
“Aku kangen liburan....”
Perempuan ini tidak lain sedang mengutarakan teriakan para murid yang tidak puas dengan sepuluh hari libur panjang. Walaupun kami masih bebas menonton marathon drama karena sekolah masih belum terlalu aktif.
Bukannya aku tidak paham sih. Aku pun, yang sudah pernah mencapai satu kali masa dewasa, tidak bisa melepas nyamannya liburan.
“Kesal banget! Masa si cowoknya begitu sih?!”
Dan perempuan ini sedang protes, bukan dengan kehidupannya, tapi tentang drama yang kami tonton melalui ponselku.
Kuambil sesendok buah yang dibuat menjadi salad manis didampingi minuman segar. Menggerakan bola mata mengikuti setiap kata yang diterjemahkan dalam putaran drama luar negeri itu.
“Bosan,” jalan cerita drama yang ini tidak mengena di hatiku.
“Iya ya. Liburan kemarin kamu sama Harun tidak ada kencan.”
“Heh?! Kena⏤?!” ke, ke ke ke kenapa dia tiba-tiba melantur ke arah sana?! “Apa hubungannya?!”
Dia tertawa sambil melirik ke arahku, “Soalnya kamu sama Harun selalu drama. Kadang asyik saja dilihat.”
Kesal aku tak bisa mencari kata. Memang kami sering kali penuh drama.
Aku mengunyah potongan buah anggur dengan gugup. Memalingkan wajahku yang memanas dari teman yang tidak memikirkan dampak dari pertanyaan tak karuannya itu.
“Kapan jadiannya? Jangan bilang suka-suka doang~”
Cewek ini kenapa jadi menggodai aku sih?! “Kita senasib dong!”
“Jangan marah~ Hehehe!”
“Beneran, tahu! Firna kan harus cari gebetan yang benar biar tidak drama~! Kayak si lele amis itu!” aku mengamuk tidak mau kalah.
Loh?
Kok diam? Biasanya kalau kami mulai seperti ini, dia akan mengikuti alur dan mengomel ‘tidak, tidak, tidak!’
Wajah Firna, heh?!
Em... berikan aku lima detik untuk berpikir. Tadi aku membahas tentang mencari gebetan baru yang benar⏤
Aku membanting wajahku ke arahnya, “Kamu sudah dapat gebetan baru?!”
“Berisik!”
Kudekatkan duduk dengan teman sebangkuku ini, “Siapa? Siapa?!”
“Enak saja! Kalau kamu tahu, yang ada Saga ikut-ikutan!”
Memang sih, tapi, “Kalau ternyata orangnya kayak si lele, mana bisa aku tidak ikut campur!”
“Tidak mau!!”
“Fiiiirnaaa!!”
“Tidak, tidak, tidak!”
Hmm? Ada seseorang yang mendekat di sampingku. Siapa⏤Harun?
Dia tersenyum seperti biasa, tapi kenapa dia bersandar di kursiku tidak seperti biasa?! Kursinya sudah bertengger di sampingku. Ia dengan santai menyandar di kursiku seperti tidak ada orang sama sekali di radius satu kilometer.
Bukannya ini terlalu dekat?!
“Dramanya~” temanku ini masih saja melanjutkan percakapan kami.
“Firna!”
“Tidak usah pikirin aku,” Harun menegakkan dan memampang tubuhnya. Dengan lipatan tangan disangkutkan di atas sandaran kursi milikku, “Aku cuma mau duduk di sini.”
Harun, aku tahu kamu manis. Namun aku tidak tahan kalau semanis ini!! Kita kan belum pacaran atau semacamnya!
__ADS_1
Di saat seperti ini aku sungguh bersyukur seluruh kelas sudah terbiasa dengan tingkah Harun. Namun, sama saja! Mereka sesekali melihat juga kan?!
“Harun!” Firna, kamu pasti senang karena keluar dari pembicaraan kita kan?!
“Ya?”
“Kapan tembak Rasyi?”
A?! AAAAAA?! FIRNA!
Bahkan aku tidak berani melihat muka Harun yang pada dasarnya dekat di belakang kiriku. Namun aku sudah bisa mendengar Harun tertawa kalem.
“Itu kan rahasia. Gimana surprise-nya kalau aku kasih tahu sekarang?”
Aaaaaaaaaa!!!
Ketawa saja ya kamu, Firna! Senang kamu kerjain aku, ya?ll
“Fir, Firna harus cari... itu! gebetan yang benar!!” Aaaa! Ini semua karena Firna, akhirnya aku malah membahas lagi yang sudah lewat jauh!
“Salah tingkah kok bahas itu lagi sih?!”
“Kamu sudah punya gebetan baru?!” aku marah atau malu sih?
Mungkin lebih tepat, malu-maluin!
Wajahku panas sekali!
Aku tahu kok aku selalu drama dengan Harun. Dan seharusnya aku protes dengan kami yang tidak pernah punya hubungan yang lebih maju.
Namun aku saja sudah salah tingkah dengan hal seperti ini! Bagaimana jadinya kalau aku dan Harun pacaran?!
“Loh, Rasyi?”
Harun?
Kupandang lelaki ini. Ternyata benar rambutku sedang dimainkan olehnya!
Eh? Eh?! Kok Harun bisa sadar.
Maksudku, bukannya aku meremehkan otak Harun yang memang encer. Namun, ini karena kemarin aku ke salon hanya untuk memotong pinggir rambut dan memberi nutrisi sedikit. Bukan suatu perubahan besar.
“Aku cuma rapikan saja. Paling dipotong satu senti....”
Dia, tersenyum? “Tetap saja dipotong kan?”
Ya, ya ya ya benar sih...!
Sungguh! Panjangnya hari ini, aku dibuat terus berdebar-debar! Harun terasa semakin dekat dan manja padaku.
Aku tidak yakin apa ini ada hubungannya dengan libur panjang dengan tanpa menghabiskan waktu selain hari h ulang tahun papa. Kami hanya tidak saling bertemu selama sekitar lima hari.
Namun Harun terasa semakin melekat denganku. Padahal dari jam pertama pelajaran kami sudah saling tukar kabar.
Ini sudah jam pulang loh~
Harun kembali memainkan rambutku, “Taman yang kemarin gimana?”
Oh. Akhirnya dia mengingatkan aku akan jalan-jalan itu.
“Ramai tidak? Aku rencananya mau jalan ke sana minggu depan.”
Itu tidak menyenangkan. Pasalnya di sisa waktu aku bersenang-senang di sana, aku malah sibuk berpikir.
Seberapa aku mencoba bilang kalau semua tidak apa, aku selalu kembali mengingatnya. Kembali terganggu. Aku selalu percaya Fares tidak akan berdebat besar denganku. Namun, aku tetap takut.
Mungkinkah dia marah denganku akan sesuatu?
“Rasyi?”
__ADS_1
Ada panggilan masuk?
Perlahan aku ambil ponsel itu dan mengangkatnya, “Halo?”
[“Papa sudah di depan.”]
Tersenyum aku pada Harun, “Aku duluan pulang ya?” mengangkat tas meski tanganku masih sibuk menahan ponsel yang terhubung di panggilan.
“Kita, tidak jadi makan ice cream bareng?” wajah Harun tampak sedih.
Oh, aku lupa tentang itu.
[“Hari ini kita visit pak Urman.”]
Aa, aku lebih tidak bisa membantah papa kalau yang itu.
Senyum sendu aku menatap Harun, “Maaf Harun. Lain kali ya? Aku harus kunjungan.”
Duh, dia menatapku dengan sangat sedih. Mau bagaimana lagi kan?
“Kalau gitu yuk, ke parkiran bareng,” Firna tampak mulai mengerti keadaan dan membantuku untuk pergi dari rasa asam meninggalkan yang tercinta.
Aku melambai kecil. Diseret pergi Firna dengan panggilan papa masih terhubung. Tentunya papa langsung mematikannya.
Jalan lemas dengan topangan Firna terasa sangat lama. Well, meski tidak seperti Harun yang tampak lebih bucin dari yang dulu-dulu, aku tentu senang berkumpul dengan Harun.
Dan aku sudah meninggalkannya untuk papa yang ada di mobil depanku.
“Aku duluan, Ras~”
Bye Firna. Lambai-lambai saja deh.
Kumasuki kursi penumpang di samping papa selagi ia menyalakan mesinnya.
Memainkan rambut selagi membuka kaca⏤
Tok tok tok!
Hmm? Loh?
Kubuka kaca mobil yang diketuk itu, “Kenapa, Vian?”
“Sore, dok~” dia tersenyum lebar ke arah papa.
Papa tampak tak terlalu peduli, “Hmm.”
“Ada apa sih?”
“Maunya...,” dia terlihat ragu? “Mau ajak kamu jalan.”
Jalan? Dia, mau mengajakku berkencan lagi? Sungguh orang ini tidak menyerah sama sekali.
“Bentar lagi Saga ultah. Temenin aku beli kado. Apa kek.”
Hmm? Saga mau ultah? Berarti! “Kamu mau ultah?”
Dia mengangkat bahunya dengan seringainya, “Boleh dong, dok? Bentar saja!”
“Terserah Rasyi.”
Berpikir, aku tak merespons.
Aku suka jalan-jalan. Bila alasannya juga begitu, aku tidak enak bilang tidak. Pergi dengannya juga bisa jadi kado yang dia inginkan.
Kuhela nafas, “Iya deh iya,” kutunjuk dia, “Tapi jangan bilang-bilang Harun.”
Dia tersenyum, “Aku juga males urusan sama dia.”
Well, tidak ada salahnya juga sih.
__ADS_1
“Oke, kabar-kabar ya?” senyumnya merekah.