
Tas selempang lama yang tampak baru itu aku isi penuh dengan buku dan alat-alat lain. Wangi yang masih kental menentengnya di pagi baru. Hari yang tampak hangat dengan mentari yang beriringan yang menerobos masuk di sela jendela kamar.
Lalu mengapa aku harus terpaksa untuk tersenyum?
Siapa lagi kalau bukan sang ayah yang merepotkan? Dari awal ia memang membawa bala.
Itu sudah terlalu lama sampai aku pun pasti perlahan-lahan melupakannya.
(“Tunggu! Biar aku bantu obati dulu lukamu sedikit.”)
(“Tidak. Silahkan pergi.”)
(“Aku tidak akan pergi sebelum mengobatimu.”)
Lugunya si Sekar dan hati nuraninya. Bertemu dengan asingnya pria di tengah malam sehabis kerja, hanya karena pria bermata hitam itu terluka.
(“Ketemu.”)
(“Mati saja sana.”)
Dan malam itu aku berteriak...,
(“Awas!”)
Hal yang aku tahu, satu detik kemudian, aku tertembak.
(“Bos, kita salah tembak orang.”)
(“Aku juga tahu, bodoh.”)
(“Sudah kan? Kalian bisa pergi sekarang.”)
(“Enak banget suruh-suruh pergi!”)
(“Perlu dihajar lagi dia, bos!”)
(“Iya bos. Biar dia nurut!”)
(“Tunggu…, kurang ajar, Gading!”)
(“Bos. Kayaknya ada orang di sana.”)
(“Diam! Aku tahu!”)
Sekar yang malang. Ia hanya ingin baik dengan orang yang dianggap perlu bantuan. Namun sikap terlalu baiknya itu yang mengangkatnya masuk ke masalah orang.
Namun mati menolong orang seperti itu...?
(“Maafkan aku.”)
Kelompok orang itu pergi menyadari diri mereka dipancing ke jebakan pria ini. Barisan pertokoan berlantai tiga yang akrab dengan pengusaha menengah ke bawah bersama usaha keamanan di kamera CCTV mereka.
Di sela nafasku yang terengkal, aku bisa merasakan pria itu bergetar.
(“Sebentar saja. Tahan sebentar lagi.”)
Rasa bersalah itu membuatku tidak bisa marah.
(“Maafkan aku.”)
Aku ingat aku menusuk pipinya...,
(“Iya… aku maafkan….”)
Saat, aku menjadi Sekar, tentu tidak ada yang aku sesali. Namun bila menjadi Rasyiqa. Bila aku mendengar mereka mengatakan itu,
(“Ibu dan kakak-kakak Rizki sudah mati. Rizki pasti takut kalau Rasyi juga....”)
Dari awal, sejak umur Rasyi bulan kedelapan, aku sudah terancam.
Melihat album itu.
Bertemu dengan makam itu.
Aku tahu bila aku dilahirkan ke dalam keluarga yang membunuh diriku sendiri. Pria itu ternyata papaku, Rizki. Dan pistol itu ada di tangan kakekku.
Rizki, Gading, papa, siapapun ia menyebut dirinya. Orang ini adalah malapetaka. Tidak mungkin aku maafkan dengan terbuka. Kedekatanku padanya hanya sekedar melindungi diri dari ancaman.
Lalu kenapa? Setiap kali aku mengingat sosoknya yang hilang, tanpa kabar, kenapa mataku sebasah sekarang?
__ADS_1
Aku menghela nafas.
Tenang, Rasyi. Ini bukan pertama kali dia menghilang. Otakku harus dingin dan segar untuk bisa berfungsi.
Sebelum itu, aku harus pastikan tidak ada yang terganggu dengan gundahku. Terakhir kali aku hilang kesadaran dan orang-orang tidak pernah meninggalkanku sendirian. Dalam keadaan seperti ini, aku tidak akan dapat apa-apa selain fakta papa masih hilang.
Aku membawa tas selempang itu dan keluar dari kamar tamu. Harus kuperlihatkan aku baik saja pada keluarga Hendra.
“Rasyi mau langsung berangkat,” kudekati meja makan yang penuh.
“Sama paman, ayo,” Hendra menutup lipatan koran yang masih ia suka baca.
“Ada...,” aku ragu untuk menanyakan, “Ada kabar tentang papa?”
Ruang makan yang selalu penuh ini terdengar sunyi. Canggung terukir dalam di raut wajah mereka.
“Papamu pasti tidak kenapa-napa. Dia nanti muncul sendiri. Tidak ada rasa bersalah sama sekali.”
Itu artinya mereka memang tidak dapat apapun, atau Hendra tidak mau mengatakan apapun padaku. Padahal ini bukan masalah ikut campur atau apa. Masalah ini sudah menarikku masuk dan aku berhak tahu.
“Rasyi....” tangan Sari lembut di wajahku.
Oh, aku sempat blackout beberapa saat. Kembali aku memainkan lengkung bibirku.
“Iya. Ayo paman, berangkat.”
“Rasyi,” kak Fares menahan tanganku sejenak sebelum menjauhi duduknya, “Nih.”
Hmm? Coklat batangan?
Aku melihat senyumnya yang seperti biasa, “Jangan lupa dimakan ya?”
Kentara sekali rasa takut mereka akan terjatuhnya aku karena fakta ini. Harus aku tunjukkan kalau aku baik-baik saja.
Menunjukkannya lebih keras lagi!
“Kalau coklat, langsung habis dong~”
Papa baik-baik saja. Rizki tidak akan pulang dengan luka.
Jadi berhentilah bergetar!!
Ayo kita pergi bersekolah seperti layaknya anak yang orang tuanya baik saja di rumah.
Kali ini ruangan, kamar dan segala macam milik papa tidak ada yang mencurigakan.
Apa papa tidak pernah memikirkan hal ini terjadi? Bukannya itu lebih buruk?
“Eh, Ras!”
Hmm? Sa, Saga? “Kenapa?”
Saga, Vian dan Firna. Kami sudah berkumpul dengan meja taman yang membundar.
Hmm? Kapan aku ada di tempat ini?
Tidak. Memang sejak beberapa jam yang lalu aku sudah ada di sini. Bahkan aku sudah mengikuti sebagian besar dari pelajaran hari ini. Pasti aku kehilangan arah sekitar dan larut dalam pikiran lagi.
“Kita ke dies natalis-nya kak Fares yuk.”
Heh?
“Kak Firna ikut?” Saga tampak semangat.
Firna berpikir sejenak, “Aku pass, tidak bisa malam-malam.”
“Alasan saja tuh...,” Saga menyipitkan matanya.
“Gimana Rasyi? Mau ikut?” Vian kembali memandangku.
Dies natalis ya? “Boleh sih....”
Aduh, kenapa aku malah berpikir untuk bersenang-senang? Padahal aku harus memikirkan banyak hal.
Benar juga. Tragedi dulu, kak Fares tahu sesuatu yang bahkan Hendra dan aku tidak diberitahu oleh papa. Mungkinkah Fares juga tahu keadaan kali ini? Akan lebih baik untukku untuk menggali lebih.
Namun pasti sulit, di mana Fares pasti khawatir lagi tentangku jika aku mulai bertanya.
“Rasyi.”
__ADS_1
Kubuka mataku lebih lebar, “Hmm?”
“Melamun lagi, melamun lagi....”
Eh? Ada apa dengan kelas ini? Semua orang tampak terdiam dan menghadapkan matanya ke arahku.
Lebihnya, sekarang aku ada di kelas? Kenapa rasanya aku melompat lagi? Apa sesering itu aku melamun?
“Kamu dengar gak?”
Hmm?
“Fokus, fokus.”
Kenapa dengan mereka sih? “Apa sih?”
“Dari tadi gak dengar?”
“Bisa tidak rumahmu jadi basecamp lagi buat bulan bahasa?”
Oh, apa mereka mulai diskusi tentang hal itu?
Acara kali ini memang tidak beres hanya dengan atribut sederhana. Yang paling membanggakan setiap tahunnya adalah lomba mading 3D antar kelas. Tentu itu tidak akan mudah dan butuh tenaga meski masih dua minggu sebelum acara.
Dan mereka sudah sibuk meski belum sore di akhir jam sekolah?
“Kapan?” aku secepat mungkin menjawab.
“Kalau bisa sih langsung sekarang. Tapi yah mulai besok sih gak papa.”
Otakku rasanya berputar lambat, “Memang tidak ada guru?”
Wajah-wajah itu, mengapa kelas jadi tampak aneh?
“Rasyi,” Firna memegang pundakku, “Mau ke UKS dulu?”
Eh? “Apaan sih?” mereka sungguh membuatku bingung.
“Ini sudah jam pulang kali~”
“Rasyi ada sakit atau kenapa? Gitu terus dari kemarin kemarin.”
Su, sungguh?
Kepalaku pasti sudah terlalu penuh dengan banyak sekali spekulasi tentang papa dan segala macamnya. Sedetik saja sungguh berhasil membuat kepanasan setiap sel kepalaku.
“Jadi...?”
Oh, benar. Tentang rumahku, “Kalau gitu aku tanya dulu papaku....”
Heh? Kenapa aku malahan bilang itu?
“Rasyi...?” Firna tampak panik.
“Antar aja Rasyi-nya ke UKS.”
“Yuk.”
Aku menggeleng, “Tidak. Aku tidak ada sakit kok.”
Kenapa mereka jadi panik?
Eh? Rasanya mataku blur. Kesadaranku masih ada. Lalu kenapa mataku tak jelas memandang? Tunggu.... Mungkinkah aku menangis?
“Rasy, kenapa?” Firna mengelus punggungku.
Aku tidak tahu. Derasnya basah di mataku seperti berjalan sendiri tanpa kendaliku.
Hampir seluruh kelas mendatangiku,“Apa yang ditakuti?”
“Tidak tahu....”
Hmm, takut? Jangan bilang, aku masih takut.
Bukan. Aku memang tidak pernah berani menanggapi peristiwa ini. Seluruh diriku selalu takut.
Deras semakin deras selagi aku menutup sebagian wajahku, “Hik, hik....”
Papa... Kamu di mana?
__ADS_1
Tolong....
Pulanglah....