Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#149 Finale: Aku Pilih Kamu~


__ADS_3

“Kemarin marah-marah mulu. Sekarang senyum-senyum mulu.”


Aku memang tidak bisa berhenti tersenyum, tapi kamu bisa diam kan, Saga?


“Marah salah, senyum salah. Maunya kamu apa?” Firna ikut sok kesal sambil melahap satu potong kue coklat itu.


Saga mendekatkan wajahnya semakin kesal, “Makan aja deh tuh roti, tidak usah ikut-ikutan.”


“Kamu juga yang mulai!”


Dengan cepat aku mengulurkan satu tanganku di antara mereka. Sudah seperti wasit yang berdiri di antara dua petinju yang bau kencur ini. Tetap dengan senyum manisku, tentu saja.


“Hayo~” untunglah aku tidak ikut mengamuk, “Yang sudah pacaran jangan kayak boom boom car. Coba dong, jalannya sejalur gitu~”


“Kamu juga, jangan senyum-senyum, gitu. Aneh rasanya,” Vian, jangan ikutan.


Aku malah menunjukkan senyumanku lebih jelas ke arah lelaki yang membawa pacar yang lebih tua ini. Tidak seperti Clarissa di sampingnya, Vian malah tampak merinding dan menjauh dariku. Dia menangkap jelas kata batinku untuk menyuruhnya diam.


“Rasyiqaaa!” seseorang yang aku kenal lain mendekat ke tempat aku duduk, membawa kotakan cantik, “Happy sweet seventeen! Sorry ya datangnya telat.”


Mengembang senyumku berdiri di depan teman kelasku ini, “It’s Ok~ Makasih udah datang~ Langsung aja makan di kursi yang kosong. Udah siap tuh.”


Cafe ini padahal ukurannya cukup besar. Tamuku hanya teman-teman kelas dan beberapa orang yang aku kenal dari lingkungan kehidupanku yang kecil. Namun setengah cafe ini sungguh ramai dengan momenku sendiri.


Sudah jam sembilan dan kami tidak beranjak dari kesenangan. Apa lagi banyak makanan gratis. Orang kaya pun suka.


Namun....


“Tuh, tuh. Melo lagi tuh,” Saga mulai lagi.


Kulempar senyumanku ke arah lelaki tanpa filter ini, “Bilang apa tadi kamu?”


“Tidak ada,” mulutnya itu sudah tidak salah lagi mengejekku.


“Firna, pacarmu tuh. Tolong  jinakkan dia!” aku masih menahan senyumku.


Vibe itu diteruskan Firna dengan menjentikkan tangannya, “Empus~”


“Empus, empus. Hidung lu empus!” Saga menyepak tangan Firna walaupun wajahnya benar tersenyum.


Firna membalasnya dengan menjulurkan lidah.


Pasangan baru ini lekat sekali ya~?


“Kenapa rambut Rasyi gitu?” tangan papa menarik ikat rambutku.


“Oh, papa~” dia sudah kembali dari rumah, “..., tadi lepas pas game.”


“Sini, papa perbaiki,” papa menahan bahuku agar bisa memperbaiki rambutku.


Tangannya yang cekatan mencoba mengembalikan rambutku seperti semula. Sudah seperti tali, ia menggulungnya ke atas kepalaku menjadi messy bun.


Di sela aku menikmati pelayanan kecil ini, aku bisa melihat dengan jelas teman-temanku yang menikmati makanan, photobooth dan permainan kecil yang disediakan cafe. Bahkan ada yang ikut bernyanyi.


Khususnya lingkaran kecilku ini. Mereka sungguh bersenang-senang.


Jelas sekali aku merasakan seberapa tuanya umur jiwaku. Melihat mereka seperti bukan temanku, tapi seperti anak-anak yang kubesarkan sendiri. Keringat air mata yang kuberikan untuk memperjuangkan kebahagain mereka, hiks!


Harun pasti merujuk tentang ini saat dia bilang aku terlalu baik. Padahal aku tahu betul ini semua bukan masalahku, tapi aku merasa aku bertanggung jawab, Sampai aku stress sendiri.


Namun, siapa yang aku bohongi? Lukisan pemandangan ini sangat memuaskanku.


“Jangan membuat muka kayak orang tua gitu,” papa selesai mengikat scrunchie yang senada dengan bajuku.


Aku memanyun ke arahnya, “Papa jelek.”


“Hmmm.”


Iiish!


“Pak dokter! Makasih sudah diundang~!”


Tentu malam masih panjang dengan tamu orang-orang dewasa yang datang.

__ADS_1


Papa menyambutnya, “Anda yang memaksa.”


Rasanya sangat hangat.


Tidak ada drama keluarga. Bahkan sisanya sudah tidak terdengar lagi kabarnya. Harun sudah menerimaku sebagai temannya dan bahkan kami selalu tetap menjaga kontak. Salah paham dengan papa sudah menghilang.


Dan aku menemukan siapa setengah hatiku!


“Wah!” aku menemukan sekelompok yang aku tunggu.


“HBD!” Daffa datang memelukku.


Kakiku yang jelas terlihat ia peluk menyadarkan aku seberapa mini dress yang aku kenakan. Berhasil melepaskannya, aku langsung berlari kecil. Membuat dress babydoll see-through khas biru, yang aku pakai, lebih mengembang.


Lompatan kecil untuk memeluk lehernya.


“Kak Fares~”


“Happy birthday,” senyumnya lembut mengelus kepalaku.


...)(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(   )(...


Kegembiraan. Siapa sangka aku bisa merasakannya begitu lama. Layaknya permanen.


Aku tidak menyangka. Jikalau kehidupan setelah kematianku sebagai Sekar, bisa menjadi kehidupan yang luar biasa tidak terduga.


Bahagia⏤walau aku harus menghabiskan malam untuk lembur.


Ha ha ha, merasakan kedewasaan dua kali tidak lucu juga.


“Rasyi mau celebration Bday hari ini?” teman kerjaku ini berjalan bersamaan denganku.


Aku tersenyum manis walau masih baru dua langkah dari pintu keluar perusahaan design grafis ini, “I rather sleep.”


“Sekali-kali~ Traktiran~” temanku satunya mengingatkan aku seberapa banyaknya teman sok miskin di dunia ini.


“Aku sudah merasakan Bday party dua puluh kali. So no thanks.”


Mereka tidak tahu. Rasyi memang anak orang kaya, tapi papanya bukan orang tua baik hati. Umurku yang dua puluh tiga tahun dan aku harus bekerja. Semua itu untuk menggantikan dana hidupku yang papa tolak untuk tunjang seratus persen seperti dulu.


“Rasyi,” suara panggilan itu membalikkan pandanganku.


Oh, Fares!


“Uuuu... looks like someone have a date~”


Aku menahan wajah merahku. Tentu saja mereka akan berpikir aku akan kencan dengan Fares. Semua orang tahu kami sudah pacaran selama enam tahun.


“Hus,” aku memukulnya pelan, “Duluan ya.”


“Spill the tea later!”


Ditanya untuk cerita-cerita nanti, tentu saja aku berpaling dan berteriak tidak mau, “Shut up!”


Rok pensil selutut itu masih bisa aku gunakan dengan mudah untuk berlari kecil. Fares tersenyum menungguku di depan pintu mobilnya.


Kibasan rambut yang kuikat dengan half ponytail tinggi, bersamaan dengan hiasan mawar putih yang sepasang dengan anting. Tampaknya mengundang Fares untuk mengelus kepalaku seperti biasa.


“Capek?”


Aku menghela nafas, “Banget!”


Ia tertawa kecil.


Namun, “Rasyi pikir Rasyi dijemput papa.”


“Ada urusan katanya.”


Huuh, “Selalu. Dekat-dekat pensiun malah makin sibuk.”


“Rasyi marah bukan papa yang jemput?”


“Tidak~ Malahan bisa kencan sama Fares~”

__ADS_1


“Mau kencan?”


Aku tersenyum memperlihatkan layaknya aku polos, “Tidak boleh~?”


“Kakak malah rencananya gitu. Kakak sudah siapin tempatnya,” ia membuka pintu mobilnya, “Shall we?” ia mengulurkan tangannya.


Ow~ “We shall~” aku senang langsung memberikan tanganku dan masuk ke mobil.


Dengan lembut mobil itu mulai berjalan. Roda pengendali itu dijalankan Fares ke suatu tempat yang bahkan aku tidak tahu. Pembicaraan yang sepele membuat segala lelahku hilang walau jam sudah menunjukkan jam sepuluh.


Malam akhir pekan membuat semakin malam semakin ramai. Bahkan dengan keramaian yang masih menyesakanku, aku masih menikmatinya.


Ini kan... cafe dengan taman yang baru saja viral beberapa lama lalu. Aku tidak tahu dia buka semalam ini.


Kami menuruni mobil dan jalan masuk menyambut kami.


Aku memeluk lengan atas Fares selagi ia berjalan dengan percaya diri. Cafe yang bernuansa bangunan tradisional yang seperti gazebo raksasa. Disusun banyak pasang meja yang estetik. Tidak banyak orang tapi aku tahu tempat ini menghasilkan.


“Mau makan dulu atau jalan-jalan dulu?”


Tersenyum aku semangat, “Rasyi belum lapar. Keliling dulu ya?”


“Ayo,” Fares masih berjalan.


Sesaat kusadari ia memberikan aba-aba pada pekerja di sana.


Penasaran aku dengan rencana apa yang disiapkannya, “Apa tuh tadi?”


“A, apanya?”


Tertawa aku menanggapi Fares yang berusaha menampilkan poker face. Yang tentu saja gagal.


Namun kali ini aku sangat ingin merasakan kejutannya. Mari kita mengikuti saja.


Kami melangkah menuruni tangga pendek dan menjalan lebih dalam ke taman. Gelap seperti ini, aku tidak mengharap banyak sih.


“Wah~”


Tidak aku ketahui tempat ini bahkan lebih indah di malam hari. Lampu dan taman yang menjadi satu keindahan membuatnya menjadi luar biasa. Aku tahu tempat ini indah, tapi aku tidak mengira sehebat ini mereka bermain dengan lampu.


Patung-patung neon, tumblr-tumblr indah yang teruntai di atas jalan setapak. Bahkan tanaman yang gelap digantikan dengan lampu yang bergerak-gerak terkena angin.


Aku tidak bisa berhenti terkesima.


“Mau foto di situ?” Fares menunjuk ke arah kanan kami.


Cantiknya! Aku tahu itu padang rumput sepinggul orang dewasa. Namun rumput itu semua digantikan lampu-lampu fleksibel yang sudah seperti kunang-kunang. Hanya dengan melewatinya, mereka sudah seperti rumput-rumput di sekitar mereka.


“Iya!” aku berjalan duluan berlari-lari menerobos ladang itu. Jalan yang sempit membuatku bersatu dengan mereka, “Ayo, kak, foto~!”


Fares mengeluarkan ponselnya yang aku percaya bagus saat mengambil gambar di malam hari. Sempat aku merapikan blouse putih renda yang aku kenakan, lalu menahan pose manis.


“Coba balik, kakak mau foto dari belakang.”


Oke.... Aku menuruti keinginannya dengan memperlihatkan punggungku. Menyibak rambutku ke atas pundaknya dan berpose lagi.


“Satu, dua, tiga...,” Fares sepertinya berhasil mengambil foto, “Coba lihat.”


Berputar aku penasaran dengan hasil fotonya⏤heh?


Kak Fares, berlutut? Ci, cincin?


“Rasyi, will you marry me?”


Aa..., a ha..., ini tidak terduga sama sekali! Rasanya aku ingin menangis!


Mulut ini kututup sungguh tidak percaya. Namun sosoknya sungguh membungkuk di depanku. Terulur kotak dengan cincin bermata putih bening.


Sungguh tidak menyangka aku bisa sebahagia ini.


Mengangguk aku di tengah tangisku, “Yes.... Yes!”


Kebahagia seperti akan terus menungguku di masa depanku. Dan aku memilih untuk bahagia dengan kamu.

__ADS_1


^^^[Aku Pilih Kamu!] Tamat~♫^^^


__ADS_2