Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#128 Pencarian Penemuan


__ADS_3

Malamnya semakin larut. Hebat juga tim pencari ini tidak berhenti walau pencariannya mulai malam-malam. Apa mungkin karena ada laporan bunyi tembakan di dalam sana?


Telingaku, berdenging.


“Bubar!”


Hari... Ke berapa? Sudah berapa lama aku cari?


Tidak bisa diam. Banyak hal buruk melayang ke sana kemari. Bagaimana kalau Rasyi⏤bagaimana kalau berhenti pikir. Lakukan apa yang harus dilakukan.


Oh, Harun masih ada di sini. Ini sudah malam.


“Kamu pulang saja, Harun.”


“Aku ikut cari,” dia lihat ke aku, tapi mukanya selalu takut.


Huuuh..., “Kamu tidak istirahat sama sekali loh dari kemarin.”


Dia senyum samar, “Tidak pa-pa kak. Aku juga tidak bisa tenang. Biar aku bantu.”


Cara bicaranya Harun berubah. Dia juga marah gara-gara salah aku.


Tidak bisa menentangnya. Kalau ada yang perlu disalahkan, itu adalah aku. Orang yang tidak pantas menjadi kakak Rasyi. Harun cuma percaya ke diri sendiri saat ini.


“Maaf....”


Walau malam, tim pencari ini masih bekerja. Paman yang memberikan permohonan. Ayah juga turun tangan.


Rasyi, tante Ira, Jagad, mereka harus baik-baik saja.


Harun jawab lagi, “Jangan tekan diri kakak begitu. Mana kita tahu kalau bakal jadi begini. Yang penting kita cari Rasyi sekarang. Dia kuat kok, pasti tidak pa-pa.”


Padahal Harun paham. Semua itu tidak akan terjadi kalau aku jaga Rasyi lebih benar. Kalau aku tepati janji kak Riza lebih benar.


Fares jadi kakak yang buruk ya, kak Riza.


“Ayo kita gabung sama paman-pamannya, kak,” Harun ingin pergi duluan.


Tidak salah.


Maaf, kak Riza, aku harus lupakan dulu itu. Yang penting temukan mereka.


Rasyi, aku mohon... baik-baik saja. Satu minggu sudah terlalu lama.


Tolong, jangan pergi juga. Itu mustahil....


“Hai! Kamu!”


Suara petugas. Di kanan.


Harun sepertinya mau tahu juga. Mukanya jelas kalau dia juga sadar kalau ada sesuatu di sana.


Bisa jadi Rasyi!


“Berhenti!”


“Dia ke arah sini!”


“Cepat!”


Para tim pencari, semuanya pergi ke suaranya. Rasyi atau bukan, semua memang perlu di cek. Apalagi kalau mereka lagi berlari saat didekati.

__ADS_1


Ikuti! Walau aku tidak tahu itu siapa, harus tetap diikuti! Tidak peduli gelap, senternya sudah cukup buat tahu ke mana harus pergi.


“Perhatikan sekitar!”


“Itu dia!”


Ketemu. Mereka sedang lihat ada siluet di sana. Duduk di bawah pohon... takut⏤


“Itu Rasyi!”


Semua ribut. Mereka langsung gercap, mengelilingi Rasyi.


Harus ke sana, sekarang juga. Nanti dia makin takut.


“Rasyi!” lari! Langsung lari!


Ini Rasyi. Sungguh Rasyi. Matanya masih terbuka di depanku. Dia masih duduk di depanku.


Tapi, dia ketakutan. Aku sudah duduk di depannya. Dia tidak sadar? Biasanya dia peluk aku. Kakaknya, atau tidak, dia tetap akan peluk aku kalau dia tahu aku di sini.


Sebesar... sebesar ini kah yang sudah aku hancurkan? Apa yang sudah aku lakukan? Kak Riza....


Harun sudah dekat di situ, “Ini aku, Rasyi. Harun.”


Aa.


Kak Riza, aku gagal. Fares tidak bisa jaga Rasyi. Dia sampai pukul tangan Harun. Rasyi... sebesar ini sudah hancurnya....


Berhenti berpikir! Dia masih di sini! Rasyi... masih di sini!


Coba aku bicara pelan-pelan, “Tenang, Rasyi. Tidak apa.”


“Jangan mendekat!!”


“Rasyi...,” Harun masih berusaha.


“Biarkan aku sendiri!!” Rasyi semakin keras teriaknya.


Berhenti, Rasyi.


“Rasyi, lihat aku.”


Kalau Rasyi mau marah. Marah ke kakak. Jangan hukum kakak begini.


“PERGI!!!”


“RASYI!!!” aku tahan pundak Rasyi.


Lihat kakak. Tolong, lihat aku.


“Huh aa…,” Rasyi menangis, tapi dia memelukku, “Kak… Fares….”


Sudah sadar aku di sini. Rasyi peluk aku lagi. Dia di sini!


Peluk Rasyi juga, “Iya, ini kakak. Tidak apa….”


Masin keras teriakkannya, sama kayak pelukannya. Tapi aku tidak mau lepas juga. Rasanya, takut kalau dia pergi lagi. Aku tidak mau peduli. Paman Rizki atau Rasyi sendiri yang bakal marah besar ke aku. Yang penting, Rasyi ada di sini.


Di sini.


Sampai akhirnya, Rasyi ketiduran. Bisa aku angkat dia tidak pakai lepasin pelukannya.

__ADS_1


Jalan memang lancar, tapi aku tidak tenang. Berat badan Rasyi semakin turun. Apa yang terjadi sama dia?


Tante Ira, Jagad, mereka tidak kelihatan. Ke mana mereka selama ini? Padahal daerah ini bukan daerah yang dalam. Orang-orang yang mencari masih coba masuk ke daerah yang diduga belum diperiksa. Rasyi ada di titik yang sudah dicek berkali-kali.


Rasanya tahu, tapi tidak mau tahu....


“Rasyi!” paman Rizki kelihatan panik sekali.


Sudah berhasil bawa Rasyi ke mobil paman. Kami harap tim pencari menemukan kedua orang yang masih tidak tahu di mana.


“Keluar,” paman masih tidak suka ada aku.


Aku cuma duduk di kursi mobil samping paman. Memang tidak mau bergerak. Rasyi yang ketiduran masih dia pangku, dibekap erat sekali.


“Paman, paman tahu kalau yang kerjakan ini...?”


Dia tidak jawab apapun.


“Tapi, kenapa kakeknya Rasyi mau....”


Aku lihat tangan paman tiba-tiba nunjuk ke bawah kursi. Kotak P3K. Paman ingin mengobati luka-lukanya Rasyi.


Paman jawab, “Kamu tahu, seberapa bahaya ini?” dia terima kotaknya.


Tanganku narik tuas lampu di atas, “Saya... saya salah karena lengah. Saya minta maaf.”


“Bukan itu maksudnya.”


“Paman,” tarik nafas, “Saya akui, saya melakukan semua ini tidak karena saya anggap Rasyi adik saya. Ini... sepenuhnya karena saya pernah berjanji pada kak Riza. Kalau saya akan jagain adiknya. Awalnya begitu.”


“Lalu?”


“Lalu. Saya tidak tahu. Kenapa saya melakukan banyak hal seperti ini. Cuma karena kagum sama kak Riza. Atau seperti kata paman, cuma mau cari muka saja.”


Paman tertawa, “Atau kamu cuma tidak mau tidak setuju dengan pendapat orang?”


“Paman, saya akan berhenti pikirkan itu. Tapi saya,” tatap dia, harus yakin, “Sayang dengan Rasyi.”


Diam.


Aku masih mau bicara, “Sebagai adik kakak, sebagai teman. Apapun itu. Saya tidak sanggup. Tidak sanggup Rasyi seperti ini.”


Kedengaran paman menghembuskan nafas panjang.


“Paman. Saya siap jadi apapun kalau paman memang perlu. Tolong, pertimbangkan.”


“Kamu sudah dewasa, keputusan di tangan kami. Bukan berarti aku bisa macam-macam.”


“Tolong, jangan ragu.”


Paman tertawa lebih kencang, “Paman tidak tanggung jawab tentang ayahmu yang marah nanti.”


Aku menatap paman Rizki lagi. Kelihatan jelas, dia sudah memulai gambaran rencananya.


Dia setuju aku ada di dalamnya.


Sembilan bulan. Berlalu. Harus menerima dengan keadaan tante Ira melahirkan anak dari orang asing. Dan Jagad yang meregang nyawanya karena tembakan.


Sembilan bulan itu. Rasyi tidak pernah terlihat senyum cerahnya. Walau semua orang tahu dia terlalu memaksa bahagia. Ia selalu terlihat merasa bersalah.


Sembilan bulan itu. Paman siap dengan rencananya. Tidak sangka akan rumit dan detail sekali. Aku tidak pernah sangka aku dapat peran penting. Ia menyebutku umpan. Jadi titik penentu semuanya bisa keluar dengan selamat.

__ADS_1


Sembilan bulan itu, cuma bisa coba.


__ADS_2