
“Aaa!” dingin! Apa yang di pipiku ini?! “Papa!”
“Dipanggil tidak dengar,” papa menjauhkan mangkuk dengan sisa kubus-kubus kecil es batu dari pipiku.
Kembali aku menggerakkan tanganku membulatkan adonan yang menumpuk di depan. Memasukkannya langsung ke air yang belum mendidih di atas kompor.
“Harun ngapain lagi?” papa ikut melakukan apa yang kulakukan.
“Dia mau pertukaran pelajar. Yang aku bilang ke luar negeri kemarin.”
“Hmm..., bagus.”
Aku menghentikan tanganku, “Itu salahnya Rasyi, kah?”
“Dari mananya?”
“Dari... semuanya?”
Papa menghela nafas, “Kenapa Rasyi rasa salah?”
Terdiam aku mendengar hal itu. Yang bisa aku katakan akan hal ini hanyalah karena hati nuraniku yang tidak bisa tega.
“Rasyi bilang tidak mau urusin apa-apa lagi,” papa mengambil skimmer dan mengaduk masakannya.
“Tapi kalau dia... duh! Susah!”
Papa mengangkat beberapa bulatan yang tampak sudah matang, “Tidak ada yang sesuai seratus persen keinginan Rasyi. Kadang memang harus pilih salah satu.”
Tanganku yang diselimuti sarung tangan plastik. Adonan yang tersisa di sana melekatkan satu demi satu jariku meski tidak langsung mengenai kulitku.
Seharusnya ini menjadi waktu ayah dan anak yang manis. Namun kepalaku masih tidak bisa menemukan kedamaian.
Aaaaa!! Otakku kenapa sih seperti ini terus?! Padahal ini tidak serumit masalah kakekku yang tidak waras. Lalu kenapa aku tidak bisa menemukan solusi yang bisa membuat diriku lega?
“Papa tanya. Bukan cuma papa mau tahu,” hmm? “Papa percaya diri sama kemampuan papa. Papa bisa bantu banyak.”
Hening aku menanggapinya. Terdengar aneh mendapati papa yang menyombongkan kemampuannya sendiri. Walau yang ia katakan memang benar.
Kulanjutkan membentuk adonan daging itu, “Menurut papa, Rasyi harus gimana?”
“Biarin aja.”
Wow, “Sungguh, pa?”
“Harun itu pintar. Dia sudah tahu kapan dia harus menyerah. Rasyi juga tidak mungkin bisa terima dia lagi kan?”
Aku terdiam. Bila dilihat dari situ, memang hanya ada dua pilihan. Menerimanya seperti tidak ada hal aneh yang terjadi, atau melepaskannya dan membiarkan lukanya terbuka lebar.
Sama seperti yang Harun bicarakan di Mall sebelumnya. Yang bisa aku pilih hanya satu.
“Papa tidak mungkin biarin Rasyi, juga,” tentu saja papa seperti itu.
Kulanjutkan bicaraku, “Apa berteman saja bukan jalan keluar?”
“Memang dia mau?”
Terhenti. Mengingat apa yang baru saja aku putar ulang.
Bagi Harun, menjadi teman, seperti penghinaan baginya dan membuatnya marah.
“Itu kan bukan hal yang salah,” aku mengeluh masih keras.
“Rasyi pernah mikir?” papa menyelesaikan adonan terakhir, “Perasaan Harun tidak mungkin terima.”
Hmm?
Papa melepaskan sarung tangannya, “Rasyi sudah move on. Tapi Harun pasti susah. Pilih buat jauhin kamu, itu benar.”
Aku terdiam.
“Kalian sudah sepakat untuk lepas. Beri dia waktu sendiri.”
Tidak bisa aku tentang akan hal itu. Hati memang bisa mudah terluka. Namun tak mudah disembuhkan. Terkadang sangat tergantung dengan waktu.
Huuuh... kurasa aku hanya akan mempercayakannya.
“Kalau waktunya selesai, apa... semuanya akan baik?” aku mau memastikannya lagi.
“Tergantung apa yang dia terima. Tidak bisa diperkirakan,” ucapan papa tidak bisa dibantah.
__ADS_1
Sama saja dong seperti aku membiarkan semuanya berlalu. Membiarkan semuanya memburuk.
“Huuuh..., ya sudah, papa izinin kalau Rasyi mau kasih kenang-kenangan.”
Kenang-kenangan? Hadiah perpisahan maksudnya?
Tidak. Mungkin maksud papa aku bisa aku bisa memberikannya hadiah agar kesanku lebih baik. Jadi ada kemungkinan besar, waktu bisa membawa hal baik.
Kupandang papa, “Homemade cookies, boleh?”
“Hmm, tapi tegaskan kalau itu cuma kenang-kenangan.”
Setidaknya, hatiku bisa merasakan kalau ini akan memperbaikinya ke depan nanti.
Rebusan itu akhirnya masak. Papa menyisihkannya sampai bersih. Sampai akhirnya aku menyelesaikan membersihkan peralatan yang baru kami gunakan.
“Bukan itu masalahnya, ya?”
Hmm? “Apanya?” aku memastikan maksud dari perkataan papa tadi.
“Rasyi punya pikiran lain?”
Pikiran yang lain? Aku memikirkan apa yang lain... oh⏤aaaaaa!! Jangan diingat! Jangan diingat! Jangan diingat!!
“Ada alasan kenapa Harun benar-benar nyerah. Dia keras kepala selama ini. Alasannya pasti berat,” pa, bukan saatnya berhipotesis. Aku tahu papa pasti selalu tepat sasaran.
Kuusahakan sekeras mungkin untuk tidak memberikannya clue lebih banyak, “Cuma tidak mau jadi teman saja. Dan papa juga tidak kasih kesempatan. Bagaimana lagi mau dilanjutkan?”
Papa tidak akan curiga kalau aku menunjukkan ekspresi biasa.
Namun kenapa pria ini malah melihatku dengan tajamnya?! Aku sudah belajar banyak tentang sistem pembacaan pikiran papa. Seharusnya tidak akan ketahuan!
“Harun... bilang kamu sukanya Fares.”
...
Bersikap biasa. Biasa!!
Kuperlihatkan wajah terkejut dan bingung terbaikku, “Heh? Apa lagi itu? Ya mana mungkin lah!”
“Hmm.., berarti benar.”
Jangan! Harus tenang sekarang juga!!
Ayo mulai berteriak, “Iiih! Dibilangin bukan ya bukan!”
“Berarti, Rasyi masih belum terima kalau suka sama Fares.”
Tahan, Rasyi! Pertahankan rasa tenang milikmu, “Aaaa! Terserah papa lah!”
Papa tertawa kecil, “Rasyi memang suka sama Fares kok.”
Jangan terpancing!
“Hmm... mungkin sejak umur lima belas.”
Jangan bereaksi! Kalau aku bereaksi, dia bisa menjadikannya sebagai bukti kebenaran dari argumen asal-asalnya.
“Rasyi jadi sering minta ketemu Fares.”
Aaaaaaaaa!! Dasar iblis yang kerjaannya menggoda pikiranku! Pergilah~!
Orang ini mau melakukan apa lagi? Dia melepas celemeknya dan berjalan mendekati ponselnya yang ada di meja makan. Jangan lengah. Tetap tenang. Si papa tidak terduga ini bisa mengeluarkan hal mematikan hanya untuk membuatku mengakui apa yang dia percaya.
Ia menelepon seseorang?
“Halo, Fares?”
Tu, ki, di, dia telepon Fares?!
“Cuma mau tanya,” dia mau tanya apa? “Kamu lagi di toilet?”
A, I, U, E, O WHAT?!! Di, di, dia bicara apa?!
“Tidak. Rasyi mau tahu,” dari mana?!
Langsung aku mendekatinya. Berlari menghindari beberapa furniture dapur yang ada di antara tempat aku berdiri dan papa. Memastikan tanganku tepat sasaran meraih ponsel itu, dan mematikannya.
Sepi....
__ADS_1
Papa terdengar, “Kenapa? Mau ke toilet?”
AAAAAA!!
“Aaa!” tolong dong ponsel, jangan buat kaget orang yang sudah tegang!
“Siapa?”
Kuperhatikan layar ponsel papa. Tidak salah lagi, Fares.
Haruskah aku mengangkatnya?
Jangan lengah! Reaksi dariku harus tetap normal. Layaknya tak terjadi apapun. Mengangkat panggilan dari ponsel papa kalau aku menemukannya, itu juga reaksi biasa.
Baik-baik saja kok. Yang penting tenang. Pokoknya tidak terpancing! Otakku tidak boleh terbawa salah tingkah.
Ingat, Rasyi, jangan bicarakan apapun tentang toilet!
Kuangkat panggilannya, “Kak Fares, di toilet?”
...
AAAAAAAA!!
“Ppht... hehehehe,” suara tawa papa yang sudah aku belakangi terdengar menggema di kepalaku.
[“Heheh, kenapa, Rasyi?”]
Suara kak Fares sungguh membuatku lebih bingung harus merespons apa.
[“Paman ke mana?”]
“Bersi-in toilet,” tolong hentikan, lidahku.... Aku mohon~
“Hehehe hahaha hehe!” puas anda tertawa lepas, pa? Puas?!
[“Tadi paman nelpon loh. Kenapa?”]
Papa masih tidak berhenti tertawa meski ia mendekat, “Lagi di toilet.”
[“Eh? Ada paman?”]
“Tidak apa-apa. Cuma Rasyi mau ngomong,” pa, papa yang menelepon. Kenapa jadi aku?!
“Tidak ada. Tidak ada!!”
“Hehehe,” papa mengambil alih ponselnya membuatku semakin tidak tenang memandangnya, “Ya udah, Res. See you soon.”
Dia, mematikan ponselnya?
Tidak, jangan lengaaaaah!!
Papa memandangku dengan tatapan biasanya⏤ “Hehehehe.”
“Berhenti tertawa!!”
“Maaf maaf,” jari papa yang mengelus pipiku terasa dingin, “Papa tidak ikut-ikutan lagi.”
Waktu aku sadari, wajahku yang terasa hangat. Tidak bisa mengukur lagi seberapa malunya aku saat ini. Aku bahkan bisa merasakan ekspresi kesal mengarah ke papa.
“Ingat saja. Perasaan Rasyi harus jujur. Jangan sampai berbohong, paham?”
Walau nasihatnya manis, aku tidak bisa tersenyum manis ke arah dia. Tidak mau!
“Oh, papa lupa bilang,” ia meletakkan ponselnya di meja makan, “Papa besok kerja ke luar kota lagi. Rasyi siap-siap buat inap ke rumah Hendra.”
Heh?
Aku memandang papa ini, yang sama-sama memandangku dalam diam.
Lelah deh saya.
_____________________________________________
MohM
Mohon Maaf Lahir Batin~♡♡ love love you~
__ADS_1