Aku Pilih Kamu!

Aku Pilih Kamu!
#133 Tabrak Saja Terus!


__ADS_3

Hmm... ini jam...?


“Huaaam...,” iya ya, ini baru bangun tidur.


Jam delapan? Sekolahku memang mulai jam tujuh lima belas sih. Makanya banyak yang mudah terlambat.


“Delapan?!” aku loncat dari ranjang, “Tunggu, tidak ada tunggu! Telat!”


Seragamku!.


BRUK!


“Auw!”


Kenapa wahai meja?! Tidak lihat bidadarimu ini sedang buru-buru?! Sudah kesandung sakit, jatuhku tidak cantik lagi! Ditambah sama kalender meja yang nimpuk ke muka! Aaaargh!


“Aduh...,” aku sempat lihat merah-merah di kalender.


Merah? Oh, hari ini!


“Tanggal... huuuh!” baru saja jantungku copot.


Kutarik lagi ucapanku, meja. Terima kasih banyak sudah mengundang kakiku supaya tersandung dan jatuh. Sekilas membayangkan aku akan memakai seragam dan pergi ke sekolah yang kosong.


“Nona~? Kenapa atuh ribut?!”


Oh, itu bibi.


Langsung aku berdiri walau barang-barang itu berjatuhan di badanku, “Jatuh aja bi! Tidak apa!”


Kalau saja aku tahu, aku ingin tidur lagi. Namun, ya, barang-barang ini tidak akan bersih dengan sendirinya.


Merepotkan sekali, aku mengerjakan apa sih kemarin? Sampai banyak hal tersisa di meja yang belum aku bereskan. Aku begadang, tapi buat apa?


Oh, foto cetak.


“Iya ya. Aku sudah minta cetak foto buat disimpan sendiri. Ini waktu ke pantai kemarin kan?”


Ingat, iya! Foto-foto ini kan untuk aku susun di album. Hanya untuk iseng saja sih....


Tunggu.


Kayaknya aku melupakan sesuatu deh. Apa ya...?


“Nona! Sarapan! Nanti sakit piye?!”


Duh, “Iya! Rasyi turun!”


Aku berpikirnya nanti saja.


Sesegera mungkin aku merapikan kembali mejaku. Memang sekedar menumpuknya saja, tapi itu sudah cukup untuk kali ini. Nanti juga dipakai lagi.


Buka pintu. Ups, berkaca dulu. Ditambah bando biar poni tidak mengganggu.


Siap ke bawah~


Aku sudah bisa melihat jelas para bibi yang masih ribut dengan berbagai pekerjaan rumah tangga. Keributan yang biasa ini menghidupkan mataku yang masih sayup-sayup. Pada akhirnya sampai juga di lantai bawah.


“Ributnya pagi-pagi, non,” salah satu dari mereka menuangkan segelas air mineral di samping banyak jejeran sarapan.


“Huam..., sorry,” sungguh, mengantuk! Loh? “Papa mana?”


“Udah berangkat dari tadi, atuh.”


Sungguh? Di hari libur juga?


Makan saja deh dulu. Baru memikirkan lagi mau apa. Dengan makanan, mungkin aku bisa melek.


Oh? TV-nya masih menghadap ke ruang tamu. Jangan bilang remote-nya juga ada di sana? 


Aku harus jalan dulu ke sana. Mengambil remote di ruang tamu. Dan....


Eh? Suara?


Bukannya itu arah... kamar tamu?


Ada seperti suara pintu dibuka terus ditutup lagi. Memang ada orang di sana? Bibi-bibi ada di dapur. Pak penjaga di luar. Rizki juga sudah berangkat.

__ADS_1


Pencuri?


Seumur hidupku, aku tidak pernah mendengar ada kasus seperti itu di lingkungan ini. Lingkungan orang kaya berbeda dong.


Tidak mungkin juga ada yang namanya hantu kan? Iya kan?!


Aku... cek saja, kali ya?


Benar, ada suara. Tidak salah lagi ini suara pergerakan.


Gaaaaa!! Sudahlah Rasyi!  Beranikan dirimu! Ini rumahmu, bukan kastil yang terlantarkan! 


BUKA!


...


...


Eh?


“Ra, Rasyi?”


Aku menyadari sesuatu. Pria ini berdiri termenung dengan lipatan baju baru di tangannya. Ruangan yang hanya dengan terangnya lampu memperlihatkan garis-garis itu.


Wah, ternyata badannya lumayan kekar juga. Baru tahu. Dia baru mandi ya? Masih pakai handuk masalahnya.


Sebentar. Tanganku berkehendak lain. Ia menutup kembali pintunya.


Itu... tadi kenapa?


Sepertinya ada yang salah.


Baru saja yang kulihat itu apa ya?


“Lah, non, makan atuh. Dingin tuh nanti!”


“I, iya. Makan iya.”


“Lah, kenapa muka non merah begitu?”


“Iya iya. Merah....”


Fa.


Fa, Fa Fa Fares! Itu Fares!!


Tampan seperti biasa⏤dan itu Fares!


Dan, dan!


Tadi itu Fares belum⏤


Aaaa!! Pintunya terbuka!!


“Rasyi?”


“Aaaa!!”


Tunggu! Kenapa aku lari?! No! Pokoknya lari saja du⏤


BRUK BRAK DEBUK!!


...


Hari merah yang menjengkelkan. Kenapa aku harus tersandung meja dua kali dan harus merobohkan barang-barang di atas meja?! Ditambah ini meja kaca ruang tamu, semakin sakit.


Apa lagi yang mendarat duluan itu mukaku.


Bukan. Yang mendarat duluan itu rasa maluku!


“Rasyi?!” suara kak Fares dekat banget.


Tidaaaak!!


“Obat luka! Tunggu dulu!” bibi, aku hargai kekhawatiran anda. Namun itu hanya menambah malu saya!


Aaa!

__ADS_1


Fares?!


“Ada sakit?” kenapa dia jadi tiba-tiba narik aku biar duduk? “Dahi Rasyi tidak papa?”


“Sakit. Tidak! Itu Rasyi mau tidur di lantai, jadi...,” aku ngomong apa sih?!


Fares senyum?! “Masih ngantuk?”


“Aaa..., iya....,” aku tidak mau mengatakan apapun.


Kalau aku adalah kertas, dan rasa malu adalah tinta, aku yakin aku sudah jadi bubur karena terlalu basah.


Saking malunya, aku tidak sanggup bergerak walaupun tahu kak Fares sedang merapikan barang-barang yang jatuh.


“Duh, non,” bibi datang? “Jalan tuh ati-ati!”


“Ayo, duduk di atas,” Fares memegangi pundakku dari belakang.


Aku menggeleng? Sungguh?!


“Gimana diobatinnya toh non?”


“Biar saya saja, bi,” Fares di depanku sekarang?!


Tidak banyak bicara lagi kak Fares ini memeriksa apa aku terluka di beberapa titik. Aku tidak terkejut kalau tiba-tiba ia membuka kotak pengobatan itu. Memang badan ini serentan itu.


Dan kalau kata papa, aku sebodoh itu!


Ke mana memoriku selama ini?! Apa benar aku terlalu mengantuk sampai tidak bisa merekam kembali apa yang sudah jelas?!


Fares kan memang menginap di sini sejak tiga hari lalu!


Tante Sari tidak tenang membiarkan kak Fares tidak dirawat inap. Kak Fares baru saja tenggelam ke laut yang ombaknya tidak santai. Akhirnya papa menawarkan untuk menitipkan kak Fares ke sini supaya sekalian dijaga oleh papa langsung.


Tahu seperti itu, dan aku masih masuk ke kamarnya sembarangan. Jelas juga habis mandi!!


KYAAAAAA!!!


“Heheh,” tolong jangan tiba-tiba tertawa begitu, Fares! Aku tidak kuat!


Bukan saatnya diam melamun karena malu! Kalau kamu tidak ngomong, selamanya keadaannya akan lebih canggung. Dua hari ini aku hanya menghabiskan waktu di kamar karena aku juga sakit.


Ini waktunya untuk bersosialisasi dengan... dengan orang yang disuka⏤wajahku panas!


Eh? Fares melakukan apa pada keningku? “Sudah.”


Jangan bilang, keningku juga ada bekas terbentur


Loh? “Kak Fares sudah mau ke luar?” aku sadar bajunya bukan baju rumah.


“Iya, kakak mau ngejar materi kuliah,” Fares tersenyum seperti biasa.


“Luka memar kakak? Kan lebih bagus istirahat seminggu penuh.”


“Kan tidak mungkin kakak tidak kerjakan apa-apa seminggu-an. Yang sakit cuma pinggang. Kakak masih bisa jalan sama nulis.”


Kuliah ya? Dia tidak akan kesulitan seperti ini kalau aku tidak bertingkah di pantai kemarin.


Eh? Fares tepuk kepalaku? “Kakak tidak marah kok. Tapi syaratnya...,” dia mengulurkan jarinya di depan wajahnya, “Jangan bilang-bilang ibu ayah kalau kakak keluar, ya?”


Ka, kalau memohonnya seperti itu, mana bisa bilang tidak?! “I, iya.”


“Thank you,” Fares sempat-sempatnya menarik poniku keluar dari semat bando sebelum akhirnya ia berdiri, “Kakak berangkat ya?”


“Tu, kakak tidak naik kendaraan sendiri kan?”


“Iya. Paman Darma yang antar kok. Pulangnya juga bisa nebeng.”


Salam kecil membuat ia menghilangkan sosoknya di depanku. Dia pergi beneran. Cepat sekali. Layaknya awan yang menutupi matahari di hari yang panas. Aku ingin awannya tidak bergerak.


“Non, telpon nih loh!” heh, bibi tiba-tiba bawa ponselku.


Aku terima dengan malasnya, “Ya?”


[“Ras! Jam dua! Ke mall!”]


Hmm? Ini suara..., “Apa sih, Sag? Telpon-telpon malah tidak jelas.”

__ADS_1


[“Nih aku juga lagi bingung! Vian sama Riri mau date!”]


Lah? Eeh~?!


__ADS_2