Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#64 Sungguh?! Kencan dengan Papa?!


__ADS_3

“Ayo turun.”


Panas hari ini sangat mesra dengan dress ringan tanpa lenganku. Udara yang seperti ini sangat disayangkan oleh para bule yang cari-cari matahari. Karena pasti mereka pikir negara tropis bisa lebih panas dari ini.


Otakku. Mengapa anda memikirkan hal aneh di selang seperti sekarang? Sepertinya daripada panas berawan yang hangat ini, otakku lebih panas.


Bukan masalah banyak orang yang berkunjung. Coffee shop bertemakan cafe di sore hari yang cocok untuk berkencan.


Namun kalau berkencan dengan papa sendiri. Duh, duh duh duh.


“Huuuh,” papa, kenapa anda menghela nafas saat saya sedang bingung harus bagaimana?!


Sudahlah!


Aku duduk di salah satu kursi di meja bulat berkursi empat. Kuletakkan jaket bersama tas di sisi kiriku. Mari kita nikmati sepoi angin di luar cafe dengan secangkir kopi.


“Ma mau pesan apa, mas?”


Apanya yang menikmati?! Kalau aku keluar dengan papa, inilah yang terjadi!


“Ada rekomendasi coffee?” papa tanggapi pelayan wanita ini.


“Disini terkenal sama Flat White. Mas mau coba?”


Lihat sang pelayan yang jatuh cinta pandangan pertama ini. Dia tertipu oleh muka papa yang aku yakini dua kali dari umurnya.


“Iya satu. Rasyi mau apa?”


Bila ada aku, mereka yang dibutakan itu pasti menatapku seperti musuh mereka. Cafe ini, semuanya yang melirik, layaknya dipenuhi fans papa.


Daripada itu, nama-nama dari menu ini membingungkan! Haruskah diri ini belajar tentang kopi dulu?!


“Cortado itu apa?” aku memandang pelayan ini.


“Mirip Flat White.”


Wa~ sangat spesifik ya~ “Kalau Flat White, apa?”


“Mirip Latte.”


Kakak pelayan yang cantik, kakak itu sedang kerja! Bukannya mencari calon!!


Coba aku tanya satu lagi, “Kalau Doppio?”


“Double shot.”


Apa lagi itu?! Sungguh! Rasanya sangat ingin aku belikan tiket pesawat ke pulau Sumatra dan menenggelamkannya langsung ke sungai Musi!!


Dengan kesal, aku kembalikan buku menu tadi, “Ya udah, Doppio sama choco lava.”


Loh? Kenapa papa mengangkat tangan seperti menghentikan pelayan tadi?


“Tunggu sebentar,” hmm? “Rasyi, Doppio itu dua kalinya Espresso.”


Heh? Tunggu... apa?!


“Kopi aja dong?”


Alis papa bergerak ke atas, “Memang.”


“Aaaa...,” sudah terasa pahitnya bahkan sebelum sampai kemari.


“Con Panna atau Affogato,” nama apa itu yang papa bilang? “Itu saran papa.”


Oh?!


“Iiik!”


Papa mengatakannya. Jelas sekali kagetnya pelayan ini.


Jelas papa sengaja bilang begitu. Tidak seperti orang yang ingin dikira lebih muda, papa tidak senang orang menganggapnya anak muda.


“Ada masalah?” tentu saja karena dia kaget, papaku tersayang.


“Enggak, enggak! Pak!”


Sebutannya langsung berganti. Tentu saja papa pasti ada di umur yang harus dipanggil dengan hormat. Berbeda denganku, wajahku sesuai dengan umur meski tidak tinggi.

__ADS_1


“Rasyi mau yang mana?”


“Aaaa...,” aku ambil lagi menu itu, “Con Panna apa, Affogato apa?”


“Con Panna pakai cream banyak, Affogato pakai ice cream.”


“Uuuu~!” sepertinya menarik~ “Kalau gitu aku Affogato~”


“Heh,” papa, tolong dikondisikan tertawa anda, “Masih ada rasa pahitnya loh.”


“Iih! Ke Coffee Shop masa tidak beli kopi!”


“Benar juga ya~”


Hmm? Suara siapa itu?


...


...


...


Aaaaa....


“Kalau gitu aku mau... Americano saja deh. Sama Cinnamon Roll. Extra vla ya~?”


Pelayannya sampai bingung juga, “Ba, baik.”


Bukannya dia yang namanya Kirana?! Dia kok santai saja duduk di kananku?!


“Flat white satu, Affogato satu, Choco Lava satu, Americano satu dan Cinnamon Roll extra vla satu. Ada lagi?”


“Itu saja~ Cepat ya~?” si Kirana ini sok asyik.


Papa menengadahkan mukanya, “Ada urusan?”


“Aku kangen sama Gading~”


Duh, lelah sekali seluruh badanku.


“Uuu~ Kenapa sih?” mengeluh kesal Kirana.


“Karena kamu ganggu kencanku dengan Rasyi,” sungguh? Kalimat itu dari mulutnya papa?


“Mana ada kencan sama anak sendiri?!” Kirana kok tersenyum ke aku? “Ya kan, Rasyi~?”


Aaaa... Bagaimana ya?! Tamu tak diundang saja ada, masa kencan ayah dan anak tidak ada?!


Hmm? Papa?


Dia tiba-tiba elus kepalaku!


Papa, tersenyum, “Ada yang menarik di sekolah?”


“Kenapa aku dicuekin?”


Papa tambah tidak peduli dengan Kirana, “Care to tell?*” dia malah menyisir poniku dengan jarinya.


Memang aku mau cerita apa? “Aaa... Harun cium tanganku lagi?”


Sungguh! Aku tidak tahu mau bicara apa di tengah keadaan membingungkan seperti sekarang!


Kenapa dengan hari ini sih?!!!


“Heh,” hari ini papa senang tertawa ya....


Diriku ini bingung, nih!


“Gading keren deh kalau ketawa~ Sekalian dong ajak rumpi calon mama baru~” heh?!


“Bukan kamu kan?”


Oo, savage!!**


Papa memang penuh dengan kejutan. Tidak hanay kejadian yanv ia bawa, tapi juga bagaimana cara dia menanggapinya.


Jangan ketawa! Jangan ketawa jangan ketawa!!

__ADS_1


“Apaan sih?” Kirana memandangku lagi, “Rasyi juga mikir gitu?”


Aaaa..., “Apanya?”


“Ya papamu cocok sama tante dong~” wanita ini gandeng tangan papa yang berseberangan meja, “Masih begini masa stay single? Aku saja tahu kalau Gading masih mau punya pasangan. Kan~?”


Terbisukan. Lengkung senyumku terasa berbalik.


Sekalipun tidak pernah hal itu terlintas di kepalaku. Dilihat dari hal-hal lalu, sebenarnya tampak cukup jelas. Kelakukan papa belakangan, mungkin memang benar karena papa ingin punya hubungan dengan wanita lain.


“Kalau itu saja, kamu bisa pergi,” papa menjauhkan tangan wanita ini.


“Uuu~! Serius deh! Kamu gak ada mikir sama sekali buat nikah lagi~? Hei, Gading~”


Diam menunggu. Seakan cerita itu ingin kudengar juga. Mataku lurus mengarah wajah papa.


Ira dan Kirana. Kedua wanita ini semakin jelas dekat dengan papa. Bahkan papa bersama Kirana selama satu bulan hilang. Dan semua yang tertangkap mataku, papa selalu tertawa bila bertingkah dengan mereka. Selayaknya papa memang....


Apa itu berarti papa ingin menikah lagi?


Papa membalas pandanganku, “Rasyi punya alasan kenapa mau tahu?”


“Heh?!” aaa... Ya. Sebenarnya. Aku memang ingin tahu, tapi... Aaa..., “Me, memangnya Rasyi tidak boleh tahu?!”


Mau bagaimana lagi?! Tidak mungkin aku bersikap wajar dengan fakta itu menampar mukaku!!


Aku harus mewajarinya. Benar. Papa tetap pria yang butuh semangat ke arah kehidupan cinta. Diriku saja selalu mencari hal yang sama. Tambah lagi, papa sudah merawatku tanpa mama sejak aku lahir.


Kurasa, aku harus... Ya. Mau bagaimanapun nanti, aku harus restui papa.


“Jadi~?” wanita ini kenapa pegang-pegang muka papa?! “Beneran tidak mau punya istri lagi?”


Tapi, kalau wanita ini... NO!!


Kuulur tanganku memisahkan tangan wanita tak tahu diri ini, “Tunggu, biar aku perjelas! Walaupun papa bakal nikah lagi, aku tidak sudi punya mama kayak nenek!”


Wanita ini jelas kaget, “A, apa katamu?!”


Memangnya aku lupa?! Kamu sudah terobsesi bahkan saat papa masih belasan tahun.


“FYI!*** Jarak umur kami cuma delapan tahun!”


Itu bukan informasi yang baik didengar telingaku! “Papa itu sudah tua! Apalagi yang umurnya delapan tahun lebih tua! Berarti sudah nenek-nenek!”


“Anak gak tahu diuntung!”


“Iya, memang!! Aku tidak tahu apa untungnya kamu, nek!”


“Berhenti panggil aku begitu!”


“Terus mau dipanggil apa? Nini? Mbah? Eyang? Mau yang mana?”


Dia malah marah dan berdiri tegak. Suara bentakan yang tak menyenangkan itu sejalan dengan reaksi orang cafe.


Namun wanita ini memilih berteriak lagi, “Anak ini! Kusumpal mulutmu baru tahu rasa!”


Siapa yang takut⏤heh?


Tangan kanan papa membentang di sisi depanku. Mendorongku mendekat ke arahnya selagi ia condong ke arahku. Seakan siap melindungiku bila dia macam-macam. Jelas di wajahnya yang tampak menahan amarahnya.


Seperti itu saja, Kirana tampak tertekan.


Dia pergi dengan wajah merah padam. Ketegangan hilang.


Rizki menjauhkan tangannya. Dan aku membentak sikuku kesal di atas meja, membiarkan wajahku bertengger di telapakannya.


Bagus. Pergi saja sana. Terima kasih sudah membuat suasana membingungkan ini semakin tidak nyaman di lidah!!


_____________________________________________


Mari saya artikan~


* Mau cerita?


** Ooo Kejam!


*** For Your Information -> biar kamu tahu aja

__ADS_1


__ADS_2