
“Rasyi!” suara hentakan terdengar semakin jelas.
Kepalaku menggeleng pelan, “Aku tidak apa, Harun. Tidak perlu ke UKS.”
Hening. Sampai akhirnya sosok ini merendahkan posisinya sampai wajahnya tak jauh tinggi dengan meja, “Mikirin apa sih sekarang?”
Senyum ku-pampang, “Apanya?”
Aku merasa bingung. Tidak tahu harus mendahulukan respons untuk Harun, atau harus mendahulukan mengkhawatirkan Firna.
Mengejutkan, tak terduga, jemari Harun dengan santai meraih ujung rambutku yang sudah aku setengah kuncir dengan gelombang yang aku sengaja buat.
“Ada yang tidak bisa kamu ceritain ke aku?” suaranya terkesan sedih.
Benar juga. Aku harus tetap semangat.
Senyum aku memandangnya, “Terima kasih sudah khawatir. Aku tidak apa.”
“Ada apa sih?” aku bisa melihat Harun semakin dekat dengan mejaku.
“Heh? Tidak kok.”
Tidak baik. Rasanya sangat tidak baik. Paru-paruku terasa seperti dijejali oksigen yang terlalu banyak. Kecemasan yang tidak bisa luntur hanya dengan diguyur saja.
Elus lembut tangan Harun terasa menggenggam tanganku, “Ras⏤”
“Rasyi!” Firna?
Heh?
Dia kenapa? Firna terdengar panik?
“Kenapa?” aku bangkit dari dudukku. Melemaskan genggaman Harun, “Mereka sudah bilang?”
“A, i, itu...,” kenapa Firna sampai berkeringat seperti itu?
Eh? Tangan Firna kali ini ikut Harun, menyerang tanganku yang satunya.
Namun, yang membuatku semakin tidak tenang, Firna jelas terlihat waspada akan sesuatu. Seperti ketakutan?
“Kita ke WC yuk.”
Heh? Apa maksudnya? Kok sangat tiba-tiba seperti itu?
“Rasyi~ Ayo,” Firna layaknya memaksa.
“Kamu kenapa sih?!” Harun tidak melepas tanganku dan membentak Firna?
“A, aku sudah tidak bisa ditahan.”
Duh, aku tidak bisa berpikir! Aku temani saja Firna.
Berusaha aku melepaskan tanganku dari Harun, “Aku lagi mau ke wc juga kok. Sebentar.”
Dengan cepat Firna memulai berjalan menuju pintu.
Kesannya yang memaksa itu tidak mau memberikan waktu menarik 'nafas'. Sampai akhirnya dia berhasil menyeretku keluar teras kelas.
“Fi, Firna...,” aku merasa tak nyaman, “Pelan-pelan.”
Tidak nyaman dengan dirinya yang menarikku pergi sampai kami bisa menemui bayangan dari pohon. Alih-alih membawaku untuk menemaninya. Dia malah menghentikan langkahnya di bawah bayangan itu.
Ia melepaskan pelukan di tanganku. Menahan bahuku untuk berdiri di depannya dan menatapnya lurus.
__ADS_1
“Kenapa sih?” aku kebingungan melihat dirinya yang berkeringat dingin itu, “Katanya mau ke wc.”
“Rasyi, kamu harus percaya. Apapun yang aku bakal bilang. Kamu harus percaya!”
Aku semakin saja dibuat bingung. Sedarurat apa kenyataan yang ingin ia katakan sampai dia tampak panik seperti itu? Ini sudah membuatku jengkel.
“Tenang dulu bisa tidak? Aku dengar kok.”
“Harun.”
Aku mengambil tangannya itu dan menyatukannya di genggamanku, “Apanya? Harun kenapa?”
“Tapi, tapi kamu percaya kan?”
Kuhela nafas, “Iya. Kenapa?”
“Harun yang sudah pukul Vian sampai begitu.”
Eh?
Di, dia bilang apa?
Aku refleks tertawa, “Lucu. Oke, lucu.”
“Tuh kan kamu tidak percaya! Aku serius Ras!”
“Firna suka ada-ada deh,” aku melepaskan tangannya, “Pasti ini akal-akalannya si kembar kan?”
“Beneran! Saga cerita sendiri. Harun tiba-tiba datang ke rumah mereka. Terus mukulin Vian.”
Kepalaku tidak bisa mencerna. Dari mana pun ini dilihat, tentu saja ini hanya cerita rangkaian. Si kembar memang sering berbohong. Pembuat onar memang seperti itu.
Dan Firna mempercayai itu?!
Aku tertawa kecil, “Ya wajar lah. Mereka sering ganggu aku. Makanya Harun khawatir. Kali ini cuma... salah paham.”
“Rasyi. Beneran. Soalnya aku juga pernah kena peringatan begitu. Tapi, aku kira dia cuma bercanda.”
“Jangan memperbesar hal kayak gini. Harun tidak mungkin begitu!”
Sungguh! Aku sudah terlalu banyak pikiran yang tidak bisa aku pahami! Dan dia mau bercanda akan hal ini?!
Rasanya sudah sangat lelah!!
“Kamu serius mau percaya di Saga? Kan kamu juga pernah bilang jangan terlalu percaya sama mereka,” aku melipat kedua tanganku.
“Yang kali ini aku tidak bisa tidak percaya.”
“Cukup, Fir.”
“Dengerin,” ia mengerutkan dahinya, “Aku juga tidak tahu kenapa kok Harun begitu. Tapi, percaya sama aku, semua yang kamu ceritain tentang Harun ke aku bukan seratus persen dia. Dia sama aku, sama Saga, sering kasar.”
Bola mataku berputar, “Sudah, cukup!”
Tolong. Siapapun! Aku tidak mau mendengar apapun tentang ini!
Wajah itu tampak sedih, “Rasyi⏤”
“Tidak!” aku melepas sekali lagi genggamannya pada bahuku. Mundur satu langkah, “Seharusnya kamu bantu aku.”
“Ini, Ras! Ini aku bantu!” bohong. Dia pasti bohong!
“Firna, please! Aku tahu ada yang aneh. Kenapa kamu malah bohong ke aku?! Kasih tahu apa yang benar! Apa yang terjadi sama kamu dan si kembar?!”
__ADS_1
Ia terkejut, “Itu yang benarnya!”
“Sudahlah,” aku tidak mau mendengarnya lagi.
“Rasyi....”
Pergi aku meninggalkannya. Lubang telingaku tak ingin menangkap panggilannya. Tidak peduli dengan keramaian yang masih menjadi ketakutanku. Aku hanya berfokus pada rasa kesalku dan berjalan ke arah pintu kelas yang terbuka.
Sampai aku ke dalam kelas. Kutangkap Harun duduk di kursinya. Ia sedang menanggapi teman sekelas lain yang mengajak bicara, tapi ia masih tersenyum melihatku masuk.
Cepat kubawa tas yang masih lengkap dengan barang-barangku. Mendekati Harun. Lebih tepatnya teman sebangkunya.
“Qun, aku duduk di situ boleh?”
Ia tampak kebingungan. Namun tidak mengejutkan karena, meski tidak sebangku, aku dan Harun selalu berusaha duduk bersama.
“Oke,” dia mengemasi barang-barangnya dan duduk di kursiku.
Sekilas aku menatap Firna yang sedih. Namun aku tidak mau membalas tatapannya lama.
Tidak hanya karena kesal, tapi juga karena kelas akan dimulai. Selagi anak-anak lain melihat guru berjalan di koridor menuju kemari.
Aku dan Firna tidak membahas apapun. Tidak bicara apapun. Meski kami berdua duduk di satu baris dimana aku tepat di belakangnya.
“Kenapa?” suara bisik dari Harun.
Menghela nafas kesal, “Cuma salah paham.”
“Tentang apa?”
“Si kembar,” aku menjawab bisikannya dengan kesal.
“Sovian Sagara?”
Kukeluarkan bukuku dan berusaha memfokuskan diri pada yang di depan. Tanpa menjawab.
“Apa?” Harun, marah? “Mereka mengerjai apa lagi ke Rasyi?”
Ups. Jangan ribut lagi, please.
“Tidak ada kok,” aku harus hentikan sebelum semakin ribut, “Mereka...., menjauh dari aku waktu aku sapa. Vian juga mukanya luka semua.”
Huuuh, sungguh. Kebingunganku tidak bisa tinggal dengan tanpa rasa sedih. Aku tidak tahu apa, dan tidak tahu harus apa.
“Cuma itu ternyata.”
Heh?
“Paling mereka habis bertengkar. Lemas doang gara-gara kalah. Nanti juga balik lagi.”
Kalau dilihat dari sisi mereka yang merupakan sepasang pembuat onar, itu memang tidak aneh sih.
Namun..., entahlah. Aku merasa itu tidak benar. Maksudku, bagaimana bisa Saga sekejam itu pada Vian? Sementara aku tahu seberapa besarnya ia sayang pada Vian.
Apakah itu berarti benar apa yang dikatakan Firna?
“Harun,” bisikku memanggil.
“Ya?”
“Kamu yang pukul Vian?”
A ha ha, aku tidak pernah menduga aku akan mengatakannya dengan gamblang seakan aku mencurigai Harun.
__ADS_1
Kulirik lelaki itu... Harun?