
Pria ini sudah dengan lancangnya mematikan ponselku. Mengeluarkan baterainya dan kembali memasukkannya di tasku.
“Jangan mikir bisa ambil ini sebelum kita sampai,” pengemudi itu menyimpannya di kursi depan dan kembali menyetir.
Ternyata benar, mematikan dayanya tetap akan ketahuan. Aku menghela nafas, untuk tetap tenang.
“Jangan loyo gitu dong~” Dhika merangkulku.
Aku tidak menjawab apapun. Tenagaku seperti sedang terkuras hanya pada usahaku menahan tangis. Yang, tentu saja, tidak berhasil.
“Jangan dengerin si Kirana. Cuma omong doang.”
“Dhika,” si pengemudi mengeluarkan suara, “Jangan banyak tingkah.”
Lelaki ini semakin tampak santai meski ditegur, “Ya biar gak tegang.”
Tidak salah. Aku harus meninggalkan ketegangan di otakku dan berpikir dengan lebih lunak.
“Gua kasih tahu lu deh,” Dhika malah membisikkan sesuatu di kala kalutku, “Bokap lu gak sama kita.”
Heh?
Alisku meruncing. Kerutan di tengahnya mengarahkan mata tepat ke lelaki itu.
Satu demi satu aku mengunyah dan menelannya. Menerima satu hal yang pasti.
Mereka mengincarku dari awal.
Nafasku terengal-engal, “Kalian mau apa dariku?”
“Kirana sih minta buat lu diturunin di mana aja, yang jauh.”
“Untuk?”
Ia mengangkat bahunya, “Biar lu jauh dari kak Gading kali?”
“Dhika!” pengemudi membentak lagi.
“Tenang lah bang~ Gak ada saksi juga. Kak Kirana berani gitu gara-gara itu juga kan?”
Memang benar. Aku mengerti kenapa bukan Kirana yang langsung menjemput, tapi Dhika. Mobil ini juga kami naiki di luar komplek. Dimana memang tidak ada CCTV dan penjagaan.
Itu juga yang jadi alasan kenapa Kirana masuk dan keluar di jalan ramai. Orang luar tidak akan menduga apa yang terjadi dengan mobil yang normal.
Kecuali aku membuat keributan.
Aku menatap ke luar jendela. Ke arah tempat duduk yang kosong semejak Kirana keluar mobil. Pintu tentu terkunci.
Jalanan ini masih familiar. Sepanjang yang aku ingat, sekitar sepuluh menit lagi, akan ada lampu merah. Minimal, titik keramaian itu bisa melambatkan kecepatan mobil.
Yang aku harus pikirkan sekarang adalah untuk bisa mengulur waktu. Untuk membuka kunci dan pintu.
“Kok tambah gak ada semangatnya gitu sih?” Dhika mengarahkan tangannya telentang di sandaran kursiku, “Mau gua beliin minum?”
Oh? “Iya deh,” aku tersenyum tipis.
“Bang, nepi dong bentar cari minum.”
“Gak usah!”
“Lah, bang! Emang lu gak haus?”
Nafas itu menghela berat, “Di depan tuh.”
Itu lebih baik.
“Bentar ye!” Dhika keluar dari mobil.
Aku akan cari kesempatan untuk kabur. Namun, kurasa tidak mungkin saat mobil berhenti seperti ini. Itu adalah saat mereka mengawasi gerakanku dengan ketat.
Kalau begitu, aku akan berontak saat si Dhika sudah kembali dan mobil ingin berjalan.
Tenang, harus tenang.
“Coba aja mikir macam-macam,” pengemudi ini tampak sangat keras, “Bisa mampus, kamu!”
Diriku harus tetap hati-hati dengan pria keras ini. Salah langkah, aku akan dihajar olehnya.
“I’m back!” Dhika dengan keringatnya, cepat membawa sekantong plastik penuh minuman yang bervariasi.
Aku mengambil satu botol sambil melirik kecil si supir itu. Satu detik aku bisa melihat dia memutar badan dan Dhika masih sibuk memperbaiki duduk.
Perlahan aku pastikan kunci mobil. Terbuka!
Sekarang⏤
“Lu mau ke mana?”
(“Kemana?”)
Aaa....
__ADS_1
Jangan. Jangan takut!
Aku masih bisa!
Langsung aku tendang Dhika sekuat mungkin selagi tanganku berusaha membuka pintu. Aku harus keluar! Buka sekarang⏤
“Gaa!!”
Nafasku, tertahan!
“Dhik!”
Sakit!
Dhika. Dia, mengunci leherku sakit sekali.
“Jalan aja, bang.”
Jangan!
Aku berusaha berontak dari kuncian lengan Dhika meski aku sadar ukuran tenaganya lebih dari dua kali tenagaku.
Malah tenaganya itu dengan mudahnya menarikku kembali menghadap ke arahnya⏤
“Aa!!”
Dhika? Aku sungguh salah menilai dia.
Perutku sakit.
Ia memukulku sakit sekali.
“Jangan terlalu kasar, Dhik!”
“Biarin aja, bang. Biar gak bikin repot!”
“Aaa!”
Hentikan... tolong.
Langsung aku terbaring. Pukulannya yang mengenai perutku kedua kalinya terasa sangat panas. Sangat sakit....
“Dhika!”
“Berisik lu bang!” Dhika memandangku dengan murka, “Gua males banget ladeni dramanya cewek.”
Sakit. Rasanya sakit. Aku tidak bisa berpikir meski sadar mobil sudah berjalan. Meski aku sudah kehilangan waspada dan hampir kesadaranku. Lemah tubuhku tidak bisa mengangkat bahkan satu tanganku.
“Pinjam tali dong, bang.”
Kuat! Aku harus pergi! Masih sempat kalau aku pergi sekarang! Bangun!!
“Rasyi, gua orangnya gak sesabar lu loh,” genggamannya di bahuku, “Diam lu!”
“Aaa!!” Sakit!
Dia menarik tanganku ke belakang. Orang ini sungguh mengikatku?!
“Jangan teriak. Mau lampu merah.”
“Iya, gua tau!!” Dhika, dia seakan bersiap dengan pukulan lain.
Hentikan⏤
“Uhuk!”
Ia tadi, memukul dj rahang bawah? Kenapa kesadaranku....
Mataku... berat.
Papa...
.
.
.
PRANG!!
Suara?
Ada suara?
“Keluar! Sekarang!!”
Langit-langit ini... mobil?
Itu... lampu apa yang bergerak itu?
Kenapa terdengar ramai di sekitarku?
__ADS_1
Mataku masih tidak bisa fokus. Namun aku bisa merasakan tanganku, lebih melonggang.
Jangan!
Jangan tertidur... lagi....
.
.
.
Hangat....
Pelukan yang hangat dari siapa?
“Ternyata benar. Kamu pasti gerak duluan. Padahal bilangnya percaya ke aku.”
“Hendra.”
Papa?
“Apa ada yang beda?”
Iya, itu suara papa!
“Selain sudah menikah. Sudah punya anak. Apa aku sudah berubah?”
Erat pelukan di tubuhku. Aku rasa itu juga papa. Dimana suaranya terdengar sangat hangat dan dekat.
Baru aku sadari kalau aku duduk di pangkuan. Memeluk meski aku bertahan di keadaan pingsan. Warna dan bau mobil ini juga, aku yakini kalau ini mobil papa.
Mungkinkah, semua sudah aman?
“Aku masih cuma pembawa nasib buruk. Aku masih anak yang tumbuhnya buat jadi orang jahat,” papa? Ia ingin membahas apa?
“Kamu, aku akui, memang hebat mikir jahat,” itu, suara Hendra, “Tapi, sorry to say*, kamu gagal jadi orang jahat.”
Mereka membicarakan apa?
“Aku mikir sampai sekarang kalau lebih baik Rasyi tidak lahir. Bukannya sama kalau aku jahat? Don't you think?**”
Papa?
Diri ini tidak paham. Mungkin saja aku hanya setengah sadar?
Yang pasti aku lebih baik tidak bergerak dan berpura-pura pingsan. Hatiku masih tidak mau percaya, meski otakku menendang kenyataan.
Benar, papaku sendiri berpikir kalau aku adalah anak yang tidak berguna. Sama seperti yang Kirana katakan.
Lalu, apa benar, papa akan membuangku juga tidak lama lagi?
“Sekalian saja tidak kawin. Terkukung saja sana sama penjahat!” Hendra, kenapa berteriak?
“Dengan begitu keluargamu pasti masih ada plus satu kan?” papa, ia mengatakannya sambil bergetar.
Hening terdengar. Mungkinkah mereka tidak tahu apa lagi yang ingin dibahas di tengah percakapan yang berat ini?
“Aku tidak pernah percaya orang jahat yang alasannya baik. Kamu itu kayak...,” ucapan Hendra tersendat, “Orang yang bisa jadi musuhku kapan aja.”
“Terus kenapa tidak tangkap aku?”
“Aku sudah lega.”
Bisa aku tangkap suara tawa kecil papa, “Apanya?”
“Kamu sudah ada Rasyi.”
Heh?
A, aku tidak tahu apa yang Hendra ingin sampaikan.
“Tidak pernah lihat tuh, kamu menangis begitu. Waktu Nisa mati, nangisnya kamu beda. Lebih ke arah marah.”
Eh?
“Rasyi yang bakal tahan kamu sebelum gila. Kamu lebih sayang Rasyi lebih dari Nisa. Kamu pasti dengerin Rasyi,” suara Hendra terdengar percaya diri, “Don't you think?”
Aku tidak pernah melihatnya dari sana. Memang selama ini papa melakukan segala hal dengan baik. Walau terlihat sekilas kacau pun, rencana papa masih sesuai. Tidak pernah otakku berpikiran kalau papa akan lepas kendali, atau bahkan berniat jahat.
Kalau benar apa kata Hendra, keberadaanku adalah alasan utamanya?
Heh! Hihihihi! Benar ternyata kalau aku terlalu khawatir. Terlalu takut dengan omong kosong Kirana.
Papa menyayangiku, persis seperti aku sayang dia.
Kugerakkan tanganku. Memeluknya erat meski tubuhnya bergetar terkejut. Sehingga ia lebih tenang dan menerima aku di pelukannya. Hangat tubuh yang aku takuti bila hilang.
“Tidur lagi,” kecupan papa terasa di pinggir keningku, “Papa di sini.”
__________________________________________
__ADS_1
* Maaf aja
** Tidakkah kau pikir begitu?