
^^^Note~!^^^
^^^Story berlatarkan tepat saat Rasyi berumur tiga tahun empat bulan. Di mana diceritakan di awal-awal [Putri Sang Duda]. Basically, Rasyi belum tahu apa-apa tentang konflik utamanya. Enjoy~^^^
...♡ • ♡ • ♡ • ♡ • ♡...
Mari kita lihat lagi.
Udaranya segar. Cahayanya sangat cerah. Awan yang melindungi kulitku seakan permen kapas yang meleleh manis.
Keindahan ini bisa jadi abadi, bila aku tidak tersesat.
Sungguh?!! Belum juga sebulan aku keluar dari statusku jadi tahanan rumah! Dan ini yang aku dapat?! Tersesat?!!
Aku menyalahkanmu Fares! Meninggalkan si manis Rasyi yang baru tiga tahun ini menjadi korban?! Kecerobohan-mu sungguh membuatku berakhir menjadi anak hilang, Fares! Jadi anak hilang!!
“Huuuh..., kak Faayes mana...,” aku mulai kesal dengan suara cadel-ku sendiri.
Namun bagaimana bisa aku tersesat sejauh ini?
Kami cuma jalan-jalan di sekitar rumah. Ini sungguh sebuah perumahan yang tidak aku kenal sama sekali. Memang aku tidak pernah keluar rumah sejak lahir, tapi bukan berarti aku tidak bisa menemukan jalan pulang seperti ini!!
Sungguh?!
Oh, tunggu. Ingatanku yang sudah penuh masalah ini sepertinya mendapatkan sesuatu. Kawasan ini kalau tidak salah... ada di sekitar museum kan?
Hmmm...., dari museum ke rumah....
Nope! Kekurangan informasi.
Tentu saja karena putri rapunzel ini dikurung selama hidupnya dan baru merasakan udara luar selama kurang dari satu bulan. Bagaimana caranya aku tahu bagaimana pergi dan pulang dari museum?!
Aaaaaaaagh⏤
“Auw!”
Ups. Sepertinya aku menabrak seseorang.
Museum sedang ada di kunjungan sepertinya. Kalau aku lihat-lihat, ya, banyak siswa SMA di sini.
“Gak papa, dek?” orang yang kutabrak itu membungkuk memperhatikanku.
Aku berusaha melihat wajahnya yang membelakangi langit yang terik, “Maaf, Achi tidak sengaja.”
“Achi?” dia jongkok sekarang, “Lucunya~”
Tunggu. Kenapa rasanya aku pernah melihat dia ya?
Siapa....?
“Gading~ Lihat deh, manis banget kan~?”
Sepertinya dia punya teman.
Eh? Heh?! Papa?!!
De, dengan seragam SMA?!!! Heeeeh?!!?!
Itu, itu sungguh dia. Aku tahu wajah tampan itu di mana saja!
Ketampanan itu memang papaku yang menjengkelkan! Itu memang tampannya... si tampan papa.
Mengapa aku tidak bisa berhenti berpikir ‘tampan’?!
Dia... tampan dengan seragam SMA.
Berhenti berpikir tentang ‘tampan’!!
“Dek, kenapa?” cewek SMA ini melihat ke arah papa, “Kakaknya seram ya?”
“Ha, lucu,” pria ini bahkan terdengar seperti papa, “Aku tinggal.”
Heh? Dia mau kenapa?!
Tunggu! “Papa!”
Cempreng teriakanku menghentikan langkahnya yang berusaha pergi. Wajahnya sungguh terkejut seperti mendengar monster yang berbisik di dekat telinganya.
Apa kamu yang harusnya terkejut?!
Ini tidak lucu, papa! Putrimu yang cantik jelita ini sedang tersesat!
Cewek ini tidak aku sadari wajahnya aneh, “Papa?”
“Bukan,” pria ini memandangku tegas.
Ya, seperti aku percaya saja! Tidak mungkin aku tidak mengenalimu.
“Papa!” cepat hentikan tingkah bodohmu itu!
Dia kut berjongkok di depanku, “Nama papamu siapa?”
Kenapa dia bertanya? “Rizki!”
Jari telunjuknya mengarah ke dirinya sendiri, “Ini Gading, bukan Rizki.”
Ya, tentu.
“Papa!” aku balik tunjuk ke arah dia.
“Bukan.”
Anda mau memancing bagian buruk dari putrimu, ya?! Fine!
Menangis, Rasyi, menangis! “PaaaPAAAA!”
“Aaah!!”
“Wow.”
“PaaaapAAAA⏤hmp!” ada yang manis masuk ke mulutku?! Permen?
“Sudah?” papa yang kasih aku permen?
Karena ini aku tidak bisa marah sampai menjambak rambutnya. Dia sungguh tahu bagaimana membuat hatiku adem.
Manis permennya berbeda, tapi enak!
Tunggu! Bukan ini seharusnya yang terjadi!
__ADS_1
Papa kasih lagi permen ke tanganku, “Apa ada kalung atau apapun yang ada nomor telepon orang tuanya?”
“Oh, ada nih. Di sepeda,” cewek itu menemukan lembaran kertas laminating yang tertempel di sepedaku, “Rizki Wirandi. Coba deh aku pinjam telepon museum. Kamu jagain dulu ya di sini.”
Dia pergi?
“Nisa tunggu!” papa memanggilnya tapi dia sudah jauh.
Hmm? “Nisa?”
Nama itu, kan... makaya aku merasa pernah mengenalnya! Dia mama!!
“Mama!” aku menunjuk cewek yang sudah pergi itu.
Masalahnya adalah, mama sudah meninggal!!
Papa melihat ke arah yang aku tunjuk, “Bukan.”
“Mama!”
Dia menghela nafas, “Siapa nama kamu?”
Ini sungguh tidak lucu. Papaku seperti tidak pernah bertemu dengan anaknya sendiri. Apa dia sungguh anak SMA biasa?
Rizki sungguh awet muda. Namun nuansa seorang dokter yang sudah memiliki anak, dengan anak sekolahan berbaju putih abu-abu. Keduanya adalah dua hal yang berbeda.
Yang benar saja?!
“Ac...,” ehem! “Rasyi!”
“Rasyi?”
“Rasyi!”
“Ok,” papa berdiri dan tangannya menggenggam kemudi sepeda roda tiga-ku, “Kita duduk ke sana.”
Dia berjalan menggiring sepedaku dengan satu tangannya. Aku mengikutinya dari belakang. Selagi aku sibuk kebingungan harus masukkan ke mana permen-permen yang memenuhi kedua tanganku.
Kursi taman di sekitar parkiran museum ia duduki. Tampaknya ia sadar dengan kelakuanku, membuatnya mengambil lagi permen-permen di tanganku dan memasukkannya di keranjang sepeda.
“Rumah Rasyi di mana?”
...
Aku tidak salah orang kan? Ini benar papa kan?
Coba saja aku tunjuk lagi orang ini, “Papa!”
“Iya, rumah papa,” dia menunjuk dirinya sendiri, “Bukan yang ini.”
Ini semakin aneh.
Pertama, papa tidak mungkin se-niat ini kalau mau mengerjaiku. Faktanya dia akan menghinaku dengan segenap usahanya karena aku bisa tersesat. Kedua, kalau dia papa dan cewek itu mama⏤tentu saja itu sudah tidak mungkin!
“Kamu tidak tahu di mana rumahmu?”
Aku kembali memandangnya yang duduk di kursi taman. Berdiri sambil menikmati permen lolipop di mulutku. Kami terdiam saja sambil saling menatapnya.
“Hmmm, tidak tahu ya?”
Tapi seharusnya aku ingat alamatnya, “Rasyi rumahnya di Citra Mandala!”
“Iya. Yang rumahnya besar-besar!”
Kenapa lagi? Wajahnya tampak sangat bingung. Bingung ini sungguh... bingung.
Aneh!
“Kamu lahir tahun berapa? Tahu?”
Pastinya aku tahu. Namun, tidak seharusnya anak tiga tahun mengetahuinya kan?
Kalau begitu..., “Dua ribu... berapa gitu! Tidak tahu!”
“Dua ribu?!”
Kenapa lagi sih dia?! Jangan menatapku seperti aku adalah anak yang lahir di zaman purba, tapi melompati kemusnahan dan pergi ke depan wajahmu!
“Heh, heheheh, lagi?”
Lagi?
Dia berdiri. Tertawa aneh itu berhenti dan ia mulai menaikkan aku ke sepeda.
Apa ini tiba-tiba?
“Ayo kakak antar.”
Lah? Orang ini langsung menarik sepedaku. Tidak ada basa-basinya sama sekali!
Namun ya, tidak masalah sih. Aku jadi tidak perlu lelah mengayuh.
“Papa Rasyi mirip kakak, kan?”
Percakapan yang aneh.
Sudahlah! Aku lelah. Itu aku pikirkan nanti setelah PAPA ini membawaku pulang.
“Iya. Papa! Mirip sama Rasyi juga.”
“Heh,” dia tertawa lagi? “Nama panjangnya Rasyi siapa?”
“Rasyiqa... Dheanadari... Wirandi!”
“Hmm.....”
Aku sungguh bingung harus bagaimana. Papa bertingkah layaknya orang asing.
Namun kalau dia sungguh mengantarkanku setidaknya di depan komplek, itu akan sangat membantu menghentikan kegilaan ini. Bapak-bapak penjaga komplek tidak mungkin salah mengenal papa.
“Nih, Citra Mandala,” dia berhenti dan menatapku.
...
Terdiam aku melihat keadaan. Menatap lagi anak SMA gila ini. Kutatap lagi di kiriku, lalu kembali lagi ke dia.
Dia... gila?
Ini kan cuma tanah kosong!!
__ADS_1
Kutatap ia, “Bukan!!”
Dia berjongkok di depanku yang masih duduk di sepeda, “Lihat itu?” dia menunjuk spanduk di tanah kosong itu? “Tulisannya, coming soon komplek Citra Mandala.”
Co... coming soon?!! Yang benar saja?!!
“Artinya komplek-nya belum jadi, tapi mau dibuat.”
Namun, tapi, akan tetapi, but but!
“Rumah Rasyi mana?!”
“Bukan di Citra Mandala?”
“Tidak! Beneran rumah Rasyi di Citra Mandala!!”
“Kalau begitu tungguin saja di sini.”
“Aaaa! Rasyi nanti jatuh!”
Sungguh?! Dia menggerakkan sepedaku lebih ke pinggir, keluar dari jalan aspal. Menghadapkan sepedaku ke tanah kosong itu.
“Dengar, Rasyi,” dia duduk lagi di samping kananku, membuat wajah kami sejajar, “Rasyi seharusnya tidak di waktu ini.”
Apa lagi itu? “Waktu apa?”
“Jam Rasyi belum sampai.”
Eh? “Rasyi tidak beli jam!”
“Heh,” dia tertawa sekarang? “Coba tutup mata. Hitung satu sampai tiga. Ingat-ingat lagi rumah Rasyi bentuknya gimana.”
Dia maunya apa sih?!
“Coba dulu,” dia memaksaku menutup mataku, “Rumah Rasyi bagaimana, terus hitung satu dua tiga pelan-pelan.”
Aaagh! Terserah dia deh! “Satu... dua.... tiga....!”
“Rasyi!”
Hmm?
Mataku terbuka langsung ke arah kananku. Loh? Tante Sari?
“Sayang,” dia berlari ke arahku dan buru-buru menyentuh lembut wajahku, “Rasyi tidak papa kan? Ada yang luka?”
“Astaga, untung banget!” Ira?
“Dia ketemu jalan sendiri?” Hendra.
“Maaf...,” Fares?
Tunggu, tunggu tunggu tunggu! Ini terlalu ramai! Bingung. Papa tadi di sini kan? Mana tuh orang?!!
“Huuh....”
Itu dia! “Papa!” aku tunjuk di arah lahan kosong tadi, “Rumah Rasyi gima⏤”
Heh? Eh?!
Ini... depan komplek?! Gerbang, rumah-rumah. Orang yang ramai. Apa maksudnya tadi?!
“Kenapa, sayang?” Sari masih khawatir.
“Papa!” aku turun dari sepeda dan mendekati pria itu, “Kok ada lagi?!”
“Apanya?” dia jongkok di depanku.
“Tadi kan kata papa rumah Rasyi belum jadi! Masih, masih hutan!!”
Dia tampak bingung.
“Itu, papa bilang jam Rasyi belum sampai. Jadi Rasyi harus hitung satu sampai tiga sambil tutup mata!” Aaaargh! Emosi sekali!!
Kamu yang suruh aku seperti itu! Kamu!
Tunggu, telunjukku mengarah ke bajunya, “Seragam papa mana?”
“Seragam?”
“Iya! Seragam SMA yang tadi!”
“Rasyi, sayang, yuk kita pulang. Rasyi lapar ya?” oh, sungguh, Sari!
“Tadi beneran papa pakai seragam putih abu-abu!”
Aaargh! Pasti senang kamu sekarang, Rizki?! Mengerjai anakmu sampai seperti ini?!! Heh?!
“Papa jelek papa jelek papa jelek!!”
“Heh,” ketawa kamu ya?!
“Rasyi....”
“Dia tidak apa,” sekarang papa ini menggendongku, “Rasyi cuma bingung. Nanti juga lupa sendiri.”
“Papa yang ngerjain Rasyi!” bagaimana bisa lupa?!
“Hmm...,” dia tersenyum dan mencubit hidungku. Berjalan perlahan sambil terus menggendongku, “Tidak apa. Jam Rasyi sudah sampai kok.’
Apa lagi itu?!
“Tahun sembilan belasan, rumah Rasyi memang masih hutan sih. Papa juga baru SMA,” papa ini bicara lagi.
Ya, ya, terserah!!
...
Heh?
____________________________________
^^^Bagaimana menurut kalian? Jangan-jangan....^^^
^^^Nope! Tetap open ending! Silahkan buka imajinasi kalian untuk melanjutkan cerita-ceritanya^^^
^^^Love love love you~ ♡^^^
^^^P.S seharusnya aku up ini kemarin...^^^
__ADS_1
^^^sorry ( ゚ ▽ ゚ ;)^^^