Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#92 Tak Dapat Diperbaiki


__ADS_3

Aku memandang lelaki ini di depan kelas. Ia ada di kerumunan yang sama dengan murid-murid satu kelas ini. Mereka sekedar melakukan kebiasaan masyarakat +62. Mencium tangan guru yang akan meninggalkan kelas untuk pelajaran selanjutnya.


Selagi murid-murid, yang sudah memenuhi keinginannya, kembali ke kursinya. Bola mataku bisa terasa mengikuti arah gerak satu murid ini.


Namun arahan mataku tidak berlanjut sesaat ia melewati bangkuku.


Ya, sekaku itulah aku dengan Harun satu minggu ini.


“Guys! Kita bahas-bahas buat dekor kelas dulu ya~”


“Tolong kooperatif-nya!!


“Yang gak mau bantu tenaga, bantu dana loh ya!”


Haaa..., apa aku bantu dana saja ya? Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku karena terlalu banyak berpikir belakangan ini. Kalau aku tidak berusaha mati-matian, ulangan harian kemarin saja pasti sudah gagal.


Dan papa akan semakin marah dibanding di rumah Aldi waktu itu.


“Rasyi~ Ide, Ras!!”


Eh? Heh?!


“Kamu tuh yang mikir! Bisanya nyuruh aja!” suara Firna menggelegar membalas siapapun yang bicara denganku tadi.


Tentu dengan teman-teman yang sportif membuli orang ini yang tidak lain dan tidak bukan adalah Qun.


Iya sih, memang. Otakku terlalu kreatif karena banyak pengalaman. Akhirnya, walaupun aku bukan anggota organisasi atau pengurus kelas, aku jadi terlihat lebih aktif.


Ya, karena sebagian besar hanya bagian dari ingatan masa sekolah Sekar juga sih.


Namun bisa tidak jangan ganggu aku untuk, entahlah, selamanya?


“Ayolah, Rasyi. Buntu nih. Buntu!”


“Dinding belakang cat gih~”


“Mau cat gimana?”


Dekor..., kelasku dulu..., “Bentuk aja segitiga. Nanti kasih tape acak aja sampai ke bentuk segitiga tak beraturan, terus cat.”


“Madingnya?”


“Pakai papan besar kan bisa?” oh iya, dulu juga ada di kelasku, “Pakai foto kita juga.”


“Oh iya Rina pernah mau ajak sekelas foto studio kan?”


“Iya guys, yok yok! Ayok~!”


Kelas jadi lebih produktif mengeluarkan ide. Tidak seperti kebanyakan kelas yang orang-orangnya tidak saling cocok, kelas ini terbilang kecocokannya lebih dari delapan puluh persen.


Sekarang aku... harus memikirkan apa?


“Mau kabur ke Mocha?” Firna, ia selalu sadar kalau aku sedang tidak ingin berpikir, “Jam kosong juga kan?”


Aku tersenyum. Tak tahu harus ikut atau tidak.


Sungguh! Otakku seperti sedang layar biru dan selalu rusak lagi walau lima kali diperbaiki di teknisi!


“Aku boleh tanya sesuatu tidak?” Firna melanjutkan pembicaraannya lebih pelan seakan tidak mau siapapun mendengarkannya.

__ADS_1


Bertambah lagi kebingunganku sejak memandangnya, “Apa?”


“Tapi jangan marah.”


Mulai lagi deh anak ini seperti ini. 


“Ya, apa?”


Dia masih saja ragu, “Benar loh. Jangan marah.”


Sungguh, Firna?! Ini tidak memberikan aku ketenangan sama sekali~!! Kalau kamu takut aku marah, jangan bicara yang aneh-aneh! Kalau kamu mau bilang, beranikan diri!


“Tidak. Aku sudah marah. Tidak perlu ngomong lagi,” mood-ku sungguh tidak bisa mengikutinya.


“Rasyi...,” dia memelas kan sekarang!


Aku menghela nafas, “Iya, apa? Bilang sekarang!”


Dia mendekatkan mulutnya di telingaku.


“Kamu masih mau balikan sama Harun?”


Aku mengerutkan kening, “Inikan lagi kelahi,” ikut aku berbisik, “Kalau kelahi, ya harus baikan. Jangan sampai tegang lama-lama.”


“Tapi, masa habis begitu, kamu masih ada pingin. Mau jadian sama Harun?”


Heh? “Tidak. Aku tidak mau jadi⏤” ..., jadian?


“Papamu batasi kalian sampai mana sih? Aku jadi dia, sudah tidak bolehkan ketemuan lagi.”


Semua orang tahu kalau aku dan Harun punya rasa masing-masing. Meskipun sejauh ini kami belum pacaran, kami bisa melihat jika hari itu akan datang. Di suatu hari nanti.


Kurasa ini tentang diriku yang percaya atau tidak.


Itu berarti dalam satu minggu ini, aku hanya menghindari Harun?


Meski papa tak sepenuhnya mengekang keputusanku, aku seperti mengerti kehendak papa dan memilih menjauh.


Tidak, kurasa papa benar. Kalau aku takut.


Bila demikian, aku harus bagaimana?!!


Kepalaku!! Mengapa ribet sekali hanya untuk memahami diri sendiri!!


Langsung aku berdiri, “Yuk lihat Mocha.”


Berharap seekor kucing dan kawan-kawannya bisa membantuku untuk menenangkan diri.


Aku berjalan keluar dari bangku dan meja⏤Aaa!


 “Ras, lihat-lihat lah!”


“Sorry...,” sungguh! Tiga detik yang membuat jantungku pergi home run!


Eh? Eh?!


“Ada aja. Udah tahu kamu kayak anak SD. Kalau kesenggol bisa kepental,” teman sekelasku tercinta yang tingginya seperti jerapah ini mau menghinaku, hah?!


Ia melepaskan tangannya dari pinggangku. Tentu karena aku berdiri di saat temanku ini sedang lewat. Kalau dia tidak menahanku, kepalaku pasti sudah masuk ke kolong kursiku sendiri.

__ADS_1


“Lepas!!”


Eh?


“Iya, nih sudah dilepas,” temanku ini menunjukkan kedua tangannya yang bebas.


Kupandang suara yang aku kenal di belakangku itu. Harun sudah berdiri dengan amarahnya.


“Kamu ngapain tadi?” Harun memandang dengan tajamnya ke arah teman sekelasku ini.


Wajahnya tampak sebuah senyum aneh, “Santai kali. Kagak. Rasyi kagak aku rebut kok⏤HUK! Heh!!”


Aku langsung panik. Melangkah aku di antara mereka, “Harun!”


Tidak aku sangka satu minggu ini tidak ada perubahan sama sekali dengannya. Padahal aku harap waktu yang panjang ini bisa membuka pemikiran kami berdua.


Memang benar pemikiranku lebih terbuka. Aku tahu Harun tidak pernah berpikir sehat akan emosinya.


Bahkan dia mau memulai perkelahian lain dengan orang lain. Temanku ini hanya menahan pinggangku agar tidak jatuh. Kenapa Harun harus mendorongnya sampai tertabrak meja seperti ini?


“Kenapa sih?!”


Tentu tidak ada yang tidak marah kalau mengetahui orang mendorongnya tanpa sebab. Aku yakin kakinya kesakitan karena tabrakan dengan meja itu.


“Jangan sok bodoh!” sungguh kah, Harun?!


“Harun!! Cukup!”


Dia akhirnya jadi memandangku meski sejak tadi aku sudah berdiri di depannya. Aku mempertahankan tatapanku tegas selagi saling bertukar pandang. Suasana hening kami manfaatkan untuk menegaskan maksud dengan mata.


Namun tidak ada yang mau mengalah.


“Guys..., guys. Kok kelahi gini eh?”


“Rasyi,” aku mendengarkan suara Firna. Aku tahu, dia menggenggam lengan milikku, tanpa perlu melihat ke arahnya, “Yuk kita pergi, yuk.”


Tidak. Papa benar. Aku harus menegaskannya lebih ke arah Harun kalau aku tidak menyukai tingkahnya sama sekali.


Sudah cukup aku merasakannya sekarang!


“Diam,” lagi-lagi, Harun mengeluarkan wajah mengerikan..., “Mengecewakan gini, mending tutup tuh mulut. Kamu tidak pernah bela aku sama sekali. Bisa-bisanya sifat kayak ayahnya.”


Aku langsung menggenggam tanganku sendiri. Mengeraskan, menekan urat-urat itu, berharap tidak merasakan getaranku sendiri.


Jangan takut. Harus aku tegaskan kalau dia tidak bisa mengendalikanku terus menerus!


“Semuanya, duduk! Ibu mau kasih tugas dari bu Ahna!”


Seorang guru mengagetkanku dan seluruh murid di kelas ini. Kami tidak beraturan duduk ke tempat masing-masing.


“Rasyi, yuk duduk,” Firna berhasil menggerakkan aku dari berdiri.


Kembali duduk.


“Harun! Kenapa masih berdiri?!” guru menyadarkanku akan Harun yang belum beranjak dari tempatnya, “Mending bantu ibu sini bagiin fotocopy-an ke kawan-kawanmu.”


Ia masih bisa tersenyum, “Iya, bu.”


Aku melihat Harun yang berjalan melewati bangkuku. Dan punggungnya semakin jauh.

__ADS_1


__ADS_2