Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#19 Sagara Seperti Semestinya


__ADS_3

“Huuuu....”


“Apa sih? Sakit perut?” kembung kedua pipiku memperlihatkan kesal pada Firna yang menjengkelkan, “Terus kenapa? Ngeluh terus dari tadi.”


Hatiku yang berteriak~! Mungkin karena papa tidak punya hati, aku menjadi tempat terakhir banyaknya sisa hati baik sebagai keturunan papa. Rasa terusik ini sungguh mengganggu tonggak hati terdalam. Layaknya bila aku mengabaikannya, hatiku akan hancur.


Kukutuk kau, hati baik yang tidak tegaan!!


TENG! TENG! TENG!


Loh? Sudah bell?!


Aku terlalu memikirkan hal lain sampai lupa kalau ada catatan penuh yang perlu disalin dan perhatikan.


Dan aku baru menyadarinya saat guru sudah menghapus tulisan hitam di papan putih dan menggantinya menjadi pertanyaan untuk pekerjaan di rumah. Istimewanya lagi, guru itu sudah selesai dan meninggalkan kelas.


Sedalam itukah aku kepikiran?!


“Fir, pinjam catatan~” aku merengut lemas pada teman sebangkuku.


“Iii~ Bengong terus sih dari tadi,” walau mengejek seperti itu, ia tetap menyerahkan buku catatannya, “Mikirin apa sih? Tentang Harun. Atau paman Rizki?”


Barangkali, apa selama ini dua orang itu yang selalu dipikiranku?


Kalau diingat, aku memang tidak pernah bersungguh-sungguh memikirkan orang lain, selain papa. Ditambah lagi orang ini adalah Sagara yang sudah sebulan kerjaannya menjahili aku terus.


Nyatanya, aksi tak kenal dari Sagara tadi siang itu menggangguku. Dia memperlakukanku layaknya orang asing sepenuhnya. Umumnya, si kembar ini sudah membuat dua atau tiga kejahilan yang membuat urat di kening menonjol.


Apa yang terjadi?


“Rasyi jadi kerja kelompok bareng Firna kan?” oh Harun.


Memandangi wajah itu tidaklah melelahkan, “Iya, nanti waktu pulang.”


Kenapa dengan kedua wajah teman dekatku ini? Seperti melihat dinosaurus punya anak saja.


Ya pada dasarnya aku memang anak ‘dinosaurus’ sih.


“Ini kan sudah pulang, Rasyi.”


Ha?


“Serius deh. Dari tadi kamu mikirin apa?” Firna tampak kesal.


Wow, sepertinya aku memikirkan anak ini lebih dari yang aku kira.


Firna tampak menyadari sesuatu, “Oh jangan-jangan mikirin⏤”


“Udah da dah!” aku berdiri dan berusaha merapikan bawaan, “Yuk cari posisi enak di taman.”


Ada Harun di sini, Firna-ku yang cantik! Tolong jangan buat pertumpahan darah!


“Kalau gitu aku pulang dulu ya. Nanti aku jemput dua jam lagi, gimana?” Harun membantuku memasukkan barang-barangku.


“Makasih~” pasti dong tidak kutolak.


Tegang aku menyusuri jalan yang masih ramai. Untung saja anak-anak di sekolah ini punya kesadaran dimana tempat nyaman di taman tidak digunakan selain kerja kelompok atau belajar.


Namun bukan itu yang ada dipikiranku. Mengapa dari sekian banyaknya manusia di muka bumi, harus pembuat onar itu yang menginap di kepalaku?!


“Kita ke sana saja. Wifi-nya lebih kencang,” Firna menunjuk set kursi taman bundar yang rindang akan banyak pohon.


Rasyi! Harus bisa fokus setidaknya untuk beberapa pasang jam. Untuk nilai diatas delapan puluh!


Ketik. Tulis. Diskusi. Ketik. Semua kerja yang serasa tidak ada akhirnya lebih dekat semakin waktu dengan kata selesai.


Singkatnya, tentu saja selesai dengan sempurna⏤


“Rasyi!!” kaget!

__ADS_1


“Apaan sih?! Bisa tidak, jangan tiba-tiba nongol?!”


Teman yang ternyata si Wira maniak basket sudah ada di samping tempat dudukku, “Mana Sagara?”


“Heh?” dia mempertanyakan apa tadi?


“Mirza Sagara Bhadrika, tuh orang ke mana?”


Kamu menyebutkan nama panjangnya, aku malahan tidak tahu itu siapa!


Bukannya aku tidak tahu siapa yang kami cari. Pertanyaanku, kenapa kamu carinya ke aku?! Memangnya aku yang sembunyikan?! Terakhir kali aku melihatnya kan istirahat pertama.


“Aku bukan emaknya!” aku kesal menjawab, “Tanya situ Sovian.”


“Sovian gak masuk sejak 17-an.”


Eh? “Kok bisa?”


“Tanya situ Sagara.”


Ajak kelahi nih anak!


Namun kekhawatiranku ternyata ada dasarnya. Sagara, apa dia lesu karena tidak ada Sovian? Lalu Sovian ke mana?


“Memangnya kenapa Sagara?” Firna memulai ikut perbincangan.


“Dia bolos latihan basket! Padahal dia sudah jadi tim inti. Ribet!” Wira mengambil duduk di tempat kosong.


Oh, aku baru sadar dengan seragam basket yang ia kenakan. Hari ini ekskul basket kah?


“Sabar, senior,” teman satu kelompokku menyenggol Wira.


“Sabar gimana? Sekali gak papa. Sudah tiga kali begini!”


Gah! Sagara memang tidak bisa tenang sehari pun. Ia memang tidak kelihatan membuat masalah, tapi diam begitu saja membuat orang pusing!


Aku berdiri dan merangkul Firna, “Aku kabari kalau ketemu. Bye!”


“Duluan~!” Firna mengikuti langkahku.


Sekarang aku harus menunggu Harun. Ia akan menghubungiku sebentar lagi... nih Firna menarik aku ke mana sih?


“Fir...,” aku menegurnya lembut.


“Sebentar aja~ Moca nungguin aku~” dia terlalu terobsesi dengan para kucing sampai berhalusinasi sedang ditunggu mereka.


Ya, kurasa tidak papa sambil menunggu Harun. Aku juga pasti meminta Firna untuk ikut menunggu denganku karena aku masih tidak mungkin ditinggal sendirian.


“Loh?” Firna tiba-tiba menghentikan langkahnya.


“Kena... pa?” lah, ini Sagara.


Dia, tidur? Beralaskan hanya rumput hijau yang untungnya dirawat baik? Sambil dikerumuni para kucing? Tidur atau pingsan?!


Aku berusaha mendekatinya. Manusia ini sempat saja tidur saat Wira panik mencarinya.


“Mau diapain?”


Wow, pertanyaannya, “Dibangunin,” aku mengguncang bahunya pelan, “Sagara.”


Dia tidak bergerak. Ini akan jadi sulit seperti tante Ira yang hanya bisa dibangunin kalau ada kebakaran.


“Ok then,” tanpa basa-basi aku mencubit hidungnya dan menutup mulutnya.


“Loh? Diapain?!”


“Ssst,” kesalku dengan komplainnya, “Bentar lagi dia bangun.”


“Ggg!” langsung terbuka lebar mata itu, “Haaa!” dia terkejut, terduduk selagi kupersilahkan ia bernafas lagi.

__ADS_1


“Selamat pagi~” aku memotong keterkejutannya itu.


Ia menatapku. Sipit matanya di balik bulu mata yang pendek, tampak sangat mengantuk. Aku dan Firna menunggu proses berkumpul akal sehatnya. Duduk berjongkok dan saling mengamati wajah satu sama lain.


“Rasyi?!” akhirnya sadar juga.


Biasa, aku berusaha untuk tetap tersenyum manis, “Nyenyak tidurnya?”


Wajahnya itu sudah seperti melihat musuh bebuyutan, “Kamu ngapain di sini?!”


“Ini tempat umum. Bukan tempat tidur!” Firna sepertinya salah marah deh. Aku yakin dia hanya mau tidur, bukannya merebut tempat tinggal para kucing.


Masalahnya adalah, si pembolos ini sedang bersembunyi. Aku harus menepati perkataanku pada Wira kan?


“Kamu dicariin Wira tuh. Basket kan?”


“Iya!” Firna langsung mengeluarkan ponselnya. Sepertinya ia ingin langsung mengadu, “Wira mana⏤heh!”


Wah. Kukira Sagara itu hanya berani padaku saja. Ternyata gelar pembuat onar tidak sembarangan diberikan. Dia main rebut ponsel Firna yang jelas-jelas lebih tua darinya.


Semakin menjadi-jadi!


“Auw!”


Tanpa pandang bulu aku memukul kepalanya. Dengan memasang wajah marah, kurebut ponsel Firna kembali.


“Jangan banyak tingkah. Sana deh cari Wira terus minta maaf. Sama senior kok melawak!”


“Bisa tidak biarin aku sendiri?!” duh. Tidak terpikir sih Sagara mau berkooperatif, tapi harus ya setiap saat?


Aku hela nafasku perlahan, “Tolong, Sagara.”


“Kan bukan kamu yang rugi!” Sagara memperjelas wajahnya dengan merubah rotasi duduk, “Kamu tidak usah sok-sok atur!”


Terhela nafasku, “Sagara kenapa sih? Kok emosian dari kemarin?”


“Ada topik yang BUKAN masalah kamu!”


“Dikhawatirkan, jawabannya malah begitu.”


Wajahnya tiba-tiba tenang tak berekspresi. Seakan ia menaruh semua tenaganya untuk mengamatiku. Kenapa lagi?


Seketika wajah itu sendu, “Kamu terlalu baik.”


Hah? “Kok tiba-tiba bahas aku?”


Tanpa sepatah kata apapun, anak ini berdiri dan melangkah pergi.


“Kamu mau ke mana?!”


“Pulang!!” dasar! Kabur saja kerjaannya!


Layaknya tak punya telinga, Sagara malah menghilangkan keberadaannya jauh dari pandanganku. Huh, haruskah aku mengejarnya?


“Bener sih,” Firna tiba-tiba bersuara meski sibuk dengan para kucing.


“Apanya?”


“Kamu sering kelewat baik sama orang.”


Hmm? Masa sih?


Ada suara... ponsel?


“Tuh~” Firna tersenyum aneh, “Ojek datang.”


“Ha ha.”


Kubuka ponsel yang kuyakini dari Harun... loh? Papa?

__ADS_1


__ADS_2