambang dengan pikiran dan nafas yang tak tentu. Namun mataku tak bisa menghilangkan pemandangan laut yang menggemuruh itu.


“Rasyi, kita pergi.”


Fares... ada di....


(“Rasyiqa, sayang~”)


(“Rasyiqa tegang sekali~ Santai dong dengan kakek.”)


(“Rasyiqa!”)


“Rasyi! Dengarkan papa!”


Aku....


Pandanganku bergoyang. Seakan aku dipindahkan begitu saja. Wajah yang familiar itu sangat dekat.


“Lepas,” aku ingin turun.


Turunkan aku.


Keributan yang menggema di setiap sisinya. Namun mataku tidak bisa melepaskan gambaran lautan itu meski sekarang aku tidak sedang melihatnya.


Mengapa aku menjauh dari pelabuhan?


(“Ayo kita pulang.”)


(“Nah, ayo masuk.”)


“Rasyi!”


(“Rasyiqa!”)


(“Rasyiqa!”)


“Rasyi! Lihat papa!”


Kenapa suaranya... bergetar?

__ADS_1


Aku...


Aku....


“Papa...,” aku merasakan diriku memeluk seseorang.


“Papa di sini. Bernafas, Rasyi.”


Aku mendengarnya. Merasakan pelukannya. Walau dia bicara untuk membuatku tenang, tapi ia terasa tak tenang sedikit pun. Layaknya ketakutan terbesarnya sedang menekan pundaknya.


Sentuh hangat itu melepaskan pelukannya dan menahan wajahku. Matanya yang gelap menghitam itu tampak tidak bisa berhenti bergetar. Namun ia tidak lelah mengelus kepalaku.


Tersadar aku akan pemandangan sekitar. Aku sudah ada di pesisir pantai. Rakitan kayu kursi pantai itu sudah menunjukkan dengan jelas keramaian di pelabuhan.


Kugenggam jaket papa yang masih tidak tertutup itu, “Fares, di mana?”


“Bernafas dulu yang benar,” papa menghangatkan jari jemariku.


Mustahil. Alur nafas tidak mungkin bisa tenang dalam krisis seperti ini.


“Fares, pa, Fares....”


Dia memelukku lagi, “Iya, papa tahu. Rasyi tenang saja dulu. Hmm?”


Kudorong dia sekuat yang aku bisa. Tidak bisa dan tidak mau aku mengikuti perkataannya.


Fares jatuh dari pelabuhan! Di deras ombak seperti ini! Bagaimana bisa aku hanya duduk santai dan tidak melakukan apapun?!


Aku harus ke sana!


“Rasyi, dengarkan papa. Tidak bakal bagus juga kalau Rasyi gini. Tenang dulu sebentar,” suaranya tidak berhenti bergetar.


“Fares tenggelam!”


“Iya, semuanya lagi bantu di sana. Tapi Rasyi juga jangan panik.”


“Gimana caranya tidak panik?! Fares tenggelam!!”


“Rasyi!”


“Fares! Di mana Fares?! Aku harus ke sana!!”


Tidak terbendung lagi air mataku. Namun tidak terlepaskan lagi pelukan yang menahanku itu. Suara ombak yang menderu itu semakin menenggelamkanku akan pikiran yang menjadi-jadi. Jeritanku semakin tidak terdengar layaknya ditutup suara kerumunan yang semakin pecah. 


Hingga di titik aku tidak berhasil melakukan apapun selain duduk di ujung kursi panjang. Papa tidak melepaskan pelukannya meski ia harus duduk di sampingku.


Ia membenamkan wajahku dan tangisku tidak berhenti meski membasahi pria ini.


Aku tidak bisa berhenti takut.


“Rizki!”


Tiba-tiba aku dibawa berdiri. Gendang telingaku menangkap kerumunan yang semakin dekat. Membuatku menatap ke arah kursi pantai yang sudah berjarak denganku berdiri.


Langsung aku lepas pelukanku, “Fares!”


Kudekati seseorang yang terbaring di kursi itu. Menahan pundaknya berharap ia bangun dengan panggilanku. Namun wajahnya... pucat.


“Mundur dulu,” suara papa menarik pundakku.


“Fares, pa, Fares!!”


Tangan seseorang kekar menarikku pergi, “Papamu periksa dulu. Ayo sini.”


“Fares!”


Berapa kalipun aku berteriak, pria itu tidak bergerak. Sampai wajahnya harus tertutup dengan papa yang memeriksanya. Tahanan dari tangan Hendra tidak terlepas walau aku berontak. Ia bahkan menggenggam lengan atasku lebih kuat.


“Lepas...,” lutut ini lemas.


Aku hanya ingin menggenggamnya.


“Tolong, lepas....”


Fares.


(“Aargh!”)


Fares....


(“Cepat kabur.”)


(“Kalian lucu ya~”)


(“Aargh gah!”)


(“Gak mungkin, Rasyiqa~”)


Aku mohon....


(“Lari sekarang.”)


Jagad....


(“Ii gah!!”)


(“Iya, Rasyiqa. Cepat lari,”)


(“Biar... yang urus ....”)

__ADS_1


(“Keluar ke arah sana!”)


(“Rasyiqa!”)


(“Rasyiqa!”)


(“Rasyiqa!”)


“Uhuk! Huk!”


Heh?


“Rasyi!”


Yang di depanku... Hendra?


“Sudah. Kak Fares tidak kenapa-napa,” Firna?


“Uhuk!”


Fares... bergerak. Dia bergerak.


Air mataku tidak bisa mengalir lebih deras dari ini. Pelukan hangat dari teman perempuanku tidak membiarkan aku sendiri.


Kelegaan yang tidak tergambarkan meski tubuhku bergetar sangat jelas. Namun, nafasku jelas mulai tenang.


Lambat laun orang-orang yang bergemuruh semakin sepi. Ketertarikan mereka sudah memudar, membiarkan pemeran utama untuk istirahat. Meski tidak di depan mataku, aku bisa merasakan ketenangan dari orang-orang yang aku kenal ini. 


Hingga sampai di mana orang-orang ini memilih pergi ke penginapan terdekat.


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


Tik tok tik tok.


Aku tidak pernah menyangka suara itu sangat keras di kepalaku. Mungkin karena aku hanya duduk di bawah sini tanpa melakukan apapun. Selain memandang pria yang tertidur nyenyak ini.


Ruangan hangat. Di salah satu rumah warga sekitar yang memang berniat menyewakan kamar.


Pintu yang terbuka, dan aku di sampingnya. Meski tidak dekat, aku bisa melihat dengan jelas tidur sang pria ini.


Selimut?


“Tidak tidur dulu?” Sari duduk di lantai denganku, “Nanti sore kita langsung pulang.”


Aku memandangnya, “Gimana kak Fares?”


“Kak Fares kan sudah tidak papa, sayang. Mending istirahat di rumah kan?”


Tidak salah sih. Namun....


Papa memang berhasil membangunkan Fares. Dan semuanya baik menurutnya. Akan tetapi fakta dia hampir terseret dan terbentur pondasi pelabuhan berkali-kali. Ombak ganas itu hampir merenggut Fares dari kami.


Kusembunyikan wajahku di antara lutut yang aku peluk, “Apa tidak lebih baik bawa kak Fares ke rumah sakit?”


“Dia tidak apa.”


Suara yang sudah biasa itu kupandangi.


“Kak. Hendra manggil,” papa duduk di sampingku.


Sari memainkan sedikit rambutku, “Tolong jaga Fares, ya?” setelahnya pintu itu ia lewati.


Jaga? Ha ha, yang membuatnya tenggelam kan aku. Aku....


(“Rasyi, jangan tarik kakak.”)


(“Tapi kakak jangan ke mana-mana dulu!”)


(“Rasyi.”)


Aku... karena aku.... Fares jatuh karena aku. Terlalu bodoh, bertingkah seperti anak-anak. Bodoh.


Papa menepuk kepalaku, “Papa tidak tahu ada apa sampai jadi gini. Tapi tidak ada yang salahkan Rasyi.”


Cara yang aneh untuk menghiburku.


Ia menatapiku, “Takut apa? Fares bakal marah? Papa marahin balik.”


Aku tersenyum nan semu. Ini tidak membantu sama sekali. Sepertinya memang akan lebih baik kalau aku pergi.


Berdiri aku dari dudukku, “Rasyi keluar aja deh.”


Hmm? Papa? Kenapa dia menahan tanganku?


“Tidur.”


Heh?


“Aaa!” terkejut aku setelah tarikan yang tiba-tiba itu.


Terdiam setelah papa memilih membuatku duduk dan bersandar di pundaknya.


“Badan Rasyi panas. Sadar? Papa tahu Rasyi tidak peduli. Tapi papa peduli. Tidur dulu sebentar,” papa menahan kepalaku.


“Tapi....”


“Rasyi,” dia menarik wajahku sehingga aku bisa memandangnya, “Percaya sama papa. Fares tidak papa. Tidak ada yang salahkan Rasyi. Kalau tidak, papa bikin semua jadi begitu.”


Aku....

__ADS_1


Papa membuat posisi kepalaku semakin nyaman terbaring di pangkuannya, “Sekarang tidur. Papa yang bakal marah kalau Rasyi makin sakit.”


Ya, perlu aku akui, aku memang merasa pusing.


__ADS_2