Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#91 Tegang Tegas Seorang Ayah


__ADS_3

“Pa, ini harus, kah?”


Kalau saja aku punya kemampuan mematikan urat rasa maluku. Maka aku akan mempersembahkan rap di depan pintu masuk monumen monas⏤dalam kecepatan lima detik.


Isinya⏤


Namaku Sekar Bunga Melati dan sekarang dikenal sebagai Rasyiqa Dheanadari Wirandi. Bapak saya dokter tampan duda yang namanya Rizki Wirandi. Sekarang aku akan mengabdikan hidupku dengan masalah percintaan yang rapuh kayak lidi! Bapakku ini bakal langsung ngomong sama orang tuanya! Bukan! Bukan bicara baik-baik!!


Yo! Kenapa seperti itu ya, yo?! Yo?! Bapakku sekarang mau mengamuk di rumah orang, yo!! Tidak lucu, yooo!!!


“Papa cuma selesaikan yang hancur,” papa masih duduk dengan percaya dirinya.


Aku tidak ada bilang kalau anda harus membawanya langsung ke orang tua yang berkait! Bagaimana kalau jadinya makin tidak bisa diselesaikan?!


“Pak dokter,” Aldi, ayah dari Harun menyambut kami setelah ia keluar dari bagian dalam rumahnya, “Maaf, saya baru pulang jadi tadi bersih-bersih dulu.”


Rizki merespons baik sambutan itu, “Terima kasih sudah luangkan waktu.”


“Jadi ada masalah apa ya, dok. Sampai minta kami kumpul?”


Walau Aldi duduk santai dengan senyum ramahnya, aku tidak bisa pura-pura tidak melihat keringat dinginnya.


Papa tidak sedekat ini dengan keluarga Harun. Di luar kenyataan kalau istrinya, yang saat ini duduk di sampingnya, adalah perawat di satu RS yang sama dengan papa. Ini adalah kunjungan yang mengejutkan.


“Saya langsung saja,” papa yang ingin bicara sungguh membuatku tegang, “Anak anda, perlu dikasih pelajaran lagi.”


Yooo! Kok kayak gini, yooooo?!!!


“Harun?” sang perawat ini terkejut, “Harun pernah kenapa?”


“Rasyi.”


Papa, Rasyi paham anda ingin menyuruh Rasyi untuk menunjukkan luka Rasyi. Namun, sungguh papa?!


“Rasyi!”


Dia, bukan main-main marahnya.


Huuuh..., tidak ada pilihan. Aku perlahan membuka kancing lengan bajuku. Memperlihatkan luka genggam yang membekas di pergelangan dan lengan atasku.


Wanita itu tidak percaya apa yang dia lihat, “Harun... yang....”


Aldi terdiam sesaat, “Panggilkan Harun ke sini.”


Istrinya mengerti apa yang harus dilakukannya. Berdiri ia dan memasuki kembali bagian dalam rumah.


“Yang terjadi sebenarnya apa, dok?”


“Anak anda berkelahi dengan kenalan Fares. Dia tidak terima diberitahu sama Rasyi,” papa mengatakannya dengan jelas.


“Huuuh..., lagi?”


Lagi?


Tak memahami, aku dibuat kebingungan. Mengapa pria ini seakan tidak terkejut?


“Rasyi?” Harun? Dia datang dengan ibunya, “Paman....”


“Harun,” Aldi menatap ke arah anaknya, “Kamu apakan Rasyi?”


Pandangan Harun tajam, “Apakan maksudnya?”


“Kamu, nipu siapa? Luka Rasyiqa begitu gara-gara kamu kan?!”

__ADS_1


Suasananya semakin tegang. Layaknya di tekan di berbagai sisi dengan ruangan yang penuh dengan asap. Tak bisa bernafas normal. Padahal yang kami lakukan hanya diam tak bicara.


Aku harus seperti apa? Misalnya terjadi lebih tegang lagi, bagaimana kalau malah akan semakin mudah untuk putus.


Harun dan aku bisa jadi tidak bisa berteman lagi.


Menggeleng Aldi pada anaknya, “Sekarang minta maaf ke Rasyi sama dokter Wirandi.”


“Aku ngapain?”


“Harun!”


Tersentak aku dibuat Aldi.


Aku mengenal Aldi sejak Sekar SMA. Dia senior yang lembut dan tidak pernah mengeraskan suaranya.


Namun sekarang aku melihat kebalikannya. Wajahnya menyeramkan.


“Dokter, Harun melakukan apa saja sampe sekarang?”


Papa tertawa sinis, “Lebih baik jangan dibahas.”


“Saya pikir tidak perlu ditutupi juga kalau Harun salah. Itu salah saya karena tidak mendidik Harun dengan benar. ”


“Itu karena saya tidak peduli,” mata papa menatap lurus ke Aldi, “Tapi kalau sudah sampai Rasyi dapat luka. Mana bisa seorang ayah diam. Ini sudah tidak bisa diterima.”


“Saya menghargai dengan sangat dokter bisa memaafkan tingkah Harun yang sudah-sudah. Dokter, benar. Kalau sampai luka begitu, saya juga tidak bisa maafkan Harun. Biar dokter tenang, harus gimana?”


“Saya cuma mau bicara pada Harun di depan anda. Anda perlu tahu.”


Bicara apa? Aku tidak bisa membayangkan. Kalimat apa yang papa rancang sampai perlu di depan orang tuanya.


“Rasyi itu putriku. Bukan barang yang dimainin suka-suka,” mata papa tajam, “Kita sudah bicara tentang ini.”


“Ingat atau tidak. Aku sudah bilang, aku bisa turun tangan.”


Mata Harun yang membelalak tidak mengalihkan suasana dari ketegangan dan keheningan. Walau ada aku dan orang tua Harun. Papa duduk di sampingku dengan bicara tegas pada anak yang berdiri cukup jauh di kanan kami.


Dengan nada bicaranya, papa sungguh mengubah ruang tamu ini menjadi tempat penghakiman.


Yang tidak serta merta menenangkan aku.


“Kamu sudah jadi ancaman untuk putriku. Maaf saja, aku tidak bakal biarin kamu punya kesempatan.”


Heh?


“Mau Rasyi suka kamu, jangan pikir aku akan biarin sekarang.”


Aa, apa?


“Apa yang paman bilang?” Harun tampak marah.


“Harun!” Aldi berteriak lagi, “Dengarkan saja!”


Tapi, apa itu berarti papa tidak membiarkan aku punya hubungan apapun dengan Harun? Bahkan teman?


Ini terlalu tiba-tiba untukku! “Pa, Rasyi belum bilang pendapat Rasyi loh!”


“Rasyi masih berharap papa diam?”


Aku yang terdiam. Papa bisa tegas dan aku tidak bisa membantah.


“Papa tanya,” tatapan itu tampak lebih lembut, “Rasyi masih berharap apa ke Harun?”

__ADS_1


Eh? Apa mauku dari Harun? Bukannya aku sudah mengatakannya pada papa dulu? Kenapa aku harus mengatakannya lagi?


Ditambah lagi, aku... Sudah mengatakannya dengan jelas pada Harun. Kami sudah menukar pemikiran kami dengan sangat jelas. Hasilnya malah, dia mencengkeram lengan atasku.


Namun, bagaimanapun yang terjadi, bukan berarti aku harus putus hubungan dengan Harun kan?


Helaan nafas papa terdengar berat, “Papa tidak akan batasi Rasyi kalau mau berteman. Tapi Rasyi paham kalau papa tidak akan percaya lagi dengan Harun kan?”


Aku tidak bisa menjawab lagi.


“Saya disini hanya ingin menegaskan,” papa melanjutkan bicaranya, “Harun, kamu tidak bisa seenaknya di depanku mulai hari ini.”


“Rasyi,” itu suara Harun? Ha... run...? “Kamu sungguh terima ini?”


Heh?


“Aku suka kamu, Rasyi. Jangan begini...,” suara sendu itu tidak cocok dengan ekspresinya.


“Harun! Kamu bisa bicara gitu kalau kamu gak salah! Ingat-ingat!” Aldi tampak lebih marah lagi.


Harun menatap ayahnya, “Aku gak salah apa-apa!”


“Tidak salah dimana?! Kamu maksa kehendak ke orang lain!”


Itu kan! Tuh kan!! Semua jadi bertambah kacau!!


“Pak Aldi,” suara papa menghentikannya dengan tenang, “Biar saja perjelas.”


Apa lagi yang perlu diperjelas?


“Putri saya sayang dengan anak anda.”


... heh?!


Ke, kenapa jadi itu yang dibahas?!


Papa, masih dengan hawanya yang tegas, “Saya selalu hargai itu. Jadi saya tidak pernah ikut campur. Sama seperti anda.”


Tatapan itu. Mata coklat yang gelap itu. Bening dan indah seperti kristal. Ia memperhatikanku lekat sampai bisa aku lihat pantulanku sendiri di dalamnya.


“Jadi, Rasyi ingin apa dari Harun?”


Aku... tidak yakin mau menjawab apa.


Kenapa aku seperti kehilangan jawaban? Tidak bisa mengemukakan apapun....


“Rasyi,” Harun, lagi-lagi dia kelihatan seperti itu.


“Yang pasti,” papa bicara lagi, “Rasyi tidak berharap ke orang yang ringan tangan. Bisa juga aku bantu lebih jauh dari ini. Pahami itu?”


Semua masih diam. Namun aku sekilas mendengar semua ketekan. Dan sampai akhirnya aku dasar itu... dari kepalan tangan Harun.


Melihat apa yang papa lakukan, itu tidak salah. Itu hanya reaksi seseorang yang mendapati anaknya terluka fisik karena orang lain. Bahkan kasih sayang seperti itu sering kali membawa orang tua yang turun tangan langsung ke masalah anak-anaknya.


Dan papa hanya melakukan apa yang dirasa perlu.


Harun tidak ada alasan untuk marah. Karena yang papa katakan hanya bagian kecil dari yang aku coba untuk kemukakan pada Harun.


Meski sampai sekarang pun dia tampak tidak menerimanya.


Dia, sungguh keras.


“Saya akan ketat begitu sampai saya rasa tidak perlu lagi. Saya harap anda paham,” papa kembali ke Aldi.

__ADS_1


“Saya paham, dok,” Aldi memandang marah ke anaknya yang masih berdiri.


__ADS_2