
Wow. Suasana cukup canggung ya.
Tanda-tanda dari dua orang ini bilang kalau mereka tidak punya keinginan untuk bertengkar. Memang. Namun... masih beku ya?
Lelah sekali.
Sebentar lagi, bapak supirku sampai. Jadi, jangan berkelahi, setidaknya di depan wajahku. Oke?
“Masih?” Firna berbisik.
Aku ikut berbisik, “Kayaknya.”
“Terus gimana?”
Mataku menatap Firna. Hatiku mengatakan dia merasa terganggu atas apa yang terjadi pada Saga. Kurasa tidak ada sakitnya membantu sedikit.
Namun aku harus tahu sekitarku. Bertanya dulu dengan memastikan tidak ada pertumpahan darah.
Kembali aku berbisik pada Firna, “Kamu ajak Saga ke mana kek situ....”
“HAAAA?!”
Aaa... Fir. Jangan teriak dong. Seluruh taman mendengarmu.
“Buset, apaan?!” Saga tampak terkejut juga.
Firna ikutan canggung. Lalu akhirnya menempel padaku, “Kamu apa, kamu maunya?” bisik Firna terbalik-balik.
Nih anak deh, pikirannya pasti aneh.
Berbisik aku lebih pelan, “Ajak ngobrol aja. Biar tenang dikit. Aku urus Vian, kamu Saga.”
Firna terdiam. Dia tampak masih ragu.
“Udah sana!” aku berbicara kencang. “Belikan minuman! Haus! Sag, temenin Firna!”
“Ya udah...,” Saga masih kebingungan, tapi dia berdiri, “Yok, Firna⏤aa!”
“Aaa!”
Ehem...
Cie~ Kenapa kok mereka jadi seperti itu~?
Firna memang duduk di samping Saga di meja bundar ini. Jadi bisa saja, saat mereka berdiri bersamaan, mereka malah jadi berdiri sedekat itu. Firna yang memilih berdiri di sisi kiri, dan Saga memilih sisi kanan kursi.
Malah kelihatannya hampir tertabrak seperti itu.
Cie~
Ayo pecahkan keromantisan mereka, “Aku jus mangga ya, thanks~”
“Aa, auf, ap, iya,” Firna dengan canggungnya menjauh dari Saga.
Saga memalingkan wajahnya, “Vin mau apa?”
Vian sesaat terdiam, “Jeruk peras.”
“Okay,” Saga melangkah duluan, “Yok Fir.”
“I, iya,” dengan langkah di belakang Saga, Firna sempat menatapku tajam.
Dengan senangnya, aku melambai kecil ke Firna. Asyik juga menggodanya seperti ini. Bisa aku lakukan sering-sering kali ya? Hihihihi.
“Kalian bisikin apa?” Vian tiba-tiba mengajakku bicara, “Kak Firna sampai heboh banget.”
Hmmm..., aku kedipkan sebelah mataku, “Biar PDKT, hihihi.”
Dia kebingungan sesaat. Kurang dari lima detik, aku bisa mendengarkan tertawa.
“Bisa aja mikir gitu,” Vian masih tertawa.
Yah, untunglah dia masih bisa melonggarkan bahunya yang tegang. Dengan begini, aku bisa membawanya ke bahasan yang mungkin tidak nyaman baginya. Namun aku harus pelan-pelan.
__ADS_1
“You OK? With Saga?” aku mencoba bicara selembut mungkin.
Tawanya hilang. Setidaknya matanya tidak menunjukkan amarah.
Jari jemari yang masih sibuk di buku tugasnya, memilih untuk menutupnya dan mengerjakannya lagi nanti. Aku merasa ia ingin membicarakan sesuatu.
“Aku pernah bicarain tentang Riri ke kamu kan?” dia sungguh ingin membicarakan itu padaku?
Rasanya ragu, tapi aku harus mendengarkan kalau dia butuh telinga untuk bercerita, “Iya...?”
“..., aku jadi tidak nyaman dengannya.”
Dia? Tidak nyaman dengan Riri maksudnya?
Sendu di tatapan yang terbuang dari arahku, “Aku, Saga, pernah bertengkar lebih parah dari ini, hanya untuk Riri. Tidak beda jauh tentang kamu,” ia memandangku.
Kalau seperti itu, memang sulit sih.
“Dan setelah itu dia pindah gitu aja. Ya, berarti udah tamat,” tampak sekilas giginya mengetuk kuku-kuku tangannya ke meja, “Tapi dia balik lagi. Belum ngomong sama dia saja aku sudah ngajak Saga kelahi.”
Apa aku harus berpendapat? Pendapatku..., “Tapi kak... kak Clarissa tidak ada berniat bikin kalian kelahi kan...?”
“Terus aku harus salahkan siapa?!”
...
Mulutku terbuka, “Memang harus ada yang disalahkan?”
Vian tidak menjawab.
Tidak aku tahu harus membawanya ke mana. Ini urusan mereka. Dan benar aku tidak ada urusan akan hal ini.
Namun, Vin, aku tahu kalau kamu masih punya rasa pada Clarissa. Kamu hanya bingung.
Lalu aku bisa memberikan saran apa?
“Rasyi,” suara Vian bergema di depanku, “Kamu selalu bisa kabur kalau itu menyakitkan. Aku sama saja.”
Dia, bilang apa?
Terdiam.
Selayaknya dia membicarakan akulah yang menginspirasinya. Layaknya yang aku lakukan adalah kabur dan kabur.
“Akan aku katakan selembut mungkin,” tahan, jangan marah, “Tidak mampu, atau mau. Dua hal itu berbeda. Jangan samakan aku dengan kamu.”
Tertegun. Kami sungguh dibuat tegang di keadaan yang seharusnya aku buat tenang.
“Kamu kan tinggal bilang saja ke Clarissa. Bukan aku, yang harus...,” melawan kematianku sendiri.
Huuuh, ini merepotkan. Lebih baik aku pergi dan tidak meladeni omongannya.
“Aku pulang saja,” aku bereskan barang-barangku.
Fungsinya apa aku berdiam di sini? Menambah amarah untuk diriku sendiri?
Berdiri aku dari dudukku membawa ranselku, “Aku titip sorry ke Firna,” Hmm?
“Maaf. Aku kelewatan,” terlihat tangan Vian menahan tanganku untuk menjauh dari meja, “Tolong jangan marah.”
Aku terdiam. Menghela nafas, tidak habis pikir. Semuanya kacau hanya dengan emosi yang naik sedikit.
Kepalaku benar-benar tidak menemukan apa yang harus dijalankan.
Perlahan kutarik tanganku dan kembali duduk. Ribut seperti ini saja sudah membuatku lelah.
“Lalu? Kamu masih mau marah-marah seperti itu?” aku masih enggan bicara dengannya.
Kami diam.
Aku tidak bisa melakukan apapun selain menatap ke arah lain.
Padahal aku ingin membantu melelehkan suasananya. Yang jadi malah aku ikut marah.
__ADS_1
“Rasyiqa~” hmm? Ada orang? “Hai~”
Yah, nih Riri, datang pada saat yang tidak tepat sekali... kenapa dia ada di sini?! Ini kan sekolah orang, bukannya kebun binatang!
“Eh, Vian..., kok berdua... an...?” wajah Riri terlihat canggung.
Vian, berdiri? “Maaf, aku lagi tidak mau ngomong.”
Heh?
Clarissa menghentikan Vian yang ingin pergi dengan menghalangi jalannya, “Vin⏤”
Vian dengan tidak peduli. Berjalan seperti itu saja.
Capai sekali. Aku tidak ada tenaga untuk simpati dengan keadaan kacau mereka. Dia saja tidak ada niat mengikuti kalau aku beri saran.
“Aku gak paham kalo kamu marah-marah aja kayak gitu. Bilangin dong salahnya apa!” Riri secepat mungkin menghalangi lagi jalan Vian.
Vian terdiam sesaat. Aku tidak bisa mereka-reka apa yang ia pikirkan di baik punggungnya.
“Iya deh, maaf,” Vian memandang si Riri, “Seharusnya aku tidak ngurusin kamu lagi.”
“Apaan sih, Vin?! Gak jelas deh!”
“Terserah!” Vian pergi?
Huuuh....! Kacau sekali!!
Seharusnya aku yang pergi, kenapa kamu yang malah kabur?! Lihat! Clarissa malah menangis! Mena...? Iiih... bagaimana ini jadinya?
Aku berdiri dan menepuk pundak Clarissa, “Kami baru bertengkar sedikit tadi. Dia paling masih marah.”
Wanita ini sedikit terkejut. Secepatnya tangan itu menyeka air matanya, “Maaf, aku jadi bikin ribut,” dia menghadap ke arahku, “Kami survei sebentar buat sosialisasi kelas dua belas minggu depan.”
Hmm... merepotkan juga.
“Sebenarnya aku tahu kenapa Vian marah,” Clarissa tiba-tiba bicara, “Looks like, aku tidak punya kesempatan lagi.”
Eh?
“Sudah lama, aku jatuh cinta sama Vian.”
Heh?!
Kami terdiam.
Apa tujuannya untuk menceritakannya tiba-tiba seperti ini? Ceritanya ke aku? Bukannya meluruskan apa yang kusut, itu semakin tambah menggumpal!
Hmm? Tapi kan....
“Vian juga suka kakak kok.”
...
Wow, apakah mulutku boleh mengatakannya seperti itu saja?
Yah, yang aku lihat Clarissa hanya terkejut sih. Kita lanjutkan saja mungkin ya?
“Kejar aja dulu,” aku melanjutkannya, “Vian itu bukan orang yang suka jujur. Kakak yang harus mulai dong?”
Seperti kata papa. Kalau orang itu pasif, kita yang harus memulainya. Ini kasus yang sama, kan?
“Iya,” Clarissa, tersenyum⏤dan berlari pergi?! “Aku kejar!”
Aku menghela nafas. Orang-orang selalu saja seperti terburu waktu ya?
“Rasyi~” dan Firna tampaknya sudah kembali.
Saga mengikuti dengan berbagai minuman, “Loh? Vian ke mana?”
Hmm..., aku tahu perasaan Vian terhadap Clarissa, tapi kalau Saga....
“Ada urusan sama teman katanya,” aku tersenyum ke arah mereka, “Btw, kalian sudah siapin apa aja ke pantai nanti~?”
__ADS_1
“Ye, masing bulan depan juga,” Saga tertawa.
“Kan itu seminggu lagi~”