Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#59 Pintu Ruang Dokter


__ADS_3

Suara ketukan pintu.


“Masuk,” kubereskan meja sedikit.


Pasien yang gimana lagi datang hari ini?


Terbuka pintu, “Paman.”


Oh, “Duduk, Fares.”


Duduk dia di seberang meja. Wajah muda tapi, kelihatan lesu. Walau siang belum sampai. Begini jadinya kalau terlalu banyak tanggung jawab.


“Gimana kabar paman?”


“Biasa.”


Fares masih bisa senyum. Memang tidak bisa selebar dulu. Bisa jadi akibatnya dari hal ini.


“Oh, ayah juga minta bicara.”


Tentu saja polisi itu selalu punya pikiran buruk.


Kusibak rambut ke belakang, “Nanti aku hubungi.”


“Nanti malam ayah ke rumah paman.”


Seringai Fares bilang dia tidak bisa apa-apa. Ayahnya tidak bisa dihentikan hanya dengan ucapan.


“Paman ada urusan apa panggil saya?”


“Waktu luang kamu banyak?”


Dia main dengan alisnya, “Kelas saya ada di sore nanti.”


Itu lebih dari cukup.


“Paman mau tahu Rasyi waktu paman tidak ada?”


Aku akui, dia sangat peka, “Hmm. Seburuk apa?”


“Itu... ayah panik waktu tahu paman tidak naik pesawat yang dibilang. Jadi ayah langsung cek Rasyi di sekolah. Rasyi jadi tahu paman kenapa-napa.”


Putri itu. Dia memang jadi semakin sensitif sama hal yang bahaya.


“Rasyi langsung pingsan.”


Berapa kali aku pikirkan, cerita itu tidak biasa. Rasyi sudah jalani masa rehabilitasi lebih dari cukup. Akan tetapi, semua itu tidak mengubah apa-apa. 


“Oh, paman. Kalau saya boleh tahu HP paman kenapa?”


“Dijual.”


Mata itu masih tenang. Diamnya bilang kalau dia sedang bingung. Satu detik dan dia kelihatan paham.


Kepekaannya. Selalu buat takjub. Pantas saja aku selalu tersudut. Yang lalu maupun sekarang. Mulutku tidak bisa terkunci kalau dengan anak ini.


“Kenapa mereka mau isolasi paman?”


“Kamu ingat tentang Kirana?”


Dia tampak terkejut, “Dia pelakunya?”


“Hmm.”


“A ha ha, kacau juga...,” senyum Fares aneh, “Lalu, paman mau gimana?”


“Harus tentukan cepat sebelum aku beritahu Rasyi.”


Tidak seperti ayahnya. Cukup mudah bicara dengan Fares. Dia lurus mengikut arus air yang aku buat. Yang dia lakukan cuma membuat diri sendiri jadi guna.


Kubuka lagi mulutku, “Apa ada hal major lain?”


“Banyak, paman.”


Pasti begitu. Rasyi memang hampir hancur. Akan tetapi, perlu hal yang lebih dari menyakitkan untuk hancurkan dia. Putri ini lebih keras kepala dari itu.

__ADS_1


“Aku dengar Harun sempat... terlalu jujur.”


Ah? Harun sudah tidak tahan diam saja?


“Sudah dua⏤tiga kali dia terlalu jujur,” aku bergumam.


“Ha?” dia pegangi dahinya, “Dia begitu ke paman?”


Fares, selalu anggap Harun sebagai anak kecil. Anak-anak yang sekali dua kali nakal. Bisa jadi, itu bentuk penolakan dari muka lain milik Harun.


“Maaf, paman.”


Hasilnya, dia bertingkah seperti dia yang bertanggung jawab untuk semua.


Kalau begini jadinya, bagaimana caranya dia bisa melihat kenyataan di dalam dirinya?


Aku tidak mau memperpanjangnya lagi, untuk saat ini, “Ada lagi?”


“Itu.... Saya tidak sengaja lihatin luka saya ke Rasyi.”


Hoo~ Ternyata itu yang jadi topik utamanya.


“Maaf, paman.”


“Sudahlah.”


Keadaan seperti ini tidak akan selesai hanya minta maaf.


Dia lagi-lagi kelihatan sedih, “Gimana Rasyi, paman?”


“Kenapa tanya di sini?”


Dia khawatir dengan Rasyi, tapi begitu. Lawak sekali.


“Satu hal,” aku perbaiki dudukku, “Aku tidak percaya kamu. Atau juga Harun.”


Fares masih tenang. Dia tahu betul aku tidak pernah percaya siapapun.


“Tapi Rasyi percaya. Jadi aku tidak banyak komplain,” aku ambil pulpen hitam, “Jadi jangan bikin urusan makin rumit.”


Hmmm. Sekarang dia cari hal yang bisa bayar kesalahan dia?


“Tetap saja seperti biasa,” aku tidak butuh banyak orang yang bisa tarik perhatian Rasyi, “Masalah Harun, biarkan saja.”


“Ha? Tapi....”


“Kita lihat saja dia bisa sampai mana.”


Dia hembuskan nafas berat, “Saya sudah minta Vian Saga buat kasih kabar terus. Kalau berlebihan, mereka langsung telepon.”


“Good move,” ku catat skema sederhana.


Fares, Vian, Saga. Semuanya, grey areas. Firna bisa aku percaya, tapi entah apa jadinya kalau dia tahu lebih banyak. Dia lebih putih dengan dibiarkan begitu saja. Sayangnya dia tidak jadi tangkai utama buat Rasyi.


Harun, pemegang batang utama. Dia mau ke mana?


Aku tidak boleh bergerak. Harun itu hewan liar. Kudekati sedikit, akan keluar taringnya. Langkah Fares sudah tepat.


“Paman.”


Aku pandang dia, “Hmm?”


“Apa, lebih baik saya jauhi Rasyi?”


Hoo....


Acara akan semakin melenceng.


Kulihat saja, “Itu urusan kamu dengan Rasyi.”


Mungkinkah ini ada hubungannya dengan Harun? Harun semakin mudah marah hanya dengan melihat Rasyi dengan orang lain. Dengan aku saja sama. Bisa semakin buruk dengan kakak tidak kandung ini.


“Ingat,” aku lepas pulpen itu, “Rasyi anggap kamu kakaknya. Lebih daripada ke kakak kandungnya sendiri. Kamu sendiri yang buat begitu. Menurutmu bagaimana kalau kamu mundur?”


Dia terdiam. Posisinya memang tidak menguntungkan. Itu juga yang buat dia selalu merasa bersalah.

__ADS_1


“Sudah cukup info-nya. Thanks,” aku tidak perlu berkutak ke sana.


“Paman, saya minta izin bertemu kak Riza.”


Kuambil kertas coretku tadi, “Silahkan. Tapi satu hal,” aku langsung merobek kertas itu, “Aku punya mata.”


Tekanan di matanya itu sudah cukup bagiku, “Saya paham. Kalau gitu saya permisi.... Sehat-sehat, paman.”


“Hmm.”


Dia berdiri dari duduknya. Ruangan menjadi sunyi dengan Fares yang keluar pintu.


Satu selesai. Satu lagi.


“Sudah,” aku buang potongan kertas tadi ke tempat sampah.


Terbuka tirai yang membatasi kasur pasien. Wanita ini duduk di tengahnya. Bentangan tangannya buka habis tirainya. Jelas sekali muka kesalnya.


“Lama!” Ira berteriak marah.


“Kalau gitu pulang sana.”


Aku bisa rasain dia hentak satu sisi mejaku, “Iki tidak bisa usir aku!”


“Mungkin pasien selanjutnya bisa.”


“Kamu nyakitin hatiku loh~!”


“Senang bisa membantu,” aku berdiri. Siapkan segala sesuatu sebelum ada pasien datang.


Hah?


Dia melakukannya lagi. Ira dorong aku sampai tertahan di dinding. Setidaknya Rasyi tidak akan lihat lagi.


“Diam!” tangannya melingkar ke leherku.


Lagi-lagi dia curi cium dariku.


Detik dan detik lamanya. Untunglah tidak lama dan dia melepasnya. Beku saling tatap.


Kelakuannya menarik di awal. Tidak kedua kalinya.


“Jemput Daffa,” aku dorong pelan bahu kirinya. Berjalan pergi.


“Kenapa sih kasar banget?! Katanya mau tanggung jawabnya!”


“Hehe,” salah paham yang disengaja, “Jangan pura-pura bodoh. Mana mau aku nikah lagi.”


Daffa bukan anak yang diinginkan. Entah siapa ayahnya. Tetap saja kesalahan itu termasuk milikku. Akan tetapi, aku tidak mungkin bertanggung jawab sebesar itu. Hendra tidak akan menyambutnya dengan baik.


“Kalau... Misalnya.., kalau Rasyi....”


Aku tidak suka arah pembicaraan ini.


“Kalau Rasyi mau mama baru, gimana?”


“Heh,” telingaku sungguh mendengar hal konyol itu, “Hahahahaha!!”


“Benar, tahu!”


“Nisa,” mungkin aku sedang sedih, “Dia satu-satunya istriku.”


Akan tetapi, tidak mudah melihat isi pikirkan Rasyi. Suatu hari, mungkin Rasyi membahasnya. Harus bagaimana aku tanggapi putri itu?


“Tapi,” aku bersandar di meja. Lipat tangan menghadap Ira, “Coba saja tanya Rasyi. Masih mungkin.”


Wanita ini, dia tampak ragu. Setidaknya aku bisa yakin dia sayang pada Rasyi. Topik itu selalu di kesampingkan. Rasyi yang hatinya lembut pasti terganggu.


Ini semakin menarik. Dia mau bawa tiketnya ke wahana mana?


“Daffa sudah pulang lima belas menit lalu.”


Kesalnya itu muncul lagi, “Iya! Dasar kasar!”


Pintu tutup terbanting lagi.

__ADS_1


__ADS_2