Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#35 di Sela Pemulihan


__ADS_3

“Tidak berotak ya?”


...


“Bungee jumping tapi lupa talinya?”


...


Papaku yang tercinta⏤tak ada duanya di dunia yang penuh akan kejam manusiawi ini. Anakmu sedang tidak baik. Sekarang anda mencari imbalan untuk mengobati kakiku yang terkilir? Dengan melayangkan pertanyaan yang menyayat hati?


Sungguh?!


“Mau bagaimana?” aku memperbaiki posisi dudukku di sofa panjang meski kakiku sudah posisi wenak di atas tumpukan bantal, “Ada kendaraan hampir menabrakku tadi. Untung aku ditarik kak Ilham. Kalau tidak, ya lebih parah.”


“Hmm?”


Bola mataku menangkap wajahnya. Memang aku belum menceritakannya sampai tadi. Namun tidak menyangka ia akan sekejut itu. Kenyataannya bahkan wajah itu keras setiap hari.


Duduk pria ini yang ditopang kursi footstool, diposisikan ulang ke dekat wajahku yang jauh dari ujung kaki yang baru selesai diperiksa.


Mengapa anda menatapku dengan tatapan lekat⏤ “Hu?!”


Tangannya yang tak mulus itu menekan kedua pipiku sampai mulutku berpose layaknya bebek. Disingsing rambutku dari telinga. Memalingkan wajahku ke kanan, lurus dengan bentangan kakiku. Lalu ia mengembalikan kepalaku ke arahnya dan memperhatikan samping kanan wajahku.


Entah kenapa ia beralih perhatian ke kedua tanganku. Cengkraman pada bahuku dan meneliti segala macam yang tidak jelas di berbagai macam sisi.


Kenapa sih?!


“Pa,” aku berhasil mengalihkan tangannya yang sibuk mengguling-gulingkan aku seperti ayam di tepung terigu, “Yang sakit kaki.”


Wajah itu, bingung. Apa sekhawatir itu dia?


Kan tidak sedikit pengendara yang suka mengebut dan sembarang di jalan raya. Itu tidak terduga. Diriku dan kak Ilham berhasil menanganinya.


Suara ponsel? Milik papa?


Ia masih tetap di posisinya yang condong sedikit ke arahku dan tangan kanan yang berhenti di antara bahu dan wajah kiriku. Lalu tangan kiri itu bergerak ke kantong celananya, meraih ponsel.


Papa mengangkat panggilan yang berisik, “Hmm?”


Hening, tidak bisa kudengar suara apapun dari elektronik komunikasinya. Apapun yang ia dengar, hal itu membuat matanya kembali menatapku. Itu... tatapan terkejut?


“Sebentar,” ia menahan ponsel itu dan berdiri. Mengajak wajahku tertadah. Acak mengacak susunan rambutku, “Istirahat,” ia... pergi?


Itu tadi kenapa?


“Non! Den Harun datang~!”


Hmm? “Suruh masuk sini, bi!”


Yah, segala apapun itu. Saya memutuskan pikiran terhadapnya. Dengan bangga aku mengatakan, sudahlah!


Masalah sekarang adalah, mengapa pujaan hatiku ada di sini? Harun deh, memang tidak pernah kenal dengan jarak yang memisahkan kami.


“Rasyi!” duh, duh! Kenapa ia berlari dengan panik? Awas jatuh, Harun-ku! “Gimana kakimu? Tidak bengkak kan?!” ia sudah mengambil kursi yang baru diduduki papa.

__ADS_1


“Hihihihi...,” tawaku girang. Tidak pernah aku melihatnya, yang selalu kalem, panik. Seperti keluar dari karakter.


Namun ia tidak senang, “Kenapa ketawa?!” dia meraih tanganku, “Ini yang aku takuti kalau kamu pulangnya bukan sama aku.”


“Sekarang kamu menyalahkan Firna? Firna tidak ada di tempat loh waktu kejadian,” aku masih tersenyum menahan tawa.


“Aku serius, Rasyi,” dia menarik tanganku mengetuk keningnya dan menutup wajahnya, “Aku takut kamu kenapa-napa.”


Pangeran satu ini. Tidak pernah meninggalkan alam bawah sadar milikku yang selalu berteriak riang. Kalau Harun playboy, pasti sudah ada seratus cewek yang terpikat dalam satu bulan.


“Mana bisa aku tahu kalau ada motor abal-abalan di depan sekolah?” aku tersenyum manis dan mendorong bahunya. Menegakkan tubuh yang terbungkuk itu, “Daripada pikir itu, lebih baik cerita sesuatu ke Rasyi cantik yang sedang bosan ini.”


Wow. Aku mengatakannya dengan percaya diri sekali.


“Hehehe,” setidaknya dia bisa tenang, “Baik, ratu cantik. Mau cerita apa?”


Duh, candaanku dibalikkan lagi!


“I, itu...,” cari topik, cari topik, cari topik! “Itu! Tadi dipanggil kenapa?”


Betul! Harun tidak bisa mengantarku pulang hari ini karena ada panggilan dari guru. Tentu aku mencari solusi lebih nyaman dengan meminta tebengan Firna, daripada harus meminta paman security rumah yang membawa kendaraannya sendiri.


“Cuma omongan lomba kayak biasa.”


Lomba? “Lomba apa?”


“Cerdas cermat, buat bulan bahasa. Tapi, kayaknya aku tidak ikut.”


Aku mengangkat alis, “Kenapa? Tidak suka?”


“Bukan. Cuma... aku sering ikut lomba begini, jadi aku tahu sibuknya. Jam istirahat di sekolah pasti ke potong. Belum lagi les-ku.”


“Masalahnya bukan itu. Tapi aku jadi tidak punya waktu ngumpul sama kamu.”


Kyaaaaa! Alasannya bikin meleleh!


Diri ini tahu kalau Harun selalu ingin memanjakanku. Menemaniku kapanpun bahkan sebelum aku mencari teman. Namun aku juga tidak mau menjadi beban untuk jati dirinya. Harun itu senang dengan berbagai macam pelajaran layaknya berhadapan dengan game puzzle. Ia menyenangi itu.


“Padahal Harun pasti bisa menang. Ikut saja dong lombanya~” apa ini bisa membantunya untuk mengikuti kecintaannya?


Dia tersenyum sambil menggeleng kecil. Kutunggu reaksi lain dari pita suaranya, “Kalau yang mulia ratu menginginkannya, tentu saya akan mengabulkannya dengan senang hati.”


Ya kan, benar. Orang ini sangat ingin ikut serta.


“Semangat~” aku tersenyum selebar yang aku bisa, “Setelah menang, aku akan traktir.”


“Traktir kencan saja bagaimana?”


Aduh! Tolong jangan dilanjutkan, “Aaaa, PR Fisika bagaimana kabarnya~?”


Suara tawa manis itu semakin memanaskan wajahku yang aku yakini tidak kalah merah dari buah delima.


Yang pasti, hari malu-malu itu berlanjut dengan menyenangkan. Berlabuh dengan perahu yang diantarkan oleh ombak candaannya yang mustahil untuk tak tersipu. Ombang ambing yang menegangkan tapi terlalu cepat berlalu sampai sayang untuk menepi.


Waktu berlalu sampai ia memilih untuk pulang sebelum larut.

__ADS_1


Sepi....


...


...


Wah! Hampir lupa!


Tasku di sini kan? Amplopnya. Wajib kuserahkan pada papa tentang proposal sekolah ini. Dalam waktu dekat, ada acara yang lebih besar dari dua hari perayaan kemerdekaan. Kemeriahan bulan depan akan jauh lebih meriah.


Oktober, bulan bahasa. Pengelola sekolah berniat membuat acara besar dengan meminta dana sumbangan bagi orang tua yang berkemampuan. Termasuk papa.


“Huh, let’s go~” kuraih amplop coklat itu. 


Kuangkat kaki yang masih sakit itu. Tak separah itu sehingga pincang pun tak masalah untuk menggerakkannya.


Untung saja tangga di sini didesain nyaman mengingat rumah ini dibangun di awal kakakku dalam kandungan. Pasti, ukurannya lebar dan permukaannya dibuat lembut dengan karpet.


“Non! Tunggu! Tunggu sebentar toh non!” salah satu bibi menangkap mataku yang baru beberapa langkah di tangga atas. Ia menaiki tangga dan membantuku turun.


“Cuma mau ke ruang kerjanya papa kok.”


Tangga memang dipasang di ruang makan, tempat pintu menuju ruang kerja berada. Aku hanya perlu turun, belok kiri dan masuk pintu.


“Sini saja bi,” kubuka pintu itu selagi tangan satunya membawa amplop.


Tertinggal sendiri. Masuk ke ruangan penuh koleksi dari ibunda yang tidak pernah aku temui. Ruangan tak besar dan tidak kecil, dimana ruang kaca di tengahnya tampak sangat terang tanpa atap. Taman itu selalu indah dipandang meski memotong ruangan menjadi koridor yang memutar.


“Jadi sekarang mau giliran bikin repot?”


Hmm? Suara papa dari balik pintu?


“Kututup teleponnya.”


Oh, sedang menelepon ya?


“Heh,” papa tertawa? “Itu ancaman?”


Ancaman?


“Sekali lagi, anakku tidak ada hubungan sama kamu.”


Heh?


“Call you later⏤”


Waaa! Pintunya terbuka!


Kepergok...?


Langsung aku angkat amplop coklat tadi di depan wajahku, “Proposal dari sekolah.”


Ia mengantongi ponselnya yang aku yakini sudah dimatikan. Menerima proposal itu dan melemparnya ke sofa tengah ruangan?!


“Papa antar ke atas.”

__ADS_1


“Itu...,” tadi kenapa? “Tidak, tidak apa. Ayo.”


Tenang Rasyi, itu cuma pikiranmu saja.


__ADS_2