
Aku sudah lari cepat sekali. Untung Rasyi sudah dibawa ke dalam. Lukanya, itu beda cerita. Mudah-mudahan luka ringan saja.
Gedungnya, sudah kelihatan! Kamar yang aku pinjam selama inap di sini. Cepat, masuk!
“Rasyi!”
Rasyi duduk di kasur. Sepertinya sudah ganti baju. Basah masih rambutnya, tapi tidak ada tanda kedinginan. Air sungai memang seharusnya hangat jam segini.
Tapi lukannya?
Aku jalan dekat ke sana. Pastikan kaki sama tangannya tidak papa. Kayaknya lukanya ada di lengan atas. Sama bengkak sedikit di kening kiri Rasyi.
“Tolong kotak P3K,” harus obati dulu.
Firna kasih kotak, “Sudah nih kak.”
“Terima kasih,” aku lihatin temannya Rasyi, “Rasyi malam ini tidur di sini. Tolong ya, pindahin barang-barangnya.”
Coba aku obati dulu pundaknya. Pakai salep saja seharusnya cukup.
“Kenapa bisa jatuh?”
Harus tahu. Rasyi sama teman kelasnya sudah susah-susah ke sini. Cuma buat kemah. Mereka berhasil yakinkan paman Rizki biar Rasyi bisa ikut.
Kalau paman tahu kalau Rasyi jatuh sampai biru begini. Paman pasti marah besar.
“Rasyi... mau berenang....”
“Rasyi, kakak sudah dengar dari teman-teman kamu yang lihat.”
Dia tidak mungkin mau bohong lagi kan? “Mmmm... tidak sengaja terlalu mundur⏤tapi Harun sempat nangkap Rasyi kok. Jadi kepalaku tidak kebentur,”
Tidak tahu dia tutupi apa, tapi aku juga tidak mau terlalu kekang dia. Hari ini hari liburannya.
“Auw,” Rasyi pasti sakit.
Harus lebih pelan lagi, “Makanya, dilihat kalau jalan.”
“Kak Fares jangan marah~ Rasyi minta maaf ya?”
Marah? Rasanya memang marah. Ke diri aku sendiri.
Rasyi tidak pernah dibolehkan keluar sejak... bertemu kakeknya. Bukan itu saja. Dia sampai tidak berani ke luar rumah. Sekarang Rasyi punya keinginan keluar.
Aku mau Rasyi lakukan apapun yang dia mau. Tapi tidak sampai sakit kayak gini.
Serba salah.
Lepas jaket. Kasih ke Rasyi. Pastikan Rasyi benar-benar tidak kedinginan.
“Kok bisa jatuh ke sungai dangkal dari tempat tinggi begitu. Untung Harun langsung tangkap kamu sebelum kebentur,” untung luka-lukanya tidak perlu perawatan khusus, “Ada lagi yang sakit?”
“Tidak,” dia pegang-pegang tangannya sendiri, “Oh, Harun gimana?”
Firna sudah balik bawa tas Rasyi, “Khawatir diri sendiri dulu dong. Lukanya Harun tuh tidak separah kamu, tahu?”
“Istirahat dulu,” aku pastikan jaketnya tidak lepas, “Kalau sudah makan malam, nanti kakak bawakan ke sini.”
Sepertinya ada telpon. Dari siapa?
Huuuh..., ini pasti terjadi. Tidak ada gunanya sembunyikan.
Angkat saja dulu, “Halo, paman?”
...)( )( )( )( )( )( )( )( )( )( )(...
Paman masuk lagi ke mobilnya.
“Fares, tolong, lebih awasi Rasyi lagi,” tentu saja paman masih marah.
“Iya, paman,” tidak ada yang bisa dijawab lagi.
Rasyi kasih cium ke papanya, “Love you papa~ Dadah~!”
“Awas ya.”
__ADS_1
“Iya...,” Rasyi masih coba senyum, “Dadah~”
Paman bisa diajak diskusi. Jadi dia pergi sekarang. Dokter sibuk memang harus standby.
Tapi memang, anaknya tidak mau kalah untuk bebas. Sampai tante Ira harus inap satu malam di sini biar paman percaya.
Rasyi peluk tante Ira, “Makasih, tante~”
“Iya~”
Yang penting Rasyi bisa senang.
Rasyi mau bilang sesuatu, “Maaf ya kak, kakak jadi kena marah.”
Dia, merasa bersalah? Kenapa harus? Tugas kakak memang seperti ini. Aku tidak jengkel sama sekali.
Senyum cukup kan? “Sudah sana, ajak tante keliling.”
“Iya~” dia pergi narik tantenya.
Memang berat hadapi paman Rizki. Tapi semuanya sepadan kalau Rasyi bisa rasa bebas. Jadi kakak, bakal senang kalau adiknya senang.
Nah, sekarang aku pergi ke mana ya?
“Kak Fares....”
Yang di belakangku, oh, Harun.
“Kenapa, Harun? Luka kamu gimana?”
Dia di sampingku sekarang, “Gak sakit.”
Tersenyum aku. Perilakunya selalu berubah. Dia jadi lembut saat ada Rasyi. Kalau di depanku, dia selalu coba biar kelihatan kuat.
Harun, lagi tidak senang.
Mukanya lesu sekali. Ini ada hubungannya dengan kenapa dia berdua sama Rasyi jatuh ke sungai. Lihat-lihat, tidak ada alasan lain.
“Mau ikut kakak? Kakak mau ke taman sana. Banyak kursinya terus kita bisa lihat dari atas labirin,” kalau tidak salah arahnya ke sana, “Harun kalau mau cerita, kakak dengar kok.”
Mending aku jalan duluan, “Terus kenapa tidak ikut Rasyi jalan-jalan?”
Kalau diam gitu aja, berarti benar dia masalahkan itu.
“Itu... aku... aku maunya nembak Rasyi.”
Aku berhenti. Itu... benar-benar tidak terduga.
Rasanya aneh.
“Tapi Rasyi malah....”
Jadi seperti ini akhirnya.
Semua orang sudah tahu kalau Rasyi suka Harun. Harun juga sepertinya begitu. Bagus kedua adik ini sama-sama senang.
Tidak ada alasan buat rasa aneh.
“Rasyi cuma kaget paling. Lain kali coba yang lebih... gimana ya... romantis?”
Matanya Harus seperti tidak yakin, “Contohnya?”
Aa? “Kasih bunga?”
“Kakak pernah lakuin?
Apa?
“Kakak berhasil punya pacar pakai cara itu?”
Aku terdiam, kaget dengan jawabannya, “Itu juga gara-gara kakak tidak mau pacaran.”
Dia tidak senang ya? Maaf. Kakak tidak bisa bantu lebih banyak tentang yang seperti ini. Mudah-mudahan Harun bisa dapat jalan sendiri.
Sudah saatnya ganti topik, “Jurit malam jadi ya?”
__ADS_1
“Aku gak ikut.”
“Kenapa?”
“Kakak, gak papa kan aku ngumpul sama kakak aja.”
Senyum lagi aku. Tapi sedikit sedih, “Jangan gitu. Kan asyik event sama teman sekelas,” elus kepala dia.
“Aku gak mau ketemu si Jagad kentang itu.”
“Hei, yang sopan.”
Tapi aku juga tidak mau mengatur dia. Pada akhirnya aku dan Harun menghabiskan waktu hanya duduk. Sesekali dia pilih untuk belajar ikuti aku. Sekali-sekali juga kami pindah tempat.
Kami sebenarnya sering seperti ini. Jadi tidak ada yang rasanya aneh.
Sampai ada kabar. Rasyi, tante Ira dan Jagad⏤tidak kembali setelah satu jam jurit malam.
.
.
.
Rasanya terlalu tidak nyata.
Keributan di mana-mana. Emosi di mana-mana.
Aku masih tidak percaya sudah kacaukan kepercayaan paman kedua kalinya hari ini.
Tenang.
Harus tenang.
Guru yang sudah setuju temani sudah bertindak duluan. Mereka sudah lapor ke penjaga area camping. Sudah ada tim yang mencari. Paman dan ayah sudah dihubungi.
Yang perlu aku lakukan cuma bisa tunggu.
Aku harus memikirkan apa yang perlu dikatakan untuk paman⏤
“Tuhan! Fares, sayang!” ibu mau menangis.
Paman memukul mukaku keras sekali.
“Aku sudah percayakan ke kamu!! Kamu sudah sanggupi! Apa maksudnya ini!!” paman benar-benar marah.
Mulutku diam, tidak bisa bicara apa-apa.
“Rizki tenang dulu!” ayah sudah kuat-kuat buat nahan paman dari aku.
Cuma ini yang bisa aku bilang, “Maaf paman, ini salah saya.”
“Ini salah aku kok. Aku mikir kamu cuma punya rasa bersalah. Tapi kamu punya maksud lain? Tidak ada urusan sama sekali sama anakku?! Kakak? Kakak apanya⏤”
“Saya bukan kakak Rasyi! Apapun yang saya lakukan, paman cuma akan mikir kalau saya cari muka! Terus kenapa?!” aku juga marah....
Selama ini, semuanya hanya untuk janji dengan kak Riza. Yang aku lakukan, kelihatan berlebihan. Paman lebih percaya kalau aku lakukan semua itu karena aku merasa bersalah.
Khususnya karena malam di wahana.
Ini bukan tentang rasa bersalah lagi. Tapi ini tentang kenapa aku merasa bersalah.
“Aku sudah janji dengan kak Riza buat jaga Rasyi. Dan aku yang tentukan mau tepati atau tidak. Itu bukan keputusan paman.”
Aneh. Rasanya memang aneh.
Tapi itu yang ada di pikiranku.
“Saya tahu paman juga butuh subjek lain. Saya akan paksa jadi subjek itu kalau perlu.”
Paman tenang tapi masih berteriak, “Sayangnya, tidak akan terjadi selama aku tidak suka opsi subjeknya.”
Lebih baik aku pergi daripada ribut terus. Rasyi masih di luar sana. Ketakutan. Aku harus temuin dengan cepat.
“Fares mau ke mana, sayang,” ibu lepas tangan.
__ADS_1
“Maaf, paman, ini memang salah saya,” aku masih jalan, “Kalau anda tidak terima saya. Saya bisa cari jalan sendiri. Permisi. Saya harus cari adik saya sekarang.”